Literasi Itu Bukan Rekreasi dan Selebrasi

Oleh: Sil Joni *)

Jika warta di media sosial perihal ‘bergumuruhnya’ aktivitas literasi di beberapa sekolah menengah (SMA/SMK) dijadikan patokan, maka Manggarai Barat layak berbangga. Betapa tidak, kita menyaksikan meluapnya ‘energi literasi’ yang terekspresi dalam rupa-rupa kegiatan yang diunggah di berbagai platform media sosial. Para penggerak literasi secara reguler mendiseminasi setiap detail aktivitas itu ke ruang siber. Semuanya tampak semarak dan sangat menjanjikan.

Kendati demikian, saya menangkap kesan bahwa ‘kita hanya terpukau pada’ kegiatan yang dihelat sesaat. Kelihatannya kegiatan berliterasi itu belum terinternalisasi dalam diri anggota komunitas akademis (lembaga pendidikan). Hingar-bingar kegiatan literasi tidak lagi ‘terdengar’ ketika para rasul literasi berlalu dari hadapan kita.

Untuk itu, melalui forum ini, mungkin perlu kita disadarkan agar ‘keringat para penggerak literasi itu’ tidak mengalir sia-sia di wilayah kita. Mari kita ‘himpun kembali energi’ untuk terus mewartakan ‘kabar literasi ini’ ke seluruh penjuru Mabar.

Literasi (aktivitas baca-tulis) itu merupakan sebuah proses pembiasaan (habitus) sehingga menjadi bagian yang inheren dalam struktur kepribadian seseorang. Proses menginternalisasikan ‘habitus literasi’ tidak sekali jadi. Apalagi kalau kemasan kegiatan itu didominasi oleh hal-hal rekreatif dan seremonial. Keberhasilan aktivitas literasi itu, hemat saya tidak ditakar dari seberapa sering ‘acara rekreasi massal’ dijalankan, tetapi apakah sipirit literatif sudah ‘terjelma’ dalam tubuh seseorang.

Pameran kegiatan literasi yang bersifat temporal dan momental yang disebarkan ke ruang publik, bukan sebuah indikator bahwa ‘spirit literasi’ telah bergema dashsyat di wilayah ini. Para siswa dan guru hanya ‘terhipnotis’ pada saat aktivitas itu didesain dan dibuat secara atraktif oleh para ‘penggerak’. Energi literasi kembali melempen dan lesu pasca-aktivitas itu dihelat. Itu berarti kita lebih tertarik pada sisi rekreasional dan selebrasional dari kegiatan itu.

Semangat berliterasi kita masih bersifat ‘hangat-hangat tahi ayam’, cepat panas, tetapi cepat juga loyo. Kita tidak lagi melihat ‘unggahan’ tentang dampak dari kegiatan literasi yang dipandu oleh para ‘fasilitator literasi itu’. Kelihatannya, kita kembali ke situasi semula. Literasi belum mengakar di sini.

Karena itu, kita berharap agar ‘para guru’ tetap menjadi ujung tombak menghidupkan habitus literatif di wilayah ini. Hanya dengan dan melalui kebiasaan ‘menggauli dunia sunyi’ secara konsisten, budaya literasi itu bisa merambat ke semua penjuru Mabar ini. Kita tidak perlu tergiur dengan sisi rekreatif dan selebrasional dari aktivitas itu. Yang kita butuhkan adalah ketekunan dan keteladanan dalam mempraktikan literasi dasar; membaca, menulis, dan berefleksi dalam kesunyian.

Benih literasi itu sudah ditabur oleh para rasul literasi (kru Media Pendidikan Cakrawala). Tugas kita adalah merawat benih itu secara serius dan memastikan tidak ada ‘gulma dan hama’yang membuah benih itu gagal tumbuh.*

*) Penulis adalah pemerhati masalah social dan politik local Manggarai Barat. Tinggal di Labuan Bajo.

Kandidat Bupati dan Filosofi Padi

Oleh : Sil Joni *)

Saya sangat yakin bahwa para bakal calon yang sedang sibuk ‘mengemis dukungan parpol’ mengklaim diri sebagai ‘sosok pemimpin’ yang tepat untuk Mabar ini. Karena itu, mereka berusaha meyakinkan parpol dan publik dengan ‘memamerkan’ rupa-rupa talenta.

