Besok, Musancab V PDI Perjuangan Kabupaten Manggarai Barat

“Kegiatan Musancab besok akan dihadiri oleh 169 Pengurus Ranting dan 12 PAC PDI Perjuangan se-kabupaten Manggarai Barat. Musancab dibuka langsung oleh Ketua DPD PDI Perjuangan provinsi Nusa Tenggara Timur, Ir. Emilia J. Nomleni”, jelas Robert Loymans.

KOMODOPOS.com-LABUAN BAJO-“Solid bergerak Menuju Partai Pelopor dan Melahirkan Kepemimpinan Partai yang Ideologis, Tangguh dan Militan Demi Manggarai Barat yang Maju, Tertata dan Sejahtera”. Inilah tajuk Musyawarah Anak Cabang (Musancab) V Dewan Pimpinan Cabang Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (DPC PDIP) Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

Kegiatan ini diselenggarakan di Aula Paroki Maria Bunda Segala Bangsa (MBSB) Wae Sambi, Kamis (27/2) pukul 09.00 Wita.

Ketua Panitia Pelaksana Kegiatan Musancab PDI Perjuangan Kabupaten Manggarai Barat, Robert Loymans kepada Komodopos.com menjelaskan, kegiatan ini akan dihadiri oleh seluruh struktur kepengurusan partai berlambang kepala banteng itu mulai dari Pengurus DPD hingga Pengurus Ranting.

“Kegiatan Musancab besok akan dihadiri oleh 169 Pengurus Ranting dan 12 PAC PDI Perjuangan se-kabupaten Manggarai Barat. Musancab dibuka langsung oleh Ketua DPD PDI Perjuangan provinsi Nusa Tenggara Timur, Ir. Emilia J. Nomleni”, jelas Robert Loymans.

Robert menambahkan, agenda Musancab V PDI Perjuangan yaitu pemilihan ketua dan pembentukan Pengurus Anak Cabang (PAC) PDI Perjuangan untuk 12 kecamatan se- kabupaten Manggarai Barat.

Usai acara seremoni dilanjutkan dengan Sidang Pleno, Rapat Komisi dan Rapat Formatur. *(Robert Perkasa)

Rp 1,7 M Untuk Hotmix Jalan Simpang Langgo -Werang

KOMODOPOS.com-LABUAN BAJO-Dinas PUPR Kabupaten Manggarai Barat menggelontorkan anggaran Rp
1,7 M Dana Alokasi Khusus (DAK) TA 2020 untuk pekerjaan Hot Rollet Sheet (HRS) /hotmix 1 km ruas jalan Simpang Langgo – Werang,, kecamatan Sano Nggoang, kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

Kepala Dinas PUPR Kabupaten Manggarai Barat, Ir.Oktavianus Andi Bona mengemukakan hal itu ketika dikonfirmasi Komodopos.com, Rabu (26/2). Ia mengatakan, ruas jalan tersebut langsung dihotmix. Tidak perlu pelebaran lagi karena lebar jalan yang ada sudah maksimal.

Ovan Adu, begitu ia akrab disapa menjelaskan, proses tender paket pekerjaan tersebut telah dimulai pada awal Pebruari dan diumumkan pada akhir Maret 2020 karena
ruas jalan tersebut termasuk dana DAK. Karena itu, proses tendernya dilakukan lebih cepat sesuai ketentuan dari pemerintah pusat.

Kondisi terkini ruas jalan Simpang Langgo – Werang. Foto : Robert Perkasa, Rabu (26/2/2020)

“Proses lelang sudah mulai awal Pebruari, dan rencananya akhir Maret teken kontrak dan langsung kerja. Kecuali kalau proses lelang tidak ada peminat, maka akan dilaksanakan proses lelang ulang dan waktu sedikit berubah”, jelas Ovan Adu.

Ia menambahkan, pagu anggaran sebesar itu belum nilai kontrak. Pasti penawaran di bawah pagu anggaran tersebut.

“Kontrak pasti di bawah itu nilainya. Sekarang lagi proses lelang”, ujarnya.

Sebelumnya, Pemerintah kabupaten Manggarai Barat telah menandatangani Memorandum of Underatanding (MoU) atau nota kesepakatan terkait pekerjaan ruas jalan Simoang Langgo -Werang-Nunang, kecamatan Sano Nggoang. Itu sebabnya pada TA 2019 Dinas PUPR Kabuapaten Manggarai Barat selalu tidak mengganggarkan dana untuk perbaikan ruas jalan tersebut. disepakat

“MoU itu sejak tahun 2017 yang lalu. Hanya karena pro kontra proyek geotermal di Wae Sano sehingga pekerjaan jalan ruas Mbuhet – Langgo – Werang – Sano Nggoang oleh PT.SMI terhenti”, ujar Ovan Adu.

Ia berharap semoga tahun 2020 ini bisa terlaksana. Sebab perbaikan jalan tersebut sangat dibutuhkan karena menghubungkan beberapa destinasi wisata dan ke ibukota kecamatan Sano Nggoang.

“Kondisinya saat ini sangat memprihatinkan, apalagi ruas jalan tersebut menuju obyek wisata air terjun Cunca Lolos, Cunca Rami, danau Sano Nggoang dan juga ke ibu kota kecamatan Sano Nggoang di Werang. Sambil menunggu mereka kerja (PT. SMI-Red) kerja, pelebaran dan perbaikan yang rusak dulu. Setelah peralatan semua sudah di Sano Nggoang baru pembuatan jalan yang permanen”, jelas Ovan Adu.

Pantauan Komodopos.com di ruas jalan itu, Rabu (26/2) tampak kondisinya rusak parah. Kerusakkan terjadi di titik aebelum masuk kampung Langgo. Titik kerusakkan yang lainnya terdapat di kampung Rangat dan sebelum memasuki cabang Ndengo, desa Wae Lolos. *(Robert Perkasa)

Tubuh Perempuan dalam Pusaran Kapitalisme (Pariwisata)

Aktivitas industri pariwisata tanpa keindahan (kecantikan) itu rasanya absurb. Hanya dalam dan melalui keindahan fisik (obyek wisata), sebuah industri turisme tidak hanya bisa eksis, tetapi berkembang pesat. Karena itu, selain kecantikan alam dan budaya, kecantikan tubuh perempuan juga bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

Oleh : Sil Joni *)

Pandangan Plato terhadap ‘keindahan alamiah’ mungkin terkesan reduktif. Betapa tidak, salah satu filsuf terbesar dalam jaman Yunani kuno itu, menilai bahwa keindahan fisik merupakan mimesis (tiruan) dari keindahan yang lebih tinggi yaitu idea. Itu berarti keindahan termasuk kecantikan lahiriah hanya sebagai ‘pancaran luar’ dari keindahan in absentia itu.

