Semiloka Burung Indonesia : Dari Ekofasis ke Konservasi Yang Mensejahterakan

“Kita percaya bahwa negara ini akan dikelola dengan lebih baik. Karena yang bisa memperbaiki ego sektoral itu bukan alokasi anggaran yang terus dinaikkan melainkan perbaikan sistem tata kelola. Tata kelola itu kata kuncinya” (Joko Tri Haryanto dari Badan Koordinasi Fiskal Nasional Kementerian Keuangan RI).

KOMODOPOS..com-LABUAN BAJO-Desain perencanaan pembangunan berkelanjutan berbasis ekologi melalui konservasi dengan mengubah pola prilaku sistem tata kelola pemerintahan. Mengubah dari sebelumnya bersifat cost centre (bergantung pada biaya) menjadi revenue generated, yaitu pembiayaan konservasi itu tidak hanya bersandar pada soal biaya melainkan mengenerating income. Mengubah pola prilaku sistem tata kelola pemerintahan dari sekedar mengejar target menjadi memperbaiki kualitas belanja. Dari ego sektoral menjadi kolabirasi lintas sektoral.

Joko Tri Haryanto dari Badan Koordinasi Fiskal Nasional Kementerian Keuangan RI menegaskan hal tersebut ketika diwawancarai Komodopos.com usai menyajikan materi Seminar dan Lokakarya (Semiloka) yang digelar Burung Indonesia di Meeting Room Hotel Jayakarta, Jumat petang (31/1/2020). Semiloka Burung Indonesia bertajuk, ““Perencanaan dan Penganggaran Berbasis Ekologi; Langkah Menuju Pembiayaan Konservasi Berkelanjutan”.

Dalam forum Semiloka itu, Joko Tri Haryanto menyajikan materi tentang Perencanaan dan Penganggaran Berbasis Ekologi, Telaahan Konsep dan Regulasinya.

“Dengan perubahan pola prilaku tata kelola ini, ke depannya diharapkan bisa mengubah semua persoalan sektoral. Bagaimana kita bersama menjadikan urusan sektoral itu menjadi urusan bersama. Kita tidak lagi bicara ego sektoral. Sehingga semua bisa kita kerjakan”, kata Joko

Ia menambahkan, ketika pendanaan publik itu bisa dikerjakan secara bersama, langkah berikutnya menetapkan satu indikator kinerja menjadi dasar alokasi perencanaan pembangunan berkelanjutan. Joko optimis, perbaikan sistem tata kelola pemerintahan sebagaimana dikatakan tadi, akan menghasilkan perencanaan pembangunan berkelanjutan di negara ini lebih baik.

“Kita percaya bahwa negara ini akan dikelola dengan lebih baik. Karena yang bisa memperbaiki ego sektoral itu bukan alokasi anggaran yang terus dinaikkan melainkan perbaikan sistem tata kelola. Tata kelola itu kuncinya”, tandas Joko.

Kapasitas pendanaan publik, baik APBN maupun APBD itu terbatas. Karena itu, kita butuh kerja sama lintas sektoral, berkolaborasi antara berbagai stakeholder, NGO, akademisi, pemerintah daerah, masyarakat sipil dll.

Closing statement mengakhiri Semiloka itu disampaikan oleh Adi Widiyanto mewakili Direktur Eksekutif Burung Indonesia. Widianto mengatakan, pelestarian alam bukan membebani anggaran publik. Sebab, alam itu sendiri memberi kita hidup.

“Mulailah dari mengerjakan hal-hal kecil. Pelan tapi pasti mimpi kita mewujudkan alam yang lestari akan terwujud”, kata Widiyanto seraya menambahkan, Semiloka ini merupakan forum curah gagasan (brainstorming). Setelah itu Burung Indonesia melakukan berbagai pelatihan (TOT) menindaklanjuti poit-point penting yang dihasilkan dalam forum Semiloka hari ini.

Kesimpulan Semiloka

Hasil curah gagasan yang dieksplor selama proses Semiloka Burung Indonesia sejak pagi hingga petang hari ini sebagai berikut ;

1. Ada sejumlah peluang kebijakan tingkat nasional,, daerah kabupaten hingga tingkat desa tentang pembangunan berkelanjutan, pengelolaan lingkungan hidup dan konservasi sumber daya alam dan pendanaannya berupa UU, Peraturan Menteri, Perda, Perbub, RPJMDes, Perdes dan Keputusan Kepala Desa.

2. Langkah-langkah strategis untuk mengimplementasikan sejumlah kebijakan :
■ Membuat aturan turunan terhadap kebijakan yang lebih tingggi agar l;ebih implementatif sesuai kewenanan yang dimiliki
■ Merubah paradigma dari egosektor menjadi kolaboratif, dari konservasi yang ekofasis ke konservasi yang lebih mensejahterakan, perbaikan tata kelola belanja pembangunan yang mementingkan persentasi capaian fisik kepada kualitas hasil pembangunan, politik anggaran yang prolingkungan.

3. Konservasi tidak terbatas pada urusan kehutanan, tanam-menanam, atau penjagaan ketat terhadap suatu obyek melainkan konservasi yang lebih komprehensif dari aspek ekologi, ekonomi dan sosial.

4. Sejumlah peluang kebijakan dan anggaran yang diatur oleh regulasi membutuhkan kolaborasi konsep, pemahaman dan aksi bersama pemerintah daerah, private sektor, akademisi, praktisi lingkungan, NGO dan Masyarakat Desa.

5. Peluang pendanaan dengan berbagai macam skema ditawarkan kepada kita, tinggal bagaimana menangkap peluang itu secara bersama-sama untuk mempertahankan dan memperbaiki kualiatas dan jumlah layanan alamyang proiduktif dan berkelanjutan.
*(Robert Perkasa)

Hujan Lebat, Jalan Menuju Air Terjun Cunca Rami Nyaris Putus

KOMODOPOS.com-WERANG- Ruas jalan Simpang Langgo -Werang nyaris putus total akibat longsor yang terjadi setelah hujan lebat mengguyur kawasan itu, Kamis malam (30/1). Titik longsor terparah terjadi di area spot wisata puncak Toto Nini dekat kampung Rangat, desa Wae Lolos, kecamatan Sano Nggoang, kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

Area ini sebelumnya terpapar longsor yang terjadi Maret 2019 lalu. Longsor semalam menyebabkan titik tersebut tampak makin parah dan mengancam keselamatan pengguna jalan yang melibtasi kawasan ini.

Terpantau Komodopos.com , Jumat pagi (31/1) , badan jalan tampak makin sempit karena tergerus air hujan.

