Marga PMKRI Ende Rusak Parah Tertimpa Pohon Mangga

KOMODOPOS.com-ENDE-
Marga/Sekretariat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Santu Yohanea Don Bosco Cabang Ende dilaporkan rusak parah akibat tertimpa phon mangga yang tumbang diterjang angin kencang, Minggu siang tadi (9/2) pukul 11.40 Wita.

Ketua Termandat PMKRI Cabang Ende, Rafael Patomer bersama Persidium Gerakan Kemasyarakatan, Ferdinandus G. Koten melaporkan kronologis kejadian ini langsung dari TKP, jalan Wirajaya No.1 Ende, kabuoaten Ende, Nusa Tenggara Timur.

Beruntung, Rafael Patomer yang berada di dalam Marga saat kejadian ini selamat.

“Kejadian ini, terjadi pada hari ini Minggu ( 9/2) pukul 10.40 wita.
Marga rusak parah setelah tertimpa pohon mangga akibat angin kencang yang menerjang kota Ende. Pohon mangga yang tumbuh di belakang Marga tumbang ke arah Marga. Bersyukur tidak ada korban jiwa”, kata Rafael yang dikonfirmasi Komodopos.com dari Labuan Bajo melalui handphon selulernya.

Rafael menambahkan, akibat kejadian ini, ruangan Sekjen PMKRI Ende, , dapur, ruang tidur wanita, dan kamar Ketua Presidium PMKRI Cabang Ende hancur total.. Atap senk dan kerangka kayu jebol.

Peristiwa ini terjadi di saat Ketua Presidium dan sejumlah kader PMKRI Ende sedang mengikuti Kongres dan MPA PMKRI di Ambon.*(Robert Perkasa)

Derita Kawasan Selatan Kecamatan Komodo Segera Berakhir?

(Catatan Komodopos.com di Hari Pers Nasional 9 Februari 2020/Bagian-1)

KOMODOPOS.com-LABUAN BAJO-Di Hari Pers Nasional ke-74 yang diperingati hari ini, Minggu, 9 Februari 2020, Komodopos.com mengungkapkan rangkuman berbagai fakta hasil liputan jurnalistik kami sebelumnyai di kawasan selatan kecamatan Komodo, kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Hasil liputan tersebut disajikan secara bersambung. Kami awali dari dusun kecil ini, Ra’ong, desa Golo Muri.

RA’ONG. Satu dari 10 anak kampung yang terletak di desa Golo Muri, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

Dusun terpencil yang gelap gulita. Mempeihatinkan. Warga di dusun ini merindukan sarana kesehatan seperti Polindes, jalan aspal dan penerangan listrik.

Mantan Kepala Desa Golo Muri, Bapak Muhamad Said G ketika berbincang dengan Komodopos.com di kampung Ra’ong menjelaskan kondisi umum tentang kesulitan yang dialami warga dusun ini. Disebutkan, bila ada warga setemoat yang menderita sakit atau ibu hamil yang hendak partisi, terpaksa jalan kaki sepanjang 7 km guna mendapat pelayanan kesehatan di Polindes yang ada di ibukota desa Golo Muri. Kondisi terparah tatkala musim hujan. Sebab infrastruktur jalan dari dan menuju dusun itu belum memadai. Jaringan listrik juga belum ada di kawasan tersebut.

“Di masa kepemimpinan saya, kami telah mengerjakan telford ruas jalan dari kampung Lo’ok sampai kampung Ra’ong sepanjang 2 km bersumber dari dana PPIP tahun 2014/2015 sebesar Rp 250.000.000,” ujarnya.

Ia melanjutkan, nasyarakat di desa Golo Muri sangat membutuhkan infrastruktur jalan aspal, sarpas kesehatan dan listrik Ia mengaku, laju pembangunan di desa Golo Muri berjalan lambat karena kondisi infrastruktur jalan yang sangat buruk. Masih jauh dari hatapan warga.

Fasilitas pendidikan jauh lebih baik. Ada 4 lembaga pendidikan dasar dan menengah sudah dibangun di desa Golo Muri. Adalah SDN Jarak, SMP Satap Jarak, MTS Darul Istikamah Rao,ng, dan SDI Ra”ong. Selain itu sudah ada sarana komunikasi Tower Telkomsel yang dikerjakan tahun 2015 silam dan Jembatan Soknar yang diresmikan tahun 2018.

Desa Golo Muri terletak di perbatasan kecamatan Sano Nggoang dan kecamatan Komodo. 30 km arah selatan kota Labuan Bajo, ibukota kabupaten Manggarai Barat.

