Bupati Gusti Dula Buka Kejurda Takraw se-NTT di Labuan Bajo

KOMODOPOS.com-LABUAN BAJO-Bupati Manggarai Barat, Drs.Agustinus Ch.Dula membuka Kejuaraan Daerah Turnament Sepak Takraw se-provinsi Nusa Tenggara Timur 2019 di Labuan Bajo, Sabtu (2/11). Organisasi Induk Persatuan Sepak Takraw Indonesia (PSTI) NTT mempercayakan kabupaten Manggarai Barat sebagai tuan rumah
Kejurda Sepak Takrow ke-20. Kejuaraan Sepak Takraw Ini diikuti oleh para atlit Takraw dari 8 kabupaten se-NTT.

Ketua Pengurus Daerah (Pengda) Persatuan Sepak Takraw Indonesia( PSTI) kabupaten Manggarai Barat, Abdulah Nur mengemukakan hal tersebut ketika dikonfirmasi Komodopos.com via Whatsapp, Sabtu (2/11) malam.

“Kejuaraan daerah (Kejurda) Sepak Takraw yang dilaksanakan di Labuan Bajo mulai 2-7 November 2019 ini merupakan program rutin Pengurus Daerah Sepak Takraw provinsi NTT. Pelaksanaan kali ini di Labuan Bajo merupakan pelaksanaan yang ke-20 yang mana setiap tahunnya dilaksanakan secara bergilir di setiap kabupaten. Pelaksanaan kejurda kali ini diikuti oleh 8 kabupaten se NTT yaitu Kota Kupang, Lembata, Sabu Raijua, Rote Ndao, Sumba Barat Daya, Manggarai Timur, Manggarai dan Manggarai Barat”, terang Abdullah Nur.

Ia menambahkan, kejurda Sepak Takraw ke-20 Ini digelar di lapangan halaman kantor Bupati Manggarai Barat. Laga perdana hari ini, Sabtu (2/11), regu senior putra kabupaten Lembata menundukkan regu senior putra kabupaten Manggarai. Sementara itu, regu yunior putri Kota Kupang melibas regu yunior putri tuan rumah Manggarai Barat. *(Robert Perkasa)

Keberanian Memilih Pasangan dan Bonus Politik

Oleh : Sil Joni *)

Kompetisi politik Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) membutuhkan strategi yang jenius. Kursi kekuasaan itu tidak ‘jatuh begitu saja’ dari langit mimpi. Kita mesti ‘memeras otak’ bagaimana mendesain dan mengeksekusi berbagai strategi yang jitu dan efektif dengan memperhitungkan dinamika dan ‘timing politik’ yang tepat.

Salah satu unsur yang mesti dikalkulasi secara cerdas adalah keberanian untuk memutuskan ‘pasangan politik’ yang ideal untuk berkolaborasi dalam merebut mahkota kekuaasaan politik di level daerah. Dengan itu, kita bisa mempersiapkan segala ‘amunisi politik’ untuk bertanding secara elegan dan fair dalam sebuah kontestasi. Kita mempunyai banyak waktu, ruang, dan energi untuk merancang aneka trik dan metode dalam menaklukan hati publik.

Jika kita ‘membaca secara adequat’ berbagai adegan politik dalam panggung Pilkada Mabar, kita akan menjumpai ‘fenomen’ yang kontras dengan idealisme di atas. Masih ada bakal calon bupati (bacawabup) yang masih ‘ragu dan malu-malu’ untuk memperkenalkan kekasih politiknya kepada publik. Ibu Maria Geong misalnya, hingga detik ini sepertinya belum mempunyai semacam ‘ketegasan politik’ untuk memilih calon wakilnya dan serentak mendeklarasikan pasangan itu secara terbuka di hadapan publik Mabar.

Dalam berbagai kesempatan, ibu Maria hanya merespons secara diplomatis-politis perihal siapa ‘pendamping politik’ yang pas, bukan hanya untuk kepentingan dirinya tetapi, yang paling utama adalah cocok untuk menuntaskan berbagai proyek kesejahteraan publik di Mabar. Kita sering mendengar argumentasi yang terkesan ‘menyembunyikan pilihan politik itu’.

Salah satunya adalah tidak bisa ‘melangkahi’ hak partai untuk menentukan teman duet itu. Semuanya dikembalikan ke soal ‘mekanisme internal’ partai koalisi yang mengusung paket itu.
Memang di satu sisi, sikap semacam itu memperlihatkan aspek kejujuran dan kerendahan hati dalam berpolitik. Setidaknya, jawaban semacam itu mau memberi pesan kepada publik bahwa figur itu sangat ‘patuh’ dan menghormati aturan main yang ditetapkan oleh partai.

Namun, pada sisi yang lain, saya kira pasangan itu bakal kurang ‘menuai semacam bonus politik’ ketika sejak awal dia sudah membuat komitmen dan perjanjian politik dengan calon wakil tersebut. Mengapa? Paket itu nanti agak ‘telat’ dalam memainkan ‘bola politik’ dalam gelanggang politik yang amat luas dan kompleks.

