Milenial’ Dalam Target Politik Pilkada Manggarai Barat

Oleh : Yohanes Budiono *)

Kata mileneal bukanlah hal baru kita dengar. Tapi belakangan ini pemahaman terhadapnya bersifat sepihak. Milineal lebih banyak dilihat sebagai konsumen. Generasi konsumtif. Jadi target pasar politik.Jadi obyek politik para politisi.
Sementara kenyataannya, kaum milineal adalah produsen. Angakatan kerja, work force, yang bertugas melayani bukan saja dilayani. Tulisan ini membahas fenomena kaum milenial yang kerap menjadi ‘target politik pilkada 2020’ di Manggarai Barat dan bagaimana nantinya jika mereka (bakal calon) terpilih.

Beberapa mitos dan realitas tentang milineal dibahas dan saling berkaitan: milineal sebagai pemimpin (balon bupati), milineal sebagai warga Mabar (rakyat). Milineal berkaitan dengan generasi lintas generasi, ditetapkan dengan tahun lahir; 1982-2000 (Howe dan Strauss, 2000); 1982-1999 (Kevin E. Philips, 2019); 1980-2000-an. Kamus Bahasa Indonesia)
Karasteristik milineal bervariasi, baik sebagai pemimpin maupun sebagai pemilih. Tapi umumnya, sifat ingin tahu yang tinggi ada setiap pribadi milineal (millenials have always been in the know), terbuka (terbiasa) dengan budaya-bahasa asing, instant, optimis, memiliki tujuan, percaya diri, terbiasa dengan teknologi. Terlepas dari itu ‘motivasi’ seseorang bakal calon berada di panggung politik ataupun pemilih sebagai empunya demokrasi tentunya dengan harapan mampu menjawab kebutuhan masyarakat Mabar dalam skala tertentu sesuai UU, yang mana semuanya tertera dalam visi-misi.

Mengingat milineal sebagai ‘Target Politik’ di Mabar tentunya bakal calon, team pendukung harus memahami kenyataan Sumber Daya Manusia (SDM) milenial sebagai pemilih (rakyat) antaranya; milenial tertarik dengan pemimpin untuk menemukan cara yang paling efisien-efektif untuk menangani kebutuhan masyarakat Mabar, milenial didewasakan untuk mengajukan pertanyaan ‘mengapa?’, umpan balik yang konsisten dari pemimpin,masyarakat, bahkan lawan politik, milineal yang up to date. SDM milenial yang begitu kompleks. Dalam tahap ini sang pemimpin (bakal calon) mesti siap dikritik dan dengan harapan ada solusi yang ditawarkan.

Milineal sebagai pempimpin (bakal calon), tentu punya harapan seperti; perlu pengakuan atas capaiannya, menyukai lingkungan kerja yang kolaboratif, tertarik dengan keputusan yang menantang dengan mengandalkan pengalaman-pendidikan-capaian lainya yang kuat. Dalam tahap ini, apresiasi atas prestasi adalah anjuran psikologi terkini (konsep UNESCO)

Lalu apabila bakal calon terpilih sebagai pemenang kompetisi (yubilaris) dan selama kepemimpinannya dinilai berhasil mengantar Mabar ke arah yang lebih baik. Apa hadiah yang tepat dari warga Mabar untuk ‘Nahkoda’?. Pilihannya antara lain; Jadikan dia contoh atau sarankan kembali ke beranda Mabar. Bukankah keberhasilan dalam memimpin suatu keharusan?**

*) Penulis, Kaum Milenial Manggarai Barat

3 Ruang Kelas SDN Ceko Nobo Tergenang Air Hujan

KOMODOPOS.com-MBELILING-Tiga ruangan Kelas I, II dan Kelas III SDN Ceko Nobo di desa Tondong Belang, kecamatan Mbeliling tergenang air hujan. Peristiwa ini terjadi, Kamis (20/2) kemarin sekitar pukul 10.40 Wita ketika hujan lebat mengguyur kawasan itu sepanjang dua hari terakhir.

