Gempita Warga Pong Utung Rayakan Tahun Baru di Wae Care Beach

KOMODOPOS.com-SATARMESE-Beragam ekspresi memeriahkan Tahun Baru 2020. Di Pong Utung dan Purang Munde, desa Mocok, kecamatan Satarmese, ratusan warga memilih Wae Care Beach sebagai destinasi wisata Tahun Baru, Rabu (01/01/2020). Kendati jarak tempuh berkiloan meter, namun animo warga mengekspresikan gempita Tahun Baru, tak dapat diurung. Ratusan warga dewasa dan anak-anak, laki-laki dan perempuan ikut dalam rombongan tamasya Tahun Baru di Wae Care beach.

Wae Care Beach terletak di sebelah timur Iteng, kecamatan Satarmese, kabupaten Manggaŕai, Nusa Tenggara Timur. Tempati ini ramai dikunjungi warga setempat untuk berwisata. Menikmati hari liburan, seperti moment tahun baru ini. Meski jarak tempuh cukup jauh dari kampung warga, namun mereka rela membuang biaya sekedar menikmati pesona Wae Care Beach yang eksotik. Kondisi udara terasa segar ketika berada di sepanjang bibir pantai ini. Di tengah desiran ombak siang hari, warga tampak enjoy bercengkrama ria dengan keluarga meteka di pinggir pantai ini.

Piknik di alam terbuka. Menari ikuti irama alam sembari menikmati desiran ombak serta view laut karya Sang Ilahi yang agung. Mereka tampak sangat happy mensyukuri Tahun Baru di tempat ini.

Menu makanan apa adanya. Ikan dan beberapa ekor ayam dipanggang di tepi pantai. Makan bersama sembari mencicipi keindahan panorama bibir pantai “sejuta batu” itu. *(Robert Perkasa)

Jelang Akhir Tahun, Petir Gegerkan Warga Purang Munde

KOMODOPOS.com-SATARMESE-Tanpa hujan, petir menyambar hingga menghanguskan sebuah pohon kelapa dan pohon kemiri yang tumbuh di pekarangan milik bapak Ponsianus Parus, warga kampung Purang Munde, RT 08, dusun A, desa Purang Munde, kecamatan Satarmese kabupaten Manggarai, provinsi Nusa Tenggara Timur, Selasa (31/12/2019) sekitar pukul 13.40 Wita.

Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini. Namun sangat menggegerkan warga sekampung yang sedang mengikuti acara adat di kampung tersebut. Wargapun berbondong-bondong ke lokasi tersambar petir yang jaraknya tidak jauh dari pemukiman warga setempat.

Saksi mata, Ponsianus Parus menuturkan, saat petir menyambar, ia baru saja turun dari sepeda motor pulang dari tempat acara adat di rumah tetangganya.

“Saya baru turun dari sepeda motor. Tiba-tiba petir menyambar dan seketika itu juga terlihat asap mengepul di atas pucuk pohon kelapa yang tumbuh di belakang rumah saya. Saya dan warga lainnya segera menuju lokasi kejadian sekitar 50 meter di belakang rumah saya. Tidak ada korban jiwa karena semua warga di kampung ini berada di tempat acara”, tutur Ponsianus Parus.

Agustinus Jelahur, seorang Guru SMP Satap Pong Meleng menambahkan, petir ini membuat warga setempat panik sekaligus peringatan akhir tahun 2019 buat warga setempat. Dikatakannya, kejafian ini baru pertama kali terjadi di kampung ini.

“Selama musim penghujan ini, kami hanya mendengar kabar tentang petir menyambar di beberapa tempat lain hingga memakan korban jiwa. Baru kali ini petir menyambar wilayah kampung ini”, ujar Gusti Jelahur.