Tentu beda ceritanya ketika jauh sebelum keputusan partai ditetapkan, paket itu sudah ‘mengirarkan janji politik’ untuk bersatu hati dalam kontestasi tersebut. Modal politik yang dipunyai oleh keduanya akan diberdayakan secara optimal. Mereka mempunyai cukup banyak waktu dan tenaga untuk ‘mengolah’ berbagai sumberdaya politik demi memenangkan pertarungan politik itu.

Saya kira, pasangan yang sudah ‘jadi’, seperti Edi-Weng, PRAJA, FRES, HATI kendati masih belum aman dari sisi kendaraan politik, mereka sudah mengayun langkah untuk merebut pasar politik. Tim dan jaringan politik mereka mulai menyebar ke kampung-kampung. Dipinang oleh partai politik itu hal lain, tetapi ‘keberanian’ untuk memilih pasangan menjadi salah satu elemen kunci untuk menjual produk politik di berbagai forum politik.

Karena itu, jika ingin memenangkan pertarungan, tidak ada pilihan lain, selain berani mengambil risiko untuk tampil bersama dengan pasangan politik dalam satu kendaraan yang sama. Dengan itu, paket itu akan mempunyai banyak ‘kemungkinan’ untuk menerapkan berbagai manuver dan trik politik dalam memengaruhi preferensi publik terhadap paket calon yang bertanding dalam kompetisi politik itu.

Rasanya, akan sangat ‘sulit’ bagi paket itu nanti untuk ‘membongkar’ area politik yang sudah masuk dalam blok politik dari ‘paket yang sudah jadi’ tadi. Mereka mesti mengerahkan energi ekstra untuk ‘bermain habis-habisan’ di daerah yang diklaim sebagai basis dari paket lain tersebab oleh ‘lambannya’ pergerakan tim dan minimnya kesempatan untuk membangun konsolidasi politik yang efektif.*
*) Penulis adalah pemerhati masalah sosial-politik, tinggal di Labuan Bajo.

Juara Bertahan SMPN 1 Komodo Tumbang, SMPN 7 Melaju ke Final

KOMODOPOS.com-LABUAN BAJO-Ambisi juara Laskar Biru laut SMPN 1 Komodo Labuan Bajo terkubur di lapangan SMPK Arnoldus Labuan Bajo, Sabtu (2/11) petang tadi. Sang juara bertahan digebuk Macan Selatan SMPN 7 Warloka dengan skor 5-3 melalui drama adu pinalti.

Sukses menggilas SMPN 1 Komodo, macan selatan SMPN 7 Warloka melaju ke babak Final Liga Pelajar Indonesia tingkat Kabupaten Manggarai Barat 2019. Di babak Final, Macan Selatan akan melawan SMP Satap Pulau Komodo yang baru saja menguburkan impian SMPN 3 Komodo, 1-0 pada laga kedua Semi Final, Sabtu petang tadi.

Bermain imbang tanpa gol sepanjang 90 menit waktu normal. Skor kaca mata berlanjut hingga tambahan waktu 2 x 15 menit.

Terpantau melalui live video facebook Ferdinand Mocok, laga Semi Final SMPN 1 Komodo kontra SMPN 7 Warloka berlangsung dalam tempo tinggi. Sejak wasit meniup pluit kick off babak pertama, kedua tim tampil saling menggempur. Jual beli serangan berlangsung ketat. Variasi serangan melalui long passing dan penetrasi satu dua sentuhan bola-bola pendek mengalir dari lini ke lini.

SMPN 1 Komodo turun dengan jersey biru laut tampak mendominasi permainan pada menit awal babak pertama. Penampilan squad sang juara bertahan didukung penuh ratusan supporter fanatiknya yang bersorak ria di pinggir lapangan pertandingan.

Walau demikian, laskar kuning-hijau SMPN 7 Warloka bangkit melancarkan coubter attack yang kerap mengancam gawang lawan. Skema pertahanan anak-anak Spensa nyaris kedodoran menahan laju gempuran Macan Selatan. Banyak peluang gol tercipta, namun tak satu pun yang dikonversi menjadi gol. Skor kaca mata bertahan hingga turun minum.

Memasuki babak kedua, pasukan biru laut Komodo kembali menguasai permainan. Penetrasi bola-bola pendek dari lini ke lini menusuk jantung pertahanan macan selatan. Gempuran tuan rumah selalu kandas lantaran garang dan kokohnya tembok pertahanan laskar puncak. Paceklik gol berlangsung hingga wasit meniup pluit akhir waktu normal.

Laga Semi Final ini dilanjutkan ke babak ekstra time 2×15 menit. Tempo permainan kedua tim tampak berjalan lambat lantaran stamina terkuras. Sampai waktu berakhir, skor belum berubah. Imbang tanpa gol.