Gagasan Plato ini berimplikasi pada penilaian tentang ‘derajat’ dari keindahan itu sendiri. Bahwasannya seni (yang indah) yang bersumber dari ‘dunia idea’ lebih superior ketimbang seni yang mengandalkan aspek lahiriah semata.

Tubuh Perempuan dan Kecantikan Citra kecantikan umumnya selalu identik dengan ‘tubuh perempuan’. Karena itu, diskursus tentang apa dan siapa yang disebut cantik itu, selalu mengacu pada dimensi kecantikan yang dimiliki oleh seorang perempuan. Pertanyaannya mengapa kita menilai bahwa ‘tubuh tertentu’ itu disebut cantik? Apa ‘kriterum’ yang kita pakai dalam membuat definisi itu?

Tentang apa itu “yang indah, cantik”, sesungguhnya bukan hal yang mudah didefinisikan. Muncul beragam pendapat dalam filsafat estetika, filsafat yang mengkaji tentang apa itu yang “indah”. Pelbagai pendapat itu, dengan agak disimplifikasi, bisa dirangkum dalam dua aliran besar, dua aliran yang menjadi klasifikasi esensial di hampir semua cabang filsafat, yakni mazhab objektivis dan mazhab subjektivis.

Alirah subyektivisme berpandangan bahwa ‘cantik’ itu sangat relatif, tergantung pada mata yang memandang. Kecantikan itu melekat erat pada wilayah inderawi yang bersifat subyektif. Karena itu, cantik tidak bisa ‘diukur, diperlombakan, dan diperdagangkan’. Kita tidak mempunyai ‘baromenter yang obyektif’ untuk menilai mutu kecantikan yang ada pada seseorang.

Sebaliknya, aliran obyektivisme menilai bahwa cantik itu menempel erat pada obyek itu sendiri. Ada “sesuatu” yang cantik sebagaimana adanya dia cantik (“cantik” as it is; “cantik” an sich). Kecantikan ini ada dengan sendirinya bahkan sekalipun tak ada orang yang memandangnya. Dia yang cantik itu pada hakikatnya tetap cantik sekalipun lampu sedang mati dan orang-orang tak bisa melihatnya. Dia cantik bahkan walau semua orang sedunia buta. Adanya mata yang memandang bukanlah prasyarat bagi adanya kecantikan.

Cantik adalah suatu “formedness”, keterbentukan, yang mempunyai ukuran, kadar, rasio. Paras yang cantik bagi kaum objektivis ialah paras yang memiliki struktur bibir, pipi, hidung, mata, dan anggota wajah lain sedemikian rupa sehingga gabungan dari semua itu membentuk sesuatu yang patut disebut “cantik”. Dalam kerangka ini, esensi kecantikan adalah suatu kombinasi, dan karenanya mesti dilihat sebagai sesuatu yang menyeluruh, as a whole, sehingga jika satu saja bagian dari kombinasi itu geser dari proporsi yang semestinya, kecantikannya hilang, atau setidaknya kadar kecantikannya berkurang.

Karena pandangan objektivis yang demikian itu, maka kecantikan bisa dikompetisikan. Ajang pemilihan Putri Indonesia, Miss World, Putri Pariwisata dll merupakan menifestasi dari pemikiran keindahan yang bercorak kuantifikatif tersebut.

Selain itu, kecantikan bisa juga dikomersilkan, sehingga muncul bisnis kecantik. Pada lingkungan yang tergila-gila dengan kecantikan, bisnis make-up dan asesoris pakaian tumbuh subur. Paradigma keterukuran (measurability) kecantikan sebagai sesuatu yang objektif, yang merembesi lingkungan materialis, kadang sampai merasuk ke ruang publik di mana ‘kecantikan fisik’ menjadi salah satu kriteria untuk bekerja pada satu instansi atau perusahaan.

Dalam Cengkraman ‘Kapitalime (Pariwisata) 39 finalis ‘ajang Putri Indonesia’ sudah mengikuti masa ‘pra-karantina’ di Labuan Bajo. Mengapa mesti Labuan Bajo? Jawabannya jelas, Labuan Bajo merupakan ‘the new Bali’, destinasi wisata super premium. Jika selama ini, kontes kecantikan semacam itu lebih memilih Bali sebagai tempat ‘relax dan rekreasi’, maka sebagai ‘Bali Baru’ tentu pemerintah dan pihak sponsor coba ‘merancang strategi pemasaran wisata Labuan Bajo dengan cara yang lebih memikat, seperti ‘mendatangkan’ para finalis kontes Putri Indonesia itu.

Aktivitas industri pariwisata tanpa keindahan (kecantikan) itu rasanya absurb. Hanya dalam dan melalui keindahan fisik (obyek wisata), sebuah industri turisme tidak hanya bisa eksis, tetapi berkembang pesat. Karena itu, selain kecantikan alam dan budaya, kecantikan tubuh perempuan juga bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

Para pengusaha (kapitalis) dalam bidang pariwisata tentu dengan kreatif membaca peluang pasar semacam itu. Para perempuan yang berpenampilan menarik, cantik, dan seksi direkruit untuk bekerja di berbagai sektor jasa yang berhubungan dengan kegiatan kepariwisataan.

Kecantikan perempuan ditakar dari sisi kepentingan para kapitalis itu. Tentu, mereka memiliki ‘alat ukur’ spesifik perihal kecantikan yang mesti dipunyai ketika seorang perempuan bekerja di perusahaan mereka. Itu berarti dimensi kecantikan itu sangat bergantung pada ‘kaca mata’ yang dipakai oleh para pebisnis pariwisata.