Pantauan Komodopos.com di lokasi tersambar petir, tampak asap api sedang mengepul di pucuk pohon kelapa dan nyala api melalap semak belukar yang ada di sekitar pohon kelapa. Terlihat pula dua goresan dan lubang di sekitar pohon kemiri. *(Robert Perkasa)

Jelang Akhir Tahun, Petir Gegerkan Warga Purang Munde

KOMODOPOS.com-SATARMESE-Tanpa hujan, petir menyambar hingga menghanguskan sebuah pohon kelapa dan pohon kemiri yang tumbuh di pekarangan milik bapak Ponsianus Parus, warga kampung Purang Munde, RT 08, dusun A, desa Purang Munde, kecamatan Satarmese kabupaten Manggarai, provinsi Nusa Tenggara Timur, Selasa (31/12/2019) sekitar pukul 13.40 Wita.Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini. Namun sangat menggeherkan warga sekampung yang sedang mengikuti acara adat di kampung tersebut. Wargapun berbondong-bondong ke lokasi tersambar petir yang jaraknya tidak jauh dari pemukiman warga setempat.Saksi mata, Ponsianus Parus menuturkan, saat petir menyambar, ia baru saja turun dari sepeda motor pulang dari tempat acara adat di rumah tetangganya.”Saya baru turun dari sepeda motor. Tiba-tiba petir menyambar dan seketika itu juga terlihat asap mengepul di atas pucuk pohon kelapa yang tumbuh di belakang rumah saya. Saya dan warga lainnya segera menuju lokasi kejadian sekitar 50 meter di belakang rumah saya. Tidak ada korban jiwa karena semua warga di kampung ini berada di tempat acara”, tutur Ponsianus Parus.Agustinus Jelahur, seorang Guru SMP Satap Pong Meleng menambahkan, petir ini membuat warga setempat panik sekaligus peringatan akhir tahun 2019 buat warga setempat. Dikatakannya, kejafian ini baru pertama kali terjadi di kampung ini.“Selama musim penghujan ini, kami hanya mendengar kabar tentang petir menyambar di beberapa tempat lain hingga memakan korban jiwa. Baru kali ini petir menyambar wilayah kampung ini”, ujar Gusti Jelahur.Pantauan Komodopos.com di lokasi tersambar petir, tampak sejumlah warga setempat berbondong-bondong menuju lokasi kejadian. Terlihat juga asap api sedang mengepul di pucuk pohon kelapa yang tersambar petir. Sementara itu di sekitar pohon kelapa tampak api sedang menyala melahap semak belukar yang ada di sekitar pohon kelapa dan pohon kemiri. *(Robert Perkasa)

2020, Beli Bensin Tak Lagi Pakai Uang Tunai

Dirut Pertamina Nicke Widyawati (Foto: Ari Saputra/detikcom)

JAKARTA – PT Pertamina (Persero) di tahun 2020 akan fokus mengawasi distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi agar lebih tepat sasaran. Hal ini berkaca pada kesalahan tahun 2019 dimana BBM subsidi mengalami kelebihan kuota alias jebol.

“Program kita fokus di 2020 distribusi atau penjualan (BBM subsidi) kepada pihak yang lebih tepat sasaran,” kata Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati di Gedung BPH Migas, Jakarta Selatan, Senin (30/12/2019).

Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan penerapan transaksi non tunai di seluruh Stasiun Pengisian Baham Bakar Minyak (SPBU) yang dikelola Pertamina.

Nantinya, setiap SPBU akan dilengkapi dengan Electronic Data Capture (EDC) agar pembayaran bisa dilakukan secara elektronik menggunakan kartu uang elektronik atau kartu debit dan kartu pembayaran lainnya.

Selain kartu, lanjut Nike, pembayaran non tunai bisa juga dilakukan melalui aplikasi dompet digital seperti LinkAja, e-payment dan bank yang bekerjasama dengan Pertamina.

“Ada LinkAja, e-payment dan kita sudah koordinasi dengan perbankan untuk support,” ungkapnya.

Selain pembayaran non-tunai, data yang terekam dalam EDC juga bisa memberi gambaran siapa konsumen yang melakukan transaksi pembelian BBM sehingga ke depannya akan lebih mudah melakukan pengawasan dan seleksi siapa saja yang bisa membeli BBM bersubsidi.

“Kita akan mendorong menggunakan cashless payment untuk di seluruh transaksi SPBU,” sebutnya.

