
(Catatan seputar Pertemuan APPF di Kawasan Puncak Puarlolo & Pastoran Paroki Rekas-Bagian-1)
KOMODOPOS.com-MBELILING
Di Manggarai umumnya, tanaman Porang (ndege/wanga) mulai dilirik pasar sejak tahun 2011. Sejak saat itu para tengkulak keluar-masuk kampung mencari/membeli porang dengan harga Rp 500 per kg. Kala itu para petani belum tertarik dengan Porang bisa jadi karena harganya yang sangat murah. Mungkin karena itu pasaran porang saat itu mengalami kelesuan selama benerapa tahun.
Tahun 2015, umbi porang mulau ramai diburu oleh para tengkulak. Warga di kampung-kampung pun disuruh mencari umbi porang dengan harga mulai menanjak hingga Rp 1.500 per kg. Kendati begitu para petani umumnya belum berminat untuk membudidayakan tanaman liar itu. Petani yang mencari umbi porang pun relatif terbatas saat itu.
Makin tahun, harga porang makin naik. Tahun 2017, misalnya, harga porang naik ke level Rp 2.500 per kg hingga puluhan ribu per kg pada tahun 2020. Perkembangan terakhir, bukan umbi porang saja yang diburu. Buah porang pun diburu pengusaha/eksportir.
Harga porang yang menggiurkan inilah, sejak tahun 2017 hingga hari ini, porang menjadi primadona baru di kalangan petani. Geliat budidaya porang yang sedang massif bisa dilihat sebagai revolusi ekonomi baru bagi petani.
Tidak pernah dibayangkan sebelumnya bahwa tanaman liar itu ternyata kini menjadi angin surga hari ini. Karena itu menanam porang hari ini adalah sebuah proses belajar bagi petani porang menuju pencapaian hasil di waktu yang akan datang.

Belajar dari pengalaman oara petani cengkeh, kopi, kakao, kemiri, vanili dan komoditi pertanian/perkebunan lainnya selama ini di Flores umumnya dan Manggarai raya khususnya. Harga komoditi tersebut dikendalikan oleh para pengusaha/pembeli/tengkulak. Posisi bargaining (daya tawar) petani dalam hal pemasaran sangat lemah. Harga komoditi tersebut dikendalikan oleh pengusaha dengan dalih mekanisme pasar memang begitu adanya. Akibatnya, kesejahteraan para petan sedari dulu selalu begitu selamanya. Hidup enggan, mati tak mau. Berjalan di tempat.
Kondisi Itu selalu terjadi setiap musim panen oleh karena banyak faktor. Pertama, individualitas. Petani bekerja sendiri-sendiri/ego. Sama-sama kerja. Bukan kerja sama. Sebaliknya parabtengkulak/pengusaha bekerja lintas sektor/kerja berjejaring. Pengusaha di Ruteng atau di Labuan Bajo memiliki jaringan kerja di Surabaya dan seterusnya. Harga komoditi petani tergantung deal mereka.
Kedua, kuantitas (jumlah) Hasil produksi petani masih relatif sedikit dan tidak berkelanjutan oleh katena bekerja sendiri-sendiri (kontinuitas). Lihat saja, para tengkulak keluar-masuk kampung mencari/membeli sedikit demi sedikit lalu dikumpulkan di gudang induk semang pengusaha (big bos) mereka.
Ketiga, kualitas. Umumnya para petani ingin lebih cepat mendapatkan uang. Buah vanili, misalnya, dipetik saat belum matang lalu dijual eceran kepada tengkulak. Hal ini tentu saja mengabaikan kualitas produk.
Keempat, kaya hasil bumi tapi miskin kreatifitas. Rata-rata petani memiliki/menghasilkan semua jenis komoditi. Akan tetapi tidak semua petani yang memiliki sumber daya/kemampuan/ketrrampilan untuk mengolah/memasarkan hasil kerja pertaniannya memenuhi permintaan pasar. Contoh sederhana, petani kita menjual pisang lalu membeli pisang goreng di tempat yang sama. Petani di daerah kita, umumnya masih bergerak di sektor primer. Sementara di daerah lain sudah bergerak di home industri.
Kelima, para petani belum terbiasa berorganisasi. Kelompok-kelompok tani yang terbentuk selama ini berorientasi/bermental proyek. Kelompok tani ada karena diadakan/ dibentuk untuk menerima bantuan pemerintah. Bukan ada karena kesadaran yang dinisiasi oleh petani-petani.