Pelbagai jargon dan retorika politik ‘dikumandangkan’ dengan penuh percaya diri. Publik dibuat ‘terkesima’ dan mungkin menilai ‘mereka adalah figur berisi’. Kita kerap ‘terkecoh’ oleh kemasan ‘tampilan luar’ yang didesain sefenomenal dan sesensasional mungkin. Tujuannya hanya satu agar persepsi dan impresi publik tentang diri mereka ‘semakin positif’.

Para broker (calo) politik mereka pun tidak kalah ‘beracting’ seolah-olah figur jagoan itu sangat kapabel untuk menjadi bupati Mabar. Mereka sangat kreatif mengelaborasi sisi plus dari sang ‘idola’ dan menguburkan semua ‘jejak negatif’ selama berkiprah di dunia politik dari sang calon. Pokoknya, di mata para ‘penjual politik itu’, produk politik merekalah yang pantas dijagokan.

Suara mereka begitu ‘meggelegar’ di ruang publik. Mereka menyusuri lorong kampung sambil ‘bertepuk dada’ bahwa kandidat mereka ‘mendapat dukungan signifikan baik dari partai maupun dari publik Mabar”. Seabreak ‘prestasi politis’ dari sang kandidat dibentangkan dengan penuh percaya diri. Di ujung pembicaraan terselip pesan politik bahwa tidak ada lagi figur lain yang bisa mengubah wajah Mabar selain sosok yang sedang mereka sodorkan itu.

Tegasnya. bakat sebagai pembual teraktualisasi secara sempurna ketika musim kontestasi politik bergulir. Kita sulit menemukan figur politik yang tampil low profile, realistis, dan rendah hati. Semuanya ‘berlagak’ sebagai manusia super yang layak diberi mandat sebagai ‘mesias politik’ untuk Kabupaten ini.

Tidak sedikit publik-konstituen yang ‘tergetar’ dengan propoganda politis yang bombastis itu. Semakin ‘kencang’ sang aktor berorasi, kans untuk menuai pujian semakin besar. Publik berdecak kagum dan dengan spontan berguman: “orang ini sangat cocok menjadi pemimpin”. Suaranya lantang dan gestur tubuhnya cukup atraktif ketika beraksi di mimbar politik.

Padahal, mungkin saja kebanyakan ‘wacana dan kemasan politik’ itu bersifat superfisial (dangkal). Khazanah pengetahuan politik dan kompetensi leadership, teknis dan etis mereka, dalam tataran aplikatif, masih jauh dari ekpektasi publik. Para politisi yang pandai ‘menonjolkan kulit’ ketimbang isi, sebetulnya manusia yang bertipe “áir beriak tanda tak dalam, tong kosong nyaring bunyinya”.
Sementara politisi ‘bergizi dan berisi’ dalam arti yang sebenarnya, pasti lebih terpukau pada soal substansi ketimbang isi. Biasanya, politisi semacam itu begitu konsisten menghayati filosofi padi: “semakin berisi semakin merunduk” Bagi calon pemimpin seperti itu, lusinan kata-kata yang tersembur dari mulut, sama sekali tidak mencerminkan kualitas kepemimpinannya. Boleh jadi, seorang politisi hanya berani memproduksi bunyi, tetapi nihil isi dan nir-makna.

Gong kontestasi Pilkada Mabar, secara resmi belum ditabuh. Tetapi, pasar politik lokal sudah sangat semarak dan dinamis. Hampir setiap hari, para makelar politik dan para calon bupati mulai memasarkan produk politik itu ke ruang publik.

Saya berpikir, sikap kritis publik dalam memilah dan menyeleksi figur-figur itu, menjadi sebuah keharusan. Publik mesti taktis membaca mana politisi yang tong kosong nyaring bunyinya dan mana yang menghayati filosofi padi secara konsisten dan bermartabat.*

*) Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan politik local Manggarai Barat. Tinggal di Labuan Bajo.

Hari ini, Dr. Bernadus Barat Daya, Daftar Pertama di PKB Mabar

KOMODOPOS.OnlineLABUAN BAJO–Membuka masa pendaftaran Bakal Calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, hari ini, Rabu (27/11/2019), Dr. Bernadus Barat Daya, SH., MH merupakan salah satu kandidat Bakal Calon Wakil Bupati yang mendapat kesempatan sebagai pendaftar pertama pada hari pertama masa pendaftaran bakal calon, Rabu (27/11) sampai Sabtu (30/11/ 2019).

Di PKB, Barat Daya juga mendaftar secara perorangan sebagai Bakal Calon Wakil Bupati (Bacawabup). Pendaftaran hari ini merupakan pendaftaran Barat Daya yang ke-8.