Desa ini terdiri dari beberapa anak kampung Jarak, Tao, Soknar, Nggoer, Lo’ok, Lenteng, Ra’ong (1), Ra’ong (2), Mengge dan Wae Nepa. Ke-10 kampung tersebut, menopang Desa Golo Muri yang letaknya jauh terpencil dari desa-desa lain di kecamatan Komodo.

Bentangan alam savana nan hijau dengan topografi berbukit-bukit membuat mata enggan terpejam tatkala Anda menyusuri kawasab ini.
Desiran ombak putih sepanjang pantai Soknar seolah olah menyapa Anda di pintu gerbang memasuki wilayah desa Golo Muri.

Panorama sunset senja hari merah menawan di atas selat Molo. Menggoda sejauh mata memandang. Menyusuri padang savana, berbukit dan berkelok-kelok mulai dari Kenari-Soknar sepanjang 12 km. Anda harus berjibaku di jalan bebatuan dan belepotan kerikil dan lumpur.

Àda dua jalur yang bisa dilitasi menuju wilayah ini. Ruas jalan Simpang Nggorang-Tanadereng-Sokrutung-Roang-Translok-Lemes-Mbuhung-Kenari. sudah diaspalkan Namun di beberapa titik terdapat kerusakkan.

Sedangkan dari Kenari – Golo Muri baru telford. Jalur alternatif yang paling singkat menuju desa ini melalui Simpang Pede-Nanga Nae-Mbrata-Mburak-Nalis-Cumbi-Kenari-Golo Muri. Lapen sudah sampai di Mbrata. Namun kondisinya sangat buruk, terutama musim hujan.

Tahun Anggaran 2019, Dinas PUPR Mabar gelontorkan DAK sebesar Rp 12 M untuk melanjutkan peningkatan ruas jalan ini. * (Robert Perkasa) bersambung

SK DPP Gerindra Diumumkan Jelang Masa Injury Time

KOMODOPOS.com-LABUAN BAJO-Surat Keputusan Dewan Pimpinan Pusat Partai Gerindra tentang dukungan pasangan calon bupati dan Wakil bupati dalam Pilkada Mabar 2020 akan diumumkan menjelang masa injury time. Saat ini, semua berkas pasangan calon yang telah mengikuti proses fit and proper test sudah ada di DPP Partai Gerindra.

Ketua Dewan Pimpinan Cabang Partai Gerindra kabuoaten Manggarai Barat, Kode Hanggar mengungkapkan hal itu kepada Komodopos.com melalu Whatsapp, Sabtu malam (8/2/2020).

“SK dari DPP belum keluar Beluml selesai proses Biasanya keluar jelang masa injury time”, kata Koce Janggat.

Ia mengatakan, seharusnya ada 3 pasangan calon yang dipanggil mengikuti proses fit and proper test di DPD Gerindra NTT. Tetapi pasangan Ferdy Pantas-Piet Jemadu cerai di tengah jalan.

“Harusnya yang berpasangan 3(tiga) tapi pasangan pak Ferdi daftar dgn pak Pit Elias Jemadu di tengah jalan ganti pasangan dan tidak ada konfirmasi dengan kami lagi. Jadi kami tidak undang fit and proper”, kata Koce Janggat.

Menurut Koce, yang dipanggil ikut fit and propers test hanya bakal calon yang mendaftar secara berpasangan. Sedangkan Maria Geong dan Sik Sukur mendaftar tidak berpasangan tetapi datang di DPD Gerindra berpasangan.

“Mereka sudah fit and proper test di DPD Gerindra NTT karena datang berpasangan” ujar Koce. *(Robert Perkasa)

SK DPP Gerindra Diumumkan Jelang Masa Injury Time

KOMODOPOS.com-LABUAN BAJO-Surat Keputusan Dewan Pimpinan Pusat Partai Gerindra tentang dukungan pasangan calon bupati dan Wakil bupati dalam Pilkada Mabar 2020 akan diumumkan menjelang masa injury time. Saat ini, semua berkas pasangan calon yang telah mengikuti proses fit and proper test sudah ada di DPP Partai Gerindra.Ketua Dewan Pimpinan Cabang Partai Gerindra kabuoaten Manggarai Barat, Kode Hanggar mengungkapkan hal itu kepada Komodopos.com melalu Whatsapp, Sabtu malam (8/2/2020).”SK dari DPP belum keluar Beluml selesai proses Biasanya keluar jelang masa injury time”, kata Koce Janggat.

Ia mengatakan, seharusnya ada 3 pasangan calon yang dipanggil mengikuti proses fit and proper test di DPD Gerindra NTT. Tetapi pasangan Ferdy Pantas-Piet Jemadu cerai di tengah jalan.”Harusnya yang berpasangan 3(tiga) tapi pasangan pak Ferdi daftar dgn pak Pit Elias Jemadu di tengah jalan ganti pasangan dan tidak ada konfirmasi dengan kami lagi. Jadi kami tidak undang fit and proper”, kata Koce Janggat.