Sadar atau tidak, kita sedang digiring untuk mengikuti ‘imaji kecantikan’ yang diinginkan oleh pasar pariwisata. Sebuah ‘mitos kecantikan sempurna’ ala logika kapitalisme, sedang mengepung aula kognisi kita hari-hari ini.*

*) Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan politik. Tinggal di Labuan Bajo.

Tubuh Perempuan dalam Pusaran Kapitalisme (Pariwisata)

“Aktivitas industri pariwisata tanpa keindahan (kecantikan) itu rasanya absurd. Hanya dalam dan melalui keindahan fisik (obyek wisata), sebuah industri turisme tidak hanya bisa eksis, tetapi berkembang pesat. Karena itu, selain kecantikan alam dan budaya, kecantikan tubuh perempuan juga bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan”

Oleh : Sil Joni *)Pandangan Plato terhadap ‘keindahan alamiah’ mungkin terkesan reduktif. Betapa tidak, salah satu filsuf terbesar dalam jaman Yunani kuno itu, menilai bahwa keindahan fisik merupakan mimesis (tiruan) dari keindahan yang lebih tinggi yaitu idea. Itu berarti keindahan termasuk kecantikan lahiriah hanya sebagai ‘pancaran luar’ dari keindahan in absentia itu.Gagasan Plato ini berimplikasi pada penilaian tentang ‘derajat’ dari keindahan itu sendiri. Bahwasannya seni (yang indah) yang bersumber dari ‘dunia idea’ lebih superior ketimbang seni yang mengandalkan aspek lahiriah semata.Tubuh Perempuan dan Kecantikan Citra kecantikan umumnya selalu identik dengan ‘tubuh perempuan’. Karena itu, diskursus tentang apa dan siapa yang disebut cantik itu, selalu mengacu pada dimensi kecantikan yang dimiliki oleh seorang perempuan. Pertanyaannya mengapa kita menilai bahwa ‘tubuh tertentu’ itu disebut cantik? Apa ‘kriterum’ yang kita pakai dalam membuat definisi itu?Tentang apa itu “yang indah, cantik”, sesungguhnya bukan hal yang mudah didefinisikan. Muncul beragam pendapat dalam filsafat estetika, filsafat yang mengkaji tentang apa itu yang “indah”. Pelbagai pendapat itu, dengan agak disimplifikasi, bisa dirangkum dalam dua aliran besar, dua aliran yang menjadi klasifikasi esensial di hampir semua cabang filsafat, yakni mazhab objektivis dan mazhab subjektivis.Alirah subyektivisme berpandangan bahwa ‘cantik’ itu sangat relatif, tergantung pada mata yang memandang. Kecantikan itu melekat erat pada wilayah inderawi yang bersifat subyektif. Karena itu, cantik tidak bisa ‘diukur, diperlombakan, dan diperdagangkan’. Kita tidak mempunyai ‘baromenter yang obyektif’ untuk menilai mutu kecantikan yang ada pada seseorang.Sebaliknya, aliran obyektivisme menilai bahwa cantik itu menempel erat pada obyek itu sendiri. Ada “sesuatu” yang cantik sebagaimana adanya dia cantik (“cantik” as it is; “cantik” an sich). Kecantikan ini ada dengan sendirinya bahkan sekalipun tak ada orang yang memandangnya. Dia yang cantik itu pada hakikatnya tetap cantik sekalipun lampu sedang mati dan orang-orang tak bisa melihatnya. Dia cantik bahkan walau semua orang sedunia buta. Adanya mata yang memandang bukanlah prasyarat bagi adanya kecantikan.Cantik adalah suatu “formedness”, keterbentukan, yang mempunyai ukuran, kadar, rasio. Paras yang cantik bagi kaum objektivis ialah paras yang memiliki struktur bibir, pipi, hidung, mata, dan anggota wajah lain sedemikian rupa sehingga gabungan dari semua itu membentuk sesuatu yang patut disebut “cantik”. Dalam kerangka ini, esensi kecantikan adalah suatu kombinasi, dan karenanya mesti dilihat sebagai sesuatu yang menyeluruh, as a whole, sehingga jika satu saja bagian dari kombinasi itu geser dari proporsi yang semestinya, kecantikannya hilang, atau setidaknya kadar kecantikannya berkurang.Karena pandangan objektivis yang demikian itu, maka kecantikan bisa dikompetisikan. Ajang pemilihan Putri Indonesia, Miss World, Putri Pariwisata dll merupakan menifestasi dari pemikiran keindahan yang bercorak kuantifikatif tersebut.Selain itu, kecantikan bisa juga dikomersilkan, sehingga muncul bisnis kecantik. Pada lingkungan yang tergila-gila dengan kecantikan, bisnis make-up dan asesoris pakaian tumbuh subur. Paradigma keterukuran (measurability) kecantikan sebagai sesuatu yang objektif, yang merembesi lingkungan materialis, kadang sampai merasuk ke ruang publik di mana ‘kecantikan fisik’ menjadi salah satu kriteria untuk bekerja pada satu instansi atau perusahaan.Dalam Cengkraman ‘Kapitalime (Pariwisata) 39 finalis ‘ajang Putri Indonesia’ sudah mengikuti masa ‘pra-karantina’ di Labuan Bajo. Mengapa mesti Labuan Bajo? Jawabannya jelas, Labuan Bajo merupakan ‘the new Bali’, destinasi wisata super premium. Jika selama ini, kontes kecantikan semacam itu lebih memilih Bali sebagai tempat ‘relax dan rekreasi’, maka sebagai ‘Bali Baru’ tentu pemerintah dan pihak sponsor coba ‘merancang strategi pemasaran wisata Labuan Bajo dengan cara yang lebih memikat, seperti ‘mendatangkan’ para finalis kontes Putri Indonesia itu.Aktivitas industri pariwisata tanpa keindahan (kecantikan) itu rasanya absurd. Hanya dalam dan melalui keindahan fisik (obyek wisata), sebuah industri turisme tidak hanya bisa eksis, tetapi berkembang pesat. Karena itu, selain kecantikan alam dan budaya, kecantikan tubuh perempuan juga bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.Para pengusaha (kapitalis) dalam bidang pariwisata tentu dengan kreatif membaca peluang pasar semacam itu. Para perempuan yang berpenampilan menarik, cantik, dan seksi direkruit untuk bekerja di berbagai sektor jasa yang berhubungan dengan kegiatan kepariwisataan.Kecantikan perempuan ditakar dari sisi kepentingan para kapitalis itu. Tentu, mereka memiliki ‘alat ukur’ spesifik perihal kecantikan yang mesti dipunyai ketika seorang perempuan bekerja di perusahaan mereka. Itu berarti dimensi kecantikan itu sangat bergantung pada ‘kaca mata’ yang dipakai oleh para pebisnis pariwisata.Sadar atau tidak, kita sedang digiring untuk mengikuti ‘imaji kecantikan’ yang diinginkan oleh pasar pariwisata. Sebuah ‘mitos kecantikan sempurna’ ala logika kapitalisme, sedang mengepung aula kognisi kita hari-hari ini.**) Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan politik. Tinggal di Labuan Bajo.

