
KOMODOPOS.com-LABUAN BAJO-Preseden Jokowi menyebut Porang (Ndege) beras dan Cengkeh saat mengunjungi Labuan Bajo, kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, 19-21/1/2020). Jokowi menyebut tiga komoditi yang langsung menyentuh rutinitas petani pada saat berbincang ria dengan Alexander Sugandi, Yosep Jaga dan Ambisius Darson di atas podium penyerahan sertifikat tanah unruk rakyat di halaman kantor Bupati Mabar, Senin pagi (20/1/2020).
Aleksander Suhandi dan Yosep Jaga adalah penerima sertifikat tanah dari desa Nggorang, kecamatan Komodo. Sedangkan Ambrosius Darson petani Cengkeh dari desa Momol, kecamatan Ndoso.
Ketiga petani tersebut ditanyai satu per satu oleh Presiden Jokowi. Substansi pertayaan Presiden Jokowi sama, yaitu tentang sertifikat tanah yang mereka terima digunakan untuk apa. Ketika wawancara itulah, Presiden menyebut tentang Porang, Beras dan Cengkeh.
Berikut petikan “wawancara” Presiden Jokowi dengan ketiga petani tersebut.

Porang
Alexander Suhandi : Kira-kira Rp10 juta.
Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo) : Rp10 juta, masih Rp15 juta untuk pisang goreng dan bubur
Alexander Suhandi : Kebetulan lahan juga saya ada sedikit ini… nanti tambah dengan benih porang, benih porang yang sekarang lagi….
Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo) : Oh, menanam porang?
Alxander Suhandi : Iya.
Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo) : Oke, ya, betul. Boleh. Semuanya harus direncanakan. Jangan nanti mau jualan pisang sama bubur plus porang. Karena duitnya nanti banyak. Ya, silakan Pak Alex”, kata Presiden Jokowi.

Beras
Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo) : Rp30 juta, dipakai untuk apa?
Yoseph : Untuk usaha beras.Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo) : Usaha beras? Rp30 juta. Beras per kilogram itu Rp10 ribu, berarti kalau…
Yoseph : Sekarang Rp10.500. Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo) : Rp10.500, berarti Rp30 juta dapat berapa ton? Banyak banget lo, hati-hati lo. Dapat berapa truk? Hati-hati. Apakah perlu Rp30 juta?
Yoseph : Tiga ton pas.
Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo) : Ya kan, nanti kalau ke bank juga ditanya itu. “Bapak mau pinjam berapa?” “Rp30 juta.” “Untuk beli apa?” Ini saya tes dulu, begitu lo. Harus bisa menyampaikan. “Oh, saya mau beli ini, ini, Pak,” ke bank sana. Mesti, “oh ya, oke”, diberi. Kalau enggak logis juga bank enggak juga akan memberikan, biasanya seperti itu. Rp30 juta, untuk jualan beras semuanya Rp30 juta?

Cengkeh
Ambrosius Darson : Kecamatan Ndoso.
Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo) : Di mana itu?
Ambrosius Darson : Dari Desa Momol, Kecamatan Ndoso.
Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo) : Berapa jam dari sini? Ambrosius Darson : Dari sini ke ke Kecamatan Ndoso itu 8 jam, Bapak Presiden.
Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo) : Delapan jam?
Ambrosius Darson : Delapan jam. Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo) : Wah, jauh banget. Berarti berangkatnya kemarin?
Ambrosius Darson : Iya, kemarin, Bapak Presiden.
Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo) : Oh, terus di sini menginap? Ambrosius Darson : Iya, menginap, Bapak Presiden.
Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo) : Menginap?
Ambrosius Darson : Siap, menginap. Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo) : Ini sertifikat mau dipakai apa?
Ambrosius Darson :Tadi Pak Presiden tanya, sertifikat yang tidak mau gadai di bank, makanya saya angkat tangan.
Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo) : Terus?
Ambrosius Darson : Saya punya prinsip begini, ini saya punya tanah ini warisan dari leluhur.
Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo) : Oh, warisan dari leluhur. Ambrosius Darson :Kami ini petani, Pak Presiden, bisa diolah, bukan hanya (diagunkan) ke bank. Kalau semua ke bank, siapa yang mau beli lagi? Beli barang-barang yang dijual. Kami ini petani, ya kami berdayakan tanah itu untuk tanam cengkih atau apa yang lain.
Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo) : Oh, mau tanam cengkih? Ambrosius Darson : Siap.
Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo) : Apa tanahnya, tempat Pak Soni dingin ya?
Ambrosius Darson : Ya, dingin. Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo) : Oh, untuk tanam cengkih, oke. Ya bagus. Berarti ini sertifikat disimpan?
Ambrosius Darson Ya, disimpan. Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo) Menyimpannya di mana? Ambrosius Darson : Ya, simpannya di rumah. Di lemari.
Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo) : Di lemari. Ya menyimpan kan bisa di mana-mana. Di lemari, oke. Ya, oke. Ya ada (yang) dipakai untuk jaminan, ada yang disimpan di lemari, enggak apa-apa. Kenapa enggak dipakai untuk jaminan ke bank? Ini pinjam ke bank, itu nanti untuk beli bibit cengkih, begitu? Ambrosius Darson : Ya, ini kalau pribadi saya Pak Presiden, kalau kita usaha dari hati, itu petani itu, sama sih kayak kita usaha kayak buka kios, semua hasilnya sama. Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo) : Oh, semuanya hasilnya sama. Oke, oke. Oke, ya ini keyakinan, enggak apa-apa. “Saya yakin, nanti pinjam ke bank bisa ini, ini.” Tapi ada yang punya keyakinan berbeda, “Oh, saya pengin tani, menanam cengkih, hasilnya nanti juga sama kok.” Enggak apa-apa. Ambrosius Darson : Ya, intinya sertifikat ini Bapak Presiden, kami sangat berterima kasih. Intinya, (sertifikat ini) bukti kepemilikan yang sah.
Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo): Iya, betul.
Ambrosius Darson : Bukti hukumnya jelas.
Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo) : Iya, ini tanda bukti hak hukum atas tanah yang kita miliki. Ya, terima kasih Pak Soni, terima kasih. Ya sudah, terima kasih semuanya”, ucap Presiden Jokowi menutup perbincangan itu.