Menurut Koce, yang dipanggil ikut fit and propers test hanya bakal calon yang mendaftar secara berpasangan. Sedangkan Maria Geong dan Sik Sukur mendaftar tidak berpasangan tetapi datang di DPD Gerindra berpasangan.”Mereka sudah fit and proper test di DPD Gerindra NTT karena datang berpasangan” ujar Koce.

Terpisah, anggota DPRD lMabar dari partai Gerindra, Yosep Suhardi menyebut dua pasangan bakal calon yang telah mengikuti proses fit and proper test di DPD Gerindra NTT.

“Dari Mabarnya paket Maria Geong-Sil Syukur, dan Gusti Teren-Fidelis Sukur”, jawab Yosep Suhardi saat dikonfirmasi Komodopos.com, Minggu pagi (9/2). *(Robert Perkasa)

Sem Gizygoy ; Kalau Serius dan Tekun, Usaha Apapun Pasti Sukses (Kisah Perantau Jepang/Bagian -5)

KOMODOPOS.com-LABUAN BAJO-Kisah tentang perantau anak Mbala-Naga hingga tinggal 3 tahun di negeri Sakura Jepang, rasanya tidak lengkap kalau belum mengetahui siapa itu Sem Gizygoy. Mengapa Sem menekuni usaha jamur tiram di kota Labuan Bajo? Bagaimana ia menekuni usaha tersebut?

“Kalau serius dan tekun, usaha apapun pasti sukses” ungkap Sem Gizygoy kepada penulis ketika berbincang selama 180 menit di rumahnya, depan SPBU Wardun Pasar Baru, Minggu (2/2/2020) kemarin.

Sem Gizigoy kelahiran kampung Mbala-Naga, kecamatan Sano Nggoang, kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, 42 tahun silam. Tepatnya pada 16 September 1979. Anak ketiga dari 6 bersaudara. Buah hati pasangan bapak Mahu (78 tahun) dan mama Ojom. Ayah bundanya seorang petani sederhana.

Seperti ditulis penulis pada edisi sebelumnya, Sem Gizygoy meninggalkan kampung halamannya sejak tamat SDK Naga tahun 1988. Ia awalnya merantau ke Bima, NTB. SMP dan SMA di kota Mbojo. Kisah Perjalanan panjang seorang Sem Gizygoy bermula dari lembah kota Bima-Mataram-Bandung-hingga terbang ke kota Yatsuka, Tokyo-Jepang. Dari Jepang kembali lagi ke Indonesia, bekerja di PT Kanzeng, perusahaan Jepang. Dari Semarang kembali ke kota Bima hingga ia menikah dengan Najema, dara manis lembah kota Bima. Kisah asmaranya bersama Najema dirajut sejak masa SMA di kota itu. Sem siswa SMAN 1. Najema siswi SMAN 2 Bima.
Sepulang dari tanah rantau, Sem menikah kemudian tinggal di Bima. Sejak 2014 kembali tanah kelahirannya Manggarai Barat. Memilih kota Labuan Bajo sebagai tempat usahanya hingga sekarang. Dikarunia 2 orang anak laki-laki. Anak sulung kami kini duduk di bangku kelas I SMK Negeri Bima. Anak kedua kelas 3 SDN 2 Labuan Bajo.

Selain menekuni usaha jamur, Sem Gizygoy juga menjual buah-buahan segar. Sem juga ternyata fasih berbahasa Jepang. Sesekali menjadi tourist guide lepas untuk wisawatan dari Jepang yang datang berlibur menikmati alam indah Labuan Bajo dan pulau-pulau di kawasan Taman Nasional Komodo.

Budidaya Jamur Tiram (Halwa Farm Mushroom)

Sem menjelaskan, sejak 2014 memulai debut budidaya jamur tiram di kota Labuan Bajo. Lokasi farm (kebun) jamur tiram ini di depan SPBU Wardun, desa Gorontalo, kecamatan Komodo, Labuan Bajo.
Kini ia menjadi penyedia tunggal jamur pangan ini untuk memenuhi kebutuhan restoran di kota Labuan Bajo.

Setidaknya ada 3 restoran milik bule di kota itu menjadi pelanggan tetap jamur tiram produksi Sem Gizygoy. Harga Jamur tiram Rp 40.000 per kg. Selain restoran, kini ada tambahan permintaan eceran dari kelompok kuliner di Labuan Bajo. Bahkan ia sering melayani orderan dari Ruteng, kabupaten Manggarai.