Laga fase knock out ini terpaksa harus diakhiri dengan drama adu pinalti. Petaka menerpa Squad SMPN 1 Komodo di masa kritis ini. Dari 5 eksekutor tendangan pinalti yang ditentukan, hanya tiga tendangan yang sukses menggetarkan gawang lawan. 2 penendang lainnya gagal mengeksekusi tendangan pinalti.

Sebaliknya, bergerak menuju titik putih, squad Kuning-hijau macan selatan tampil percaya diri tinggi. Hasilnya, 5 gol bersarang di gawang sang juara bertahan.

Menelan pil pahit di laga penting ini, pelatih SMPN 1 Komodo, Ervan Yurianto mengakui penampilan anak-anak asuhnya. Ia juga mengakui keunggulan squad macan selatan.

“Luar biasa penampilan pemain-pemain kami. Tapi dewi fortuna lebih memihak SMPN 7 Warloka”, ujar Ervan Yurianto. *(Robert Perkasa)

Ampera FC, Wakil Manggarai Barat di Turnamen Rektor Cup Unika Santu Paulus Ruteng

KOMODOPOS.com-RUTENG-
Ampera FC, satu-satunya club sepakbola asal Labuan Bajo, kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Ampera FC, Salah sudah tidak asing lagi bagi pecinta bola di kabupaten ujung barat pulau Flores itu. Club besutan coach Agus Tandur dan asisten terbaik coach Ipank AMC
ini sedang mengikuti turnamen Rektor Cup Unika Santu Paulus Ruteng, kabupaten Manggarai. Ampera FC membawa nama besar Manggarai Barat.

Ampera FC dihuni oleh sejumlah nama bintang lapangan hijau yang mumpuni, berkelas dari malang melintang di berbagai turnamen sepak bola di jagat NTT. Sebut misalnya, Jeni Gata, Yanto Wada, Ibo Nono, Dio Felix, Ino Siga, Claudio Mindjo Resno, Zainal , Charles Buru, Torres Lao, Remi Bejo dan Yunn Roja. Selain itu, Ampera FC juga dibintangi oleh sejumlah pemain Persamba Manggarai Barat, yakni
Rinto Yulianto, Riano Akpel Jasar, Dony Daud, Oyas Gabus, Johani Saputro.

Ampera FC salah satu Club yang menghuni Grup B pada Turnamen Rektor Cup Unika Santu Paulus Ruteng 2019. Ampera FC kini mengantongi nilai 6 klasmen sementara Grup B hasil 2 kali laga, 2 kali menang. *(Robert Perkasa)

Iwan Bule Terpilih Jadi Ketua Umum PSSI

JAKARTA- Komjen Pol Mochamad Iriawan menang mutlak dalam pemilihan Ketua Umum PSSI periode 2019-2023, dalam Kongres Luar Biasa PSSI di Hotel Shangri-La, Jakarta, Sabtu (2/11/2019).

Dalam pemilihan itu, Iwan Bule, sapaan akrabnya, memperoleh 82 suara dari 86 voters.

Tiga suara lagi tidak sah, sementara satu lagi tidak masuk (Vijaya Fitriyasa pemilik Persis Solo keluar dari Kongres).

Mengetahui Iwan Bule menang mutlak dalam kongres, Rahim Soekasah yang juga menjadi calon Ketum PSSI, mengaku langsung mengucapkan selamat.

Ia pun mengakui kekalahannya dan berharap semua pihak yang kalah dalam Kongres pemilihan ini bisa menerima.

“Beliau sudah menang, harus sportif kita, karena kita orang olahraga. Kalah ya kalah menang, ya menang,” kata Rahim.

“Saya tadi langsung kasih selamat. Congratulation ya Pak. Tadi pas menang beliau juga digendong voter,” sambungnya.

Rahim Soekasah berharap di bawah pimpinan Iwan Bule, PSSI bisa lebih baik lagi, apalagi Indonesia akan menjadi tuan rumah Piala Dunai U-20 pada 2021 mendatang.

Bahkan, ia sempat menceritakan bagaimana dirinya yang kala itu menjabat Ketua Badan Tim Nasional (BTN), juga turut mempersiapkan Timnas Indonesia.

“2021 kan Piala Dunia U-20 di sini. Jadi disiapkan dari sekarang, karena saya sudah alami waktu Asian Games 2006.”

“U-24 ke Belanda latihan fisiknya 3 bulan tapi ototnya malah keletihan, jadi tidak bisa main satu tahun,” ungkapnya.

Sebelumnya, Mochamad Iriawan, kembali menjabarkan visi dan misinya dalam acara ngobrol bola di Kawasan Senayan, Jakarta, Rabu (30/10).

Salah satu target awal jika dirinya nanti terpilih menjadi Ketum PSSI, adalah ingin membawa Indonesia digdaya di kawasan Asia Tenggara.

Sebab, Indonesia yang secara geografis dan jumlah penduduknya terbanyak jika dibandingkan negara lain, hanya berada diperingkat keempat se-Asia Tenggara.

“Saya sudah jelaskan dalam visi misi saya, komitmennya saya ingin PSSI maju.”