Dengan cara ini, diharapkan penyaluran BBM bisa lebih tepat sasaran dan memastikan kuota penyaluran BBM tak jebol lagi seperti yang terjadi di 2019. (Sumber : detikFinance)

Pilihan PDIP atau Sang Calon Bupati (Misteri Figur Wakil dari Maria Geong)

Oleh : Sil Joni *)

Ibu Maria Geong (MG), salah satu bakal calon bupati Mabar 2020, masih ‘malu-malu’ memperkenalkan identitas figur yang bakal ‘dipersuntingnya’ dalam kontestasi Pilkada kali ini. MG begitu konsisten untuk ‘tidak membocorkan’ nama dari kekasih politiknya itu.

Kepada wartawan, MG hanya memberikan ‘jawaban politis yang penuh misteri’ bahwa calon wakilnya ada tiga (3) orang dan saat ini sedang disurvei oleh PDIP (Pos-Kupang. Com, 3/12/2019).

Ibu MG juga mengungkapkan bahwa dari tiga sosok yang disurvei itu, ada satu yang ‘cocok’ dengan dirinya. Kendati demikian, beliau menyerahkan sepenuhnya pada otoritas partai untuk menentukan secara tepat calon wakilnya tersebut.

Dari curahan rasa politik itu, saya menangkap ada semacam ‘pergulatan internal’ dalam tubuh ibu Maria. Sebetulnya, dari sisi chemistry politik, Ibu MG sudah temukan figur yang tepat. Persoalannya adalah ‘pilihan personal’ itu belum tentu sejalah dengan pertimbangan politik dari partai pengusungnya. Kelihatannya, MG belum bisa keluar dari ‘bayang-bayang’ intervensi partai dalam menggaet kekasih politik idamannya.

Sikap politik MG ini, saya kira hanya mempertegas soal ‘watak kompromistis’ dari politik kekuasaan itu sendiri. Negoisasi dan transaksi politik dalam lingkaran elit partai menjadi hal lumrah. Para calon pemimpin politik tidak pernah secara bebas dan otonom menentukan ‘orang yang tepat’ untuk bersama dia dalam merebut mandat politik rakyat entah sebagai bupati, Gubernur, maupun presiden.

Mungkin demi mengakomodasi ‘interes partai’, MG hingga detik ini tidak pernah mendaftarkan diri sebagai ‘paket calon’ ketika mengajukan ‘lamaran’ dari satu partai ke partai lainnya. Di satu sisi, sikap semacam itu bisa dinilai sebagai sebentuk ‘loyalitas politik’ kepada partai. Tetapi, pada saat yang sama bisa juga dibaca sebagai satu indikasi ‘kegamangan politik’ yang menghinggapi MG saat ini.

Saya berpikir, kita tidak perlu ‘terlalu lama’ bermain sandiwara perihal posisi wakil ini. Bagaimana pun juga, muara dari semua keputusan itu ada ‘kehendak rakyat’ sendiri. Terdapat disparitas yang tajam antara kepentingan partai dan ekspektasi publik.

Karena itu, sebagai wakil Bupati Mabar, seharusnya ibu MG ‘tahu persis’ sosok wakil bupati seperti apa yang sedapat mungkin bisa memenuhi pelbagai harapan politik dari masyarakat Mabar saat ini. Pengalaman sebagai Wakil Bupati seharusnya menjadi pelajaran perihal ‘figur wakil’ yang dikehendaki publik itu.

Kendati masih diselimuti kabut misteri, dari pemberitaan media kita mengetahui bahwa ada dua nama yang dianggap punya ‘posisi tawar yang relatif sama’ untuk menjadi pendamping ibu MG. Pertama, Silvester Syukur, anggota DPRD Mabar dari daerah pilihan (dapil) 1, kader tulen PDIP. Rekam jejaknya dalam dunia politik cukup terang benderang. Beliau menjadi kader PDIP sejak periode pertama sampai saat ini.

Massa pendukungnya pun bisa dipetakan dengan jelas. sebagaian besar berada di Kecamatan Boleng. Itu berarti jika MG berduet dengan Silvester Syukur maka untuk sementara mereka sudah mengantongi ‘suara dasar’ dari Kecamatan Boleng itu. Pertanyaan kritisnya adalah apakah sosok Silvester Syukur memiliki daya politis yang signifikan untuk meraup suara di beberapa Kecamatan lainnya di Mabar ini?