Kepala SDN Ceko Nobo, Simon Soni mengungkapkan hal tersebut saat dikonfirmasi Komodopos.com via Whatsapp, Kamis malam (20/2). Ia menjelaskan, tinggi genangan air mencapai 10 cm. Akibat kejadian ini, kegiatan belajar-mengajar (KBM) di sekolah tersebut terpaksa dihentikan sementara karena para siswa/siswi bersama para Guru bekerja ekstra keras membersihkan endapan lumpur yang tertambat di ruangan kelas. Siswa dan Guru yang lain terpaksa kehujanan saat membersihkan drainase yang tersumbat material lumpur dan batu yang tergerus air hujan.

“Kejadiannya sekitar pukul 10.40 Wita, air sudah masuk ke ruangan kelas 1, kelas 2 dan kelas 3 pada saat KBM berlangsung. Intensitas curah hujan lebat sepanjang dua hari sehingga saluran tersumbat lumpur dan material batu. Air hujan kemudian meluap hingga masuk ke ruangan kelas”, ujar Simon.

Simon menambahkan kondisi KBM hari ini, Jumat (21/2) berlangsung normal namun cuaca ekstrem hujan lebat masih terjadi.

Kepala Dinas Pendidikan Kebudayaan dan Olahraga (PKO) Kabupaten Manggarai Barat ketika dikonfirmasi Komodopos.com melalui Whatsapp Jumat siang (21/2) hingga berita ini dihimpun belum memberikan tanggapan terkait kejadian tersebut. *(Robert Perkasa)

Saluran Irigasi Wae Lombur Ambruk,355 Hektar Sawah Terancam Gagal Panen

KOMODOPOS.com-LEMBOR– 355 hektar tanaman padi yang masih berumur 1 satu bulan milik para petani di daerah irigasi Wae Lombur, desa Pong Majok, kecamatan Lembor, kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur terancam gagal panen akibat saluran irigasi yang mengairi lahan persawahan mereka dua kali terpapar bencana alam longsor.

Longsor pertama terjadi pada Selasa (11/2) pekan lalu. Akibatnya, lantai saluran primer sepanjang 7 meter jebol/putus total diterjang bencana longsor. Longsor susulan kembali terjadi di lokasi yang sama pada Kamis kemarin (20/2) memperparah kondisi kerusakkan yangvterjadi sebelumnya. Lantai saluran sepanjang 5 meter ambruk akibat
intensitas curah hujan lebat mengguyur kawasan itu.

“Dampaknya sawah masyarakat tak dapat air dan terancam gagal panen karena padi masih umur satu bulan. Jumlah yang terdampak bencana tersebut ada 355 hektar lahan saqah untuk semua daerah irigasi Wae Lombur”, ungkap Petrus Servudin Nggarang, ketika dikonfirmasi Komodopos.com via Whatsapp, Jumat siang (21/2). Petrus Servudin adalah salah seorang warga petani yang menjadi korban terdampak kejadian tersebut.

Terpisah, Camat Lembor, Pius Baut, SE kepada Komodopos.com menjelaskan, setelah menerima laporan dari para petani setempat, pihaknya langsung menggelar rapat koordinasi dengan berbagainpihakbterkait, antara lain pemerintah desa Pong Majok, petugas pengairan dan kelompok P3A/GP3A.

“Setelah itu, pada Jumat, 14 Pebruari kami bergotong royong melakukan penanganan darurat dengan memasang pipa. Kamis kemarin (20/2) kembali terjadi longsor/jebol lagi lantai saluran sepanjang 5 meter. Saya sudah laporkan hal ini kepada pak Bupati, Mabar suoaya instansi terkait dapat memberikan bantuan/penanganan selanjutnya”, terang Camat Pius Baut.

Camat Pius menambahkan, saluran Irigasi Wae Lombur ini di bawah tanggung jawab pemerintah pusat melalui Balai Wilayah Sungai NTT.