Geliat Porang dan Asosiasi Petani Porang Flores (APPF)

(Catatan seputar Pertemuan APPF di Kawasan Puncak Puarlolo & Pastoran Paroki Rekas-Bagian-1)

KOMODOPOS.com-MBELILING
Di Manggarai umumnya, tanaman Porang (ndege/wanga) mulai dilirik pasar sejak tahun 2011. Sejak saat itu para tengkulak keluar-masuk kampung mencari/membeli porang dengan harga Rp 500 per kg. Kala itu para petani belum tertarik dengan Porang bisa jadi karena harganya yang sangat murah. Mungkin karena itu pasaran porang saat itu mengalami kelesuan selama benerapa tahun.

Tahun 2015, umbi porang mulau ramai diburu oleh para tengkulak. Warga di kampung-kampung pun disuruh mencari umbi porang dengan harga mulai menanjak hingga Rp 1.500 per kg. Kendati begitu para petani umumnya belum berminat untuk membudidayakan tanaman liar itu. Petani yang mencari umbi porang pun relatif terbatas saat itu.

Makin tahun, harga porang makin naik. Tahun 2017, misalnya, harga porang naik ke level Rp 2.500 per kg hingga puluhan ribu per kg pada tahun 2020. Perkembangan terakhir, bukan umbi porang saja yang diburu. Buah porang pun diburu pengusaha/eksportir.

Harga porang yang menggiurkan inilah, sejak tahun 2017 hingga hari ini, porang menjadi primadona baru di kalangan petani. Geliat budidaya porang yang sedang massif bisa dilihat sebagai revolusi ekonomi baru bagi petani.

Tidak pernah dibayangkan sebelumnya bahwa tanaman liar itu ternyata kini menjadi angin surga hari ini. Karena itu menanam porang hari ini adalah sebuah proses belajar bagi petani porang menuju pencapaian hasil di waktu yang akan datang.

Belajar dari pengalaman oara petani cengkeh, kopi, kakao, kemiri, vanili dan komoditi pertanian/perkebunan lainnya selama ini di Flores umumnya dan Manggarai raya khususnya. Harga komoditi tersebut dikendalikan oleh para pengusaha/pembeli/tengkulak. Posisi bargaining (daya tawar) petani dalam hal pemasaran sangat lemah. Harga komoditi tersebut dikendalikan oleh pengusaha dengan dalih mekanisme pasar memang begitu adanya. Akibatnya, kesejahteraan para petan sedari dulu selalu begitu selamanya. Hidup enggan, mati tak mau. Berjalan di tempat.

Kondisi Itu selalu terjadi setiap musim panen oleh karena banyak faktor. Pertama, individualitas. Petani bekerja sendiri-sendiri/ego. Sama-sama kerja. Bukan kerja sama. Sebaliknya parabtengkulak/pengusaha bekerja lintas sektor/kerja berjejaring. Pengusaha di Ruteng atau di Labuan Bajo memiliki jaringan kerja di Surabaya dan seterusnya. Harga komoditi petani tergantung deal mereka.

Kedua, kuantitas (jumlah) Hasil produksi petani masih relatif sedikit dan tidak berkelanjutan oleh katena bekerja sendiri-sendiri (kontinuitas). Lihat saja, para tengkulak keluar-masuk kampung mencari/membeli sedikit demi sedikit lalu dikumpulkan di gudang induk semang pengusaha (big bos) mereka.

Ketiga, kualitas. Umumnya para petani ingin lebih cepat mendapatkan uang. Buah vanili, misalnya, dipetik saat belum matang lalu dijual eceran kepada tengkulak. Hal ini tentu saja mengabaikan kualitas produk.

Keempat, kaya hasil bumi tapi miskin kreatifitas. Rata-rata petani memiliki/menghasilkan semua jenis komoditi. Akan tetapi tidak semua petani yang memiliki sumber daya/kemampuan/ketrrampilan untuk mengolah/memasarkan hasil kerja pertaniannya memenuhi permintaan pasar. Contoh sederhana, petani kita menjual pisang lalu membeli pisang goreng di tempat yang sama. Petani di daerah kita, umumnya masih bergerak di sektor primer. Sementara di daerah lain sudah bergerak di home industri.

Kelima, para petani belum terbiasa berorganisasi. Kelompok-kelompok tani yang terbentuk selama ini berorientasi/bermental proyek. Kelompok tani ada karena diadakan/ dibentuk untuk menerima bantuan pemerintah. Bukan ada karena kesadaran yang dinisiasi oleh petani-petani.

Pertemuan Asosiasi Petani Porang Flores (APPF) di Pendopo Pastoran Paroki Rekas, Minggu (23/2/2020)

Asosiasi Petani Porang Flores

Belajar dari pengalaman tersebut, sejumlah anak petani yang memiliki kesadaran lebih sungguh menyadari betapa hal-hal tersebut di atas sangat membelenggu kehidupan para petani pada umumnya. Menyebut beberapa nama anak petani, Romo Beny Jaya, Pr, Romo Agustinus Agung, Pr, Bernadus Barat daya, Stanislaus Stan yang memiliki pemahaman dan kesadaran yang sama tentang persoalan petani di atas, mereka menghimpun diri dalam satu wadah oganisasi petani, Asosiasi Petani Porang Flores (APPF).