Pertemuan Asosiasi Petani Porang Flores (APPF) di Pendopo Pastoran Paroki Rekas, Minggu (23/2/2020)
Asosiasi Petani Porang Flores
Belajar dari pengalaman tersebut, sejumlah anak petani yang memiliki kesadaran lebih sungguh menyadari betapa hal-hal tersebut di atas sangat membelenggu kehidupan para petani pada umumnya. Menyebut beberapa nama anak petani, Romo Beny Jaya, Pr, Romo Agustinus Agung, Pr, Bernadus Barat daya, Stanislaus Stan yang memiliki pemahaman dan kesadaran yang sama tentang persoalan petani di atas, mereka menghimpun diri dalam satu wadah oganisasi petani, Asosiasi Petani Porang Flores (APPF).
Organisasi petani ini berpusat di Labuan Bajo, kabupaten Manggarai Barat dan bercabang ke seluruh daratan Flores. Organisasi petani ini nantinya beranting/ berkepengurusan sampai di kampung-kampung tempat bergumulnya para petani. Sesuai nama organisasinya, keanggotaan organisasi ini tentu saja adalah para petani Porang se daratan Flores.
Minggu, 23 Februari 2020 kemarin, APPF menggelar pertemuan penting di dua tempat berbeda, yakni dilakukan di kaqasan Puncak Puarlolo pada pukul 15.00 Wita lalu dilanjutkan pada pukul 17.00 wita di Pastoran Paroki Rekas, kecamatan Mbeliling, kabupaten Manggarai Barat. Agenda dua pertemuan itu fokus membahas tentang tanaman Porang.
Hadir dalam pertemuan yang dipimpin Romo Beny Jaya, Pr ini duta petani porang dari 9 kecamatan, yaitu dari kecamatan Mbeliling, Sano Nggoang, Komodo, Welak- Lembor, Lembor Selatan, Macang Pacar, Kuwus dan kecamatan Ndoso.
Tampak dalam pertemuan di kawasan Puncak Puarlolo, dua rohaniwan ialah Pastor Paroki Datak, Rm. Beny Jaya, Pr dan Pastor Paroki Rangga, Rm. Agus Agung, Pr. Hadir juga sejumlah petani porang di antaranya, Bernadus Barat Daya, Stanislaus Stan, Dominikus Nangkom, Yosep Sepandi, Saverinus Akerila Ratu, Frans Salis Jeharum dari Ranggu. Siprianus Marus, Ignasius Panca, Kornelis Darut, Adrianus Tangur,Kanisius Kabut dari Datak, Aloysius Nagung, Ambrosius Jalut, Sebastianus Pat, Yohanes Jemada dari Sewar, Gedis dari Tentang-Ndoso.
Pertemuan lanjutan di Pastoran Paroki Rekas dihadiri oleh Pastor Kapela Paroki Rekas, P.Lasarus, SVD, Pastor Paroki Datak, Rm.Beny Jaya, Pr, Tua Golo Rekas, Yosep Handu dan sejumlah Pengurus Dewan Paroki Rekas, yakni Aloysius Sisung, Yosep Eduard Edy, Dominikus Tabe, Danri Pardi, Aloysius AM Kandut, Lukas Jabun, Agus Jehala dan Kletus Karmin
Dalam pertemuan tersebut, Romo Beny Jaya, Pr mengajak para petani untuk berubah. Berubah dari pola pertanian tradisional ke tata kelola pertanian modern. Berubah dari cara pandang lama ke cara wawas baru. Berubah dari pola kerja lama ke pola kerja baru. Berubah dari sama-sama kerja (ego) ke kerja sama (kolaborasi).
“Kita tidak akan pernah sukses kalau kerja sendiri-sendiri. Kerja sama dalam satu Asosiasi banyak manfaatnya buat para petani. Berdoa saja tidak cukup, harus diimbangi dengan berkerja”, ajak Romo Beny Jaya.
Bernadus Barat Daya menjelaskan tentang profil dan tujuan mendirikan Asosiasi Petani Porang Flores. “APPF inilah yang akan memproteksi dan membela hak-hak serta kepentingan para petani. Hanya petani sendiri yang mengetahui betul persoalan dan bagaimana mengatasi persoalan petani”, kata Bernadus.
Stanis Stan Pada pertemuan itu membagi informasi terkait pengalamannya menanam porang dan prospeknyavyang menjanjikan kesejahteraan petani. Porang, kata Stanis, adalah komoditi ekspor dunia yang membantu para petani jika tekun membudidayakannya.