Kedua, Dr. Bernadus Barat Daya, SH, MH. Saya kira, sebagian besar ‘wajib pilih’ di Mabar mengenal atau minimal pernah mendengar ‘nama ini’. Jika ‘pangkat politik’ menjadi ukuran, maka jelas Barat Daya tak sekilat prestasi yang ditorehkan oleh Silvester Syukur. Namun, kelebihannya adalah figur ini ‘mempunyai daya jelajah politik’ yang lebih luas dari sekadar Kecamatan tertentu.

Tidak mudah bagi MG dan PDIP untuk memilih salah satu dari keduanya. Spekulasi politik publik yang tengah beredar menunjukkan seolah kans Silvester Syukur (SS) sedikit lebih besar dari Barat Daya. Dasarnya adalah besarnya pengaruh politik figur ini dalam tubuh PDIP. Sebagai ‘orang dalam”, SS mempunyai ruang yang luas untuk bermanuver mendapatkan rekomendasi partai itu. Tetapi, pilihan itu tidak tanpa risiko.

*) Penulis, pemerhati masalah sosial dan politik. Tinggal di Labuan Bajo.

Literasi Itu Bukan Rekreasi dan Selebrasi

Oleh: Sil Joni *)

Jika warta di media sosial perihal ‘bergumuruhnya’ aktivitas literasi di beberapa sekolah menengah (SMA/SMK) dijadikan patokan, maka Manggarai Barat layak berbangga. Betapa tidak, kita menyaksikan meluapnya ‘energi literasi’ yang terekspresi dalam rupa-rupa kegiatan yang diunggah di berbagai platform media sosial. Para penggerak literasi secara reguler mendiseminasi setiap detail aktivitas itu ke ruang siber. Semuanya tampak semarak dan sangat menjanjikan.

Kendati demikian, saya menangkap kesan bahwa ‘kita hanya terpukau pada’ kegiatan yang dihelat sesaat. Kelihatannya kegiatan berliterasi itu belum terinternalisasi dalam diri anggota komunitas akademis (lembaga pendidikan). Hingar-bingar kegiatan literasi tidak lagi ‘terdengar’ ketika para rasul literasi berlalu dari hadapan kita.

Untuk itu, melalui forum ini, mungkin perlu kita disadarkan agar ‘keringat para penggerak literasi itu’ tidak mengalir sia-sia di wilayah kita. Mari kita ‘himpun kembali energi’ untuk terus mewartakan ‘kabar literasi ini’ ke seluruh penjuru Mabar.

Literasi (aktivitas baca-tulis) itu merupakan sebuah proses pembiasaan (habitus) sehingga menjadi bagian yang inheren dalam struktur kepribadian seseorang. Proses menginternalisasikan ‘habitus literasi’ tidak sekali jadi. Apalagi kalau kemasan kegiatan itu didominasi oleh hal-hal rekreatif dan seremonial. Keberhasilan aktivitas literasi itu, hemat saya tidak ditakar dari seberapa sering ‘acara rekreasi massal’ dijalankan, tetapi apakah sipirit literatif sudah ‘terjelma’ dalam tubuh seseorang.

Pameran kegiatan literasi yang bersifat temporal dan momental yang disebarkan ke ruang publik, bukan sebuah indikator bahwa ‘spirit literasi’ telah bergema dashsyat di wilayah ini. Para siswa dan guru hanya ‘terhipnotis’ pada saat aktivitas itu didesain dan dibuat secara atraktif oleh para ‘penggerak’. Energi literasi kembali melempen dan lesu pasca-aktivitas itu dihelat. Itu berarti kita lebih tertarik pada sisi rekreasional dan selebrasional dari kegiatan itu.

Semangat berliterasi kita masih bersifat ‘hangat-hangat tahi ayam’, cepat panas, tetapi cepat juga loyo. Kita tidak lagi melihat ‘unggahan’ tentang dampak dari kegiatan literasi yang dipandu oleh para ‘fasilitator literasi itu’. Kelihatannya, kita kembali ke situasi semula. Literasi belum mengakar di sini.

Karena itu, kita berharap agar ‘para guru’ tetap menjadi ujung tombak menghidupkan habitus literatif di wilayah ini. Hanya dengan dan melalui kebiasaan ‘menggauli dunia sunyi’ secara konsisten, budaya literasi itu bisa merambat ke semua penjuru Mabar ini. Kita tidak perlu tergiur dengan sisi rekreatif dan selebrasional dari aktivitas itu. Yang kita butuhkan adalah ketekunan dan keteladanan dalam mempraktikan literasi dasar; membaca, menulis, dan berefleksi dalam kesunyian.