Organisasi petani ini berpusat di Labuan Bajo, kabupaten Manggarai Barat dan bercabang ke seluruh daratan Flores. Organisasi petani ini nantinya beranting/ berkepengurusan sampai di kampung-kampung tempat bergumulnya para petani. Sesuai nama organisasinya, keanggotaan organisasi ini tentu saja adalah para petani Porang se daratan Flores.

Minggu, 23 Februari 2020 kemarin, APPF menggelar pertemuan penting di dua tempat berbeda, yakni dilakukan di kaqasan Puncak Puarlolo pada pukul 15.00 Wita lalu dilanjutkan pada pukul 17.00 wita di Pastoran Paroki Rekas, kecamatan Mbeliling, kabupaten Manggarai Barat. Agenda dua pertemuan itu fokus membahas tentang tanaman Porang.

Hadir dalam pertemuan yang dipimpin Romo Beny Jaya, Pr ini duta petani porang dari 9 kecamatan, yaitu dari kecamatan Mbeliling, Sano Nggoang, Komodo, Welak- Lembor, Lembor Selatan, Macang Pacar, Kuwus dan kecamatan Ndoso.

Tampak dalam pertemuan di kawasan Puncak Puarlolo, dua rohaniwan ialah Pastor Paroki Datak, Rm. Beny Jaya, Pr dan Pastor Paroki Rangga, Rm. Agus Agung, Pr. Hadir juga sejumlah petani porang di antaranya, Bernadus Barat Daya, Stanislaus Stan, Dominikus Nangkom, Yosep Sepandi, Saverinus Akerila Ratu, Frans Salis Jeharum dari Ranggu. Siprianus Marus, Ignasius Panca, Kornelis Darut, Adrianus Tangur,Kanisius Kabut dari Datak, Aloysius Nagung, Ambrosius Jalut, Sebastianus Pat, Yohanes Jemada dari Sewar, Gedis dari Tentang-Ndoso.

Pertemuan lanjutan di Pastoran Paroki Rekas dihadiri oleh Pastor Kapela Paroki Rekas, P.Lasarus, SVD, Pastor Paroki Datak, Rm.Beny Jaya, Pr, Tua Golo Rekas, Yosep Handu dan sejumlah Pengurus Dewan Paroki Rekas, yakni Aloysius Sisung, Yosep Eduard Edy, Dominikus Tabe, Danri Pardi, Aloysius AM Kandut, Lukas Jabun, Agus Jehala dan Kletus Karmin

Dalam pertemuan tersebut, Romo Beny Jaya, Pr mengajak para petani untuk berubah. Berubah dari pola pertanian tradisional ke tata kelola pertanian modern. Berubah dari cara pandang lama ke cara wawas baru. Berubah dari pola kerja lama ke pola kerja baru. Berubah dari sama-sama kerja (ego) ke kerja sama (kolaborasi).

“Kita tidak akan pernah sukses kalau kerja sendiri-sendiri. Kerja sama dalam satu Asosiasi banyak manfaatnya buat para petani. Berdoa saja tidak cukup, harus diimbangi dengan berkerja”, ajak Romo Beny Jaya.

Bernadus Barat Daya menjelaskan tentang profil dan tujuan mendirikan Asosiasi Petani Porang Flores. “APPF inilah yang akan memproteksi dan membela hak-hak serta kepentingan para petani. Hanya petani sendiri yang mengetahui betul persoalan dan bagaimana mengatasi persoalan petani”, kata Bernadus.

Stanis Stan Pada pertemuan itu membagi informasi terkait pengalamannya menanam porang dan prospeknyavyang menjanjikan kesejahteraan petani. Porang, kata Stanis, adalah komoditi ekspor dunia yang membantu para petani jika tekun membudidayakannya.

“Tidak ada kata terlambat. Tanam porang sebanyak-banyaknya. Manfaatkan lahan yang ada. Eksportir itu datang ke kita kalau stok porang yang kita siapkan dalam jumlah banyak dan berkualitas sesuai permintaan eksportir”, kata Stanis.

Menutup pertemuan itu, Rm. Agus Agung, Pr menguatkan para petani dengan spirit, “Jangan takut menanam porang. Pembelinya sudah ada. Kerja sama kita saat ini dan selanjutnya adalah menanam porang sebanyak-banyaknya. Dalam nama Tuhan, usaha kita pasti sukses”, ujar Rm Agus Agung. *(Robert Perkasa) bersambung..

Pertemuan Pendiri Asosiasi Petani Porang Flores (APPF) di kawasan Puncak Puarlolo, Minggu (23/2/2020).

Info tambahan tentang porang

Mengutip dari IDN Times, tanaman porang merupakan tanaman penghasil umbi yang dapat dimakan, anggota marga Amorphophallus.

Manfaat porang terutama untuk bidang industri dan kesehatan, karena kandungan glukomannan pada tepung umbinya. Porang mampu menghasilkan karbohidrat dan tingkatan panen yang tinggi.

Ketua Asosiasi Petani Porang Pati (Asperati) Luqman Saiful Hidayat mengatakan untuk diketahui, porang (amorphophallus muelleri) merupakan tanaman umbi-umbian yang memiliki nilai ekonomis tinggi.

Bukan itu saja, tanaman porang juga merupakan komoditas ekspor bernilai ekonomi tinggi. Di luar negeri, porang banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan aneka makanan. Di antaranya mie shirataki, beras analog (beras nonpadi), agar-agar konyaku, dan tahu.

“Bahkan, porang juga berguna di industri dirgantara, yakni sebagai bahan baku lem perekat untuk pesawat. Kemudian, serat dari batangnya untuk membuat baju. Ada lagi, glukomanan yang terkandung dalam porang merupakan bahan baku pembuatan kapsul,” papar dia.

Tepung porang juga bermanfaat menekan peningkatan kadar glukosa darah sekaligus mengurangi kadar kolesterol serum darah yaitu makanan yang memiliki indeks glikemik rendah dan memiliki sifat fungsional hipoglikemik dan hipokolesterolemik.

