Puskemas Benteng Minta Pemerintah Desa Siapkan Ambulance Desa

KOMODOPOS.com-LABUAN BAJO-Unit Pelaksana Tugas Daerah (UPTD) Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Benteng, kecamatan Komodo, kabupaten Manggarai Barat meminta pemerintah desa untuk menyiapkan mobil ambulance desa. Jarak tempuh puluhan kilometer dari desa Golo Mori, desa Warloka dan desa Tiwu Nampar menuju Puskesmas Benteng menjadi penyebab ibu-ibu hamil di desa-desa tersebut enggan melahirkan di fasilitas kesehatan yang disiapkan pemerintah. Menurut data yang ada di Puskesmas Benteng, persoalan persalinan di fasilitas kesehatan masih sangat rendah terjadi di desa-desa tersebut.

Permintaan tersebut menjadi salah satu point penting kesepatan bersama pemerintah dan masyarakat desa Golo Mori dengan petugas kesehatan dari Puskesmas Benteng ketika menggelar kegiatan Survey Mawas Diri (SMD) dan Musyawarah Mufakat Desa (MMD) di kantor desa Golo Mori, kecamatan Komodo, kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Kamis (20/2).

Hadir mengikuti kegiatan tersebut pemerintah dan masyarakat deaa Golo Mori. Hadir pula sejumlah petugas kesehatan dari Puskesmas Benteng, Yuliana Yuyun, Florianus Yansi, Fransiskus Ngandeng, Muhamad Mardin dan Gregorius Sufani.

Kepala Puskesmas Benteng, Valentine Hibur, S.Kep mengungkapkan hal itu kepada Komodopos.com via Whatsapp usai mengikuti kegiatan tersebut, Kamis malam (20/2). Ia menjelaskan tujuan kegiatan tersebut diselenggarakan untuk bersama-sama pemerintan dan masyarakat desa Golo Mori mencari solusi terkait berbagai persoalan yang terjadi di desa itu.

“Berdasarkan data yang ada di Puskesmas Benteng, berbagai persoalan seperti persalinan di fasilitas kesehatan masih rendah. Pencapaian program Sanutasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) masih rendah. Sarana air bersih belum memadai. Banyak warga yang belum memiliki Kartu JKN dan KB serta masalah konsumsi rokok yang tinggi terjadi di desa Golo Mori”, jelas Valentinus.

Dari kegiatan tersebut menghasilkan sedikitnya tujuh point kesepakatan. Pertama, bagi anggota keluarga yang merokok tidak boleh merokok di dalam rumah, di depan ibu hamil, di depan bayi atau anak-anak juga di tempat unum.

Kedua, pemerentah desa dan petugas kesehatan akan mendata ulang keluarga yang tidak memiliki jamban.

Ketiga. bagi keluarga yang belum memiliki jamban akan dibangun/diselesaikan selambat-lambatnya pada bulan Desember 2020.

Keempat, pemerintah desa menyiapkan ambulance desa.

Kelima, suami dan keluarga wajib mendampingi ibu hamil untuk mengikuti kegiatan kelas ibu hamil, pemeriksaan ibu hamil dan USG ke dokter.

Keenam, pemerentah desa siap melayani SKTM bagi ibu hamil yang tidak memiliki JKN.

Ketujuh, masyarakat bersepakat untuk menyiapkan sarana CTPS, tempat sampah di rumah masing-masing dan menggali lubang pembuangan ahkir sampah.

Sebelumnya, Senin (10/2)
Puskesmas Benteng juga menggelar kegiatan lokakarya mini lintas sektoral di Kantor Puskesmas Benteng, desa Golo Pongkor. Hadir sebagai pemateri dalam kegiatan ini, Sekcam Komodo, Yohanes R.Gampur, utusan Dinas Kesehatan kabupaten Manggarai Barat, Maria I.S.Astuti Rodriques, fasilitator Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM tingkat kabupaten dan utusan BKBN,

Peserta yang hadir dalam Lokakarta ini para kader Posyandu, Ketua Desa Siaga, 7 kepala desa wilayah kerja Puskesmas Benteng, yakni kepala desa Golo Mori, desa Warloka, desa Tiwu Nampar, desa Golo Pongkor, desa Pantar, desa Compang Longgo dan desa Macang Tanggar, para tokoh masyarakat, tokoh agama dan para kepala sekolah di wilayah kerja Puskesmas Benteng.