“Ingin PSSI berkiprah di dunia internasional, tentunya berbagai step yang harus dilalui.”

“Bisa dikatakan dalam setahun dua tahun ini bisa juara ASEAN, syukur-syukur lebih cepat lebih baik,” kata pria yang akrab disapa Iwan Bule.

“Kemudian juga di tahun berikutnya kita coba untuk berkiprah di Asia. Sekarang kita di Asia di rangking ke-75, sedangkan di FIFA 164, di ASEAN kita keempat.”

“Ya sangat disayangkan kita negara cukup besar tapi tidak bisa merebut di ASEAN,” sambungnya.

Tak hanya juara di ASEAN, mantan Kapolda Metro Jaya itu juga ingin Indonesia masuk Piala Dunia 2024 dan tahun 2032 tampil di Olimpiade.

Menurutnya, target-target tersebut adalah mimpi Indonesia yang harus terus digapai.

Untuk itu, masalah pembenahan pembinaan usia dini, fasilitas, wasit dan sport science, pun akan ia maksimalkan demi tercapainya target-target itu.

“Kita harus punya perencanaan dan mimpi, sehingga apa yang mimpi kita inginkan bisa terwujud dengan pola-pola yang saya sampaikan tadi.”

“Modernisasi, tata kelola, ada big data, baik itu pemain, pelatih, wasit.”

“Kemudian ada sport science, ada pembinaan usia dini dan pembinaan soccer camp nanti bisa di sawangan atau di Sentul,” paparnya.

Kantongi Dukungan

Iwan Bule mengaku telah mengantongi dukungan dari para pemilik suara (voters).

Menurut Iwan Bule, 50 voters memilihnya karena melihat dari paparan visi dan misi jika dirinya menjadi Ketum PSSI.

“Sejauh ini ada 50 voters yang telah menghubungi

“Mohon doanya saja, niat tulus dati voters tersebut bisa memilih saya pada saat nanti kongres,” ucapnya.

“Mereka sih sudah menyampaikan karena mereka melihat visi misi saya di tempat masing-masing, kemudian niat saya, termasuk saya sampaikan tadi.”

“Saya akan memaksimalkan selama hidup saya, untuk kepentingan sepak bola Indonesia.

“Karena saya akan mengembalikan apa yang telah negara berikan kepada saya, kepada Pak Cucu untuk kembali kepada negara di bidang sepak bola,” bebernya.

Voters yang memberikan kepercayaan, lanjut Iwan Bule, sudah mencakup PSSI asosiasi provinsi dan klub-klub.

“Kalau Asprov cukup banyak, klub mungkin ada 23 klub, Asprov-nya Ada 20, sisanya ada di Liga 2,” ungkap Iwan Bule.

Namun, mantan Kapolda Metro Jaya itu pun mengaku pasrah bilamana para voter berubah pilihan ketika Kongres berlangsung.

“Sekali lagi kalau mempercayakan saya alhamdulillah, tapi kalau tidak pun saya nothing to lose. Akan saya berikan di bidang lain untuk negara,” paparnya.

Instruksi Presiden

Iwan Bule juga menjabarkan secara singkat mengenai Instruksi Presiden (Inpres) soal percepatan pembangunan persepakbolaan nasional.

Iwan Bule mengatakan, Presiden Joko Widodo kerap membahas khusus permasalahan sepak bola Indonesia.

Ia pun meyakini Inpres yang didukung oleh beberapa kementerian dan lembaga ini ke depan akan membuat persepakbolaan Indonesia lebih

“Kita juga bersyukur Bapak Presiden kita sangat memperhatikan sepak bola.”

“Saya dapat informasi beliau sudah beberapa kali rapat kabinet terbatas, berkaitan hanya khusus membahas bola,” papar Iwan Bule.

“Mari kita songsong apa yang diinginkan beliau kemajuan bola Indonesia.”

“Beliau sudah mengeluarkan Inpres Nomor 3 Tahun 2019 tentang percepatan kemajuan sepak bola Indonesia,” tambah Iwan.

Dalam Inpres tersebut, Presiden Jokowimenginstruksikan 12 menteri beserta para gubernur, bupati, dan wali kota, ambil bagian dalam percepatan peningkatan prestasi sepak bola nasional dan internasional.

Salah satu isi Inpres tersebut, para gubernur dan bupati atau wali kota agar mengalokasikan anggaran APBD untuk pembangunan sarana dan prasarana sepak bola di wilayah masing-masing.

“Itu item-nya sudah ada, dengan itu kita akan langsung berkoordinasi dengan kementerian terkait.”

“Ya nanti kapan KLB saya tidak tahu, yang jelas itu akan saya tindak lanjuti, karena leading sector-nya PSSI untuk bisa menyambut apa yang tertuang dalam inpres tersebut,” jelasnya.

Sebelumnya, hasil Kongres Luar Biasa di Hotel Mercure, Ancol pada 27 Juli 2019, menghasilkan percepatan pemilihan Ketum dan Exco baru untuk periode 2020-2024.