Benih literasi itu sudah ditabur oleh para rasul literasi (kru Media Pendidikan Cakrawala). Tugas kita adalah merawat benih itu secara serius dan memastikan tidak ada ‘gulma dan hama’yang membuah benih itu gagal tumbuh.*

*) Penulis adalah pemerhati masalah social dan politik local Manggarai Barat. Tinggal di Labuan Bajo.

Kandidat Bupati dan Filosofi Padi

Oleh : Sil Joni *)

Saya sangat yakin bahwa para bakal calon yang sedang sibuk ‘mengemis dukungan parpol’ mengklaim diri sebagai ‘sosok pemimpin’ yang tepat untuk Mabar ini. Karena itu, mereka berusaha meyakinkan parpol dan publik dengan ‘memamerkan’ rupa-rupa talenta.

Pelbagai jargon dan retorika politik ‘dikumandangkan’ dengan penuh percaya diri. Publik dibuat ‘terkesima’ dan mungkin menilai ‘mereka adalah figur berisi’. Kita kerap ‘terkecoh’ oleh kemasan ‘tampilan luar’ yang didesain sefenomenal dan sesensasional mungkin. Tujuannya hanya satu agar persepsi dan impresi publik tentang diri mereka ‘semakin positif’.

Para broker (calo) politik mereka pun tidak kalah ‘beracting’ seolah-olah figur jagoan itu sangat kapabel untuk menjadi bupati Mabar. Mereka sangat kreatif mengelaborasi sisi plus dari sang ‘idola’ dan menguburkan semua ‘jejak negatif’ selama berkiprah di dunia politik dari sang calon. Pokoknya, di mata para ‘penjual politik itu’, produk politik merekalah yang pantas dijagokan.

Suara mereka begitu ‘meggelegar’ di ruang publik. Mereka menyusuri lorong kampung sambil ‘bertepuk dada’ bahwa kandidat mereka ‘mendapat dukungan signifikan baik dari partai maupun dari publik Mabar”. Seabreak ‘prestasi politis’ dari sang kandidat dibentangkan dengan penuh percaya diri. Di ujung pembicaraan terselip pesan politik bahwa tidak ada lagi figur lain yang bisa mengubah wajah Mabar selain sosok yang sedang mereka sodorkan itu.

Tegasnya. bakat sebagai pembual teraktualisasi secara sempurna ketika musim kontestasi politik bergulir. Kita sulit menemukan figur politik yang tampil low profile, realistis, dan rendah hati. Semuanya ‘berlagak’ sebagai manusia super yang layak diberi mandat sebagai ‘mesias politik’ untuk Kabupaten ini.

Tidak sedikit publik-konstituen yang ‘tergetar’ dengan propoganda politis yang bombastis itu. Semakin ‘kencang’ sang aktor berorasi, kans untuk menuai pujian semakin besar. Publik berdecak kagum dan dengan spontan berguman: “orang ini sangat cocok menjadi pemimpin”. Suaranya lantang dan gestur tubuhnya cukup atraktif ketika beraksi di mimbar politik.

Padahal, mungkin saja kebanyakan ‘wacana dan kemasan politik’ itu bersifat superfisial (dangkal). Khazanah pengetahuan politik dan kompetensi leadership, teknis dan etis mereka, dalam tataran aplikatif, masih jauh dari ekpektasi publik. Para politisi yang pandai ‘menonjolkan kulit’ ketimbang isi, sebetulnya manusia yang bertipe “áir beriak tanda tak dalam, tong kosong nyaring bunyinya”.
Sementara politisi ‘bergizi dan berisi’ dalam arti yang sebenarnya, pasti lebih terpukau pada soal substansi ketimbang isi. Biasanya, politisi semacam itu begitu konsisten menghayati filosofi padi: “semakin berisi semakin merunduk” Bagi calon pemimpin seperti itu, lusinan kata-kata yang tersembur dari mulut, sama sekali tidak mencerminkan kualitas kepemimpinannya. Boleh jadi, seorang politisi hanya berani memproduksi bunyi, tetapi nihil isi dan nir-makna.

