
KOMODOPOS.com-SANO NGGOANG-Solinfikus Joivan (32 tahun). Reba (pemuda) asal Colol, desa Ulu Wae, kecamatan Poco Rangka Timur, kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. Tamat SD. Melalangbuana hirup udara nusantara bertahun-tahun. Bekerja sambil belajar otodidak. Mulai dari cleaning service, buruh bangunan, fotografer dan kuliner bakso. Modal utamanya bukan ijazah melainkan kejujuran, ketekunan, kreatifitas dan tidak pasang gengsi.
Mengadu nasib di pulau Dewata. Berbekal ijazah SD tapi jujur, ulet, terampil dan kreatif. Inilah modal baginya hingga dipercaya majikan memegang kamera canon di studio Gomes Photo. Photografer, desainer dan operator studio Gomes Photo. Tugasnya, mengabadikan setiap wajah cantik para artis yang berlibur di Bali.
Jasa photografer membuatnya mengenal dan dikenal banyak wisatawan domestik hingga wisatawan mancanegara di berbagai destinasi wisata yang ada di Bali. Sekali lagi, ketekunan, jujur, terampil serta kreatif menjadi modal utamanya sehingga ia hidup eksis di tanah rantauan. Gaji Rp 2 juta sebulan belum terhitung pendapatan yang lain dari jasa pelayanan dan kreatifitasnya menggunakan camera canggih.
Namun, segemerlap apapun pulau Dewata, paras cantik dara manis asal Cibal yang dijumpainya di Bali membuat pemuda Colol ini bertekuk lutut. Gairah cinta dan benih asmaranya dengan gadis Cibal memaksa dia harus pulang kampung.
Kini pemuda Colol dan gadis manis Cibal menekuni usaha kuliner, jualan bakso. Pendapatannya mencapai Rp 500.000 sehari. Tempat mangkalnya di sepanjang jalan Trans Flores, kawasan puncak Mbuhet-Puarlolo hingga Lembor, Manggarai Barat.
Cleaning service Hotel Flores Sare Kelimutu
Diwawancara Komodopos.com sambil makan bakso di kawasan puncak Mbuhet-Puarlolo, Minggu (15/3) Solin mengisahkan perjalanan hidupnya sejak tamat SDI Wae Nunung, Manggarai Timur hingga hari ini menjual bakso di kabupaten Manggarai Barat.
Meninggalkan kampung kelahiran, Colol, kecamatan Poco Rangka Timur, kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur sejak ia tamat SDI Wae Nunung pada tahun 2001. Bumi Kelimutu, kabupaten Ende, tempat pertama ia berlabuh. Bekerja sebagai cleaning service pada sebuah hotel Flores Sare, Kelimutu yang terletak di kawasan Moni di sekitar destinasi wisata Danau triwarna Kelimutu. Saat itu ia mendapat upah Rp 500.000 per bulan.
“Motivasi saya pergi merantau mencari pengalaman. Kerja apa saja dan di mana saja, saya menjalaninya dengan jujur, sabar dan tekun. Itu prinsip saya waktu itu”, kenang pria kelahiran Colol, 15 Januari 1988.
Selama 2 tahun (2001-2002) ia bekerja di Hotel tersebut. Gaji bulan pertama, ia membeli gitar. “Saya hobi musik terutama gitar. Sehingga gaji bulan pertama saya langsung beli gitar di kota Ende”, tutur Solin. Ia kemudian mengundurkan diri dari Hotel Flores Sare gegara terpana asmara gadis Manggarai yang bekerja di Marunggela, kabupaten Ngada. Berkenalan dengan cewek Manggarai yang dikenalnya melalui handphone seluler. Dari Ende ia kemudian bergeser ke Bajawa, kabupaten Ngada.

Baruh bangunan di Bajawa
“Saya dari Ende saat tahun baru 2003. Dari Ende lari ke Bajawa. Bukan karena dipecat oleh Bos. Saya undur diri baik-baik. Selama satu bulan di Bajawa menganggur. Enjoy saja. Sisa uang di dompet waktu itu Rp 2 juta”, imbuhnya
Sebulan kemudian, Solin bekerja sebagai buruh harian di Marunggela. Ia diajak kepala tukang yang sedang membangun Gereja Marunggela. Selama 2 tahun menjadi buruh bekerja mendirikan bangunan Gereja bertingkat itu.
“Saat itulah saya berkenalan dengan seorang cewek asal Weso perbatasan Manggarai Timur dan kabupaten Ngada. Ia bekerja di pastoran Marunggela. Sekadar kenal saja”, ceritanya.
Merantau ke Pulau Dewata
Setelah ikut membangun Gereja Marunggela, ia menganggur selama sebulan. Di saat itulah ia mendapat telepon dari manajemen hotel Flores Sare Kelimutu, temoat kerja sebelumnya. “Pemilik hotel Flores Sare telepon saya. Dia beritahu agar saya siap kerja di Bali. Bos saya di Ende adik-kakak dengan bos di Bali. Biaya transportasi dari Ende ke Bali ditanggung”, kenang pemuda asal negeri kopi Colol.
Mendapat tawaran mantan majikannya itu, ia pun berangkat ke Bali pada tahun 2006. Dari Ende ke Bali menumpang kapal Awu.
Di pulau Dewata itu, Solin bekerja di Studio Gomes Fhoto, Jl. Sesetan sekitar Rumah Sakit Sanglah Denpasar. Berkat kejujuran, ketekunannya, ia kemudian dipercaya sang majikan sebagai Desaigner, Photografer dan Operator Studio Gomes Photo.
“Saya belajar otodidak selama 9 tahun bekerja di studio Gomes Photo. Tidak pernah pindah tempat kerja. Saya dipercaya majikan”, tutur Solin mengenang.