Pemilihan yang semula akan diadakan pada awal 2020, berkat kesepakatan bersama maka akan dihelat pada 2 November 2019. (Abdul Majid)

APBD dan Ruang Gelap Para Maling

Oleh : Yohanes Sehandi

Selama 10 tahun (1999-2009) menjadi anggota DPRD Provinsi NTT Fraksi PDI Perjuangan, saya senang bergelut dan mengotak-atik nomenklatur dan angka-angka rupiah dalam APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah). Pekerjaan yang sulit, tetapi harus dilakukan oleh seorang anggota Dewan.

Meskipun bukan sebagai Ketua Panitia Anggaran (Panggar) dan hanya sesekali menjadi Sekretaris Panggar, namun tugas sebagai anggota Dewan mengharuskan diri untuk akrab dengan angka-angka dan mempertanyakan dari mana asal-usul angka-angka dalam APBD itu.

Membaca dan memahami APBD memang tidak gampang, rumit, dan sulit. Terlalu banyak nomenklatur dan angka-angka rupiah. Jenisnya bermacam-macam. Dijilid dalam buku tebal-tebal, bahkan berjilid-jilid. Tumpukan APBD di meja anggota Dewan bisa menutupi wajah anggota Dewan.

Ada buku APBD berupa ringkasan, bisa tebalnya 200-300 halaman. Ada buku APBD lengkap, bisa tebalnya 1000-2000 halaman. Ada beberapa buku APBD berupa rincian/penjabaran angka-angka rupiah, tebalnya ribuan halaman. Ada bagian pendapatan, ada bagian belanja.

Siapa yang mau dan mampu membaca dan memahami buku APBD yang tebal ribuan halaman itu? Anggota Dewan yang ada di Fraksi dan Komisi hanya diberi waktu sekitar 1-2 minggu untuk membaca dan mencermatinya yang kemudian “berpendapat” atas APBD itu.

Sekali lagi, siapa anggota Dewan yang mampu? Jangankan anggota Dewan, Kepala Daerah dan Sekretaris Daerah sebagai Ketua Panggar Pemda saja, belum tentu menguasai APBD itu. Syukur-syukur kalau bisa membaca ringkasan APBD yang tebal 200-300 halaman itu.

Nah, pada titik inilah APBD menjadi ruang gelap pertarungan kepentingan berbagai pihak. Kepentingan yang baik untuk kesejahteraan rakyat dan kepentingan jahat untuk diri sendiri dan kelompok. Kalau dikelompokkan, minimal dibagi dalam tiga kelompok petarung APBD.

Pertama, kelompok eksekutif. Mulai dari Kepada Daerah, Sekretaris Daerah, para Kepala Dinas/Badan sampai para pegawai dan tenaga honorer yang mengimput data pada tubuh APBD itu. Kalau arahan dari Kepala Daerah/Sekretaris Daerah jelas, transparan dan terukur, kelompok eksekutif ini bisa “kompak” dan “solid” mempertanggungjawabkan APBD. Sebaliknya, kalau arahan tidak jelas dan transparan dan ada kepentingan “tersembunyi” dan niat jahat, maka jajaran eksekutuf ini akan menjadi batu sandungan bagi Kepala Daerah.

Kedua, kelompok legislatif. Kelompok ini rumit. Ada kepentingan Fraksi (Partai Politik), ada kepentingan Komisi, kepentingan Panggar, ada kepentingan pribadi dan kelompok anggota Dewan. Di sini pertarungan liar dan susah dikendalikan. Siapa kuat, dia dapat.

Ketiga, kelompok pengusaha. Ini pihak yang mencari keuntungan dari dana APBD, bisa untuk kepentingan baik, bisa sebaliknya. Kelompok ini bisanya lihai bermain. Mereka bermain di pihak eksekurif, juga di pihak legislatif. Ujung-ujungnya tendek proyek APBD jatuh ke tangan mereka.

Kareba begitu rumit dan penuh ruang gelap pada APBD, maka APBD menjadi arena pertarungan para maling. Oleh karena itu, Kepala Daerah “harus” menguasai ABBD-nya, karena dia penanggung tertinggi dan terakhir. Kalau tidak kuasai dan tidak kontrol APBD-nya, Kepala Daerah itu bisa terjungkal.

Untuk mengurangi ruang gelap APBD, maka “transparansi” menjadi kata kunci. Bentuk transparansi itu apa? Dengan menggunakan bantuan teknologi e-Budgeting, seperti yang dirintis oleh Jokowi di DKI Jakarta yang kemudian dilanjutkan Ahok-Djarot kemudian.