Porang sebagai serat pangan dalam jumlah besar dapat meningkatkan daya tahan tubuh terhadap berbagai penyakit seperti kanker usus besar, divertikular, kardiovaskular, kegemukan, kolesterol tinggi dalam darah, dan kencing manis.

Tanaman porang disebut mempunyai potensi ekonomi yang tinggi dengan modal sekira Rp 60 juta, setiap satu hektare lahan bisa ditanami sekira 40 ribu bibit.

Ketika siap panen, kira-kira 1,5 tahun setelah penanaman, masing-masingnya akan mencapai berat setidaknya dua kg. Artinya, setiap hektare akan menghasilkan 80 ton. Dengan harga jual per kilo Rp10 ribu, maka setiap hektare lahan porang bisa menghasilkan Rp800 juta.

“Itu belum termasuk panen katak atau buahnya (bintil cokelat kehitaman yang muncul pada pangkal daun tanaman porang-red.),” ucap Luqman Saiful Hidayat.

Saat menjelang masa panen umbi porang, kata dia katak bisa dipanen dua kali. Petani porang di Jawa Timur, lanjutnya, menjual katak porang dengan harga mencapai Rp 230 ribu per kilo.

Porang dapat tumbuh pada jenis tanah apa saja. Meski begitu, tanaman porang tumbuh dengan baik di tanah yang memiliki naungan, misalnya pohon jati, mahoni dan sengon.

Teknik pengembangbiakan porang bisa dengan menggunakan biji. Porang akan berbunga pada periode 4 tahun. Bunga tersebut akan berubah menjadi buah dan kemudian menghasilkan biji yang baik dikembangbiakkan pada musim hujan. Selain itu budidaya tanaman porang juga bisa dilakukan dengan cara bintik yang ada di antara batang dan cabang porang. Bintik yang dipanen ternyata bisa disimpan dan ditanam kembali sebagai bibit porang.

Cara lain yaitu dengan menggunakan umbi. Umbi porang yang dipanen dapat ditanam kembali. Porang ternyata cukuobditabam sekali lalu tinggal melakukan pemeliharaan dan memanen. Umbi akan tumbuh lagi setelahnpanen dengan meninggalkannya di lubang semula. **(Sumber : IDN Times)

Longsor di Puncak Puarlolo, Arus Lalulintas Masih Normal

KOMODOPOS.com-MBELILING
Longsir terjadi hari ini, Minggu (23/2) sekira pukul 13.15 wita l di jalur jalan Trans Flores ruas jalan Labuan Bajo Ruteng, tepatnya di kawasan Puncak Puarlolo antara wilayah desa Golo Damu dengan desa Golo Desat, kecamatan Mbeliling, kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara TimuTimurr. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa alam itu.

Meskipun material longsoran menutupi separuh badan jalan, namun arus lalulintas kendaraan dari dan ke Labuan Bajo terpantau masih normal

Sementara itu, pantauan media ini, Minggu pagi-hingga petang tadi di kawasan Mbokol, dusun Watu Bakok, desa Cunca Lolos, kecamatan Mbeliling, kabupaten Manggarai Barat, arus lalulintas kendaraan roda empat dan roda dua dari dan ke Labuan Bajo juga terpantau normal-lancar.

Truk fuso yang tergelincir kemarin terlihat masih terbenam di lokasi kejadian itu. Sedangkan muatannya telah dibongkar.

Truck fuso bernomor polisi L 9298 UT ini diketahui mengakut material bangunan besi beton dan sink dari Surabaya. *(Robert Perkasa)

Pagi Ini, Arus Transportasi Labuan Bajo-Ruteng Normal

KOMODOPOS.com-MBELILING-
Minggu pagi (23/2) sekitar pukul 09.00 wita, arus transportasi darat Trans Flores ruas jalan Labuan Bajo-Ruteng yang sebelumnya terganggu akibat terhalang sebuah mobil truk fuso yang tergelincir di kawasan Mbokol, dusun Watu Bakok, desa Cunca Lolos, kecamatan Mbeliling, kabupaten Manggarai Barat, kini normal kembali.

Terpantau Komodopos.com, Minggu pagi (23/2) pukul 09.00 wita, arus lalu lintas kendaraan dari Labuan Bajo atau sebaliknya terpantau lancar. Sabtu (22/2) petang petugas dari instansi terkait telah membersihkan badan jalan yang sebelumnya licin dan balepotan lumpur.

Sementara itu, truk fuso yang tergelincir kemarin terlihat masih terbenam di lokasi kejadian itu. Sedangkan muatannya telah dibongkar.

Saat dikonfirmasi Komodopos.com melalui Whatsapp, Sabtu malam (22/2), Pejabat Pembuat Komitmen 3.1 Provinsi Nusa Tenggara Timur, Balai Pelaksanaan Jalan Nasional X Kupang, Direktorat Jenderal Bina Marga, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, David Samosir menjelaskan bahwa hasil laporan staf dia dari lokasi kejadian, kondisi di titik kemacetan sudah kembali normal.

“Hasil laporan staf kami dari lokasi kejadian, jam 7 malam tadi arus lalu lintas kendaraan dari Labuan Bajo maupun dari Ruteng sudah normal kembali. Untuk lumpur yang timbul sampai ke badan jalan akan kami lakukan investigasi penyebab lumpur naik ke badan jalan, apakah diakibatkan galian atau curah hujan yang tinggi”, jawab David.

Sedangkan terkait penyebab mobil truk fuso tergelincir hingga menimbulkan kemacetan, Ia menjelaskan bahwa menurut keterangan warga yang dihimpun oleh stafnya di lokasi kejadian, hal itu terjadi karena sopir truk itu hilang kendali saat mengendarai kendaraannya.

“Saya tambahkan, menurut keterangan warga yang kami himpun di lokasi kejadian bahwa truk fuso itu hilang kendali saat bertemu mobil kecil yang berlaju kencang dari arah berlawanan, sehingga ban sebelahnya mengalami slip akibat jalan berlumpur. ini kecelakaan pak. setiap saat bisa terjadi”, ujar dia menirukan keterangan warga.