Dalam sambutannya, Kepala Puskesmas Benteng, Valentinus Hibur, Amd.Kep menjelaskan kegiataan lokarkarya triwulan I digelar untuk membahas berbagai program kerja Puskesmas Benteng untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya.

Ia menambahkan, lokakarya ini juga diselenggarakan guna mendapatkan masukan, usul saran daripada pihak terkait supaya dapat mengatasi masalah kesehatan yang ada. Ia menyebut contoh kesehatan ibu hamil dan anak-anak balita.

“Kita ingin membangun kerja sama lintas sektoral demi meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Benteng”, ujar Valens.

Valens juga mengajak para ibu hamil di wilayah kerjanya agar mereka melahirkan di fasilitas kesehatan yang telah disediakan oleh pemerintah.

“Kami sangat mengharapkan komitmen pemerintah desa untuk menyediakan mobil ambulance desa agar para pasien cepat tertolong mengingat kondisi geografis wilayah selatan kecamatan Komodo. Masih ada beberapa desa yang sulit dijangkau kendaraan, terutama saat musim hujan”, terang Valens.

Dijelaskan pula, Puskesmas Benteng membangun kerjasama dengan pemerintah desa dan sejumlah pengusaha di tingkat desa, khususnya yang memiliki armada angkutan pedesaan di desa masing-masing supaya dapat membantu ibu-ibu hamil yang hendak melahirkan di fasilitas kesehatan yang tersedia.
*(Robert Perkasa)

Melintasi Rego : Kuteropong “Watu Timbang Raung” dari Pesawat Terbang

Oleh : Usman D. Ganggang *)

Tak terasa, pesawat yang kami tumpangi dari Ende, mencium kampung Rego Kecamatan Macang Pacar-Manggarai. Meski samar-samar, tokh Beo (=kampung) Rego, sudah kupastikan, Kengko-Rego , sering kulalui ketika masih duduk di SMA doeloe. Kalau ke Ruteng, terkadang saya ke Reo dulu untuk menjenguk ‘kae’ (kakak John Sodo sekeluarga) yang bertugas di sana. Nah, kalau ke Reo, praktis harus melewati KIengko-Rego.

Pesawat merendah, lalu kutoleh ke sebelah Barat, kuteropong Watu Timbang Raung. Ingin rasanya, mau memotret, tapi teringat larangan pramugari. akhirnya, terpaksa diurungkan. Meski begitu, penggelandangan imajinasiku merambat ke cerita legenda Watu Timbang Raung. Batu yang punya kisah-kasih sedih. Kisah itu, masih terngiang jelas dalam telinga dan tersimpan indah dalam relung hatiku.

Di tahun 1978 , kepada saya diceritakan almarhum Niko Simi, bahwa Watu Timbang itu merupakan batu yang punya kisah. Dulu, demikian Almarhum Niko adik kandung kae John Sodoi , ada seorang petani yang tidak bisa membayar utang padinya. Hingga pemilik pada jengkell. Pasalnya, sudah bertahun-tahun, tidak dibayar oleh petani yang berambut panjang. tetapi dia seorang laki-laki itu.

Kemarahan pemilik padi sampai puncaknya, akhirnya si petani berambut panjang itu dilaporkan kepada Tua adat setempat. Kata sepakat, tidak tercapai dalam urusan utang-piutang tersebut. Pemilik padi akhirnya memberi solusi, padi tidak usah dibayar, yang terpenting, si berambut panjang , memanjat ‘watu” (batu) hingga sampai di atas. Lalu, terus ke ujung bagian barat batu tersebut yang bentuknya seperti meja kecil. “Dia harus duduk di sana, lalu harus ‘rono’ (= celang: membersihkan rambut dengan isi kelapa yang berminyak).

