Jelang Akhir Tahun, Petir Gegerkan Warga Purang Munde

KOMODOPOS.com-SATARMESE-Tanpa hujan, petir menyambar hingga menghanguskan sebuah pohon kelapa dan pohon kemiri yang tumbuh di pekarangan milik bapak Ponsianus Parus, warga kampung Purang Munde, RT 08, dusun A, desa Purang Munde, kecamatan Satarmese kabupaten Manggarai, provinsi Nusa Tenggara Timur, Selasa (31/12/2019) sekitar pukul 13.40 Wita.

Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini. Namun sangat menggegerkan warga sekampung yang sedang mengikuti acara adat di kampung tersebut. Wargapun berbondong-bondong ke lokasi tersambar petir yang jaraknya tidak jauh dari pemukiman warga setempat.

Saksi mata, Ponsianus Parus menuturkan, saat petir menyambar, ia baru saja turun dari sepeda motor pulang dari tempat acara adat di rumah tetangganya.

“Saya baru turun dari sepeda motor. Tiba-tiba petir menyambar dan seketika itu juga terlihat asap mengepul di atas pucuk pohon kelapa yang tumbuh di belakang rumah saya. Saya dan warga lainnya segera menuju lokasi kejadian sekitar 50 meter di belakang rumah saya. Tidak ada korban jiwa karena semua warga di kampung ini berada di tempat acara”, tutur Ponsianus Parus.

Agustinus Jelahur, seorang Guru SMP Satap Pong Meleng menambahkan, petir ini membuat warga setempat panik sekaligus peringatan akhir tahun 2019 buat warga setempat. Dikatakannya, kejafian ini baru pertama kali terjadi di kampung ini.

“Selama musim penghujan ini, kami hanya mendengar kabar tentang petir menyambar di beberapa tempat lain hingga memakan korban jiwa. Baru kali ini petir menyambar wilayah kampung ini”, ujar Gusti Jelahur.

Pantauan Komodopos.com di lokasi tersambar petir, tampak asap api sedang mengepul di pucuk pohon kelapa dan nyala api melalap semak belukar yang ada di sekitar pohon kelapa. Terlihat pula dua goresan dan lubang di sekitar pohon kemiri. *(Robert Perkasa)

Jelang Akhir Tahun, Petir Gegerkan Warga Purang Munde

KOMODOPOS.com-SATARMESE-Tanpa hujan, petir menyambar hingga menghanguskan sebuah pohon kelapa dan pohon kemiri yang tumbuh di pekarangan milik bapak Ponsianus Parus, warga kampung Purang Munde, RT 08, dusun A, desa Purang Munde, kecamatan Satarmese kabupaten Manggarai, provinsi Nusa Tenggara Timur, Selasa (31/12/2019) sekitar pukul 13.40 Wita.Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini. Namun sangat menggeherkan warga sekampung yang sedang mengikuti acara adat di kampung tersebut. Wargapun berbondong-bondong ke lokasi tersambar petir yang jaraknya tidak jauh dari pemukiman warga setempat.Saksi mata, Ponsianus Parus menuturkan, saat petir menyambar, ia baru saja turun dari sepeda motor pulang dari tempat acara adat di rumah tetangganya.”Saya baru turun dari sepeda motor. Tiba-tiba petir menyambar dan seketika itu juga terlihat asap mengepul di atas pucuk pohon kelapa yang tumbuh di belakang rumah saya. Saya dan warga lainnya segera menuju lokasi kejadian sekitar 50 meter di belakang rumah saya. Tidak ada korban jiwa karena semua warga di kampung ini berada di tempat acara”, tutur Ponsianus Parus.Agustinus Jelahur, seorang Guru SMP Satap Pong Meleng menambahkan, petir ini membuat warga setempat panik sekaligus peringatan akhir tahun 2019 buat warga setempat. Dikatakannya, kejafian ini baru pertama kali terjadi di kampung ini.“Selama musim penghujan ini, kami hanya mendengar kabar tentang petir menyambar di beberapa tempat lain hingga memakan korban jiwa. Baru kali ini petir menyambar wilayah kampung ini”, ujar Gusti Jelahur.Pantauan Komodopos.com di lokasi tersambar petir, tampak sejumlah warga setempat berbondong-bondong menuju lokasi kejadian. Terlihat juga asap api sedang mengepul di pucuk pohon kelapa yang tersambar petir. Sementara itu di sekitar pohon kelapa tampak api sedang menyala melahap semak belukar yang ada di sekitar pohon kelapa dan pohon kemiri. *(Robert Perkasa)