Sebelumnya Barat Daya juga melakukan pendaftaran di 7 parpol lainnya, yakni PDIP, PPP, Gerindra, PKS, Hanura, Demokrat, PAN.

Barat Daya dan rombongan diterima oleh Ketua Panitia Penjaringan Bakal Calon (Desk Pilkada), Silvester Arvin/Enggong yang didampingi oleh
Sekertaris Desk PIlkada, Hendrikus Harfon beserta Tim 7 (Tujuh) yakni Tobias Napang, Romanus Aman, Densi, Rustam, Ferdi Salut, Maksimilianus Tiong dan Falix Armin. Hadir juga Ketua DPC PKB Mabar, Sirilus Ladur bersama sejumlah unsur pimpinan dan Pengurus DPC PKB Mabar.

Terpantau komodopos.com, saat pendaftaran di PKB itu, Barat Daya didampingi oleh sejumlah keluarganya. Rombongan keluarga Barat Daya tiba di Kantor DPC PKB Mabar sekira pkl. 09.20 Wita. Mereka umumnya mengenakan pakayan adat khas Manggarai Kemeja putih dan mengenakan kain Songket Manggarai.

Sebelum penyerahan dan pemeriksaan berkas pencalonan, rombongan keluarga Barat Daya diberi kesempatan untuk menyampaikan maksud kehadiran mereka di PKB secara adat. ‘Jubir adat’ (pateng/tongka) yang mewakili Barat Daya menyerahkan seekor ayam jantan dan tuak yang diterima secara adat pula oleh Ketua DPC PKB, Sirilus Ladur yang diwakili oleh salah satu kader PKB, Drs.Tobias Napang.

Pada sesi sambutan singkatnya Ketua DPC PKB menyatakan bahwa berkas lamaran yang diajukan Barat Daya beserta lampirannya, akan ditindaklanjuti sesuai mekanisme yang berlaku di PKB.

“Kami akan memproses semua berkas pendaftaran dari semua bakal calon yang datang mendaftarkan dirinya di PKB”, ujar Sirilus Ladur singkat. Ketua DPC Sirilus Ladur dalam kesempatan itu, juga menginformasikan bahwa jumlah bakal calon yang telah mengambil berkas sebanyak 21 orang. Kemungkinan, ada 21 figur bakal calon yang akan datang di PKB untuk mendaftarkan diri sebagai bakal calon Bupati dan bakal calon Wakil Bupati”.

Di tempat yang sama dalam sesi sambutan singkatnya, Barat Daya juga memberi apresiasi kepada jajaran PKB yang telah membuka kesempatan seluas-luasnya kepada publik untuk boleh mendaftarkan diri sebagai bakal calon Bupati dan Wakil Bupati di PKB.

“Kami sangat berterima kasih atas kesediaan PKB menerima pendaftaran saya sebagai bakal calon Wakil Bupati. Saya siap menerima apapun keputusan PKB terhadap diri saya. Jika PKB berkenan memberikan kepercayaan pada kami untuk ikut berkompetisi pada ajang Pilkada 2020 nanti, kami berjuang memperoleh dukungan dari masyarakat. Kami percaya, bahwa PKB merupakan partai dengan pengalaman mumpuni dalam menyeleksi bakal calon pemipin terbaik bagi daerah dan bagi bangsa ini”, ujar Barat Daya. *(Robert Perkasa)

Sekdes & Seorang Staf Desa Golo Bilas Terluka Akibat Tertimpa Kabel PLN,

KOMODOPOS.com-LABUAN BAJO-Naas menimpa Sekretaris Desa Golo Bilas, Fabianus Galgani dan seorang staf, Fredirika Niman. Sepeda motor bernomor polisi EB 6423 jenis Bid Honda terjungkal akibat tertimpa kabel PLN saat pulang kerja dari kantor desa Golo Bilas. Akibat kecelakaan ini, keduanya terpaksa dilarikan ke Rumah Sakit Komodo di Merombok. Tak lama kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Silloam, Labuan Bajo untuk melakukan foto scan.

Korban kecelakaan ini, Fabianus Galgani menjelaskan, kecelakaan yang menimpanya terjadi pada Selasa (26/11/2019) siang tadi sekira pukul 13.00 Wita di ruas jalan Trans Flores, persisnya di depan bengkel ,sebelah cabang PLN Merombok.