Sementara itu, Kepala Dinas PUPR Kabupaten Manggarai Barat, Ir.Oktavianus Andi Bona ketika dikonfirmasi Komodopos.com melalui Whatsapp, Jumat pagi (21/2) menjelaskan, daerah irigasi Wae Lombur merupakan kewenangan pemerintah pusat. Namun demikian, pihaknya beruoaya untuk melakukan penanganan darurat bencana sebisanya.

“Daerah Irigasi Wae Lombur itu kewenangan pemerintah pusat. Kami berusaha untuk melakukan penanganan darurat sebisanya. Kami sudah buat laporan tertulis ke pemeritah pusat untuk segera melakukan penanganan permanen, mengingat saluran irigasi Wae Lombur yang ambruk saat ini sangat dibutuhkan oleh para petani yang sawah mereka sangat membutuhkan air saat ini”, ungkap Ovan Adu.

Saluran Irigasi Wae Lembur di desa Pong Majok, kecamatan Lembor ambruk diterjang bencana longsor . Foto : Petrus Servudin, petani/korban terdampak longsor ini

Kepala BPBD kabupaten Manggarai Barat, Drs.Dominikus Hawan saat dikonfirmasi media ini via Whatsapp
membenarkan kejadian yang memilukan itu. Ia mengatakan, bencana longsor yang mengakibatkan saluran Irigasi tersebut jebol akibat curah hujan yang cukup tinggi selama 2 hari.

“Benar. Bapak Bupati Mabar telah memerintahkan Kadis PUPR Mabar untuk segera tangani dalam waktu yang secepatnya”, ujarnya. *(Robert Perkasa)

Puskemas Benteng Minta Pemerintah Desa Siapkan Ambulance Desa

KOMODOPOS.com-LABUAN BAJO-Unit Pelaksana Tugas Daerah (UPTD) Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Benteng, kecamatan Komodo, kabupaten Manggarai Barat meminta pemerintah desa untuk menyiapkan mobil ambulance desa. Jarak tempuh puluhan kilometer dari desa Golo Mori, desa Warloka dan desa Tiwu Nampar menuju Puskesmas Benteng menjadi penyebab ibu-ibu hamil di desa-desa tersebut enggan melahirkan di fasilitas kesehatan yang disiapkan pemerintah. Menurut data yang ada di Puskesmas Benteng, persoalan persalinan di fasilitas kesehatan masih sangat rendah terjadi di desa-desa tersebut.

Permintaan tersebut menjadi salah satu point penting kesepatan bersama pemerintah dan masyarakat desa Golo Mori dengan petugas kesehatan dari Puskesmas Benteng ketika menggelar kegiatan Survey Mawas Diri (SMD) dan Musyawarah Mufakat Desa (MMD) di kantor desa Golo Mori, kecamatan Komodo, kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Kamis (20/2).

Hadir mengikuti kegiatan tersebut pemerintah dan masyarakat deaa Golo Mori. Hadir pula sejumlah petugas kesehatan dari Puskesmas Benteng, Yuliana Yuyun, Florianus Yansi, Fransiskus Ngandeng, Muhamad Mardin dan Gregorius Sufani.

Kepala Puskesmas Benteng, Valentine Hibur, S.Kep mengungkapkan hal itu kepada Komodopos.com via Whatsapp usai mengikuti kegiatan tersebut, Kamis malam (20/2). Ia menjelaskan tujuan kegiatan tersebut diselenggarakan untuk bersama-sama pemerintan dan masyarakat desa Golo Mori mencari solusi terkait berbagai persoalan yang terjadi di desa itu.

“Berdasarkan data yang ada di Puskesmas Benteng, berbagai persoalan seperti persalinan di fasilitas kesehatan masih rendah. Pencapaian program Sanutasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) masih rendah. Sarana air bersih belum memadai. Banyak warga yang belum memiliki Kartu JKN dan KB serta masalah konsumsi rokok yang tinggi terjadi di desa Golo Mori”, jelas Valentinus.