Kita bangga dan terharu dengan Ahok (BTP) yang menggunakan teknologi e-budgetibg, dan “menguasai” dengan rinci dan mengawasi dengan ketat APBD DKI Jakarta pada waktu menjadi Gubernur DKI Jakarta. Ditambah dengan hati Ahok yang bersih, jauh dari sifat maling, maka Ahok tetap berdiri tegak dan angkat muka tinggi-tinggi, dalam kondisi baik atau buruk. *

*) Penulis adalah Anggota DPRD NTT Periode 1999-2009

Peringati Hari Sumpah Pemuda, SMPN 4 Lembor Gelar Beraneka Lomba

KOMODOPOS.com-LEMBOR-
Memperingati Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober SMP Negeri 4 Lembor menggelar berbagai kategori lomba, yaitu, puisi, pidato, drama, tarian daerah/dance, vokal grup dan vokal tunggal. Kegiatan yang bertajuk “Aku, kau dan Indonesia” digelar di SMPN 4 Lembor, Rabu (30/10) kemarin.

Kepala SMP Negeri 4 Lembor, Selfiana Adim, S.Ag dalam sambutannya menegaskan, kaum muda merupakan agen perubahan dan pioner kemajuan bangsa ini.

“Setiap tahun, 28 Oktober selalu diperingati sebagi Hari Sumpah Pemuda. Tepat 91 tahun lalu, para pemuda Indonesia yang berasal dari beragam perkumpulan mengucap sumpah kebangsaan Indonesia. Mereka bersumpah, bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu. Semangat tersebut yang lantas selalu diperingati setiap tahun”, ujarnya.

Antusias siswa siswi dalam kegiatan ini sangat luar biasa, Mereka memgikuti seluruh lomba dengan baik. Juara 1 lomba diraih oleh siswa-siswi kelas VIIB. Seorang siswa kelas VIIB, Desna tampil memukau penonton saat ia menyampaikan pidato selama 5 menit.

Setiap pemenang lomba mendapat hadiah berupa uang pembinaan, untuk juara 1,2 dan 3 untuk merangsang kreatifitas, bakat dan minat para siswa.*(bet)

Laskar Puncak Tersingkir 2-3 Adu Pinalti vs SMPN 1 Komodo

KOMODOPOS.com-LABUAN BAJO-Laskar Puncak SMPN 2 Mbeliling akhirnya tersingkir dari Liga Pelajar Indonesia tingkat Kabuoaten Manggarai Barat 2019 setelah menderita kekalahan 1-3 dalam drama adu pinalti pada laga babak perdelapan final versus maestro buat bertahan SMPN 1 Komodo Labuan Bajo di lapangan SMPK A rnoldus Labuan Bajo, Jumat (1/11) petang.

Bermain imbang tanpa gol sepanjang 90 menit waktu normal. Skor kaca mata berlanjut hingga tambagan waktu 2 x 15 menit.

Terpantau melalui live video facebook Ferdinand Mocok, laga SMPN 1 Komodo vs SMPN 2 Mbeliling berlangsung sengit dan melelahkan. Sejak wasit meniup pluit kick off babak pertama, kedua tim tampil ofensif dan saling menggempur. Jual beli serangan berlangsung ketat. Variasi seramgan melalui long passing dan penetrasi satu dua sentuhan bola-bola pendek sangat menfhibur ribuan pasang mata.

Turun dengan performa terbaik, pasukan biru laut SMPN 1 Komodo mendominasi permainan pada menit-menit awal babak pertama. Penampilan squad sang juara bertahan didukung penuh ratusan supporter fanatiknya yang bersorak ria di pinggir lapangan pertandingan.
Walau demikian, laskar kuning-hitam SMPN W Mbebeling tak ingin didikte lawan. Skema counter attack yang dibangun tim besutan coach Hendra Bonang dan Felicianus Ovandi kerap kali mengancam gawang lawan. Tampak benteng pertahanan anak-anak Spensa kedodoran lantaran gempuran laskar puncak Mbeliling. Sayang, banyak peluang gol tercipta, namun tak satu pun yang dikonversi menjadi gol. Skor kaca mata bertahan hingga masuk ke ruang ganti.

Memasuki babak kedua, pasukan biru laut Komodo kembali menguasai permainan. Penetrasi bola-bola pendek dari lini ke lini menusuk jantung pertahanan laskar puncak Mbeliling. Gempuran tuan rumah selalu kandas lantaran garang dan kokohnya tembok pertahanan laskar puncak. Paceklik gol berlangsung hingga wasit meniup pluit akhir waktu normal.

Laga sengit ini dilanjutkan ke babak ekstra time 2×15 menit. Tempo permainan kedua tim tampak berjalan datar lantaran stamina terkuras. Sampai waktu berakhir, skor belum berubah. Imbang tanpa gol.

Laga fase knock out ini terpaksa harus diakhiri dengan drama adu pinalti. Petaka menerpa laskar puncak Mbeliling di masa kritis ini. Dari 5 eksekutor tendangan pinalti yang ditentukan, hanya satu tendangan yang sukses menggetarkan gawang lawan. 4 penentang lainnya gagal mengeksekusi tendangan pinalti.

Sebaliknya, bergerak menuju titik putih, anak-anak Spensa tanpil percaya diri tinggi. Hasilnya, 3 gol bersarang di gawang laskar puncak Mbeliling.