Fabianus Galgani dan Frederika Niman meluncur dengan sepeda motor Bid Honda dari kantor desa Golo Bilas di Merombok hendak pulang ke rumah mereka di Kaper. Saat tiba di depan bengkel itu, kabel listrik PLN yang melintang di kawasan itu tiba-tiba jatuh dan menimpa mereka yang sedang melaju di ruas jalan tersebut. Lantaran hilang keseimbangan, sepeda motor yang dikendarainya jatuh terpelanting hingga terluka parah. Frederika mengalami luka parah di bagian kepala. Sementara Florianus mengalami trauma.

“Kecelakaan ini terjadi di Merombok jalan Trans Flores akibat jatuhnya Kabel dari tiang lustrik yang sedang melintang. Kecelakaan ini mengakibatkan pengandara motor jatuh hingga luka parah. Korban atas nama Fabianus Galgani (saya sendiri ) dan Federika Niman (enu Eri) pada sat berboncengan pas pulang kerja”, ujar Fabianus ketika dikonfirmasi Komodopos.com melalui handphone selularnya, Selasa (26/11) malam ini.

Hingga berita ini dihimpun, pihak PLN Rayon Labuan Bajo belum berhasil dikonfirmasi.

Fabianus menambahkan, usai kejadian itu, pihak PLN Labuan Bajo yang diwakili oleh Pak Nyoman telah bertemu korban di Rumah Sakit Komodo di Merombok. Kepada korban dan keluarganya, pihak PLN menyatakan siap menanggung biaya perawatan Rumah Sakit.

“Tadi pihak PLN sudah ketemu kami dan keluarga korban. Untuk sementara terkait dengan administrasi dan obat-obatan selama di Rumah Sakit, mereka yang tanggung. Tapi belum ada kejelasan terkait tindak lanjutnya. Mereka sudah pulang tadi”, jelas Fabianus.

Saat ditanya kondisi terkini Ibu Frederika Niman, Fabianus mengatakan, masih pusing- pusing. Saat ini Frederika Niman dan Fabianus Galgani sudah tiba di rumah mereka di Kaper setelah dianjurkan rawat jalan oleh petugas medis.

“Memang luka parah. Tapi hasil foto scan di Rumah Sakit Siloam tadi tidak membahayakan. Hanya luka robek di bagian kepala”, tutur Fabianus lagi.

Kepada pihak PLN Labuan Bajo, korban mengingatkan agar bekerja lebih teliti dan profesional.

“Melalui pesan ini, saya sampaikan kepada pihak PLN untuk bekerja dengan teliti terkait dengan pemasangan Kabel agar tidak mengulangi kejadian seperti ini”, tulis Fabianus melalui akun Facebooknya malam ini. *(Robert Perkasa)

Pelatihan Pengelolaan Makanan Sehat Bagi Ibu Hamil di Desa Golo Desat

KOMODOPOS.com-MBELILING-
Pemerintah Desa Golo Desat, kecamatan Mbeliling, kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur menggelar Kegiatan Pelatihan Pengelolaan makanan sehat bagi ibu hamil dan balita. Pelatihan itu diikuti oleh 35 orang kader posyandu dan warga dari 2 dusun di wilayah desa Golo Desat. Pelatihan ini digelar selama sehari, Senin (18/11/2019) di Rangawatu, ibu kota desa Golo Desat.

Pelatihan yang difasilitasi oleh pemerintah desa Golo Desat menghadirkan sesikitnya 3 narasumber dari Puskesmas Rekas, yakni bidan Evi, perawat Ecy dan perawat Mery.

Kepala Desa Golo Desat, Paulus D.Datang melalui Sekretaris desanya, Alexander Sabin menjelaskan, kegiatan pelatihan ini dilaksanakan demi tercapainya kesehatan masyarakat, terutama untuk para ibu hamil dan anak-anak balita yang ada wilayah desanya.

Bahan makanan yang digunakan dalam pelatihan ini merupakan pangan lokal seperti wortel, sayur bayam, buah-buahan yang ada di desa Golo Desat.

“Sasaran kegiatan ini adalah para ibu hamil dan anak balita di desa Golo Desat. Ibu-ibu dan kader posyandu sangat antusias mengikuti pelatihan. Kegiatan pelatihan iru dibiayai Dana Desa Golo Desat Tahun 2019”, ujar Alexander. *(Robert Perkasa)

HUT PGRI, Romo Edy Menori, Pr Ingatkan Pemerintah Agar Pendidikan Jangan Dipolitisir

KOMODOPOS.com- SATARMESE -Ketua Yayasan Sukma Pusat Ruteng, Romo.Edy Menori, Pr mengingatkan pemerintah agar tidak menjadikan pendidikan sebagai komoditas politik.

