
KOMODOPOS.com-SANO NGGOANG-Banjir besar yang meluap dari kali Wae Parek di desa Sano Nggoang dan kali Wae Jereng di desa Watu Panggal, kecamatan Sano Nggoang, kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur mengakibatkan pengunjung pasar dan sejumlah moda angkutan yang mengangkut warga 4 desa, yakni dari desa Golo Sengang, Golo Manting dan desa Sano Nggoang yang hendak ke pasar Werang ibu kota kecamatan Sano Nggoang, Sabtu (4/1) Pagi ini dilaporkan terdampar di kampung Parek, desa Sano Nggoang dan kampung Daleng dan Tenda, desa Watu Panggal.
Intensitas curah hujan tinggi sejak Jumat (3/1) kemarin hingga berita ini ditayangkan mengakibatkan arus lalulintas penumpang dan barang di ruas jalan Werang-Paku kecamatan Sano Nggoang lumpuh total.

Fredy Ampung, warga kampung Parek menjelaskan hal itu saat dikonfirmasi Komodopos.com, Sabtu (4/1) pagi ini melalui handphone seluler. Dia jelaskan, pengaruh curah hujan yang lebat sejak semalaman sampai saat ini mengakibatkan kali Wae Parek meluap hingga ke badan jalan.
“Banjir besar untuk saat ini mengakibatkan warga dari beberapa desa yang hendak ke pasar Werang terpaksa tertahan di kampung Parek. Potensi banjir makin lebih besar lagi karena hujan tak kunjung reda. Warga dari desa tetangga terpaksa terdampar di Parek menunggu arus banjir surut. Itu pun kalau tidak ada hujan lagi”, ujar Fredy Ampung.
Kondisi serupa dialami oleh warga kampung Daleng dan Tenda, desa Watu Panggal, kecamatan Sano Nggoang. Warga di dua kampung ini gagal pergi ke pasar Werang, Sabtu (4/1) pagi ini karena dihadang banjir yang meledak di kali Wae Jereng.

Berita Komodopos.com sebelumnya, intensitas hujan tinggi di kawasan itu mengakibatkan arus transportasi jalur Werang menuju wilayah Paku dan sekitarnya lumpuh total. Kondisi terparah terjadi karena infrastruktur jembatan Wae Jereng belum dibangun. Saat musim penghujan tiba, banjir besar yang meluap dari kali tersebut mengganggu kelancaran arus transportasi ke wilayah itu. Sejumlah moda angkutan pedesaan terpaksa mengantri berjam-jam lamanya di lokasi tersebut menunggu air surut.
Kamis pagi (2/1/2020), Tokoh masyarakat, Emanuel Selamat kepada Komodopos.com melalui handphone selulernya menuturkan, kemacetan terjadi sejak Rabu petang 1 Januari 2020 sampai pagi ini, Kamis, 2 Januari 2020.

“Kendaraan umum dan kendaraan pribadi masyarakat bersama penumpang jalur Werang menuju lembah Paku PP dihadang oleh Wae Jereng,, kali dekat kampung Tenda desa Wàtu Panggal” ujar Eman Selamat.
Eman menambahkan, masyarakat di wilayah itu kerap kali dibohongi oleh mulut manis sejumlah anggota DPRD Manggarai Barat terkait penyebaran informasi pembangunan jembatan Wae Jereng.
“Banyak yang merasa dibohongi DPRD Mabar yang telah memberikan informasi pasti ketika konsolidasi menuju Pileg 2019. Bahwa pada paruh 2 tahun 2019 deuker Wae Jereng akan selesai dibangun. Hanya dibangun deucker karena kalinya tak layak dibangun jembatan. Walaupun menurut mata awam Wae Jereng mestinya dibangun jembatan akan tetapi ketika dijanjikan deucker masyarakat senang juga sebagai pertolongan minimal yang didapat masyarakat. Tetapi hingga saat ini WAE Jereng tak memiliki deuker atau jembatan”, tandas Eman.

Eman Selamat sangat prihatin dengan kondisi tersebut. “Kasihan Mabar sudah berusia 17 tahun; sejak masa pejabat sampai sekarang sudah 4 orng pernah menjadi Bupati dan 3 wakil bupati tetapi tak punya hati menolong masyarakat di wilayah ini dengan membiarkan Wae Jereng tetap tampa jembatan. Sampai kapan Wae Jereng jadi penghambat mobilitas ekonomi dan mobilitas sosial masyarakat di wilayah ini”, pungkas dia. *(Robert Perkasa)