Meski kalah, pelatih SMPN 1 Komodo, Ervan Yurianto mengakui penampilan squad Laskar Puncak.

“Luar biasa penampilan SMPN 2 Mbeliling. Peluang cukup banyak juga SMPN 2 MBELILING tadi sampai kewalahan lini pertahanan belakang SMPN 1 Komodo. Kmi sangat mengakui kualitas pemain SMPN 2 Mbeliling”, ujar Ervan Yurianto. *(Robert Perkasa)

Maria Geong & Barat Daya Melamar Partai Demokrat

KOMODOPOS.com-LABUAN BAJO-drh. Maria Geong, P.hD mendaftar sebagai Bakal Calon Bupati di Sekretariat Partai Demokrat, Kamis (31/10). Pendaftaran kali ini, Maria Geong diwakili oleh pengurus DPC PDI Perjuangan Kabupaten Mabar dan sesepuh keluarganya. Tampak dalam rombongan, Basri dan Ardo Pampur dari PDI Perjuangan, Anggelus Abut, SH dan Marten Warus mewakili keluarga Maria Geong.

Bendahara DPC PDI Perjuangan Kabupaten Manggarai Barat, Basri mengemukakan hal tersebut ketika dikonfirmasi Komodopos.com, Jumat (1/11) pagi via Whatsapp.
“Pendaftaran ibu Maria Geong di sekretariat Partai Demokrat diwakilkan kepada pengurus DPC PDIP Mabar dan keluarga karena ibu Maria Geong sedang berada di Jakarta”, ujar Basri.

Ketua DPC Demokrat Mabar, Rikard Jani melalui panitia penerimaan pendaftaran bakal calon bupati/wakil bupati, Maksimilianus Maksi Jupir membenarkan Maria Geong telah resmi mendaftarkan diri sebagai bakal Calon Bupati di panitia pendaftaran Partai Demokrat.

“Betul. Ibu Maria Geong telah mendaftar diwakili oleh anggota keluarganya”, tutur Maksi saat dikonfirmasi Komodopos.com via Whatsapp, Jumat (1/11) pagi.

Maksi lebih lanjut menyebutkan 14 kandidat bakal calon telah mendaftar di partai Demokrat hingga Kamis (31/10). Ada 9 kandidat yang mendaftar sebagai Bakal Calon Bupati, yakni Ferdinandus Pantas,, Mateus Hamsi, Yosep S. Nggarang, Agustinus Tereng, Fransiskus Sukmaniara, Maria Geong, Wilfridus F. Pranda, Adrianus Garu dan Fransisko. A.D. Djemalu.

Sementara itu, ada 5 kandidat yang yang mendaftar sebagai Bakal Calon Wakil Bupati, yakni Petrus Elias Jemadu, Tobias Wanus, Fidelis Sukur, Bernadus Barat Daya dan Hj. Andi Riski Nur Cahya.

“Ada 3 paket bakal calon yang mendaftar secara pasangan, yaitu Ferdinandus Pantas-Elias Piet Djemadu, Agustinus Tereng-Fidelis Syukur dan Mateus Hamsi-Tobias Wanus. Sedangkan Bakal calon Bupati yang daftar secara perorangan, yakni Maria Geong, Fransisko Andriani Djaga Djemalu, Frans Sukmaniara, Adrianus Garu, Yosef Sampurna Nggarang, dan Fidelis Pranda,” terang Maksi.

Berita media ini sebelumnya, Maria Geong telah mendaftar sebagai Bakal Calon Bupati dan Bernadus Barat Daya mendaftar sebagai Bakal Calon Wakil Bupati di sejumlah parpol lainnya, yakni PDI Perjuangan, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Hanura Kabupaten Manggarai Barat (Mabar)

Selasa (29/10) Dr.Bernadus Barat Daya,SH.,MH, juga telah resmi mendaftar di partai Demokrat dan partai Hanura kabupaten Manggarai Barat. Sekira pukul 14.00 wita, Barat Daya dan rombongan keluarga tiba di kantor partai Demokrat yang terletak di kawasan Merombok desa Golo Bilas, kecamatan Komodo.

Mantan Ketua KPU Mabar itu diterima langsung oleh Ketua DPC Demokrat Mabar, Rikard Jani bersama para pengurus lain dan jajaran panitia penerimaan pendaftaran bakal calon bupati/wakil bupati.

“Sama seperti di partai Hanura, maka
di kantor rumah demokrasi (kantor partai Demokrat), kami juga diterima dengan sangat baik. Setelah penandatangan berita acara penerimaan berkas, ketua DPC Demokrat memandu diakusi dengan kami. Saya terkesan, pak Ketua Demokrat ini orang yang sangat rendah hati dan bersahaja. Saya mendapat cukup banyak masukan dari beliau. Terima kasih pak Ketua”, apresiasi Barat Daya kepada Ketua Demokrat Mabar.

Selasa (29/10) siang sekitar pukul 11.30 wita, Barat Daya dan keluarga menyambangi kantor partai Hanura yang terletak persis berhadapan dengan kantor KPUD Mabar.