Akibat kejadian ini, arus transportasi moda angkutan pedesaan dari dan menuju Werang hari ini terpantau terganggu.

“Memang untuk sementara kedaraan masi bisa lewat, namun besar kemungkinan longsor akan terus terjadi kalau hujan turun lagi hari inii”, kata Ignas Musa , warga kampung Rangat di lokasi longsor.

Ruas jalan ini merupakan jalur pariwisata yang sehari-hari dilintasi oleh para wisatawan manca negara dan domestik yang hendak menikmati keindahan destinasi wisata air terjun Cunca Lolos, Cunca Rami, dan Danau Sano Nggoang Ruas jalan ini juga
menuju Werang , Ibukota Kecamatan Sano Nggoang, dan beberapa desa di kecamatan itu. * (Robert Perkasa)

Seberapa Besar Sokongan APBD/ Dana Desa Untuk Program STBM di Manggarai Barat?

KOMODOPOS.com-MBELILING-
Pertanyaan itu mengemuka dalam kegiatan field visit atau kunjungan lapangan SIMAVI- Yayasan Dian Desa ke desa Golo Damu. salah satu target area Program STBM di kecamatan Mbeliling, kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Rabu (29/1/2020) kemarin.

Tampak dalam rombongan itu, Ir.Wahanudin, M.Med.Sc (PH) dari Kementerian PPN/ Bappenas, Yuni Kurniati Maisara dari Yayasan Dian Desa, Catur Adi Nugroho dari SIMAVI, Ibu Kristin dari Bappeda kabupaten Lombok Utara, NTB, Arnold Ano dari Bappeda Mabar dan juga utusan dari Dinas Kesehatan Mabar serta pemerintah kecamatan Mbeliling

“Dalam kesempatan ini saya ingin bertanya kepada bapa-ibu. Apakah dalam melaksanakan program 5 Pilar STBM ini ada dukungan sarana prasarana dari pemerintah desa? Dari pemerintah kabupaten? Dari dinas Kesehatan? Atau memang murni swadaya dari bapak-ibu sekalian?”, tanya Kristin dari Bappeda kabupaten Lombok Utara, NTB merespon data tentang 51 rumah yang tidak layak huni di desa Golo Damu.

Seperti dilaporkan Kepala Desa Golo Damu, Stefanus Densi bahwa dari total 177 unit rumah penduduk di desanya, ada 51 yang tidak layak huni.

“Tadi ada info profil desa Golo Damu bahwa ada 51 rumah yang tidak layak huni. 60 KK masuk data BDT. Berarti itu masih di bawah garis kemiskinan. Bagaimana keluarga miskin ini melaksanakan program 5 pilar STBM. Misalnya sarana BAP atau WC. Apakah dibangun sendiri atau dibantu oleh pemerintah desa atau pemkab?”, tanya Kristin.

Ia menjelaskan, Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) ini sangat penting. Bukan masalah cuci tangan pakai sabun. Bukan BAP saja.

Pencanangan program 5 Pilar STBM bertujuan untuk menciptakan dan melahirkan generasi (anak-anak kita) yang sehat ke depan. Untuk memastikan bahwa rakyat kita benar-benar sehat. Generasi yang sehat itu kemudian memiliki SDM yang handal.

Program ini dinyatakan sukses/berhasil apabila 5 Pilar itu benar-benar telah menjelma di tengah masyarakat sebagai perilaku/budaya hidup sehat.

Seberapa besar sokongan APBD kabupaten Mabar atau Dana Desa untuk program tersebut?

Sementara itu , Ir.Wahanudin, M.Med.Sc (PH) dari Kementerian PPN/ Bappenas menegaskan, Sanitasi dan air bersih adalah urusan wajib dasar yang sangat mendasar. Dan karena itu, negara berkewajiban unruk menuntaskannya.

Peserta kegiatan field visit atau kunjungan lapangan SIMAVI-Yayasan Dian Desa ke Desa Golo Damu. salah satu target area Program STBM di kecamatan Mbeliling, kabupaten Manggarai Barat, Rabu (29/1/2020). Foto : Robert Perkasa/Komodopos.com

“Harusnya dituntaskan dulu sanitasi dan air minum sebelum infrastruktur yang lain. Bahkan itu yang harus diutamakan”, tegas Wahanudin.

Berita Komodopos.com sebelumnya, Camat Mbeliling, Robertus Resmianto melalui
Kasie Kesos, Hieronimus T.K. Very Much menjelaskan bahwa di kecamatan Mbeliling, semua desa melaksanakan program 5 pilar STBM. Kecuali desa Kempo hanya melaksanakan PILAR 1. Dan desa yang telah ditetapkan sebagai desa STBM baru satu, yaitu desa Golo Sembea yang tahun lalu dideklarasikan di tingkat kabupaten.

“Yang telah dideklarasikan di tingkat kecamatan ada 6 desa, Golo Damu, Cunca Lolos, Golo Desat, Watu Galang, Kempo dan desa Cunca Wulang.

5 Pilar STBM :
1. Stop pembuangan BAP sembarangan.
2. Cuci tangan pakai sabun.
3. Pengelolaan air minum & makanan rumah tangga.
4. Pengamanan sampah rumah tangga.
5,. Pengamanan limbah cair rumah tangga. * (Robert Perkasa)

Camat Pius Baut Lantik Penjabat Kepala Desa Wae Wako

KOMODOPOS.com-LEMBOR-
Hari ini, Kamis (30/1) pukul 10.00 Wita, Camat Lembor, Pius Baut, SE melantik Safrudin Jamat menjadi Penjabat Kepala Desa Wae Wako. Acara pelantikan ini berlangsung di kantor desa Wae Wako, Laci., kecamatan Lembor, kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Pelantikan tersebut berdasarkan SK Bupati Manggarai Barat Nomor : 11/KEP/HK/2020 tanggal,13 Januari 2020.

Safrudin dilantik menempati jabatan tersebut setelah masa jabatan Kepala Desa Wae Wako, Maximus Hamja telah berakhir 10 Januari 2020.

Safrudin Jamat adalah ASN di kecamatan Lembor yang sebelumnya menjabat Sekretaris Desa Wae Wako.

Dalam sambutannya, camat Pius Baut menegaskan, tugas penjabat kepala desa adalah sebagai pelayan di desa. Pekerjaan sebagai pelayan adalah melayani, mengurus administrasi pemerintahan, memfasilitasi pemilihan kepala desa serentak, serta sebagai panutan dalam bermasyarakat”, tegas camat Pius Baut.

Tutut hadir dalam pelantikan itu, Kepala KantorvUrusan Agama ( KUA) kecamatan Lembor, Abdurahman, S.Ag, Babinsa Lembor, karang taruna, tokoh pendidik, pendamping desa, BPD, dan para tamu undangan.