Meski demikian, ia mengaku menekuni usaha ini dengan keterbatasan. Berbekal ilmu yang diperolehnya selama merantau di negeri Sakura, Jepang, sekian tahun silam, putra Mbala-Matawae ini mengembangkan usaha tersebut apa adanya. Ia mengatakan bahwa proses pembuatan jamur tiram ternyata butuh waktu dan ketekunan. Selama 4 tahun ini, ia masih bekerja secara manual.

Untuk sementara ini bibit jamur dibeli di Lombok dan Sumbawa, NTB karena belum ada di Labuan Bajo. Menurut Sem, bibit jamur sebenarnya bisa dibuat oleh siapa saja karena bahan dasarnya jagung dan sari buah-buahan yang diinkubasi seperti memproduksi tempe.

Lebih lanjut ia menjelaskan proses pembuatan jamur tiram. Dimulai dengan membuat baglog (inang parasit jamur tiram/media tumbuh jamur). Serbuk kayu llimbah mesin somer ternyata menjadi bahan dasar untuk membuat baglog.

Serbuk kayu somer dicampur dengan dedak halus lalu diisi ke dalam plastik baglog. Plastik baglog ini dipadatkan kemudian difermentasi dan ditutup dengan terpal selama satu hari. Ditutup rapat agar kedap udara.

Hari berikutnya baglog yang telah difermentasi dikukus menggunakan drom (manual). Dipanaskan hingga 8 jam supaya bakteri yang mengandung racun mati.

Setelah dipanaskan kemudian didinginkan dan disimpan di ruangan yang kedap udara selama 15 menit.
Ruangannya disemprot/disterilisasi agar kuman atau bakteri mati. Setelah dingin lalu diisi dengan bibit.jamur.

“Sekali masak bisa sampai 130 baglog menggunakan dromn dan kayu api. Saya juga menggunakan kompor yang dirakit sendiri. Bahan bakarnya pakai oli kotor..1 baglog bisa menghasilkan rata-rata 7 ons jamur”, ujar Sem.

Kini jumlah baglog sebanyak 3000 buah.1 baglog bisa menghasilkan rata-rata 7 ons jamur. Masa panen selama 4 bulan. Masa panem jamur tiram 4 kali untuk 1 baglog.*(Robert Perkasa) bersambung

Perbaiki Tata Kelola Konservasi Dengan Pendekatan Indeks Kinerja Utama

(Semiloka Burung Indonesia/Bagian-2)“Tanpa tata kelola yang baik, anggaran sebesar laut pun akan hilang tanpa memberikan outcome yang jelas. Kalau IKU bisa dikerjakan di Manggarai Barat, percaya, tidak ada pekerjaan yang dikerjakan masing-masing. IKU ini bisa mengilangkan ego sektoral.
” (Joko Tri Hariyanto)

KOMODOPOS.com-LABUAN BAJO-Paradigma baru konservasi kini mengarusutamakan prinsip keseimbangan ekosistem. Lingkungan dengan segala keragaman hayatinya serentak masyarakat dengan kearifan lokal yang hidup di dalamnya. Tujuan akhirnya adalah harmoni dan terintegrasi antara kepentingan ekologi, ekonomi dan sosial baik untuk saat ini maupun untuk generasi yang akan datang. Lestari alamnya, sejahtera masyarakatnya.Akan tetapi perubahan paradigma sebaik apapun jika tidak diikuti dengan perbaikan sistem tata kelola perencanaan, penganggaran dan pembangunan berkelanjutan berbasis ekologos tidak akan pernah terwujud. Selanjutnya, tata kelola sebagus apapun akan sia-sia jika masyarakat di sekitar kawasan konservasi diabaikan,Joko Tri Haryanto dari Badan Koordinasi Fiskal Nasional Kementerian Keuangan RI mengemukakan hal itu dalam forum Seminar dan Lokakarya (Semiloka) yang digelar Burung Indonesia di Meeting Room Hotel Jayakarta, Jumat petang (31/1/2020).Semiloka Burung Indonesia bertajuk, “Perencanaan dan Penganggaran Berbasis Ekologi; Langkah Menuju Pembiayaan Konservasi Berkelanjutan”.Foto : istimewa/Google

Pemberdayaan Masyarakat

Joko menegaskan, konservasi tidak berada di ruang hampa. Di kawasan konservasi ada masyarakat dengan kearifan lokal yang hidup di dalamnya. Masyarakat butuh makan, butuh biaya pendidikan. Kerja konservasi itu jangka menengah dan jangka panjang. Karena itu pendekatan konservasi harus dikelola dengan prinsip-prinsip ekonomi.

“Jika pendekatan ekonomi tidak dimasukkan dalam nyawa konservasi, maka yang terjadi benturan. Begitu terjadi benturan maka kerja konservasi itu selesai atau gagal”, kata Joko.