Dari kegiatan tersebut menghasilkan sedikitnya tujuh point kesepakatan. Pertama, bagi anggota keluarga yang merokok tidak boleh merokok di dalam rumah, di depan ibu hamil, di depan bayi atau anak-anak juga di tempat unum.

Kedua, pemerentah desa dan petugas kesehatan akan mendata ulang keluarga yang tidak memiliki jamban.

Ketiga. bagi keluarga yang belum memiliki jamban akan dibangun/diselesaikan selambat-lambatnya pada bulan Desember 2020.

Keempat, pemerintah desa menyiapkan ambulance desa.

Kelima, suami dan keluarga wajib mendampingi ibu hamil untuk mengikuti kegiatan kelas ibu hamil, pemeriksaan ibu hamil dan USG ke dokter.

Keenam, pemerentah desa siap melayani SKTM bagi ibu hamil yang tidak memiliki JKN.

Ketujuh, masyarakat bersepakat untuk menyiapkan sarana CTPS, tempat sampah di rumah masing-masing dan menggali lubang pembuangan ahkir sampah.

Sebelumnya, Senin (10/2)
Puskesmas Benteng juga menggelar kegiatan lokakarya mini lintas sektoral di Kantor Puskesmas Benteng, desa Golo Pongkor. Hadir sebagai pemateri dalam kegiatan ini, Sekcam Komodo, Yohanes R.Gampur, utusan Dinas Kesehatan kabupaten Manggarai Barat, Maria I.S.Astuti Rodriques, fasilitator Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM tingkat kabupaten dan utusan BKBN,

Peserta yang hadir dalam Lokakarta ini para kader Posyandu, Ketua Desa Siaga, 7 kepala desa wilayah kerja Puskesmas Benteng, yakni kepala desa Golo Mori, desa Warloka, desa Tiwu Nampar, desa Golo Pongkor, desa Pantar, desa Compang Longgo dan desa Macang Tanggar, para tokoh masyarakat, tokoh agama dan para kepala sekolah di wilayah kerja Puskesmas Benteng.

Dalam sambutannya, Kepala Puskesmas Benteng, Valentinus Hibur, Amd.Kep menjelaskan kegiataan lokarkarya triwulan I digelar untuk membahas berbagai program kerja Puskesmas Benteng untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya.

Ia menambahkan, lokakarya ini juga diselenggarakan guna mendapatkan masukan, usul saran daripada pihak terkait supaya dapat mengatasi masalah kesehatan yang ada. Ia menyebut contoh kesehatan ibu hamil dan anak-anak balita.

“Kita ingin membangun kerja sama lintas sektoral demi meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Benteng”, ujar Valens.

Valens juga mengajak para ibu hamil di wilayah kerjanya agar mereka melahirkan di fasilitas kesehatan yang telah disediakan oleh pemerintah.

“Kami sangat mengharapkan komitmen pemerintah desa untuk menyediakan mobil ambulance desa agar para pasien cepat tertolong mengingat kondisi geografis wilayah selatan kecamatan Komodo. Masih ada beberapa desa yang sulit dijangkau kendaraan, terutama saat musim hujan”, terang Valens.

Dijelaskan pula, Puskesmas Benteng membangun kerjasama dengan pemerintah desa dan sejumlah pengusaha di tingkat desa, khususnya yang memiliki armada angkutan pedesaan di desa masing-masing supaya dapat membantu ibu-ibu hamil yang hendak melahirkan di fasilitas kesehatan yang tersedia.
*(Robert Perkasa)

Melintasi Rego : Kuteropong “Watu Timbang Raung” dari Pesawat Terbang

Oleh : Usman D. Ganggang *)

Tak terasa, pesawat yang kami tumpangi dari Ende, mencium kampung Rego Kecamatan Macang Pacar-Manggarai. Meski samar-samar, tokh Beo (=kampung) Rego, sudah kupastikan, Kengko-Rego , sering kulalui ketika masih duduk di SMA doeloe. Kalau ke Ruteng, terkadang saya ke Reo dulu untuk menjenguk ‘kae’ (kakak John Sodo sekeluarga) yang bertugas di sana. Nah, kalau ke Reo, praktis harus melewati KIengko-Rego.