Dikonfirmasi Komodopos.com via Whatsapp, Kamis petang (30/1), Ketua BPD Wae Wako, Sumarto Hardian menyampaikan ucapan selamat menjalankan tugas kepada Penjabat Kepala Desa terlantik. Ia berharap semoga penjabat kepala desa yang diberi amanah menjadi mitra yang baik bagi segenap masyarakat di desa Wae Wako.

“Kami selaku pimpinan BPD beserta anggota, mengucapkan selamat kepada penjabat baru di desa ini. semoga amanah menjalankan tugas, dan tetap menjadi mitra yang tauladan bagi segenap masyarakat desa Wae Wako”, kata Sumarto. *(Robert Perkasa)

Imapelma Ende KKBM di Desa Golo Lobos-Manggarai Timur

KOMODOPOS.com-MANGGARAI TIMUR- Ratusan anggota Ikatan Mahasiswa Pelajar Manggarai (Imapelma) di Ende menggelar kegiatan Kemah Kerja Bakti Mahasiswa (KKBM) di desa Golo Lobos, kecamatan Poco Ranaka, kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur . Para mahasiswa ini datang di desa Golo Lobos untuk belajar pengalaman dari warga desa tersebut tentang realitas keseharian warga masyarakat di desa tersebut.

Kegiatan ini dilaksanakan selama 8 hari, Selasa, 27 Januari hingga 3 Ferbruari 2020. Para mahasiswa ini melaksanakan berbagai jenis kegiatan di sejumlah lokasi di kecamatan Poco Ranaka dengan alokasi waktu yang berbeda. Jenis kegiatan antara lain, bakti sosial, peyuluhan pertanian, Latihan Kepemimpinan Tingkat Dasar (LKTD), Seminar sehari dan malam kesenian. Kegiatan LKTD dilakukan di SMK Negeri 1 Poco Ranaka. Penyuluhan Pertanian , bakti sosial di halaman Gereja, tanggungan Koor di Gereja Stasi Lame dan malam Kesenian.

Imapelma juga menggelar Seminar sehari yang bertajuk “Mewujudkan Kualitas Masyarakat Dalam Membangun Desa Pada Bidang Kesehatan, Sosial dan Pertanian Melalui KKBM”.

Ketua Panitia KKBM, Pius H. Atul dalam laporannya menjelaskan, kegiatan KKBM dilaksanakan berdasarkan Surat Keputusan Badan Pengurus Ikatan Mahasiswa Pelajar Manggarai periode 2019/2020, Nomor : 03/SK-PANLAK-KKBM/IMAPELMA-ENDE/XII/2019, Tentang pengangkatan ketua Panitia Pelaksana dan usulan Depertemen Gerakan Kemasyarakan yang telah dibahas dan ditetapkan menjadi program kerja Imapelma periode 2019/2020. Kegiatan tersebut juga dilakukan sebagai wujud nyata Implementasi kecintaan Mahasiswa Manggarai yang ada di Ende terhadap realitas sosial kemasyarakatan di Tanah Congka Sae.

Tujuan Kegiatan KKBM dilaksanakan untuk memberikan pemahaman dan kesadaran kepada masyarakat tentang eksistensi mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa.

“KKBM ini kami lakukan di tengah masyarakat Manggarai Timur. Kami ingin belajar dari mereka tentang kondisi dan realitas sosialnya. Kami ingin belajar tentang itu bersama masyarakat. Selain itu kami juga ingin menggali informasi dari masyarakat terkait problematika sosiali yang mereka alami dalam kaitan dengan geliat pembangunan di Manggarai Timur”, ujar Pius.

Ia menambahkan, pengalaman Informasi dari masyarakat selama kegiatan ini menjadi masukan yang berharga bagi mahasiswa. Dengan pengalaman dan masukan tersebut., para mahasiswa Imapelma dapat mencari solusinya dan memberikan kontribusi yang positif bagi masyarakat dan juga untuk dirinya sendiri.

“Selama KKBM ini Imapelma membahaskan solusi atas berbagai keluhan masyarakat Kabupaten Manggarai Timur lebih khusus di Desa Golo Lobos. Maka dengan itu kehadiran Imapelma di desa Golo Lobos sangat besar pengaruhnya. Terutama untuk membangkitkan semangat seluruh elemen masyarakat bahwa pentingnya persatuan dan kesatuan untuk membangun desa”, tandas Pius.

Pius menegaskan, desa menyimpan potensi SDA yang mesti dikelola secara bijak agarvberdampak ekonomi bagi wargganya. Apalagi didukung dengan dana desa.

“Semoga dengan terlaksananya kegiatan ini dapat memberikan pembaharuan atau warna baru bagi masyarakat Manggarai Timur, khususnya warga desa Golo Lobos”, harap Pius. *(eky/pha)
Editor : Robert Perkasa

Menengok Sanitasi Total Berbasis Masyarakat di Desa Golo Damu

KOMODOPOS.com-MBELILING-
Desa Golo Damu, kecamatan Mbeliling, kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur adalah desa pelaksana program 5 Pilar Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). Program ini dicanangkan oleh Yayasan Dian Desa kerjasama dengan Simavi ( (Basic Health For All), Dinas Kesehatan Manggarai Barat dan Kelompok Kerja Air Minum Penyehatan Lingkungan (Pokja AMPL) dan disponsori oleh Kedutaan Belanda di Indonesia. Program tersebut mulai dijalankan di desa tersebut sejak dideklarasikan pada 12 November 2019 silam.

Pilar 1, Stop pembuangan BAP sembarangan. Pilar (2) Cuci tangan pakai sabun. Pilar (3), Pengelolaan air minum & makanan rumah tangga. Pilar 4, Pengamanan sampah rumah tangga. Pilar 5, Pengamanan limbah cair rumah tangga.

Sejak dicanangkan, pemerintah desa bersama segenap warga desa Golo Damu mengejawantahkan kelima PILAR tersebut dalam setiap aktifitas keseharian mereka. Menjadikan kelima PILAR STBM ini sebagai kebutuhan dan “gaya hidup baru”.

Desa yang terletak di KM 33 dari Labuan Bajo, Ibukota kabupaten Manggarai Barat. Jarak rentang kendali pemerintahan kabupaten dari Labuan Bajo sejauh 36 km dengan waktu tempuh 60 menit. 1 jam. Sedangkan jarak rentang gerak pemerintah kecamatan dari Warsawa, ibukota kecamatan Mbeliling sejauh 18 km dengan waktu tempuh 30 menit.