Kuliner Bakso
Selama bekerja di Bali, ia ternyata menjalin hubungan asmara dengan seorang gadis asal Lempis-Cibal, kecamatan Cibal, kabupaten Manggarai. Meliana Ica namanya. Bekerja di sebuah restoran di pulau Dewata. Relasi asmara Solin dan Meldiana berbuah hinga dikaruniai seorang putra, Lucky Vergian Maro (5 tahun).
‘Kelahiran anak pertama kami melalui operasi sesar di rumah sakit RSAD di Bali. Menelan biaya sangat besar”, kenang ayah dua anak ini.
Dua tahun usia buah hatinya, (2017) mama Lucky memilih pulang ke Matim. Menumpang pesawat terbang dari Bandara Ngurah Rai Bali hingga landing di Bandara Komodo, Labuan Bajo. Dari Labuan Bajo meluncur ke Matim, kampung sang suami. Sementara itu, ayah Lucky masih bertahan di Bali. Tinggal berjauhan dengan istri dan anaknya membuat Solin tidak betah lagi bekerja di Bali. Ia pun meninggalkan pulau Dewata pada tahun 2018. Ia pulang kampung. Tiba di kampung halamannya di Matim, ia mulai membenahi kehidupan keluarga kecilnya dari titik awal.
Tidak betah di kampung, Solin berlabuh ke Lembor, Manggarai Barat. Di Lembor, ia bekerja selama dua bulan dengan kakak iparnya, pemilik usaha Dewi bakso. Pendapatan minimalis selama bekerja jualan bakso membuatnya tidak bertahan.
Ia pun meninggalkan pekerjaan tersebut lalu balik lagi ke kampungnya di desa Ulu Wae, Matim
“Di kampung, saya ikut kerja proyek dana desa selama 5 bulan. Pendapatan kecil sementara kebutuhan keluarga menumpuk”, kata Solin sembari menambahkan bahwa ia tidak betah kerja di kampungnya karena warga sekampung mencibiri kehidupan ekonomi keluarganya.
Berawal dari suasana kampung yang tidak kondusif itulah, Keluarga Solin bangkit dan menetapkan sebuah keputusan. Ia dan keluarganya meninggalkan kampung itu lalu balik lagi ke Lembor.
“Suasana keluarga saya waktu itu sungguh diuji. Tantangan demi tantangan menerpa keluarga saya. Namun saya tidak putus asa”, kisah Solin.
Ia melanjutkan, di tengah badai yang menerpa biduk keluarganya, ia berbenah. “Modal tekad saja waktu itu. Saya bangkit memulai usaha sendiri. Menekuni usaha kuliner jualan bakso sejak saat itu hingga sekarang. Untuk modal usaha awal, saya membuat transaksi kredit Rp 13 juta dengan koperasi desa yang ada di Colol”, ungkap Solin.
Terseok-seok pada awalnya. Tetapi Solin terus bekerja. Mengerahkan segenap potensi dirinya dan pengalamannya. Bekerja fokus mengabaikan gengsi. Dari usahanya itu, Solin mengaku pendapatan minimal dia Rp 500.000 per hari.

Solinfikus kini dikaruniai 2 putra. Anak keduanya, Gafril Verdian Maro (4 bulan) lahir di Lembor.
Hampir tiap hari, Solin berinteraksi dengan banyak orang yang lalu lalang di ruas jalan Trans Flores Labuan Bajo-ruteng, khususnya sepanjang kawasan puncak Mbuhet-Puarlolo.
Bakso racikkannya terasa renyah dan murah. Satu porsi bakso seharga Rp 10.000. Setiap hari Minggu, ia mangkal di pasar Minggu Roe, desa Cunca Lolos. Ia juga sering mangkal di area destinasi wisata air terjun Cunca Wulang di Wersawe, kecamatan Mbeliling.
Setiap hari Rabu, ia mangkal juga di pasar Rekas. Saban hari mangkal pula di rest area Puncak Eltari, desa Golo Damu, simpang Wol di dan sejumlah tempat strategis lainnya. * (Robert Perkasa)