Hal senada diungkapkan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (DP4D) Kabupaten Manggarai Barat,Drs. Yohanes Sales Sodo Ia menyebutkan bentang alam Mbeliling merupakan nyawa kota Labuan Bajo yang harus dilestarikan. Ia mengungkapkan hal itu terkait pengembangan kota Labuan Bajo sebagai kota destinasi wisata nasional super premium yang kini dilakukan secara masif. Menurut Jhon Sodo, geliat pembangunan kota Labuan Bajo jika tidak dibarengi dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat desa di sekitar kawasan hutan akan menimbulkan disparitas yang sangat jauh. Jhon Sodo mengkhawatirkan kesenjangan antara kota dan desa ini kemudian dapat melahirkan intervensi masyarakat terhadap kawasan hutan dilakukan secara masif pula akibat pendekatan pemerintah yang kurang efektif meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat.Karena itu, kata dia, pilihan program dan kegiatan yang efektif harus didorong demi peningkatan pertumbuhan ekonomi di sektor primer. Program- program itu langsung mengarah ke pemberdayaan masyarakat dan peningkatan ekonomi.”Kita harus mendorong itu agar jangan sampai disparitasnya sangat jauh karena pembangunan priwisata di Labuan Bajo dan sekitarnya dilakukan sangat masif”, kata Jhon Sodo.Pendekatan Indeks Kinerja Utama

Joko Tri Hariyanto menegaskan, kawasan konservasi bukan benda.mati. Kerja konservasi membutuhkan perbaikan pola prilaku sistem tata kelola pemerintah. Mengubah dari sebelumnya bersifat cost centre (bergantung pada biaya) menjadi revenue generated. Artinya, pembiayaan konservasi tidak hanya bersandar pada soal biaya melainkan mengenerating outcome. Mengubah pola prilaku sistem tata kelola pemerintahan dari sekedar mengejar target menjadi memperbaiki kualitas belanja. Dari ego sektoral menjadi kolaborasi lintas sektoral.”Dengan perubahan pola prilaku tata kelola ini, ke depannya diharapkan bisa mengubah semua persoalan sektoral. Bagaimana kita bersama menjadikan urusan sektoral itu menjadi urusan bersama. Kita tidak lagi bicara ego sektoral. Sehingga semua bisa kita kerjakan”, kata JokoIa menambahkan, ketika pendanaan publik itu bisa dikerjakan secara bersama, langkah berikutnya menetapkan satu indikator kinerja menjadi dasar alokasi perencanaan pembangunan berkelanjutan. Joko optimis, perbaikan sistem tata kelola pemerintahan sebagaimana dikatakan tadi, akan menghasilkan perencanaan pembangunan berkelanjutan di negara ini lebih baik.”Kita percaya bahwa negara ini akan dikelola dengan lebih baik. Karena yang bisa memperbaiki ego sektoral itu bukan alokasi anggaran yang terus dinaikkan melainkan perbaikan sistem tata kelola. Tata kelola itu kuncinya”, tandas Joko.Kapasitas pendanaan publik, baik APBN maupun APBD itu terbatas. Karena itu, kita butuh kerja sama lintas sektoral, berkolaborasi antara berbagai stakeholder, NGO, akademisi, pemerintah daerah, masyarakat sipil dll.”Tanpa tata kelola yang baik, anggaran sebesar laut pun akan hilang tanpa memberikan out come yang jelas”, ujar Joko.Ia jelaskan agenda pertama pemerintah saat ini adalah perbaikan. tata kelola. Langkah selanjutnya setelah perbaikan tata kelola mengubah paradigma sektor. Dari egi sektoral menjadi lintas sektor/kolaborasi atau kerja sama.”Kerja ego Sektoral itu membelenggu kita. Karena semua kaca mata yang dipakai hanya kaca mata sektoral masing-masing”, tandas Joko.
Lebih detail, Joko menjelaskan cara menghilangkan ego sektoral, yaitu dengan pendekatan Indeks Kinerja Utama (IKU). IKU ini dirumuskan di bawah Visi-misi-RPJM-Renstra-Renja-IKU.IKU inilah yang setiap tahun akan selalu dimonitor dan dievaluasi.“Bayangkan kalau kerja konservasi itu menjadi IKU-nya Bupati Manggarai Barat.. IKU bupati ini akan diturunkan kepada semua pimpinan OPD (kepala-kepala dinas) Semua kepala dinas pasti akan berpikir kontribusi masing-masing terhadap pemenuhan IKU Bupati. Karena kalau tidak diikuti oleh para pimpinan OPD, maka IKU Bupati merah”, urai Joko menerangkan.Joko sangat optimis kalau IKU bisa dikerjakan di Manggarai Barat. percaya, tidak ada pekerjaan yang dikerjakan masing-masing. IKU ini bisa mengilangkan ego sektoral.”Kalau pada saat bupati mempresentasikan konservasi, yang dengar hanya dinas Lingkungan Hidup. Dinas-dinas yang lain kerja masing masing. Akibatnya program konservasi tidak nyambung. Yang terjadi sama-sama kerja, bukan kerja sama”, imbuhnya.*(Robert Perkasa) bersambung