Data dinamis

Dari monografi data dinamis kependudukan, desa Golo Damu memiliki jumlah penduduk sebanyak 925 jiwa dan jumlah Kepala Keluarga sebanyak 210.

Jumlah penduduk menurut jenis kelamin ; Laki-laki 472 jiwa, Peremouan 453 jiwa. Jumlah penduduk menurut usia ;
0-4 tahun 74 orang, usia 5-9 tahun 78 orang, usia 10-14 tahun 50 orang, usia 15-19 tahun 117 orang, usia 20-29 tahun 89 orang dan usia 30 -60 tahun 398 orang.

Jumlah penduduk menurut pendidikan ; Belum sekolah = 105 orang. Belum tamat SD = 112 orang. Tamat SD/sederajat / 289 orang. Tamat SLTP/sederajat = 142 orang. Tamat SLTA/sederajat = 189 orang. Tamat Akademi/sederajat = 3 orang. Lulusan Diploma III = 20 orang. S1= 64 orang dan S2 = 1 orang.

Kepala Desa Golo Damu, Stefanus Densi. Foto : Komodopos.com

Data statis

Desa Golo Damu memiliki luas wilayah 700 ha. Sebelah utara berbatasan dengan desa Tiwu Riwung. Sebelah timur ; desa Golo Ndoal. Sebelah barat ; Desa Cunca Lolos. Sebelah selatan ; desa Wae Lolos (batas wilayah administrasi kecamatan)

Ada 177 unit rumah penduduk tersebar di 4 dusun yang menopang tubuh desa Golo Damu. Dusun Wae Masa 36 unit. Ndole 57 unit, Ranong 40 unit dan dusun Mejer 44 unit. Sedangkan jumlah rumah yang tidak layak huni sebanyak 51 unit.

Sekretaris Desa Golo Damu, Yohanes Cebolaing, SKM. Foto : Komodopos.com

Data posyandu

Jumlah rumah posyandu di desa Golo Damu ada 3 titik. Jumlah kader posyiandu/STMB sebanyak 19 orang. Kepemilikan jamban ; jamban camplong tidak ada. 9 KK memiliki jamban plengsengan dan 134 KK memiliki jamban leher angsa.

Jumlah balita berstatus gizi buruk 1 orang (cacat sejak lahir). 8 balita berstatus gizi kurang dan 9 balita berstatus gizi baik. Sedangkan penderita stunting tidak ada.

Simavi bangga

Rabu (29/1) Yayasan Dian Desa dan Simavi menyambangi desa Golo Damu. Hadir juga pejabat negara dari Kementerian PPN/Bappenas, Bapeda Kabupaten Lombok Utara, NTB dan didampingi oleh tim dari Bappeda dan Dinas Kesehatan kabupaten Mabar. Kedatangan para pejabat negara itu diundang oleh Yayasan Dian Desa dan Simavi selaku pemilik program.

Tampak dalam rombongan itu, Ir.Wahanudin, M.Med.Sc (PH) dari Kementerian PPN/ Bappenas, Yuni Kurniati Maisara dari Yayasan Dian Desa, Catur Adi Nugroho dari Simavi, Ibu Kristin dari Bappeda kabupaten Lombok Utara, NTB, Arnold Ano dari Bappeda Mabar dan juga utusan dari Dinas Kesehatan Mabar dan pemerintah kecamatan Mbeliling.

Tujuan kedatangan Yayasan Dian Desa dan Simavi ke desa Golo Damu unruk memonitoring pelaksanaan program 5 Pilar STBM di desa tersebut.

Pantauan Komodopos.com, rombongan Yayasan Dian Desa dan Simavi disambut meriah secara adat oleh pemerintah dan masyarakat setempat.

“Kami dari Simavi sangat bangga dan terharu. Ternyata dengan uang yang tidak seberapa yang kita kerjasamakan dengan Yayasan Dian Desa bisa membuat perubahan, bisa membuat bahagia, bisa membuat nyaman. Bisa membuat orang bisa merasa lebih sehat. Itu sebuah pencapaian yang luar biasa”, kata Catur Adi Nugroho dari Simavi

Nugroho menyebutkan, Anggaran dana yang diberikan kepada Simavi kerjasama dengan Yayasan Dian Desa dimanfaatkan secara baik demi mewujudkan kesehatan masyarakat di desa Golo Damu melalui program 5 Pilar STBM.

“Kedutaan Belanda, saya yakin mereka yang sudah memberikan anggaran ke kita pasti juga merasa bangga dengan apa yang bapa-ibu capai sejauh ini”, kata Catur Adi Nugroho dari Simavi seraya menambahkan, pencapaian ini tidak ada harganya sama sekali tanpa ada semangat, tanpa muncul perubahan dan niat tulus dari warga setempat.

“Banggakan apa yang sudah bapa ibu capai. Rawatlah dan tingkatkan pencapaian ini. Bayangkan saja, 1 orang yang BAP sembarangan itu bisa menzolimi semua orang yang ada di satu kampung di sini. Itu sudah pasti. Karena bapak-ibu sudah susah payah membangun jamban, tiba-tiba 1 anak kecil yang BAP sembarangan”, imbuhnya.

Nugroho kagum karena capaian STBM di desa Golo Damu luar biasa. Diakuinya, program 5Pilar STBM di desa Golo Damu tidak mungkin berhasil jika tanpa Kerja sama dan tenggang rasa antara sesama warga desa. Nugroho juga berharap, apa yang sudah dicapai terus dikembangkan dan meminta memperbaiki yang belum tuntas dilakukan

“Pencapaian ini luar biasa buat bapak -ibu semua. Karena ini bukan hal mudah. Apa yang telah bapa-ibu kerjakan, itu wujud tenggsng rasa antara sesama yang lain. Kalau tanpa kerja sama dan tenggang rasa, saya yakin STBM di sini tidak berhasil.

Berita Komodopos.com sebelumnya, Camat Mbeliling, Robertus Resmianto melalui
Kasie Kesos kecamatan Mbeliling, Hieronimus T.K. Very Much menjelaskan bahwa di kecamatan Mbeliling, semua desa melaksanakan program 5 pilar STBM. Kecuali desa Kempo hanya melaksanakan PILAR 1. Dan desa yang telah ditetapkan sebagai desa STBM baru satu, yaitu desa Golo Sembea yang tahun lalu dideklarasikan di tingkat kabupaten.

“Yang telah deklaasi tingkat kecamatan ada 6 desa, Golo Damu, Cunca Lolos, Golo Desat, Watu Galang, Kempo dan desa Cunca Wulang.