Pesawat merendah, lalu kutoleh ke sebelah Barat, kuteropong Watu Timbang Raung. Ingin rasanya, mau memotret, tapi teringat larangan pramugari. akhirnya, terpaksa diurungkan. Meski begitu, penggelandangan imajinasiku merambat ke cerita legenda Watu Timbang Raung. Batu yang punya kisah-kasih sedih. Kisah itu, masih terngiang jelas dalam telinga dan tersimpan indah dalam relung hatiku.

Di tahun 1978 , kepada saya diceritakan almarhum Niko Simi, bahwa Watu Timbang itu merupakan batu yang punya kisah. Dulu, demikian Almarhum Niko adik kandung kae John Sodoi , ada seorang petani yang tidak bisa membayar utang padinya. Hingga pemilik pada jengkell. Pasalnya, sudah bertahun-tahun, tidak dibayar oleh petani yang berambut panjang. tetapi dia seorang laki-laki itu.

Kemarahan pemilik padi sampai puncaknya, akhirnya si petani berambut panjang itu dilaporkan kepada Tua adat setempat. Kata sepakat, tidak tercapai dalam urusan utang-piutang tersebut. Pemilik padi akhirnya memberi solusi, padi tidak usah dibayar, yang terpenting, si berambut panjang , memanjat ‘watu” (batu) hingga sampai di atas. Lalu, terus ke ujung bagian barat batu tersebut yang bentuknya seperti meja kecil. “Dia harus duduk di sana, lalu harus ‘rono’ (= celang: membersihkan rambut dengan isi kelapa yang berminyak).

Ujungnya, diterima , utang padi selesai , jika si rambut panjang itu mau. Hari H-nya tiba, si rambut panjang itu pun naik, dengan membawa ‘leke’ (tempurung) kelapa yang sdh diisi dengan kelapa yang sdh dikunyah. Sisir dan cermin dibawa pula. Ketika tiba di puncak dia terus ke ujung barat watu yang berbentuk meja tadi. Apa yang disepakati dilaksanakannya.Tapi selama melakukan semua yang sdh ditentukan, dia tidak mau melihat ke bawah. Pasalnya, jika dia lihat ke bawah, pasti langsung jatuh akibat dari gravitasi bumi. Maklum tinggi batu tidak main-main, piluhan meter.

Watu Timbang Raung, Bersama Hans Sodo, Bunda Neno, Sipri Angkom, Siprianus Adi Rambu; Robby Sodo. Foto : dari Kompas.Com/Usman D.Ganggang

Begitu selesai rono, tiba-tiba air matanya jatuh di kedua belah pipinya.Ia sedih,,” Gara – gara miskin, akhirnya tdk bisa membayar urang”. Air matanya yang banyak itu, jatuh, Hingga kini, di bagian bawah batu itu ada air.Banyak orang yang menangis ketika pelaksanaan pembayaran utang padi itu, Batu iu kemudian diberi nama “Watu Timbang Raung’ artinya Batu tempat mengadili orang yang berutang. Makna sederhananya adalah : watu = batu, timbang = menimbang; Raung = utang.

Cerita ini, terbawa hingga saya terbang menuju Labuanbajo. Begitu peswat mencium bandara Komdo, baru hilang itu cerita dalam otakku. Keluargaku yang jemput berteriiak, “Pua datang!” Mana oleh-oleh Amang” tanya yang lainnya. Aku pun pasang senyum ketika mereka merangkulku dengan mesra. ***

*) Usman D.Ganggang kelahiran Bambor-Kempo, Manggarai Barat. Kini berdomisili di Kota Kesultanan Bima, NTB.