Bahu jalan terbelah dan retak

Bahu jalan tampak terbelah di lokasi penggalian kabel fiber merah PT.Moratelindo di wilayah desa Cunca Lolos. Foto : Komodopos.com, Sabtu (22/2)Badan jalan tampak retak di lokasi penggalian kabel fiber merah PT.Moratelindo di wilayah desa Wae Lolos. Foto : Komodopos.com, Sabtu (22/2).

Berdasarkan pantauan media ini, Sabtu (22/2) kemarin di ruas jalan Trans Flores Labuan Bajo-Ruteng, tepatnya wilayah desa Cunca Lolos dan desa Wae Lolos menemukan sejumlah titik kerusakan bahu jalan akibat aktivitas penggalian kabel fiber warna merah menggunakan alat berat milik PT. Moratelindo.

Demikian pula badan jalan yang berlumpur dan licin hingga memperparah kemacetan kemarin di kawasan Mbokol desa Cunca Lolos ternyata dilakukan oleh PT Moratelindo itu.

Menurut dia, penggalian tersebut telah mendapatkan izin dari instansi yang dipimpinnya.

“Iya pak. Galian dengan warna merah itu milik PT. Moratelindo
PT. Moratelindo sudah mendapatkan izin penggalian”, ujarnya.

Sementara itu, hasil pantauan langsung media ini di setiap lokasi penggalian menemukan sejumlah titik kerusakan bahu jalan akibat aktivitas penggalian itu. Jenis kerusakkan antara laun bahu jalan terbelah dan badan jalan ada yang retak.

Kondisi di lokasi kekadian terpantau normal. Foto diambil Sabtu malam (22/2) pukul 21.10 wita/BPJN Nasional X Kupang, Direktorat Jenderal Bina Marga, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Akan tetapi menurut hasil konfirmasi Pejabat Pembuat Komitmen 3.1 Provinsi Nusa Tenggara Timur, Balai Pelaksanaan Jalan Nasional X Kupang, Direktorat Jenderal Bina Marga, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
dengan pihak PT.Moratelindo menyebutkan, kerusakan bahu jalan itu disebabkan karena air hujan.

“Kerusakan di beberapa titik diakibatkan air hujan, karena sebelumnya sudah dilakukan penimbunan dan pemadatan”, jawab David. *(Robert Perkasa)

Mobil Fuso Tergelincir, Arus Lalulintas Ruteng-Labuan Bajo Macet

KOMODOPOS.com-MBELILING– Sejak Jumat malam (21/2) hingga hari ini, Sabtu (22/2), arus transportasi darat Trans Flores ruas jalan Labuan Bajo-Ruteng, mengalami kemacetan serius.Titik kemacetan ini, tepatnya terjadi di kawasan Mbokol, dusun Watu Bakok, desa Cunca Lolos, kecamatan Mbeliling, kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Kemacetan di ruas jalan itu terjadi akibat terhalang sebuah mobil Truck Fuso yang tergelincir.

Terpantau Komodopos.com siang ini, Sabtu (22/2) pukul 12.00 Wita tampak ban belakang truk terbenam dalam lumpur galian alat berat yang dikerjakan sebelum kejadian itu. Sementara itu, bagian depan truk fuso menutupi separuh badan jalan bagian kiri dari arah Labuan Bajo. Praktis hanya satu lajur jalan yang bisa dilintasi kendaraan. Penyempitan badan jalan inilah yang kemudian menimbulkan kemacetan serius di titik tersebut.

Tampak pula antrian kendaraan baik dari arah Labuan Bajo maupun sebaliknya tampak mengular di kawasan itu. Badan jalan yang belepotan lumpur galian alat berat memperparah kemacetan di area tersebut.

Menurut Apro, sopirctruk apes itu, mobilnya meluncur dari Labuan Bajo, Jumat malam (21/2) menuju Ruteng, kabupaten Manggarai. Truck fuso bernomor polisi L 9298 UT ini diketahui mengakut material bangunan besi beton dan sink dari Surabaya.

“Kejadiannya tadi malam sekitar pukul 21.00 Wita. Saat tiba di sini, ada sebuah truk yang sedang parkir karena ban pecah. Pada saat bersama sebuah mobil open kap melaju kencang dari arah Ruteng memaksa menerobos tikungan. Mobil saya persis sudah berada di tikungan itu. Demi menghindari tabrakan, saya terpaksa cikar kiri. Dan saatvirulah ban belakang mobil tergelincir akibat licin keluar dari badan jalan. Mobil terbuang pelan-pelan hingga ban belakang terbenam dalam lumpur galian ini”, tutur Apro kepada media ini di lokasi kejadian.

Warga setempat, Maksi Libur, saksi mata di lokasi kejadian menuturkan, kejadian itu berawal dari sebuah mobil open kup meluncur dari arah berlawanan memaksa melintasi tikungan. Sementara pada saat yang sama ada 5 truk fuso bergerak beriringan dari arah Labuan Bajo.

“Mobil open kap itu meluncur kencang dari arah Ruteng. Ia sudah berhasil melewatu 4 truk yang lain. Truk fuso yang ini persis di rikungan saat mobil open kap itu menerobos. Saat itulah truk fuso ini tergelincir”, ujar Maksi Libur.

Hingga berita ini dihimpun, truk fuso itu masih terbenam di lokasi kejadian. “Saya sedang menunggu truk dari Ruteng atau dari Labuan Bajo untuk bongkar muatan ini”, ujar Apro, sopir truk itu. *(Robert Perkasa)

Pengusaha Jepang Undang Petani Porang Waemasa-Mbeliling ke Jepang

KOMODOPOS.com-MBELILING-Mr. Daiki Roliis bersama istrinya Chien, pengusaha asal Jepang mengunjungi kebun petani porang (ndege) di dusun Waemasa, desa Golo Damu, kecamatan Mbeliling, kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Jumat siang (21/2).
Tenyata tujuan mr.Daiki mengunjungi kebun petani porang di dusun tersebut untuk mengundang salah seorang petani porang, Stanislaus Stan pergi ke negeri Sakura.

“Mr. Daiki Roliis datang di kebun porang mengundang saya untuk pergi ke Jepang. Di Jepang nanti saya dipercayakan untuk bisa mempresentasikan materi tentang stok porang ke beberapa perusahaan rekanan beliau”, ujar Stanislaus Stan.