Very menuturkan kehadiran Tim monitoring ini dapat memacu semangat untuk meningkatkan hidup sehat melalui program 5 pilar STBM.

Ia mengajak warga desa Golo Damu unruk terus bekerja sama menjaga kebersihan lingkungan.

“Mari kita tingkatkan budaya hidup sehat dengan menjaga 5 pilar STBM”, pinta Very seraya meminta tim monitoring agar senantiasa mengunjungi kecamatan Mbeliling. *(Robert Perkasa)

King’s Fun Maumere Selenggarakan Lomba Hasta Karya

KOMODOPOS.con-MAUMERE-
King’s Fun (KF) cabang Maumere selenggarakan Lomba Hasta Karya membuat jantung atau hati dari lipatan kertas origami, ketegori anak-anak sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di kota Maumere, kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Lomba tersebut berlangsung pada Selasa (28/1/2020) di outlet King’s Fun – Barata Dept. Store Maumere.

Magdalena Nona Engke, Kepala Cabang KF Maumere menjelaskan, Sekolah PAUD yang diundang untuk ikut terlibat dalam event ini ada 5 sekolah yaitu RA. Taqwa Beru 19 orang, TK. Pater Simplisiano 20 orang, TK. Santa Maria Imakulata 18 orang, TK Maria Piama Stella 21 orang, dan PAUD Mawar 29 orang.

Promosi KF Indonesia Timur, Klementinus Elenora mengatakan, KF selain sebagai tempat rekreasi keluarga, juga sebagai tempat belajar anak-anak usia dini. Setiap bulan KF membuat event minimal tiga kali.

“Selain itu, KF juga akan bekerjasama dengan sekolah-sekolah PAUD apabila ada kegiatan ekstra, KF akan memfasilitasi tempat jika kegiatannya hendak dilaksanakan di outlet KF. Tempatnya tidak dibayar (gratis), persyaratannya satu minggu sebelum kegiatan dekati pihak KF”, ucap Entos.

Ia juga menyampaikan kepada semua peserta lomba bahwa “Yang tidak mendapatkan juara dalam lomba ini, jangan berkecil hati masih banyak kesempatan kedepan untuk adek-adek semua, karena dari 107 orang yang ikut lomba, hanya 6 orang yang dipilih untuk mendapat hadiah juara. Namun, semua peserta akan mendapatkan voucher 10 K yang masa aktifnya sampai (31/01/20)”, ujar Entos.

Hadir juga Manager Area KF Indonesia Timur, Joko Riyadi. Ia memberi apresiasi kepada para pihak yang berpartisipasi dalam kegiatan tersebut, mulai dari panitia, pihak sekolah, dan juga orang tua yang sudah terlibat dalam menyukseskan kegiatan ini.

“Pesan saya untuk panitia, event kedepannya persiapkan lebih matang lagi, yang kurang sebagai pembelajaran untuk event-event selanjutnya”, ujar Joko.

Terpisah, Suster Agustinian A. R. Alfares SFSC, salah seorang guru pendamping peserta lomba dari TK. Pater Simplisiano, saat dimintai tanggapannya terkait kegiatan ini meminta panitia agar kegiatan seperti ini perlu dilakukan secara berkelanjutan. Menurut dia, kegiatan ini positif karena memberi ruang bagi anak-anak unruk berkreasi. Dan sangat membantu pertumbuhan imajinasi anak-anak.

“Kegiatan ini sangat luar biasa dan sangat membantu anak-anak. Kedepannya perlu mempersiapkan dengan baik dan kami menunggu undangan berikutnya”, tandas Suster Agustinian.

Dari lomba tersebut, pemenangnya adalah sebagai berikut. Juara Harapan 3, Mediatriks Deko Dai dari TK. Santa Maria Imakulata; Juara Harapan 2, Mikhael Noel Apolonius S. G. dari PAUD Mawar; Juara Harapan 1, Inggid Gabriela Inggirmata G. dari TK Pater Simplisiano; Juara 3, Bilqis Dzakira Auftani D. dari RA. Taqwa Beru; Juara 2, Velisitas Samfan dari TK. Piama Maria Stella; dan Juara 1, Gottfried William dari TK. Pater Simplisiano. *(Enthos)

Editor ; Robert Perkasa

Desa Golo Damu-Mbeliling Sukses Jalankan Program 5 Pilar STBM

KOMODOPOS.com-MBELILING-
Desa Golo Damu, kecamatan Mbeliling, kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur sukses menjalankan program 5 PILAR STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat). Program ini dicanangkan oleh Yayasan Dian Desa, kerja sama dengan Simavi (Basic Health For All), Dinas Kesehatan Manggarai Barat dan Pokja AMPL (Air minum Penyehatan Lingkungan).

Program ini mulai dijalankan di desa Golo Damu sejak dideklarasikan pada 12 November 2019 lalu di desa Watu Galang. Adapun kegiatan yang dijalankan selama 2 tahun ini, antara lain melalui kegiatan gotong royong membangun berbagai sarana penunjang kesehatan, diskusi dan penyuluhan 5 Pilar STBM. Kegiata-kegiatan tersebut dilakukan secara berkala dan didampingi oleh para kader posyandu di setiap dusun serta tim penyuluhan atau petugas posyandu dari Dinas Kesehatan/puskesmas, pemerintah desa dan kecamatan. Segmen target 5 Pilar STBM yang disasar oleh program tersebut adalah segenap lapisan masyarakat, mulai dewasa hingga anak-anak.

Kesuksesan menjalankan program tersebut berkat kerjasama dan semangat pemerintah desa dan seluruh masyarakat desa Golo Damu yang tersebar di 4 dusun, yakni dusun Wae Masa, Ndole, Ranong dan Mejer. Juga tidak terlepas dari pendampingan pemerintah kabupaten Manggarai Barat, pemerintah kecamatan Mbeliling.

5 Pilar STBM ; (1)Stop pembuangan BAP sembarangan, (2) cuci tangan pakai sabun, (3) pengelolaan air minum & makanan rumah tangga, (4) pengamanan sampah rumah tangga dan (5) pengamanan limbah cair rumah tangga.

Disambut secara adat

Hari ini, Rabu (29/1) Yayasan Dian Desa dan Simavi, Kementerian PPN/Bappenas, Bapeda Kabupaten Lombok Utara dan Bappeda kabupaten Manggarai Barat tiba di desa Golo Damu, wilayah pelaksanaan program 5 Pilar TBM di Manggarai Barat. Tampak dalam rombongan itu, Ir.Wahanudin, M.Med.Sc (PH) dari Kementerian PPN/ Bappenas, Yuni Kurniati Maisara dari Yayasan Dian Desa, Catur Adi Nugroho dari Simavi, Ibu Kristin dari Bappeda kabupaten Lombok Utara, NTB, Arnold Ano dari Bappeda Mabar dan juga utusan dari Dinas Kesehatan Mabar.

