
Oleh : Yohanes Budiono *)
Kata mileneal bukanlah hal baru kita dengar. Tapi belakangan ini pemahaman terhadapnya bersifat sepihak. Milineal lebih banyak dilihat sebagai konsumen. Generasi konsumtif. Jadi target pasar politik.Jadi obyek politik para politisi.
Sementara kenyataannya, kaum milineal adalah produsen. Angakatan kerja, work force, yang bertugas melayani bukan saja dilayani. Tulisan ini membahas fenomena kaum milenial yang kerap menjadi ‘target politik pilkada 2020’ di Manggarai Barat dan bagaimana nantinya jika mereka (bakal calon) terpilih.
Beberapa mitos dan realitas tentang milineal dibahas dan saling berkaitan: milineal sebagai pemimpin (balon bupati), milineal sebagai warga Mabar (rakyat). Milineal berkaitan dengan generasi lintas generasi, ditetapkan dengan tahun lahir; 1982-2000 (Howe dan Strauss, 2000); 1982-1999 (Kevin E. Philips, 2019); 1980-2000-an. Kamus Bahasa Indonesia)
Karasteristik milineal bervariasi, baik sebagai pemimpin maupun sebagai pemilih. Tapi umumnya, sifat ingin tahu yang tinggi ada setiap pribadi milineal (millenials have always been in the know), terbuka (terbiasa) dengan budaya-bahasa asing, instant, optimis, memiliki tujuan, percaya diri, terbiasa dengan teknologi. Terlepas dari itu ‘motivasi’ seseorang bakal calon berada di panggung politik ataupun pemilih sebagai empunya demokrasi tentunya dengan harapan mampu menjawab kebutuhan masyarakat Mabar dalam skala tertentu sesuai UU, yang mana semuanya tertera dalam visi-misi.
Mengingat milineal sebagai ‘Target Politik’ di Mabar tentunya bakal calon, team pendukung harus memahami kenyataan Sumber Daya Manusia (SDM) milenial sebagai pemilih (rakyat) antaranya; milenial tertarik dengan pemimpin untuk menemukan cara yang paling efisien-efektif untuk menangani kebutuhan masyarakat Mabar, milenial didewasakan untuk mengajukan pertanyaan ‘mengapa?’, umpan balik yang konsisten dari pemimpin,masyarakat, bahkan lawan politik, milineal yang up to date. SDM milenial yang begitu kompleks. Dalam tahap ini sang pemimpin (bakal calon) mesti siap dikritik dan dengan harapan ada solusi yang ditawarkan.
Milineal sebagai pempimpin (bakal calon), tentu punya harapan seperti; perlu pengakuan atas capaiannya, menyukai lingkungan kerja yang kolaboratif, tertarik dengan keputusan yang menantang dengan mengandalkan pengalaman-pendidikan-capaian lainya yang kuat. Dalam tahap ini, apresiasi atas prestasi adalah anjuran psikologi terkini (konsep UNESCO)
Lalu apabila bakal calon terpilih sebagai pemenang kompetisi (yubilaris) dan selama kepemimpinannya dinilai berhasil mengantar Mabar ke arah yang lebih baik. Apa hadiah yang tepat dari warga Mabar untuk ‘Nahkoda’?. Pilihannya antara lain; Jadikan dia contoh atau sarankan kembali ke beranda Mabar. Bukankah keberhasilan dalam memimpin suatu keharusan?**
*) Penulis, Kaum Milenial Manggarai Barat
