Bentang Alam Mbeliling Adalah Nyawa Kota Labuan Bajo Semiloka Burung Indonesia (bagian -4)

KOMODOPOS.com-LABUAN BAJO-Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (DP4D) Kabupaten Manggarai Barat,Drs. Yohanes Sales Sodo menyebutkan bentang alam Mbeliling merupakan nyawa kota Labuan Bajo yang harus dilestarikan.Terkait pengembangan kota Labuan Bajo sebagai kota destinasi wisata nasional super premium dilakukan secara masif. Jhon Sodo mengatakan geliat pembangunan kota Labuan Bajo jika tidak dibarengi dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat desa di sekitar kawasan hutan akan menimbulkan disparitas yang sangat jauh. Kesenjangan antara kota dan desa ini kemudian melahirkan intervensi terhadap kawasan hutan dilakukan secara masif pula akibat pendekatan pemerintah yang kurang efektif meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat.Karena itu, kata dia, pilihan program dan kegiatan yang efektif harus didorong demi peningkatan pertumbuhan ekonomi di sektor primer. Program- program itu langsung mengarah ke pemberdayaan masyarakat dan peningkatan ekonomi.”Kita harus mendorong itu agar jangan sampai disparitasnya sangat jauh karena pembangunan pariwisata di Labuan Bajo dan sekitarnya dilakukan sangat masif”, kata Jhon Sodo.Jhon Sodo mengungkapkan hal itu ketika mempresentasikan materi bertopik, “Peluang Implementasi Perencanaan dan Penganggaran Berbasis Ekologi di Kabupaten Manggarai Barat” dalam forum Seminar dan Lokakarya (Semiloka) yang diselenggarakan Burung Indonesia, Jumat (31/1/2020) di Meeting Room Hotel Jayakarta, Labuan Bajo.

“Ada beberapa kawasan hutan yang menjadi nyawa, misalnya hutan Mbeliling, hutan bowosie dan beberapa kawasan di kecamatan Macang Pacar. Kalau ini tidak dijaga secara baik atau diintervensi secara berlebihan akibat pendekatan pemerintah yang kurang efektif meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat, maka ini bisa merusak jangka panjang daerah ini. Nah ini yang harus dipikirkan melalui pilihan- pilihan program terutama soal tata ruang”, kata Jhon Sodo.

Ia melanjutkan, Labuan Bajo menjadi pusat pertumbuhan destinasi wisata nasional super premium. Di satu sisi kita mengharapkan banyak sumber daya buangan di Labuan Bajo dan sekitarnya. Tetapi di sisi lain kita membangun desa. Menurut Jhon Sodo, desa harus dibangun supaya disparitasnya tidak terlalu jauh.”Ada satu hal yang kita takuti ketika kesenjangan kota dengan desa itu terjadi. Ketika masyarakat kita tidak diberdayakan, maka intervensi terhadap lingkungan akan semakin besar dan masif. Ini yang kita takuti”, ujar dia.Jhon Sodo mengungkapkan, peluang impelemtasi perencanaan dan pengganggaran berbasis ekologi di Manggarai Barat memang tidak jelas terdapat dalam visi dan misi pembangunan Manggarai Barat oleh Bupati dan Wakil Bupati. Tetapi di visi terdapat kata ‘ramah’, yang memiliki banyak dimensi, termasuk lingkungan hidup.”Kata “ramah” sebagai bagian dari visi pemerintah Manggarai Barat bisa dimaknai sebagai lingkungan hidup yang ramah dan harmonis”, ungkapnya.Tahun 2020, Lingkungan Jadi Isu Utama

Lebih jauh Jhon Sodo menjelaskan, tahun 2020, Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) kabuoaten Manggarai Barat menetapkan isu lingkungan hidup sebagai isu utama dalam pembangunan. Peluang untuk itu terdapat dalam produk kebijakan Permen Nomor. 14 Tahun 2018 Tentang Pariwisata berkelanjutan yang di dalamnya terdapat satu poin mengatur tentang lingkungan hidup.