Antisipasi Peningkatan DBD, Puskesmas Labuan Bajo Gencarkan Penyuluhan

KOMODOPOS,com-LABUAN BAJO-Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Labuan Bajo menggencarkan kegiatan penyuluhan kesehatan di berbagai wilayah kerja. baik di dalam kota Labuan Bajo maupun di luar kota. Gerakan preventif yang dilakukan itu dalam rangka menekan serendah mungkin potensi peningkatan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah kerja Puskesmas Labuan Bajo, kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

Kepala Puskesmas Labuan Bajo, Vinsensius Paul, S.Kep mengemukakan hal itu kepada Komodopos.com melalu Whatsapp, Kamis malam (20/2).

“Sehubungan dengan adanya trend peningkatan Kasus DBD pada beberapa Kelurahan/ desa di wilayah kerja Puskesmas Labuan Bajo, pihaknya telah membentuk Tim Upaya Kesehatan Masyarakat (Tim UKM). Tim ini kemudian melakukan penyuluhan di berbagai desa/kelurahan yang menjadi wilayah kerja pelayanan Puskesmas Labuan Bajo”, terang Vinsen Paul

Vinsen menjelaskan, hari ini, Kamis, (20/2) Tim UKM menyelenggarakan kegiatan penyuluhan dan pemberian informasi kesehatan tentang Penyakit DBD kepada kelompok asrama sekolah di desa Nggorang. kecamatan Komodo.

Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Kepala Puskesmas Labuan Bajo, Vinsensius Paul,S.Kep. Hadir juga sebagai pemateri dalam kegiatan penyuluhan, dr. Magareth Juet, Emilia Nulda,SKM, dan Lidya Vinsensia, A.Md.Keb. Jumlah peserta yang hadir dalam kegiatan itu sebanyak 100 siswa/siswi dari sejumlah sekolah yang ada di desa Nggorang.

Berita Komodopos.com sebelumnya,
Kegiatan penyuluhan kesehatan serupa juga dilakukan di dua lokasi di kota Labuan Bajo, yakni di asrama St.Arnoldus dan asrama SSPS kelurahan Wae Kelambu, kecamatam Komodo, Labuan Bajo, Selasa (4/2).

Tim penyuluhan kesehatan Puskesmas Labuan Bajo bekerja sama dengan Dinas Kesehatan kabupaten Manggarai Barat dan pemerintah kecamatan Komodo memberikan penyuluhan kesehatan, kepada ratusan siswa-siswi SLTP dan SLTA yang menghuni dua asrama tersebut.

Para siswa-siswi dari sejumlah sekolah di desa Nggorang ikut penyuluhan kesehatan yang diselenggarakan Puskesmas Labuan Bajo. Foto : Dok. Kepala Puskesmas Labuan Bajo, Vinsensius Paul, S.Kep

Kegiatan penyuluhan yang dipimpin langsung oleh kepala Puskesmas Labuan Bajo, Vinsensius Paul,S.Kep. Hadir memberikan penyuluhan, dr. Gusti K. Nunu bersama tim simulasi dari Puskesmas Labuan Bajo yang berjumlah 18 orang.

“Materi penyuluhan tentang Demam Berdarah Dengue dan kesehatan reproduksi remaja kepada anak-anak Asrama Arnoldus 200 siswa dan waktu yang bersamaan juga dilakukan penyuluhan yang sama kepada kelompok anak Asrama SSPS sejumlah 100 orang”, ujar Vinsen Paul. *(Robert Perkasa)

Pohon Tumbang di Ruas Jalan Trans Labuan Bajo-Ruteng

KOMODOPOS.com-MBELILING-Sebatang pohon kayu tumbang menimpa badan jalan hingga sempat mengganggu kelancaran arus lalulintas kendaraan roda 4. Kejadian ini tepatnya di sekitar Ceko Bobo, desa Tondong Belang, kecamatan Mbeliling ruas jalan trans Flores jalur Labuan Bajo – Ruteng, Kamis (20/2) sekira pukul 11.00 Wita.

Kepala Desa Tondong Belang, Fransiskus Saverius Vidi saat dikonfirmasi Komodopos.com melalui Whatsapp belum memberikan tanggapan terkait kejadian tersebut.