“Tolong, pendidikan di daerah ini jangan dipolitisir” tegas Rm Edy Memori, Pr ketika membawa materi dalam dialog HUT PGRI ke-74 dan Hari Guru Nasional ke-25 di Iteng, kecamatan Satarmese, kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Senin (25/11/2019).

Memperingati Hari Guru Nasional (HGN) dan Ulang Tahun PGRI ke-74, PGRI Cabang Satarmese menggelar dialog dengan tema umum “Sosok Guru Dalam Harapan dan Realita”.
Kegiatan ini diselenggarakan di SMAK St. Maria, Iteng, kabuoaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Jumat (25/11/2019). Diawali dengan upacara benderal di lapangan SMAK St. Maria Iteng.

Ratusan Guru se-kecamatan Satarmese yang terhimpun dalam organisasi PGRI dan para undangan lainnya. Tampak diantara para undangan, Camat Satarmese, Damianus Arjo, Koramil 1112 Satarmese, Kapolsek Iteng, Gabriel Taek dan para tokoh masyarakat setempat.

Tiga narasumber dalam dialog itu yakni, Rm. Edy Menori, Pr, Dr, Kosmas Takung, Gradus Pape, MM.

Pada sesi dialog, Dr.Geradus Pape,MM menjelaskan, dasar penetapan Hari Guru Nasional (HGN) pertama kali adalah Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994. Lalu dimantapkan oleh Undang Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. HGN diperingati setiap tanggal 25 November mengacu pada hari lahirnya Persatuan Guru Republik Indonesia, sebuah organisasi profesi guru terbesar di Indonesia yang lahir pada tanggal 25 November 1945.

Dengan demikian, peringatan Hari Guru Nasional sekaligus merupakan Hari Ulang Tahun PGRI. Pada tahun 2019 ini, PGRI genap berusia 74 tahun. Usia yang cukup matang dan dewasa bagi sebuah organisasi. Dalam perjalanannya, PGRI terus berupaya mewujudkan guru yang profesional, sejahtera, dan bermartabat dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan Indonesia.

“Peringatan HGN merupakan momentum penting bagi anggota PGRI yang berprofesi sebagai guru untuk merefleksikan kembali bahwa peran guru itu bukan saja melakukan transfer ilmu pengetahuan. Kita mesti mampu menjadi orang yang diteladani oleh peserta didik”, imbuh Geradus Pape, MM.

Ketua PGRI Cabang Satarmese, Yustina Heni Julita mengatakan,
kegiatan ini dilaksanakan atas hasil musyawarah bersama yang dibahas dalam rapat anggota PGRI Cabang Satarmese pekan lalu. Kegiatan ini, ungkap Yustina, merupakan bagian dari evaluasi diri PGRI. Yustina berharap agar semua angota PGRI bisa ambil bagian dalam dialog.

Kegiatan ini, ungkap Yustina, merupakan bagian dari evaluasi diri PGRI. Dengan kegiatan seperti ini, kita bisa berdiskusi tentang dunia pendidikan, kiranya nanti mampu diimplementasikan lewat pengabdian kita sebagai guru demi mewujudkan Guru yang profesional, sejahtera, dan bermartabat.

“Saya berharap semua angota PGRI bisa mengikuti kegiatan ini karena kegiatan ini merupakan kegiatan penting sekaligus evaluasi diri kita sebagai guru agar bisa diterapkan di sekolah kita masing-masing demi terwujudnya Guru yang profesional,sejahtera dan martabat”, terang Yustina ketika dikonfirmasi Komodopos.com, Senin (25/11/2019).

Kordinator Pendidikan kecamatan Satarmese, Fransiskus Jebau
menambahkan dalam momentum ini dirinya berharap agar semua guru yang hadir bisa menaruh harapan yang positif.

“Tugas kita sebagai guru memang sulit, tapi tolong jangan jadikan sebuah beban. Jadikanlah tugas Guru sebagai tugas pangilan mulia buat kita”, ujar Fransiskus. *(Djoe)
Editor : Robert Perkasa

Mengejar Tenar Melalui Wajah ‘Orang Besar’

Oleh : Sil Joni *)

FOTO atau gambar, dalam kajian semiotika, lebih dari sekadar ‘ornamen visual’ yang bersifat atraktif. Foto merupakan ‘teks historis’ yang mengandung deskripsi dan narasi tentang ‘subyek potret’. Tegasnya, dalam dan melalui foto, terselip ‘pesan spesifik’ tentang ‘siapa, apa, di mana, kapan, mengapa, dan bagaimana’ itu terjadi.