Sepeda Jokowi di tengah keluarga bapak Yosep Jaga.
Hadiah Foto dan Sepeda
Sebelum melanjutkan sambutannya, Presiden Jokowi juga memberikan hadiah berupa foto expres berlogo Isatana Prrsiden saat wawancara di podium dan sepeda kepada ketiga petani itu.
“Nah, ini ya, saya ingin menunjukkan yang namanya kerja cepat. Sertifikat juga sama, dulu 500 ribu sekarang bisa 9 juta per tahun seluruh Tanah Air. Ini juga kerja cepat. Ini Bapak, ini tadi kan baru saja berdiri di sini, belum ada 5 menit, nih fotonya jadi. Ini foto ini mahal karena di belakangnya ada tulisan ‘Istana Presiden Republik Indonesia’. Oke, ini Pak Soni, sudah. Ini, Pak Yos, ya. Oke, sama-sama. Sudah, silakan.
Hah? Sepeda? Sudah diberi foto mau diberi sepeda? Pak, Pak, ini ada sepeda lagi tambahan. Enggak mau, itu enggak mau, biarkan enggak mau. Mau sepeda? Ini, ini, sepeda diambil, sepeda diambil. Ini Pak, ini sepedanya diambil. Sepeda ini, diambil. Dapat foto, dapat sepeda, dapat sertifikat. Dibawa ke mana itu? Dibawa ke tempat duduk saja. Kok malah mau pulang? Dibawa saja ke tempat duduk.

Sertifikat untuk modal usaha bukan beli mobil
Dalam sambutannya, Presiden Jokowi mengingatkan para penerima sertifikat agar hati-hati menggunakannya. Sertifikatvtanah, kata Presiden adalah barang berharga. “Ini tanda bukti hak hukum atas tanah yang kita miliki”, kata Presiden Jokowi. Ia menegaskan, sertifikat digunakan sebagai agunan Bank buat modal usaha. Jangan digadaikan untuk beli motor atau mobil.
“Tapi hati-hati, saya titip kalau mau pinjam uang ke bank hati-hati, dihitung, dikalkulasi dulu, jangan sampai sertifikat jadi, pinjam ke bank ya kan, enggak bisa mengembalikan sertifikatnya hilang. Nah hati-hati. Jadi kalau pinjam ke bank, hati-hati. Tanahnya luas, pinjam, dapat Rp300 juta. Wah dapat duit gede banget, Rp300 juta karena tanahnya gede. Bawa pulang, pinjam ke bank, duitnya Rp300 juta bawa pulang. Malamnya mimpi pengin mobil. Besok(nya) pergi ke dealer, kasih uang muka. Ini mulai malapetaka di sini.

Preaiden Jokowi ketika berdialog langsung dengan bapak Aleksander Suhandi, Yosep Jaga dan Ambrosius Darson
Hati-hati, uang pinjaman tidak boleh dipakai untuk itu. Beli sepeda motor, beli mobil, tidak. Itu barang kenikmatan. Kalau Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara semuanya dapat Rp300 juta, gunakan semuanya untuk modal usaha, untuk modal kerja. Kalau pinjam, dapat Rp50 juta, gunakan semuanya untuk modal kerja, untuk modal usaha, jangan pakai lain-lain.
Pakai mobil ya kan, dapat Rp300 juta. Separuh untuk beli mobil masih nyicil, dapat Rp50 juta, Rp20 juta untuk beli sepeda motor, hati-hati. Atau mengambil Rp5 juta masih nyicil, hati-hati. Menyetir mobilnya hanya 6 bulan. Gagah, ganteng, muter-muter kampung, wah pakai mobil muter, 6 bulan. Setelah itu, enggak bisa nyicil ke bank, ya kan, enggak bisa nyicil ke dealer, mobilnya diambil, sertifikatnya hilang. Gagahnya hanya 6 bulan, hati-hati, saya titip ini”, pesan Presiden Jokowi. *(Robert Perkasa)