Terpantau Komodopos.com, saat tiba di pintu gerbang kantor Kepala Desa Golo Damu, mereka disambut secara adat oleh pemerintah dan masyarakat desa Golo Damu.

Dalam sambutan awalnya, Wahanudin. mengaku sangat bangga karena diterima dengan setulus hati oleh warga aetempat.

“Terimakasih luar biasa. Kami diterima secara adat meriah. Kami diberi ayam putih menandakan hati yang putih bersih. Kehadiran kami di sini ingin melihat kondisi di desa Golo Damu. Terutama soal sanitasi sehingga anak kita kesehatannya baik. Luar biasa saya merinding. Kami datang dari jauh dan dianggap saudara oleh bapa ibu di sini. Terima kasih atas penerimaan yang luar biasa ini”, ungkap Wahanudin.

Sementara itu, Catur Adi Nugroho dari Simavi menjelaskan kunjungan ke desa Goko Damu bertujuan untuk mengetahui perkembangan program 5 PILAR STBM yang dijalankan.

“Kami datang ke sini untuk memperoleh catatan atas capaian ataupun kekurangan yang masih ada dan akselerasi seperti apa yang perlu dilakukan guna memperbaiki hal tersebut di sisa waktu program yang dijalankan”, ujar Catur.

Ia menambahkan, kunjungan ke desa Golo Damu menjadi sangat penting bagi Yayasan Dian Desa karena tidak hanya akan mendapat catatan masalah atau hal yang masih perlu dipacu untuk dicapai, tetapi juga menjadi ajang untuk bersepakat dalam sebuah rencana aksi guna membenahi kekurangan yang masih ada ataupun rencana aksi paska program berakhir.

Pada kesempatan itu, Yayasan Dian Desa dan Simavi meninjau langsung ke sejumlah rumah warga di dusun Ndole. Kepada warga, ia meminta agar 5 PILAR STBM harus menjadi perilaku/gaya hidup masyarakat.

“Semangat itu sudah muncul di desa ini. Apa yang sudah dilakukan itu seyogianya ditingkatkan. Mari..perhatikan drainase rumah tangga”, pintanya.

Kepala Desa Golo Damu, Stefanus Densi dalam laporan singkatnya merincikan data dinamis dan data stasis serta data posyandu terkait program 5 Pilar PILAR STBM.

Dirincikannya, jumlah rumah yang ada di desa Golo Damu sebanyak 177 unit. Dusun Wae Masa 36 unit. Ndole 57 unit, Ranong 40, Mejer 44 unit. Jumlah rumah yang tidak layak huni sebanyak 51 unit.

Data kepemilikan jamban ; jamban camplong tidak ada, jamban plengsengan ada 9 Kepala Keluarga (KK), jamban leher angsa ada 134 KK

Jumlah rumah posyandu di desa Golo Damu ada 3 titik dan kader posyiandu/STMB sebanyak 19 orang. Jumlah balita berstatus gizi buruk 1 orang (cacat sejak lahir). 8 balita berstatus gizi kurang dan 9 balita berstatus gizi baik. Sedangkan penderita stunring tidak ada.

Monografi data dinamis kependudukan desa Golo Damu ; Jumlah penduduk 925 jiwa. Jumlah Kepala Keluarga 210.
Jumlah penduduk menurut jenis kelamin L = 472 P =453 jiwa. Jumlah penduduk menurut agama ; Katolik 885 orang, Islam 40 orang. Jumlah penduduk menurut usia ;
0-4 tahun = 74 orang, usia 5-9 tahun = 78 orang, usia 10-14 tahun = 50 orang, usia 15-19 tahun = 117 orang, usia 20-29 tahun = 89 orang,
usia 30 -60 tahun = 398 orang.

Jumlah penduduk menurut pendidikan ;

Belum sekolah = 105 orang. Belum tamat SD = 112 orang. Tamat SD/sederajat / 289 orang. Tamat SLTP/sederajat = 142 orang. Tamat SLTA/sederajat = 189 orang. Tamat Akademi/sederajat = 3 orang. Lulusan Diploma III = 20 orang. S1= 64 orang dan S2 = 1 orang

Data statis Desa Golo Damu

Luas wilayah = 700 ha. Sebelah utara ; desa Tiwu Riwung. Sebelah timur : desa Golo Ndoal. Sebelah barat ; Desa Cunca Lolos. Sebelah selatan ; desa Wae Lolos.

Jarak pusat pemerintahan desa dari ibukota kecamatan 18 km, waktu tempuh 30 menit. Jarak pusat pemerintahan kabuoate6n dari ibukota kabupaten 36 km dengan waktu tempuh 1 jam.

Camat Mbeliling, Robertus Resmianto melalui
Kasie Kesos Kec.Mbeliling, Hieronimus T.K. Very Much menjelaskan bahwa di kecamatan Mbeliling, semua desa melaksanakan program 5 pilar STBM. Kecuali desa Kempo hanya melaksanakan PILAR 1. Dan desa yang telah ditetapkan sebagai desa STBM baru satu, yaitu desa Golo Sembea yang tahun lalu dideklarasikan di tingkat kabupaten.

“Yang telah deklaasi tingkat kecamatan ada 6 desa, Golo Damu, Cunca Lolos, Golo Desat, Watu Galang, Kempo dan desa Cunca Wulang.

Very menuturkan kehadiran Tim monitoring ini dapat memacu semangat untuk meningkatkan hidup sehat melalui program 5 pilar STBM. Ia mengajak warga desa Golo Damu unruk terus bekerja sama menjaga kebersihan lingkungan.

“Mari kita tingkatkan budaya hidup sehat dengan menjaga 5 pilar STBM”, pinta Very seraya meminta tim monitoring agar senantiasa mengunjungi kecamatan Mbeliling.

Mewakili Bappeda kabupaten Mabar, Arnoldus Ano meminta warga setempat agar infrastruktur yang dibangun pemerintah di desa Golo Damu dirawat dengan baik.