Pemirsa (penikmat) foto diberi ruang untuk menginterpretasikan ‘rangkaian momen’ yang terpatri dalam foto itu. Actus penafsiran semacam itu, bermuara pada penciptaan impresi dan imajinasi tentang ‘konten potret itu’. Dengan itu, foto bisa ‘mendongkrak positive image’ dari seorang individu. Citra diri seseorang, boleh jadi berubah, setelah orang lain ‘menikmati hasil jepretan kamera’ dengan pengaktifan elemen persepsi dan imajinasi.

Atas dasar itu, tidak terlalu mengejutkan jika kita ‘berusaha mengabadikan setiap detail kisah hidup’ dalam bentuk pengambilan gambar (taking picture). Kita tidak ingin ‘kisah perjumpaan’ dengan figur-figur top, berlalu begitu saja. Kita coba membujuk para ‘pejabat besar’ untuk foto bersama kita. Kita tidak peduli apakah ‘sosok tenar’ itu, mengenal pribadi kita dengan baik atau tidak. Kita hanya ingin ‘wajah orang besar itu’, turut memberi warna terhadap wajah kita sendiri.

Sadar atau tidak, sebenarnya ada semacam dambaan dalam alam bawah sadar bahwa ‘persepsi tentang eksistensi seseorang’ turut berubah ketika ‘wajak seorang elit politik’, nongol dalam album foto kita. Harapannya, para pemirsa foto itu nanti, memproduksi kesan ‘ketenaran serupa’ untuk diri kita. Setidaknya, publik akan menilai bahwa kita memiliki koneksi dan relasi yang akrab dengan orang-orang besar itu.

Sampai pada titik ini, kita coba menganalisis foto-foto para bakal calon bupati yang ‘didiseminasi’ secara kreatif dan agresif dalam ruang publik (public sphere). Ada sebagian dari bakal kandidat itu, yang ‘memamerkan’ sejumlah foto kenangan perjumpaan dengan ‘sejumlah pejabat terkenal’. Foto politis semacam itu, tentu secara sengaja dipajang dalam pasar politik, agar menuai semacam ‘pencitraan diri (self-image) yang menguntungkan dari sisi elektabilitas dan popularitas. Pemasaran ‘foto politis’, dengan demikian, merupakan bagian dari trik dan strategi menaikan citra diri sebagai ‘sosok yang tenar’. Bahasa teknisnya adalah personal political branding.

Kita membutuhkan ‘wajah orang besar’ untuk menuai efek ‘ketenaran’ di musim kontestasi politik. Mungkin sang calon mengidap semacam ‘rasa kurang percaya diri politis’, ketika ‘wajah politiknya’ dipajang seorang diri di berbagai tempat.

Sebagai bagian dari ‘strategi politik’, upaya ‘mencuri’ wajah orang besar semacam itu, tentu sah-sah saja. Kita coba ‘menggiring opini publik’ tentang ‘siapa kita’ melaui kemasan ‘sisi lahiriah’ yang menawan. Kita lebih ‘mendandani’ kulit pembungkus ketimbang substansi. Kita semua tahu bahwa politik di era posmodern ditandai oleh selebrasi yang massif terhadap ‘kulit palsu’ itu. Politisi medioker dan hipokrit, sangat lihai ‘memanfaatkan’ watak politik seperti itu.

Ruang pasar politik lokal, kian semarak. Aneka produk politik, baik yang polos maupun palsu, dijajakan secara aktif-progresif. Di tengah situasi pasar seperti itu, konsumen politik mesti cerdas dan selektif ‘memilih’ produk politik itu. Pastikan bahwa produk itu, belum ‘terkontaminasi efek visualitas teknologi digital’ yang bisa mengelabui ‘indera politik publik’. Semuanya tergantung pada proses deliberasi rasional para voters. Apakah kita lekas tergoda dengan ‘wajah politik palsu’ di ruang virtual yang hanya pandai mencari sensasi belaka atau sosok politik yang tampil otentik dan tidak dibalut dengan kepura-puraan?

*) Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan politik lokal Manggarai Barat. Tinggal di Labuan Bajo.