Gong kontestasi Pilkada Mabar, secara resmi belum ditabuh. Tetapi, pasar politik lokal sudah sangat semarak dan dinamis. Hampir setiap hari, para makelar politik dan para calon bupati mulai memasarkan produk politik itu ke ruang publik.

Saya berpikir, sikap kritis publik dalam memilah dan menyeleksi figur-figur itu, menjadi sebuah keharusan. Publik mesti taktis membaca mana politisi yang tong kosong nyaring bunyinya dan mana yang menghayati filosofi padi secara konsisten dan bermartabat.*

*) Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan politik local Manggarai Barat. Tinggal di Labuan Bajo.

Hari ini, Dr. Bernadus Barat Daya, Daftar Pertama di PKB Mabar

KOMODOPOS.OnlineLABUAN BAJO–Membuka masa pendaftaran Bakal Calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, hari ini, Rabu (27/11/2019), Dr. Bernadus Barat Daya, SH., MH merupakan salah satu kandidat Bakal Calon Wakil Bupati yang mendapat kesempatan sebagai pendaftar pertama pada hari pertama masa pendaftaran bakal calon, Rabu (27/11) sampai Sabtu (30/11/ 2019).

Di PKB, Barat Daya juga mendaftar secara perorangan sebagai Bakal Calon Wakil Bupati (Bacawabup). Pendaftaran hari ini merupakan pendaftaran Barat Daya yang ke-8.

Sebelumnya Barat Daya juga melakukan pendaftaran di 7 parpol lainnya, yakni PDIP, PPP, Gerindra, PKS, Hanura, Demokrat, PAN.

Barat Daya dan rombongan diterima oleh Ketua Panitia Penjaringan Bakal Calon (Desk Pilkada), Silvester Arvin/Enggong yang didampingi oleh
Sekertaris Desk PIlkada, Hendrikus Harfon beserta Tim 7 (Tujuh) yakni Tobias Napang, Romanus Aman, Densi, Rustam, Ferdi Salut, Maksimilianus Tiong dan Falix Armin. Hadir juga Ketua DPC PKB Mabar, Sirilus Ladur bersama sejumlah unsur pimpinan dan Pengurus DPC PKB Mabar.

Terpantau komodopos.com, saat pendaftaran di PKB itu, Barat Daya didampingi oleh sejumlah keluarganya. Rombongan keluarga Barat Daya tiba di Kantor DPC PKB Mabar sekira pkl. 09.20 Wita. Mereka umumnya mengenakan pakayan adat khas Manggarai Kemeja putih dan mengenakan kain Songket Manggarai.

Sebelum penyerahan dan pemeriksaan berkas pencalonan, rombongan keluarga Barat Daya diberi kesempatan untuk menyampaikan maksud kehadiran mereka di PKB secara adat. ‘Jubir adat’ (pateng/tongka) yang mewakili Barat Daya menyerahkan seekor ayam jantan dan tuak yang diterima secara adat pula oleh Ketua DPC PKB, Sirilus Ladur yang diwakili oleh salah satu kader PKB, Drs.Tobias Napang.

Pada sesi sambutan singkatnya Ketua DPC PKB menyatakan bahwa berkas lamaran yang diajukan Barat Daya beserta lampirannya, akan ditindaklanjuti sesuai mekanisme yang berlaku di PKB.

“Kami akan memproses semua berkas pendaftaran dari semua bakal calon yang datang mendaftarkan dirinya di PKB”, ujar Sirilus Ladur singkat. Ketua DPC Sirilus Ladur dalam kesempatan itu, juga menginformasikan bahwa jumlah bakal calon yang telah mengambil berkas sebanyak 21 orang. Kemungkinan, ada 21 figur bakal calon yang akan datang di PKB untuk mendaftarkan diri sebagai bakal calon Bupati dan bakal calon Wakil Bupati”.

Di tempat yang sama dalam sesi sambutan singkatnya, Barat Daya juga memberi apresiasi kepada jajaran PKB yang telah membuka kesempatan seluas-luasnya kepada publik untuk boleh mendaftarkan diri sebagai bakal calon Bupati dan Wakil Bupati di PKB.