“Khusus untuk RPJM yang akan datang kita sudah menempatkan isu lingkungan sebagai isu utama. Kita tidak punya pilihan karena branding bisnisnya pariwisata dengan landscape kita tidak beraturan dan rentan bencana. Karena itu maka pilihannya adalah perencanaan pembangunan berbasis lingkungan”, kata Jhon Sodo.Ia menambahkan, pemerintah pusat telah memberikan dua dokumen perencanaan pembangunan yang mememuhi aspek lingkungan dan sosial budaya dan tata kelola menjadi perhatian.”Dari poin-poin rekomendasi pemerintah pusat itu sudah ada dua dokumen untuk dimasukkan dalam RPJM kita yang akan datang. Demikian juga rencana penanggulangan bemcana daerah sudah disusun oleh pemerintah pusat. Itu dua dokumen menjadi rujukan kami ke depan dalam menyusun perencanaan dan penganggaran yang berbasis lingkungan. *(Robert Perkasa) bersambung

Sem Gizigoy : Bisnis Jamur Tiram Karena Hobi (Bagian-4)

KOMODOPOS.com-LABUAN BAJO-Ketika Sem berlabuh di lembah kota Bima, terasa berat baginya untuk kembali lagi ke PT Kanzeng di Semarang, Jawa Tengah, tempat ia bekerja. Berat kakinya melangkah karena keluarganya sangat tidak menghendaki dia kembali lagi ke Semarang.

“Doa keluarga waktu itu agar saya tidak boleh pergi”, kata Sem Gizigoy seraya menarik rapat sebatang rokok yang ada di antara jemarinya.

Sem melukiskan bahwa setelah menikah, ia memilih tinggal di kota Bima, NTB.

“Kami dikarunia 2 orang anak laki-laki. Anak sulung kami kini duduk di bangku kelas I SMK Negeri Bima. Anak kedua kelas 3 SDN 2 Labuan Bajo”, ucapnya.

Sem melanjutkan, pada tahun 2014 silam, ia dan sang kekasih, Najema sepakat untuk kembali ke kampung halamannya di tanah Nuca Lale Manggarai Barat, tepatnya di kampung ia dilahirkan, Mbala-Naga nun jauh di sana. Keputusan ini tentu saja berdasarkan pertimbangan matang dan kesepakatan bersama.

Tidak lama di kampung Mbala, Sem kemudian memilih kota Labuan Bajo sebagai tempat baru memulai usahanya yang cocok dengan potensi dan energi positif yang dimilikinya. Merajut bahtera rumahtangga mereka di kota wisata super premium itu.

Minggu (1/2/2020), penulis bertemu pertama kali dengan Sem Gizigoy. Jumpa perdana dengan Sem, tanpa diduga sebelumnya. Saya sedang menunggu mobil di depan pertamina SPBU Wardun. Tiba-tiba teman saya, Boe Berkelana memanggil saya dari warung kopi di depan Pertamina. Dan ternyata, warung itu milik Sem Gizigoy.

Selain Boe, ada juga teman Venan dari Sun Spirit. Tak lama berselang datang teman saya Gerasmus Satria, wartawan Victory News. Diskusi dengan mereka di warung milik Sem berlangsung menarik dan cair.

Boe perkenalkan saya dengan Sem pada saat saya sedang menyeruput kopi sembari mencicipi krispi jamur tiram. Enak dan gurih rasanya. Boe memberitahu saya bahwa lrispi yang gurih itu terbuat dari Jamur tiram produksi Sem Gizigoy. Penasaran dengar cerita Boe, saya mulai mencari tahu info tentang jamur tiram langsung ke sumbernya.

Diskusi tentang jamur tiram ini kemudian membias hingga ke Jepang. Duduk melingkar di warung itu menambah wawasan saya tentang proses pembuatan Jamur tiram hingga peluang bisnisnya di kota Labuan Bajo.

Krispi gurih hasil olahan jamur tiram produksi Sem Gizigoy. Foto : Boe Berkelana

Dari diskusi inilah, saya mendapatkan kisah inspiratif tentang Sem Gizigoy, sang petualang tangguh dari kampung Mbala-Naga yang kini sedang menjajal bisnis jamur tiram di kota Labuan Bajo.

Saty hal lagi yang saya peroleh dari Sem, bahwa ia menekuni bisnis jamur tiram itu lantaran hobi. Bukan mengejar kekayaan.

“Saya lakukan ini bukan ingin jadi kaya, tapi karena hobi”, kata Sem penuh arti.*(Robert Perkasa) bersambung…

Sem Gizigoy : Bisnis Jamur Tiram Karena Hobi (Bagian – 4)

KOMODOPOS.com-LABUAN BAJO-Ketika Sem berlabuh di lembah kota Bima, terasa berat baginya untuk kembali ke PT Kanzeng di Semarang, Jawa Tengah, tempat ia bekerja.