Gereja Stasi Nggorang Ambruk, Taksasi Kerugian Ratusan Juta Rupiah

KOMODOPOS.com-LABUAN BAJO-Angin kencang yang menyapu sebagian wilayah desa Nggorang, kecamatan Komodo, kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (23/11) kemarin meninggalkan bekas yang memprihatinkan. Bangunan Gereja Stasi Beata Maria Theresa Nggorang, Paroki Theresia Lisieux Longgo, Keuskupan Ruteng hancur berantakan. Taksasi kerugian material bangunan Gereja yang terletak di bukit Watu Langkas, itu mencapai ratusan juta rupiah.

Berita Komodopos.com sebelumnya, kerusakan sangat parah terdapat pada bangunan Sakrrsti Gereja. Konstruksi Atap bagian timur Gereja yang terbuat dari rangka baja ringan, hancur total diterjang angin kencang. Sink atap dan rangka baja ringan terlempar berantakan ke tanah dan tidak dapat dimanfaatkan lagi.

“Kondisi paling parah di sebelah timur sayap gereja yang tahun sebelumya telah dibagun ruangan Sakresti. Atap sink, rangka baja, semuanya terlempar ke bubungan gereja hingga hancur berantakan”, terang Berty Agung, umat Stasi Beata Maria Theresa Nggorang yang rumahnya dekat dengan lokasi Gereja tersebut.

Kepala Sekolah SMPN 2 Mbeliling, Paulinus Rodi, S.Pd yang tinggal di Watu Langkas tidak jauh dari lokasi Gereja tersebut juga mengemukakan hal senada.

“Derasnya angin yang terjadi kemarin memporakporandakan bangunan Sakresti Gereja yang dibangun belum setahun ini. Konstruksi bangunan Gereja seluruhnya terbuat dari baja ringan. Namun angin kencang menyapu bersih dalam seketika. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini. Namun taksasi kerugian umat diperkirakan ratusan juta rupiah”, ungkap Paulinus Rodi ketika dikonfirmasi Komodopos.com melalui handphone selularnya , Minggu (24/11) pagi.

Ia menambahkan, sejumlah barang kudus dan bangku tempat duduk yang ada di dalam Gereja luput dari amukan angin kencang. Namun kondisinya memprihatinkan lantaran basah kuyup tersiram air hujan. Kondisi di dalam Gereja juga tampak sangat kotor. Dedaunan kayu yang terbawa angin berserakan di dalam Gereja.

Berty Agung menambahkan, sesaat usai kejadian kemarin warga Watulangkas berbondong-bondong menuju lokasi Gereja yang tidak jauh dari pemukiman warga. Mereka berupaya memindahkan puing-puing bangunan yang yang tercecer dan berantakan di tanah fan membersihkan kotoran di dalam dan halaman Gereja.

Jaringan listrik putus total

Informasi yang dihimpun Komodopos.com, Minggu (24/11) pagi ini menyebutkan, kebaktian umat setempat hari Minggu pagi ini tetap berjalan meskipun tanpa menggunakan sound system karena jaringan listrik putus total.

Sementara itu, banyak umat yang datang mengikuti perayaan Ekaristi terpaksa berdiri atau duduk di bawah pohon kayu yang masih tersisa di lokasi Gereja yang ambruk tersebut.

Foto/Facebook Paulinus Rodi

“Misa pagi hari Minggu (24/11) tetap berjalan hanya saja banyak umat yang tidak tertampung di dalam gereja. Mereka hanya berdiri/duduk di luar. Selain itu sampai saat ini baja ringan beserta sinknya masih berada di atas atap Gereja yang lama belum dibersihkan. Misa juga tanpa sound system karena listrik putus total”, terang Paulinus. *(Robert Perkasa)

Kapela Watu Langkas Rusak Parah Dihajar Angin Kencang

KOMODOPOS.com-LABUAN BAJO-Angin ribut disertai hujan deras dan petir menggelegar. Melanda sejumlah wilayah di kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (23/11/2019) sekitar
pukul 15.00 Wita petang . Akibat cuaca buruk ini, Kapela Stasi Beata Maria Theresa Nggorang, Paroki Theresia Lisieux Longgo, Labuan Bajo, rusak parah terpapar badai angin kencang. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Namun taksasi kerugian material bangunan Kapela ini hingga ratusan juta rupiah.

Saksi mata, Berty Agung yang berada di lokasi kejadian melaporkan, atap bagian timur sayap Kapela yang terbuat dari rangka baja ambruk. Sink atap dan rangka baja terlempar berantakan ke tanah dan tidak dapat lagi dimanfaatkan.

“Kondisi paling parah di sebelah timur sayap Kapela yang tahun sebelumya telah dibagun ruangan tambahan. Atap sink, rangka baja, semuanya terlempar ke bubungan gereja. Hancur berantakan”, terang Berty Agung.