“Kehadiran Bappenas di sini ingin melihat dan mengetahui kondisi infrastruktur di sini. Soal keberlanjutannya yang perlu dijaga dan dirawat. Jika tidak , umur infrastruktur tidak lama. Pesan kami agar masyarakat di sini berpartisipasi aktif dalam seluruh program pemerintah. Dulu proses perencanaan kita top down. Tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat sehingga banyak yang mubasir. Sekarang bottom up dari bawah. Misalnya, program Ppansimas, STBM. 5 Pilar STBM tujuan akhirnya agar kita sehat. Apa gunanya semua sarana dan infrastruktur yang dibangun pemerintah kalau masyarakatnya sakit.* (Robert Perkasa)

Hubert Hambut Tenggelam di Sungai Wae Mese, Kapolsek Roy Weridity Pimpin Evakuasi Korban

KOMODOPOS.com-LABUAN BAJO-Hubertus Hambut (60 tahun). Warga asal Tanah Dereng, desa Compang Longgo, kecamatan Komodo, kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Diketahui meninggal dunia akibat tenggelam di sungai Wae Mese, Selasa (28/1) siang sekira pukul 11.45 Wita. Lokasi kejadian ini persisnya di Tiwu Ndaer (nama kolam), sekitar 100 meter dari jembatan Handel, desa Compang Longgo, kecamatan Komodo,
ruas jalan Simpang Nggorang – Golo Pongkor. Saat ditemukan, kedua kaki korban tertanam dalam endapan lumpur yang ada di dasar kolam tersebut.

Kapolsek Komodo, Ipda Royke Weridity yang memimpin langsung proses evakuasi korban menjelaskan, ia mengetahui kejadian ini setelah mendapat laporan dari warga setempat.

“Mendapat laporan dari warga, saya bersama personil langsung ke TKP melakukan pencarian, dibantu oleh warga setempat. Upaya pencarian korban dilakukan dengan cara menyelam hingga ke dasar sungai”, ujar Kapolsek Roy ketika dikonfirmasi Komodopos.com via Whatsapp, Selasa malam (28/1).

Menurut Kapolsek Roy berdasarkan keterangan yang diperoleh dari saudara Iwan, warga kampung Handel, korban sehari-hari bekerja sebagai penggali pasir di sungai Wae Mese. Sungai itu berlokasi tidak jauh dari dusun Handel, desa Compang Longgo. Iwan sempat melihat korban sedang menghisap rokok sambil jalan di pinggiran sungai Wae Mese tersebut. Berselang beberapa saat kemudian, saudara Iwan mendengar teriakan minta tolong dari arah sungai tersebut. Namun saat Iwan melihat ke arah kali, ternyata korban sudah hilang. Iwan hanya terlihat topi milik korban yang terapung di atas permukaan air sungai Waemese tersebut.

Jenazah korban disemayamkan di rumah duka di Tanah Dereng, desa Compang Longgo, kecamatan Komodo. Foto : Fabianus S.Odos

”Puji Tuhan kurang lebih pukul 14.30 Wita, kami dan masyarakat berhasil menemukan korban di dasar sungai. Selanjutnya kami evakuasi ke tepian dan langsung dievakuasi ke RSUD Pratama Komodo menggunakan mobil patroli Polsek Komodo. Namun demikian, nyawa korban tidak terselamatkan”, imbuh Kapolsek Ipda Royke Weridity.

Kapolsek Roy menambahkan, dari hasil pemeriksaan Dokter, tidak terdapat tanda-tanda penganiayaan.

“Korban dinyatakan meninggal dunia akibat tenggelam dan kehabisan oksigen”, kata Kapolsek Royke Weridity.

Terpisah, Kepala Desa Compang Longgo, Fabianus S. Odos menuturkan, korban berada di lokasi penambangan pasir bekerja bersama sejumlah warga desa Compang Longgo lainnya menggali pasir secara manual. Sebelum tenggelam, korban menyeberang kali sambil berenang di kolam itu hendak pulang makan siang di rumahnya di Tanah Dereng. Namun belum sampai di sebelah kali, korban tenggelam hingga kedua kakinya tertanam di endapan lumpur yang ada di dasar kolam;tersebut.

” Korban baru diketahui tenggelam oleh warga yang ada di sekitar lokasi tersebut ketika mereka melihat topi mengapung di atas permukaan air kolam. Topi itu dipakai oleh korban sebelum kejadian. Korban ini bisa berenang sebetulnya,”, kata Kades Fabianus yang dikonfirmasi Komodopos.com, Selasa petsng tadi (28/1).

Ia mengatakan, proses evakuasi korban dipimpin langsung oleh Kapolsek Komodo dan sejumlah personil polisi dibantu oleh warga setempat.

Kapolsek Komodo, Ipda Royke Weridity memimpin langsung proses evakuasi korban tenggelam di sungai Wae Mese, Selasa (28/1/2020). Foto : Dok. Polsek Komodo

“Pencarian korban berlangsung sekitar satu jam namun belum juga ditemukan karena air keruh. Setelah melakukan ritus adat di lokasi kejadian, korban akhirnya ditemukan. Korban langsung dievakuasi oleh polisi ke Rumah Sakit Komodo. Beberpa saat kemudian, korban dibawa ke rumahnya di Tanah Dereng”, kata Kades Fabianus.

Rencana pemakaman dilakukan besok (Rabu, 29/1). Korban meninggalkan seorang istri bernama Kristian Sibu serta dua anak mereka yang sudah berumahtangga. *(Robert Perkasa)

Pembangunan Berkelanjutan Berbasis Ekologi Melalui Konservasi

( Menjelang Semiloka Burung Indonesia )

“Aspek lingkungan tidak boleh diabaikan jika ingin meraih pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan sosial”, (Burung Indonesia)

KOMODOPOS.com-LABUAN BAJO–Inilah alasan utama mengapa pembangunan berbasis ekologi dianggap penting, yang diwujud-nyatakan melalui berbagai macam kegiatan konservasi. Karena itu konservasi harus menjadi bagian integral dari kegiatan pembangunan, yang dimulai dari perencanaan, penganggaran, dan pelaksanaan kegiatan konservasi.

Bentang alam Mbeliling di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur merupakan salah satu lokasi penting untuk kegiatan konservasi. Kegiatan konservasi penting dilalukan di kawasan ini karena memiliki keragaman hayati, juga sebagai penyedia berbagai layanan-layanan alam. Selain itu, kawasan ini juga menjadi salah satu destinasi wisata alam yang ramai dikunjungi para wisatawan karena keindahan panoramanya.

Bukan itu saja. Bentang alam Mbeliling menjadi daerah tangkapan air karena vegetasi dan kerapatan tutupan lahannya. Alam Mbeliling menyuplai air untuk kebutuhan warga kota Labuan Bajo maupun untuk pertanian dan rumah tangga. Bentangan alam Mbeliling adalah masa depan kita, sekaligus kunci suksesnya pembangunan berkelanjutan di wilayah ini.