“Doa keluarga waktu itu agar saya tidak boleh pergi”, kata Sem Gizigoy seraya menarik rapat sebatang rokok yang ada di antara jemarinya.

Sem melukiskan bahwa setelah menikah, ia tidak kembali lagi ke PT.Kanzeng di Semarang. Sejak saat itu ia memilih tinggal di kota Bima, NTB.

“Kami dikarunia 2 orang anak laki-laki. Anak sulung kami kini duduk di bangku kelas I SMK Negeri Bima. Anak kedua kelas 3 SDN 2 Labuan Bajo”, ucapnya.

Sem melanjutkan, pada tahun 2014 silam, ia dan keluarga sepakat untuk kembali ke kampung halamannya di tanah Nuca Lale Manggarai Barat, tepatnya di kampung ia dilahirkan, Mbala-Naga nun jauh di sana. Keputusan ini tentu saja berdasarkan pertimbangan matang dan kesepakatan bersama.

Tidak lama di kampung Mbala, Sem kemudian memilih kota Labuan Bajo sebagai tempat usaha yang cocok dengan potensi dan energi positif yang dimilikinya. Merajut bahtera rumahtangga mereka di kota wisata super premium itu. Ia membuka kios buah-buahan, warung kopi dan mulai menjajal bisnis jamur tiram.

Minggu (1/2/2020), penulis bertemu pertama kali dengan Sem Gizigoy. Jumpa perdana dengan Sem sebetulnya tanpa rencana. Teman saya, Boe Berkelana memanggil saya dari warung kopi di depan Pertamina Pasar Baru, Labuan Bajo. Dan ternyata, warung itu milik Sem Gizigoy.

Boe perkenalkan saya dengan Sem ketika saya sedang menyeruput kopi hangat sembari mencicipi krispi jamur tiram. Enak dan gurih rasanya.Selain Boe, ada juga teman Venan dari Sun Spirit. Tak lama berselang datang teman saya Gerasmus Satria, wartawan Victory News.

Duduk melingkar bersama mereka di warung itu membuat saya betah. Topik diakusi kemudian menjadi lebih menarik ketika Boe menyebut krispi jamur tiram yang ada di meja itu, hasil produksi Sem Gizigoy.

Krispi hasil olahan jamur tiram produksi Sem Gizigoy.

Dari diskusi inilah, saya mendapatkan kisah inspiratif tentang Sem Gizigoy, sang petualang tangguh dari kampung Mbala-Naga yang kini sedang menjajal bisnis jamur tiram di kota Labuan Bajo.

“Saya lakukan ini bukan ingin jadi kaya, tapi karena hobi”, kata Sem penuh arti.

Dari kisah yang dilukiskan Sem, serbuk kayu ternyata material yang sangat penting dalam proses peoduksi jamur tiram. Bagaimana prosesnya? (Robert Perkasa) bersambung…

Cegah DBD, Puskesmas Labuan Bajo Beri Penyuluhan Kepada Ratusan Pelajar

KOMODOPOS.com-LABUAN BAJO-Mencegah kejadian penyakit Demam Berdarah, Tim penyuluhan kesehatan Puskesmas Labuan Bajo bekerja sama dengan Dinas Kesehatan kabupaten Manggarai Barat dan pemerintah kecamatan Komodo memberikan penyuluhan kesehatan, kepada ratusan siswa-siswi SLTP dan SLTA di Labuan Bajo, Selasa (4/2).

Penyuluhan ini dilakukan di dua tempat, yakni di asrama St.Arnoldus dan asrama SSPS kelurahan Wae Kelambu, kecamatam Komodo, Labuan Bajo. Hadir memberikan penyuluhan, dr. Gusti K. Nunu bersama tim simulasi dari Puskesmas Labuan Bajo.

Kegiatan penyuluhan ini dibuka oleh kepala Puskesmas Labuan Bajo, Vinsensius Paul,S.Kep.

Ratusan siswa/siswi mengikuti penyuluhan kesehatan yang diberikan oleh petugas kesehat dari Puskesmas Labuan Bajo dan Dinkes Mabar, Selasa (4/2/2020). Foto : Dok.Puskesmas Labuan Bajo

“Materi penyuluhan tentang Demam Berdarah Dengue dan kesehatan reproduksi remaja kepada anak-anak Asrama Arnoldus 200 siswa dan waktu yang bersamaan juga dilakukan penyuluhan yang sama kepada kelompok anak Asrama SSPS sejumlah 100 orang. Jumlah petugas kesehatan yang ikut memberikan penyuluhan 18 orang dibagi menjadi dua tim”, ujar Vinsen Paul. sat dikonfirmasi Komodopos.com via Whatsapp, Selasa malam (4/2). *(Robert Perkasa)