“Tidak ada kata terlambat. Tanam porang sebanyak-banyaknya. Manfaatkan lahan yang ada. Eksportir itu datang ke kita kalau stok porang yang kita siapkan dalam jumlah banyak dan berkualitas sesuai permintaan eksportir”, kata Stanis.
Menutup pertemuan itu, Rm. Agus Agung, Pr menguatkan para petani dengan spirit, “Jangan takut menanam porang. Pembelinya sudah ada. Kerja sama kita saat ini dan selanjutnya adalah menanam porang sebanyak-banyaknya. Dalam nama Tuhan, usaha kita pasti sukses”, ujar Rm Agus Agung. *(Robert Perkasa) bersambung..

Pertemuan Pendiri Asosiasi Petani Porang Flores (APPF) di kawasan Puncak Puarlolo, Minggu (23/2/2020).
Info tambahan tentang porang
Mengutip dari IDN Times, tanaman porang merupakan tanaman penghasil umbi yang dapat dimakan, anggota marga Amorphophallus.
Manfaat porang terutama untuk bidang industri dan kesehatan, karena kandungan glukomannan pada tepung umbinya. Porang mampu menghasilkan karbohidrat dan tingkatan panen yang tinggi.
Ketua Asosiasi Petani Porang Pati (Asperati) Luqman Saiful Hidayat mengatakan untuk diketahui, porang (amorphophallus muelleri) merupakan tanaman umbi-umbian yang memiliki nilai ekonomis tinggi.
Bukan itu saja, tanaman porang juga merupakan komoditas ekspor bernilai ekonomi tinggi. Di luar negeri, porang banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan aneka makanan. Di antaranya mie shirataki, beras analog (beras nonpadi), agar-agar konyaku, dan tahu.
“Bahkan, porang juga berguna di industri dirgantara, yakni sebagai bahan baku lem perekat untuk pesawat. Kemudian, serat dari batangnya untuk membuat baju. Ada lagi, glukomanan yang terkandung dalam porang merupakan bahan baku pembuatan kapsul,” papar dia.
Tepung porang juga bermanfaat menekan peningkatan kadar glukosa darah sekaligus mengurangi kadar kolesterol serum darah yaitu makanan yang memiliki indeks glikemik rendah dan memiliki sifat fungsional hipoglikemik dan hipokolesterolemik.
Porang sebagai serat pangan dalam jumlah besar dapat meningkatkan daya tahan tubuh terhadap berbagai penyakit seperti kanker usus besar, divertikular, kardiovaskular, kegemukan, kolesterol tinggi dalam darah, dan kencing manis.
Tanaman porang disebut mempunyai potensi ekonomi yang tinggi dengan modal sekira Rp 60 juta, setiap satu hektare lahan bisa ditanami sekira 40 ribu bibit.
Ketika siap panen, kira-kira 1,5 tahun setelah penanaman, masing-masingnya akan mencapai berat setidaknya dua kg. Artinya, setiap hektare akan menghasilkan 80 ton. Dengan harga jual per kilo Rp10 ribu, maka setiap hektare lahan porang bisa menghasilkan Rp800 juta.
“Itu belum termasuk panen katak atau buahnya (bintil cokelat kehitaman yang muncul pada pangkal daun tanaman porang-red.),” ucap Luqman Saiful Hidayat.
Saat menjelang masa panen umbi porang, kata dia katak bisa dipanen dua kali. Petani porang di Jawa Timur, lanjutnya, menjual katak porang dengan harga mencapai Rp 230 ribu per kilo.
Porang dapat tumbuh pada jenis tanah apa saja. Meski begitu, tanaman porang tumbuh dengan baik di tanah yang memiliki naungan, misalnya pohon jati, mahoni dan sengon.
Teknik pengembangbiakan porang bisa dengan menggunakan biji. Porang akan berbunga pada periode 4 tahun. Bunga tersebut akan berubah menjadi buah dan kemudian menghasilkan biji yang baik dikembangbiakkan pada musim hujan. Selain itu budidaya tanaman porang juga bisa dilakukan dengan cara bintik yang ada di antara batang dan cabang porang. Bintik yang dipanen ternyata bisa disimpan dan ditanam kembali sebagai bibit porang.
Cara lain yaitu dengan menggunakan umbi. Umbi porang yang dipanen dapat ditanam kembali. Porang ternyata cukuobditabam sekali lalu tinggal melakukan pemeliharaan dan memanen. Umbi akan tumbuh lagi setelahnpanen dengan meninggalkannya di lubang semula. **(Sumber : IDN Times)