2020, Beli Bensin Tak Lagi Pakai Uang Tunai

Dirut Pertamina Nicke Widyawati (Foto: Ari Saputra/detikcom)

JAKARTA – PT Pertamina (Persero) di tahun 2020 akan fokus mengawasi distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi agar lebih tepat sasaran. Hal ini berkaca pada kesalahan tahun 2019 dimana BBM subsidi mengalami kelebihan kuota alias jebol.

“Program kita fokus di 2020 distribusi atau penjualan (BBM subsidi) kepada pihak yang lebih tepat sasaran,” kata Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati di Gedung BPH Migas, Jakarta Selatan, Senin (30/12/2019).

Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan penerapan transaksi non tunai di seluruh Stasiun Pengisian Baham Bakar Minyak (SPBU) yang dikelola Pertamina.

Nantinya, setiap SPBU akan dilengkapi dengan Electronic Data Capture (EDC) agar pembayaran bisa dilakukan secara elektronik menggunakan kartu uang elektronik atau kartu debit dan kartu pembayaran lainnya.

Selain kartu, lanjut Nike, pembayaran non tunai bisa juga dilakukan melalui aplikasi dompet digital seperti LinkAja, e-payment dan bank yang bekerjasama dengan Pertamina.

“Ada LinkAja, e-payment dan kita sudah koordinasi dengan perbankan untuk support,” ungkapnya.

Selain pembayaran non-tunai, data yang terekam dalam EDC juga bisa memberi gambaran siapa konsumen yang melakukan transaksi pembelian BBM sehingga ke depannya akan lebih mudah melakukan pengawasan dan seleksi siapa saja yang bisa membeli BBM bersubsidi.

“Kita akan mendorong menggunakan cashless payment untuk di seluruh transaksi SPBU,” sebutnya.

Dengan cara ini, diharapkan penyaluran BBM bisa lebih tepat sasaran dan memastikan kuota penyaluran BBM tak jebol lagi seperti yang terjadi di 2019. (Sumber : detikFinance)

Pilihan PDIP atau Sang Calon Bupati (Misteri Figur Wakil dari Maria Geong)

Oleh : Sil Joni *)

Ibu Maria Geong (MG), salah satu bakal calon bupati Mabar 2020, masih ‘malu-malu’ memperkenalkan identitas figur yang bakal ‘dipersuntingnya’ dalam kontestasi Pilkada kali ini. MG begitu konsisten untuk ‘tidak membocorkan’ nama dari kekasih politiknya itu.

Kepada wartawan, MG hanya memberikan ‘jawaban politis yang penuh misteri’ bahwa calon wakilnya ada tiga (3) orang dan saat ini sedang disurvei oleh PDIP (Pos-Kupang. Com, 3/12/2019).

Ibu MG juga mengungkapkan bahwa dari tiga sosok yang disurvei itu, ada satu yang ‘cocok’ dengan dirinya. Kendati demikian, beliau menyerahkan sepenuhnya pada otoritas partai untuk menentukan secara tepat calon wakilnya tersebut.

Dari curahan rasa politik itu, saya menangkap ada semacam ‘pergulatan internal’ dalam tubuh ibu Maria. Sebetulnya, dari sisi chemistry politik, Ibu MG sudah temukan figur yang tepat. Persoalannya adalah ‘pilihan personal’ itu belum tentu sejalah dengan pertimbangan politik dari partai pengusungnya. Kelihatannya, MG belum bisa keluar dari ‘bayang-bayang’ intervensi partai dalam menggaet kekasih politik idamannya.