Jika demikian, bagaimana memastikan bahwa kegiatan konservasi bisa berlangsung di Mbeliling? Apa tantangan? Bagaimana mengatasi tantangan itu agar konservasi alam Mbeliling bisa memastikan ketersediaan dan keberlanjutan nilai-nilai pentingnya? Bagaimana memastikan mekanisme pembiayaan berkelanjutan untuk kegiatan konservasi di Mbeliling? Bagaimana peran masing-masing pihak yang menerima layanan alam yang disediakan oleh bentang alam Mbeliling?

Foto : Istimewa/Google

Guna menjawab semua pertanyaan itulah Burung Indonesia menyelenggarakan Seminar dan Lokakarya (Semiloka) bertema “Perencanaan dan Penganggaran Berbasis Ekologi; Langkah Menuju Pembiayaan Konservasi Berkelanjutan”.

Semiloka ini akan dilaksanakan di Meeting Room Hotel Jayakarta-Labuan Bajo, kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Jumat 31 Januari 2020. Acara Pembukaan Semiloka dijadwalkan mulai pukul 09.00-09.50 Wita. Bupati Mabar, Drs.Agustinus Ch.Dula akan hadir membuka kegiatan Semiloka dan ditutup oleh Adi Widyanto mewakili Direktur Eksekutif Burung Indonesia.

Peserta yang diharapkan hadir dalam kegiatan ini sebanyak 40 orang, yaitu para pihak kunci yang terdiri dari unsur Pemerintahan Daerah, Dinas Instansi terkait, perwakilan private sector, unsur pemerintah desa, Pers dan Burung Indonesia.

Ada 4 narasumber siap hadir dalam forum Semiloka ini. Keempat narasumber akan menyajikan materi dengan topik berbeda sesuai kompetensi masing-masing.

Narasumber pertama adalah Joko Tri Haryanto dari Badan Koordinasi Fiskal Nasional. Ia akan menyajikan materi tentang Perencanaan dan Penganggaran Berbasis Ekologi, Telaahan Konsep dan Regulasinya (pukul 10.20 – 10.50 wita).

Pemateri kedua, Drs. Fransiskus Sales Sodo dari Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah Kabupaten Manggarai Barat. Ia akan membedah topik Peluang Implementasi Perencanaan dan Penganggaran Berbasis Ekologi di Kabupaten Manggarai Barat (pukul 10.20 – 10.50 wita).

Pembicara ketiga, Mateus Ngabut, S.H.dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Manggarai Barat. Ia akan fokus mempresentasikan “Kebijakan Penggunaan Dana Desa dan Alokasi Dana Desa Untuk Program Konservasi Skala Desa” (pukul 11.05 -11.20 wita )

Narasumber keempat, Tiburtius Hani dari Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia. Tibur Hani akan mempresentasikan materi tentang “Konsep Rencana Tata Guna Lahan Sebagai Dasar Perencanaan Desa Mewujudkan Desa Lestari (pukul 11.20-11.35 wita).

Dalam kerangka acuan kegiatan yang diterima KOMODOPOS.com, Jumat (28/1) Burung Indonesia, menjelaskan tujuan Semiloka ini diselenggarakan antara lain untuk berbagi informasi tentang konsep perencanaan pembangunan dan penganggaran berbasis ekologi, baik pada tingkat kabupaten maupun pada tingkat desa.

Selain itu, membangun pemahaman bersama tentang peran masing-masing pihak dalam mendukung pembiayaan berkelanjutan untuk kegiatan konservasi di bentang alam Mbeliling dan mendiskusikan peluang pengintegrasian konsep perencanaan dan penganggaran berbasis ekologi dalam kegiatan pembangunan tingkat kabupaten dan tingkat desa.

Burung Indonesia berharap kegiatan Semiloka ini menghasilkan setidaknya 3 hal, yakni ada pemahaman tentang konsep perencanaan pembangunan dan penganggaran berbasis ekologi, baik pada tingkat kabupaten maupun pada tingkat desa. Itu satu.

Kedua, masing-masing pihak memahami peran konkrit mereka dalam mendukung pembiayaan berkelanjutan untuk kegiatan konservasi di bentang alam Mbeliling

Ketiga, teridentifikasi peluang pengintegrasian konsep perencanaan dan penganggaran berbasis ekologi dalam kegiatan pembangunan tingkat kabupaten dan tingkat desa.

Landasan Pemikiran

Burung Indonesia menjelaskan, bahwa pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan saat ini sambil tetap mempertimbangkan kemampuan generasi yang akan datang dalam memenuhi kebutuhannya. Dalam hal memenuhi kebutuhan saat ini sembari mempertimbangkan generasi yang akan datang, pembangunan berkelanjutan memiliki 3 pilar utama yang terkait satu terhadap yang lain yakni pertumbuhan ekonomi, keberlanjutan sosial, dan keberlanjutan lingkungan.

Dari 3 pilar utama tersebut,, aspek lingkungan tidak boleh diabaikan jika ingin meraih pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan sosial.

“Inilah alasan utama mengapa pembangunan berbasis ekologi dianggap penting yang diwujud-nyatakan melalui berbagai macam kegiatan konservasi. Karena itu konservasi harus menjadi bagian integral dari kegiatan pembangunan yang dimulai dari perencanaan, penganggaran, dan pelaksanaan kegiatan konservasi”, kata Burung Indonesia.

Bentang alam Mbeliling. Gambar ini diambil saat bencana longsor di desa Tondong Belang, kecamatan Mbeliling, kabupaten Manggarai Barat, NTT. Foto : Robert Perkasa/Komodopos.com

Flores Programmer Manager Burung Indonesia, Tiburtius Hani mengungkapkan , dewasa ini, kegiatan konservasi sudah menjadi perhatian banyak orang terutama agen pembangunan. Hal ini disebabkan karena meningkatnya kesadaran tentang ketergantungan manusia pada layanan-layanan yang disediakan oleh alam, dimana semua itu merupakan buah dari kegiatan konservasi.

“Layanan alam dinikmati oleh semua orang, oleh semua profesi, oleh semua lapisan masyarakat. Karena itu kepedulian terhadap ketersediaan, kualitas, dan keberlanjutan layanan alam harus juga menjadi perhatian semua pihak terutama pemerintah, swasta, kalangan dunia usaha, masyarakat, baik di perkotaan maupun masyarakat di pedesaan.”, tandas Tibur Hani.

Ia menambahkan, hasil dari Semiloka ini diharapkan bisa berkontribusi dalam menemukan mekanisme yang tepat untuk menggalang pembiayaan berkelanjutan untuk kegiatan konservasi di kabupaten Manggarai Barat, khususnya di bentang alam Mbeliling. *(Robert Perkasa)