Namun keterangan tentang dihimpun dari Icard Nando, saksi mata di lokasi kejadian ini menuturkan, pohon kayu tumbang akibat diterpa angin disertai hujan lebat sepanjang malam hingga saat kejadian.

“Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini. Pohon kayu ini rumbang hingga menutupi badan jalan. Kejadiannya pas hujan deras sekitar jam 11 lewat. Saya dan beberapa teman kerja dari ekolotdge memotong kayu menggunakan, parang, dan mesin sensor”, tuturnya.

Foto : Icard Nando, saksi mata di lokasi kejadian

Ia menambahkan, saat kejadian itu, kendaraan roda 4 tidak bisa melintas karena terhalang dahan kayu. Hanya kendaraan roda dua yang bisa melintas.

Pantauan Komodopos.com di lokasi kejadian beberapa jam kemudian arus transportasi darat Ruteng-labuan Bajo terpantau normal kembali. * (Robert Perkasa)

BMKG Survey Lokasi Shelter Gempa di Desa Wae Lolos

KOMODOPOS.com–SANO NGGOANG–Aditya H. Ludjinguru
Yosse F. Mesin dan Muhammad Nazarudin, Tim Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Kabupaten Manggarai Barat melakukan survey lokasi shelter seismik (tempat pencatatan seismograf) gempa bumi di desa Wae Lolos, kecamatan Sano Nggoang, kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Kamis (20/2).

“Tujuan tim BMKG ke desa Wae Lolos untuk survei lokasi rencana pembangunan shelter seismik gempa bumi BMKG”, kata Kepala desa Wae Lolos, Gervinus Tony.

Kades Gervinus menerima kunjungan tim BMKG Manggarai Barat di kantor desa Wae Lolos di Langgo. Dari kantor desa, tim BMKG didampingi Kades Wae Lolos melakukan survey di dusun Langgo.

Saat melakukan survey, Aditya H. Ludjinguru menyebutkan ada 4 titik/ tempat yang memenuhi syarat untuk dibangun Shelter gempa bumi di kabupaten Manggarai Barat. Keempat titik itu ada di desa Wae Lolos, kecamatan Sano Nggoang, satu titik di kecamatan Mbeliling, Lembor dan kecamatan Kuwus.

“Shelter ini dibangun di 4 titik tersebut untuk singkronisai gempa yang terjadi d daerah pedalaman sehingga terkoneksi dengan kantor BMKG Pusat, Dengan Shelter seismik itu bisa memastikan atau mencatat persis letak dan kekuatan gempa sesungguhnya”, jelas Aditya.

Kepala BKMG Kabupaten Manggarai Barat, Sti Nenot’ek, S.Si.,M.Si membenarkan tim BMKG sedang melakukan survey di desa Wae Lolos.

“Selamat sore juga pak, Iya betul itu tim survey dari Stasiun Geofisika Kupang dan Satasiun Meteorologi Komodo Manggarai Barat untuk pemasangan shelter seismic (alat pendeteksi gempa bumi dan tsunami). Untuk tahun ini di Kabupaten Manggarai Barat direncanakan dipasang 4 shelter seismic, untuk 3 shelter yang lainnya dipasang di Kecamatan Komodo, Kecamatan Mbeliling dan Kecamatan Kuwus”, ujarnya menjawab konfirmasi Komodopos.com via messenger, Kamis (20/2).

Dari survey hari ini bersama tim BMKG, Kades Gervinus Toni menyebutkan lokasi Shelter gempa yang hendak dibangun di desa Wae Lolos terletak di dekat Masjid Langgo dengan ukuran 5×5 meter.

“Di titik tersebut akan dibangun shelter gempa di area terbuka dan hanya dipagari”, jelasnya. *(Robert Perkasa )

Warga Dusun Langgo Bersihkan Ruas Jalan Simpang Langgo -Werang

KOMODOPOS.com-SANO NGGOANG-Puluhan warga Dusun Langgo, desa Wae Lolos, kecamatan Sano Nggoang melakukan aksi gotong royong membersihkan ruas jalan Simpang Langgo menuju Werang, ibukota kecamatan Sano Nggoang, Selasa (18/2).