“Kami sangat berterima kasih atas kesediaan PKB menerima pendaftaran saya sebagai bakal calon Wakil Bupati. Saya siap menerima apapun keputusan PKB terhadap diri saya. Jika PKB berkenan memberikan kepercayaan pada kami untuk ikut berkompetisi pada ajang Pilkada 2020 nanti, kami berjuang memperoleh dukungan dari masyarakat. Kami percaya, bahwa PKB merupakan partai dengan pengalaman mumpuni dalam menyeleksi bakal calon pemipin terbaik bagi daerah dan bagi bangsa ini”, ujar Barat Daya. *(Robert Perkasa)

Sekdes & Seorang Staf Desa Golo Bilas Terluka Akibat Tertimpa Kabel PLN,

KOMODOPOS.com-LABUAN BAJO-Naas menimpa Sekretaris Desa Golo Bilas, Fabianus Galgani dan seorang staf, Fredirika Niman. Sepeda motor bernomor polisi EB 6423 jenis Bid Honda terjungkal akibat tertimpa kabel PLN saat pulang kerja dari kantor desa Golo Bilas. Akibat kecelakaan ini, keduanya terpaksa dilarikan ke Rumah Sakit Komodo di Merombok. Tak lama kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Silloam, Labuan Bajo untuk melakukan foto scan.

Korban kecelakaan ini, Fabianus Galgani menjelaskan, kecelakaan yang menimpanya terjadi pada Selasa (26/11/2019) siang tadi sekira pukul 13.00 Wita di ruas jalan Trans Flores, persisnya di depan bengkel ,sebelah cabang PLN Merombok.

Fabianus Galgani dan Frederika Niman meluncur dengan sepeda motor Bid Honda dari kantor desa Golo Bilas di Merombok hendak pulang ke rumah mereka di Kaper. Saat tiba di depan bengkel itu, kabel listrik PLN yang melintang di kawasan itu tiba-tiba jatuh dan menimpa mereka yang sedang melaju di ruas jalan tersebut. Lantaran hilang keseimbangan, sepeda motor yang dikendarainya jatuh terpelanting hingga terluka parah. Frederika mengalami luka parah di bagian kepala. Sementara Florianus mengalami trauma.

“Kecelakaan ini terjadi di Merombok jalan Trans Flores akibat jatuhnya Kabel dari tiang lustrik yang sedang melintang. Kecelakaan ini mengakibatkan pengandara motor jatuh hingga luka parah. Korban atas nama Fabianus Galgani (saya sendiri ) dan Federika Niman (enu Eri) pada sat berboncengan pas pulang kerja”, ujar Fabianus ketika dikonfirmasi Komodopos.com melalui handphone selularnya, Selasa (26/11) malam ini.

Hingga berita ini dihimpun, pihak PLN Rayon Labuan Bajo belum berhasil dikonfirmasi.

Fabianus menambahkan, usai kejadian itu, pihak PLN Labuan Bajo yang diwakili oleh Pak Nyoman telah bertemu korban di Rumah Sakit Komodo di Merombok. Kepada korban dan keluarganya, pihak PLN menyatakan siap menanggung biaya perawatan Rumah Sakit.

“Tadi pihak PLN sudah ketemu kami dan keluarga korban. Untuk sementara terkait dengan administrasi dan obat-obatan selama di Rumah Sakit, mereka yang tanggung. Tapi belum ada kejelasan terkait tindak lanjutnya. Mereka sudah pulang tadi”, jelas Fabianus.

Saat ditanya kondisi terkini Ibu Frederika Niman, Fabianus mengatakan, masih pusing- pusing. Saat ini Frederika Niman dan Fabianus Galgani sudah tiba di rumah mereka di Kaper setelah dianjurkan rawat jalan oleh petugas medis.

“Memang luka parah. Tapi hasil foto scan di Rumah Sakit Siloam tadi tidak membahayakan. Hanya luka robek di bagian kepala”, tutur Fabianus lagi.

Kepada pihak PLN Labuan Bajo, korban mengingatkan agar bekerja lebih teliti dan profesional.

“Melalui pesan ini, saya sampaikan kepada pihak PLN untuk bekerja dengan teliti terkait dengan pemasangan Kabel agar tidak mengulangi kejadian seperti ini”, tulis Fabianus melalui akun Facebooknya malam ini. *(Robert Perkasa)