Sikap politik MG ini, saya kira hanya mempertegas soal ‘watak kompromistis’ dari politik kekuasaan itu sendiri. Negoisasi dan transaksi politik dalam lingkaran elit partai menjadi hal lumrah. Para calon pemimpin politik tidak pernah secara bebas dan otonom menentukan ‘orang yang tepat’ untuk bersama dia dalam merebut mandat politik rakyat entah sebagai bupati, Gubernur, maupun presiden.

Mungkin demi mengakomodasi ‘interes partai’, MG hingga detik ini tidak pernah mendaftarkan diri sebagai ‘paket calon’ ketika mengajukan ‘lamaran’ dari satu partai ke partai lainnya. Di satu sisi, sikap semacam itu bisa dinilai sebagai sebentuk ‘loyalitas politik’ kepada partai. Tetapi, pada saat yang sama bisa juga dibaca sebagai satu indikasi ‘kegamangan politik’ yang menghinggapi MG saat ini.

Saya berpikir, kita tidak perlu ‘terlalu lama’ bermain sandiwara perihal posisi wakil ini. Bagaimana pun juga, muara dari semua keputusan itu ada ‘kehendak rakyat’ sendiri. Terdapat disparitas yang tajam antara kepentingan partai dan ekspektasi publik.

Karena itu, sebagai wakil Bupati Mabar, seharusnya ibu MG ‘tahu persis’ sosok wakil bupati seperti apa yang sedapat mungkin bisa memenuhi pelbagai harapan politik dari masyarakat Mabar saat ini. Pengalaman sebagai Wakil Bupati seharusnya menjadi pelajaran perihal ‘figur wakil’ yang dikehendaki publik itu.

Kendati masih diselimuti kabut misteri, dari pemberitaan media kita mengetahui bahwa ada dua nama yang dianggap punya ‘posisi tawar yang relatif sama’ untuk menjadi pendamping ibu MG. Pertama, Silvester Syukur, anggota DPRD Mabar dari daerah pilihan (dapil) 1, kader tulen PDIP. Rekam jejaknya dalam dunia politik cukup terang benderang. Beliau menjadi kader PDIP sejak periode pertama sampai saat ini.

Massa pendukungnya pun bisa dipetakan dengan jelas. sebagaian besar berada di Kecamatan Boleng. Itu berarti jika MG berduet dengan Silvester Syukur maka untuk sementara mereka sudah mengantongi ‘suara dasar’ dari Kecamatan Boleng itu. Pertanyaan kritisnya adalah apakah sosok Silvester Syukur memiliki daya politis yang signifikan untuk meraup suara di beberapa Kecamatan lainnya di Mabar ini?

Kedua, Dr. Bernadus Barat Daya, SH, MH. Saya kira, sebagian besar ‘wajib pilih’ di Mabar mengenal atau minimal pernah mendengar ‘nama ini’. Jika ‘pangkat politik’ menjadi ukuran, maka jelas Barat Daya tak sekilat prestasi yang ditorehkan oleh Silvester Syukur. Namun, kelebihannya adalah figur ini ‘mempunyai daya jelajah politik’ yang lebih luas dari sekadar Kecamatan tertentu.

Tidak mudah bagi MG dan PDIP untuk memilih salah satu dari keduanya. Spekulasi politik publik yang tengah beredar menunjukkan seolah kans Silvester Syukur (SS) sedikit lebih besar dari Barat Daya. Dasarnya adalah besarnya pengaruh politik figur ini dalam tubuh PDIP. Sebagai ‘orang dalam”, SS mempunyai ruang yang luas untuk bermanuver mendapatkan rekomendasi partai itu. Tetapi, pilihan itu tidak tanpa risiko.

*) Penulis, pemerhati masalah sosial dan politik. Tinggal di Labuan Bajo.