Terpantau Komodopos.com, di pintu masuk, rombongan Barat Daya disambut meriah oleh jajaran pengurus partai Hanura dan panitia pendaftaran

Di teras kantor sebelum masuk ruangan, Ketua Panitia penjaringan sekaligus Sekretaris DPC partai Hanura Mabar, Emerensianus Nomer, mengalungkan kain selendang bermotif adat Manggarai kepada Bernadus Barat Daya sebagai tanda/sambutan pemerimaan. Setelah seremonial penyambutan, Mantan anggota DPRD Mabar periode 2009-2014 dan rombongan dihantar ke ruangan pendaftaran.

Sebelum penyerahan berkas, para panitia juga memberikan cindramata kepada Barat Daya berupa sebuah buku dan patung komodo. Seusai pemeriksaan berkas, selanjutnya sesi dialog dan diskusi.

“Saya sangat terharu dengan cara penerimaan yang luar biasa dari partai Hanura. Mereka sangat welcome dengan kami. Sebuah penyambutan yang hangat dan bersahabat”, ujar Barat Daya.
*(Robert Perkasa)

Maria Geong & Barat Daya Melamar Partai Demokrat

KOMODOPOS.com-LABUAN BAJO-drh. Maria Geong, P.hD mendaftar sebagai Bakal Calon Bupati di Sekretariat Partai Demokrat, Kamis (31/10). Pendaftaran kali ini, Maria Geong diwakili oleh pengurus DPC PDI Perjuangan Kabupaten Mabar dan sesepuh keluarganya. Tampak dalam rombongan, Basri dan Ardo Pampur dari PDI Perjuangan, Anggelus Abut, SH dan Marten Warus mewakili keluarga Maria Geong.

Bendahara DPC PDI Perjuangan Kabupaten Manggarai Barat, Basri mengemukakan hal tersebut ketika dikonfirmasi Komodopos.com, Jumat (1/11) pagi via Whatsapp.
“Pendaftaran ibu Maria Geong di sekretariat Partai Demokrat diwakilkan kepada pengurus DPC PDIP Mabar dan keluarga karena ibu Maria Geong sedang berada di Jakarta”, ujar Basri.

Berita media ini sebelumnya, Maria Geong telah mendaftar sebagai Bakal Calon Bupati dan Bernadus Barat Daya mendaftar sebagai Bakal Calon Wakil Bupati di sejumlah parpol lainnya, yakni PDI Perjuangan, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Hanura Kabupaten Manggarai Barat (Mabar)

Selasa (29/10) Dr.Bernadus Barat Daya,SH.,MH, juga telah resmi mendaftar di partai Demokrat dan partai Hanura kabupaten Manggarai Barat. Sekira pukul 14.00 wita, Barat Daya dan rombongan keluarga tiba di kantor partai Demokrat yang terletak di kawasan Merombok desa Golo Bilas, kecamatan Komodo.

Mantan Ketua KPU Mabar itu diterima langsung oleh Ketua DPC Demokrat Mabar, Rikard Jani bersama para pengurus lain dan jajaran panitia penerimaan pendaftaran bakal calon bupati/wakil bupati.

“Sama seperti di partai Hanura, di kantor rumah demokrasi (kantor partai Demokrat), kami juga diterima dengan sangat baik. Setelah penandatangan berita acara penerimaan berkas, ketua DPC Demokrat memandu diakusi dengan kami. Saya terkesan, pak Ketua Demokrat ini orang yang sangat rendah hati dan bersahaja. Saya mendapat cukup banyak masukan dari beliau. Terima kasih pak Ketua”, apresiasi Barat Daya kepada Ketua Demokrat Mabar.

Barat Daya Melamar Partai Hanura

Selasa (29/10) siang sekitar pukul 11.30 wita, Barat Daya dan keluarga menyambangi kantor partai Hanura yang terletak persis berhadapan dengan kantor KPUD Mabar.

Terpantau Komodopos.com, di pintu masuk, rombongan Barat Daya disambut meriah oleh jajaran pengurus partai Hanura dan panitia pendaftaran

Di teras kantor sebelum masuk ruangan, Ketua Panitia penjaringan sekaligus Sekretaris DPC partai Hanura Mabar, Emerensianus Nomer, mengalungkan kain selendang bermotif adat Manggarai kepada Bernadus Barat Daya sebagai tanda/sambutan pemerimaan. Setelah seremonial penyambutan, Mantan anggota DPRD Mabar periode 2009-2014 dan rombongan dihantar ke ruangan pendaftaran.

Sebelum penyerahan berkas, para panitia juga memberikan cindramata kepada Barat Daya berupa sebuah buku dan patung komodo. Seusai pemeriksaan berkas, selanjutnya sesi dialog dan diskusi.

“Saya sangat terharu dengan cara penerimaan yang luar biasa dari partai Hanura. Mereka sangat welcome dengan kami. Sebuah penyambutan yang hangat dan bersahabat”, ujar Barat Daya.
*(Robert Perkasa)