Ketua RT 01/RW 01 Langgo, Maksimus Hambur menjelaskan, aksi gotong royong itu merupakan implementasi program bulan bakti desa Wae Lolos. Sebelumnya aksi yang sama juga telah dilakukan oleh warga di dusun Rangat, dusun Tembel dan dusun Ndengo di ruas jalan yang sama.

“Bakti sosial ini dibagi per dusun di wilayah desa wisata Wae Lolos. Lokasi bakti sosial ini kita lakukan di ruas jalan Cabang Langgo -Werang”, kata Maksi Hambur.

Ia menambahkan, ruas jalan te rsebut merupakan jalan pariwisata menuju ke sejumlah destinasi wisata yang ada di kecamatan Sano Nggoang. Antara lain air terjun Cunca Lolos, wisata rohani Puncak Toto Nini, Air terjun Cunca Rami dan Danau Sano Nggoang.

Dusun Langgo merupakan pintu gerbang menuju ke sejumlah destinasi wisata tersebut. Setiap hari para wisatawan mancanegara maupun turis domestik ramai melintasi ruas jalan tersebut.

Terpantau Komodopos.com, bakti sosial warga dusun Langgo dimulai dari Wae Paku perbatasan dusun Rangat hingga simpang Langgo. *(Robert Perkasa)

Kisah Pemuda 24 Tahun Raja Ndege (Porang) Manggarai Barat (Bagian -1)

KOMODOPOS.com-SANO NGGOANG-Ignasius Musa (24). Pemuda dusun Rangat, desa Wae Lolos, kecamatan Sano Nggoang, kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

Ia lahir di kampung Rangat 24 tahun silam, tepatnya pada 28 Maret 1995. Namun sangat menyedihkan, tangisan pertamanya merupakan tangisan perpisahan selamanya dengan sang ibunya, Maria Afila. Kabut duka menyelimuti bayi ini ketika ibunya meninggal dunia sesaat Mus dilahirkan ke dunia ini. Anak laki-laki itu pun hidup yatim sejak hari pertama dilahirkan.

Ia anak bungsu dari dua bersaudara dari ayah Hermanus Adi dan ibu Maria Afila (almarhum) asal kampung Rungkam, desa Tanjung Boleng, kecamatan Boleng. Kakak kandungnya bernama Jeny (kini sudah berumahtangga).

Sepeninggal ibunya, Jeny dan Mus tinggal bersama sang ayah dan ibu tiri, Felomena Jau, asal Lempe-Damot/Poco Dedeng, kecamatan Lembor.

Dua tahun usianya , dukacita kembali merundung kedua anak itu. Tepatnya pada 11 Nopember 1997, ayah mereka pergi selamanya. Meninggalkan Jeny dan Mus sebatang kara. Ayah mereka meninggal dunia dalam kecelakaan lalu lintas di ruas jalan Werang-Bambor, tepatnya di sekitar kampung Lara.

Sejak saat itulah kedua anak itu hidup yatim piatu. Beruntung mereka masih punya banyak keluarga di kamoung itu. Jeny dan Mus tinggal bersama mama tiri. Juga masih ada bapa kecil (adik kandung ayah) opa-oma tanta serta keluarga dekat mereka di kampung Rangat.

7 tahun kemudian, Mus masuk sekolah dasar SDN Rangat. Mus salah satu dari sekian murid menjadi angkatan pertama di kala SDN Rangat berdiri. Se telah tamat SD, Mus kemudian masuk SMP Negeri 1 Tondong Raja, kecamatan Mbeliling sekarang. Pada saat kelas 3 SMP ia sering sakit hingga tidak sempat mengikuti ujian akhir di sekolah tersebut.

Sejak saat itu hingga kini, Mus tinggal di kampung Rangat. Berkerja sebagai petani. Sementara kakak kandungnya, Jeny telah menikah dengan orang Nuri-Kempo, desa Kempo, kecamatan Mbeliling. (Robert Perkasa) bersambung