Ia menambahkan, sore tadi usai kejadian, warga Watulangkas berbondong-bondong menuju lokasi Kapela yang tidak jauh dari pemukiman warga. Mereka berupaya memindahkan puing-puing bangunan yang tercecer dan berantakan di tanah.

Meski demikian, kata Berty, kebaktian hari Minggu besok (24/11) tetap dilaksanakan di Kapela yang rusak parah tersebut.

“Kondisi fisik bangunan Kapela memang sudah hancur berantakan. Namun umat telah sepakat unruk tetap melakukan kebaktian hari Minggu besok tseperti biasa. Kondisi keseluruhan material bangunan Kapela memang tidak bisa lagi di manffaatkan. Namun masih ada tempat duduk seperti bangku yang masih bisa dipakai untuk perayaan besok”, terang Berty Agung. *(Robert Perkasa)

Cegah Stunting, Puskesmas Benteng Gandeng Yayasan 1000 Hari

Gelar Pelatihan Kader Posyandu

KOMODOPOS.com-LABUAN BAJO-Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis terutama pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Stunting mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan otak. Anak penderita stunting juga memiliki risiko lebih tinggi menderita penyakit kronis di masa dewasanya.

Mencegah bahaya Stunting, UPTD Puskesmas Benteng bekerja sama dengan Yayasan 1000 Hari menggelar kegiatan Pelatihan dan Sosialisai Cegah Stunting bagi para kader posyandu di wilayah kerjanya. Kegiatan ini dilaksanakan selama 2 hari, Jumat-Sabtu (22-23/11/2019 dengan jumlah peserta sebanyak 63 orang.

Kepala Puskesmas Benteng, Vinsensius Paul,S.Kep berharap kegiatann itu berjalan lancar dan sukses. Untuk itu ia membentuk Panitia kecil yang dimotori oleh Rohana Alun, S.KM, dengan kawan-kawan.

Staf UPTD Puskesmas Benteng, Kader Posyandu bersama Tim Yayasan 1000 Hari. Foto/Dok : Puskesmas Benteng

Vinsensius menjelaskan, kegiatan pelatihan hari pertama, Jumat (22/11) dihadiri oleh 32 orang. Sedangkan 31 peserta berikutnya hadir mengikuti pelatihan ini pada hari kedua, Sabtu (23/11).

“63 peserta yang ikut dalam pelatihan tersebut merupakan Kader Posyandu perwakilan dari setiap Posyandu dan didampingi oleh masing-masing Tenaga Kesehatan dari tingkat desa”, jelas Vinsensius.

Ia melanjutkan, pemateri dalam pelatihan ini, yakni Jesica Arawinda, yang akrab disapa ibu Sisi, dari Yayasan 1000 Hari. Jesika memberikan materi tentang Stunting. Sementara pemateri dari UPTD Puskesmas Benteng, Yuliana Yuyun, A.Md.Keb menyajikan materi tentang Tablet Tambah Darah bagi ibu hamil dan remaja putri.

Vinsensius juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada Yayasan 1000 Hari yang telah mendukung program prioritas nasional dalam upaya penurunan dan pencegahan stunting di Kabupaten Manggarai Barat, khususnya di wilayah kerja UPTD Puskesmas Benteng.

Dalam kesempatan itu, Director Operation Yayasan 1000 Hari, Mr.Zack Peterson berharap agar para peserta kegiatan itu mendapatkan pengetahuan baru demi peningkatan kapasitas kader posyandu dalam mencegah stunting.

“Melalui pelatihan dan sosialisasi hari ini, kami mengaharapkan akan mendapat bekal pengetahuan baru yang akan meningkatkan kemampuan Kader Posyandu dalam upaya pencegahan Stunting, dan kami datang mau berhadapan langsung dengan Kader Posyandu sebagai ujung tombak”, jelas Mr.Zack.

Puskesmas Benteng adalah salah satu UPTD yang berada langsung di bawah naungan Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Barat. Puskesmas Benteng terletak di sebelah selatan kota Labuan Bajo. Puskesmas Benteng merupakan penopang pelayanan kesehatan dasar. Wilayah kerja Puskesmas Benteng mencakup tujuh desa yakni Desa Compang Longgo, Desa Pantar, Desa Golo Pongkor, Desa Macang Tanggar, Desa Tiwu Nampar, Desa Warloka dan Desa Golo Mori. *
(Robert Perkasa )