Stanis mengatakan, mr.Daiki Roliis adalah seorang pengusaha. Ia siap menerima impor chip porang dari Flores. Kepada Stanis Stan, pengusaha Jepang itu menyarankan agar para petani porang sebisa mungkin menghindari penggunaan pupuk kimia.

“Bos dari Jepang ini ingin mengajak kerja sama untuk buka perusahaan export chip porang khusus dari Flores untuk diekspor ke Jepang. Dan perusahaan beliau juga yang akan terima impornya di Jepang”, kata Stanis Stan.

Terkait peluang tersebut, Stanis meminta para petani untuk terus menanam porang sebanyak-banyaknya. Manfaatkan lahan yang ada dengan menanam porang.

“Intinya, tinggal petani kita, apakah bisa memenuhi permintaan para konsumer. Untuk itu bagusnya tanam porang ini harus digalakkan terus. Jangan berhenti. Saran beliau tadi, sebisa mungkin porang kita punya di sini tidak boleh menggunakan pupuk kimia”, tutur Stanis Stan menimpali saran pengusaha Jepang itu. *(Robert Perkasa)

Kisah Pemuda 24 Tahun Raja Ndege Manggarai Barat (Bagian -2/Habis)

KOMODOPOS.com-SANO NGGOANG-Sejak tahun 2012 silam, Mus memilih tinggal di kampung. Menekuni profesi petani sejak ia berusia 16 tahun. Meski terbilang muda belia, ia bekerja sambil belajar mandiri. Hidup yatim-piatu bukan alasan baginya untuk pasrah. Sebaliknya dengan segala keterbatasan, ia berjuang, bekerja apa saja demi menyambung hidup.

“Saya memang tidak mempunyai apa-apa. Tetapi saya memiliki siapa-siapa”, ujar Mus saat berbincang dengan penulis di kebunnya suatu senja. Itu falsafah hidupnya yang membuat dia selalu optimis akan eksistensinya.

Pelan tapi pasti, dengan segala keterbatasan yang dimiliki, ia bekerja tanpa kenal lelah. Memanfaatkan tanah warisan orangtuanya dengan penuh tanggungjawab.

Saya sangat bersyukur karena bapa dan mama mewariskan harta tanah untuk saya. Karena itu saya memanfaatkan harta warisan ini dengan bijak dan penuh rasa tanggungjawab. Saya sadar betul bahwa hanya dengan harta warisan ini saya bisa hidup”, tutur Mus.

Penulis sendiri mengenal Mus sejak kecil. Ia anak yang tekun dan berprilaku santun dengan siapa saja.

Bisnis Sambil Menanam Ndege

Di kecamatan Sano Nggoang, tanaman Ndege/Porang mulai dilirik pasar pada tahun 2011. Sejak saat itu para tengkulak keluar-masuk kampung mencari/membeli Ndege dengan harga Rp 500 per kg. Namun masyarakat di kecamatan Sano Nggoang saat itu belum tertarik karena harganya yang sangat murah. Mungkin karena itu pasaran Ndege saat itu mengalami kelesuan selama benerapa tahun.

Tahun 2015, umbi Ndege ramai diburu oleh para tengkulak. Warga di kampung-kampung ramai mencari umbi Ndege karena harganya melonjak hingga Rp 1.500 per kg. Saat itu, warga petani umumnya belum berminat untuk membudidayakan tanaman liar itu. Petani yang mencari umbi Ndege pun relatif terbatas saat itu.

Makin tahun, harga Ndege makin naik. Tahun 2017, misalnya, harga Ndege naik ke level Rp 2.500 per kg.

Mus sepertinya peka membaca peluang tersebut. Sambil menjual umbi Ndege, ia juga mulai membudidayakan tanaman itu di kebun miliknya. Tahun 2017, Mus menanam 2000 anakan Ndege.

Tahun 2018, harga Ndege melejit hingga level Rp 5000 per kg. Mus merasa tertarik berbisnis Ndege. Ia dan beberapa teman sekampungnya bekerja sama dengan pemilik modal dari Dompu, NTB mulai menjajal bisnis Ndege. Selama semua om (2018) Mus berhasil mengumpulkan umbi Ndege sebanyak 16 ton. 6 ton diperolehnya dari para petani di kampung Rangat. 4 ton yang lain dibeli di kampung-kampung sekitar.

Sebanyak 6 ton ia peroleh dari lebunnya sendiri. Panen 6 ton itu hasil dari 2000 anakan ndege yang ia tanam tahun 2017. Meski begitu, ia tidak puas dengan hasil kerjanya.

Ia makin termotivasi menanam sambil membeli umbi Ndege di sejumlah kampung. Ia kemudian berhenti bisnis ndege dan memilih serius menanam. Pada tahun 2018 ia berhasil menanam 5000 anakan Ndege. Musim tanam tahun 2019, Mus menanam 25.000 anakan Ndege di dua lokasi.

Penasaran dengar ceritanya di senja itu, Rabu (19/2) kemarin, penulis menyambangi kebun Ndege pemuda 24 tahun ini. Dan ternyata luar biasa ketika saya tiba di kebun seluas 5 hektar. Itu pun masih ada beberapa hektar lagi yang belum ditanam. 5000 anakan ndege yang ia tanam tahun 2018 ( siap panen) tampak tumbuh subur dan menghijau sejauh mata memandang.

Ignatius Musa (24), petani milineal raja Ndege (Porang) Manggarai Barat. Foto : Robert Perkasa wartawan Floresnews.net/Komodopos.com

Mus memastikan, jika 5000 pohon yang ia tanam dua tahun lalu dipanen tahun 2020 ini, hasilnya diperkirakan belasan ton.

“Jika umbinya seberat 3 kg per pohon, maka hasil panen tahun ini bisa mencapai 15 ton”, ujar Mus optimis seraya menambahkan, tahun 2021 lebih dari itu hasilnya.

“Siapa menabur, dia menuai”, demikian ungkapan pemuda 24 tahun itu menutup perbincangan di kebun Ndege, Rangat, desa Wae Lolos, kecamatan Sano Nggoang, kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Sukses buat mu, anak muda. *(Robert Perkasa)