Ujungnya, diterima , utang padi selesai , jika si rambut panjang itu mau. Hari H-nya tiba, si rambut panjang itu pun naik, dengan membawa ‘leke’ (tempurung) kelapa yang sdh diisi dengan kelapa yang sdh dikunyah. Sisir dan cermin dibawa pula. Ketika tiba di puncak dia terus ke ujung barat watu yang berbentuk meja tadi. Apa yang disepakati dilaksanakannya.Tapi selama melakukan semua yang sdh ditentukan, dia tidak mau melihat ke bawah. Pasalnya, jika dia lihat ke bawah, pasti langsung jatuh akibat dari gravitasi bumi. Maklum tinggi batu tidak main-main, piluhan meter.

Watu Timbang Raung, Bersama Hans Sodo, Bunda Neno, Sipri Angkom, Siprianus Adi Rambu; Robby Sodo. Foto : dari Kompas.Com/Usman D.Ganggang

Begitu selesai rono, tiba-tiba air matanya jatuh di kedua belah pipinya.Ia sedih,,” Gara – gara miskin, akhirnya tdk bisa membayar urang”. Air matanya yang banyak itu, jatuh, Hingga kini, di bagian bawah batu itu ada air.Banyak orang yang menangis ketika pelaksanaan pembayaran utang padi itu, Batu iu kemudian diberi nama “Watu Timbang Raung’ artinya Batu tempat mengadili orang yang berutang. Makna sederhananya adalah : watu = batu, timbang = menimbang; Raung = utang.

Cerita ini, terbawa hingga saya terbang menuju Labuanbajo. Begitu peswat mencium bandara Komdo, baru hilang itu cerita dalam otakku. Keluargaku yang jemput berteriiak, “Pua datang!” Mana oleh-oleh Amang” tanya yang lainnya. Aku pun pasang senyum ketika mereka merangkulku dengan mesra. ***

*) Usman D.Ganggang kelahiran Bambor-Kempo, Manggarai Barat. Kini berdomisili di Kota Kesultanan Bima, NTB.

Antisipasi Peningkatan DBD, Puskesmas Labuan Bajo Gencarkan Penyuluhan

KOMODOPOS,com-LABUAN BAJO-Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Labuan Bajo menggencarkan kegiatan penyuluhan kesehatan di berbagai wilayah kerja. baik di dalam kota Labuan Bajo maupun di luar kota. Gerakan preventif yang dilakukan itu dalam rangka menekan serendah mungkin potensi peningkatan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah kerja Puskesmas Labuan Bajo, kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

Kepala Puskesmas Labuan Bajo, Vinsensius Paul, S.Kep mengemukakan hal itu kepada Komodopos.com melalu Whatsapp, Kamis malam (20/2).

“Sehubungan dengan adanya trend peningkatan Kasus DBD pada beberapa Kelurahan/ desa di wilayah kerja Puskesmas Labuan Bajo, pihaknya telah membentuk Tim Upaya Kesehatan Masyarakat (Tim UKM). Tim ini kemudian melakukan penyuluhan di berbagai desa/kelurahan yang menjadi wilayah kerja pelayanan Puskesmas Labuan Bajo”, terang Vinsen Paul

Vinsen menjelaskan, hari ini, Kamis, (20/2) Tim UKM menyelenggarakan kegiatan penyuluhan dan pemberian informasi kesehatan tentang Penyakit DBD kepada kelompok asrama sekolah di desa Nggorang. kecamatan Komodo.

Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Kepala Puskesmas Labuan Bajo, Vinsensius Paul,S.Kep. Hadir juga sebagai pemateri dalam kegiatan penyuluhan, dr. Magareth Juet, Emilia Nulda,SKM, dan Lidya Vinsensia, A.Md.Keb. Jumlah peserta yang hadir dalam kegiatan itu sebanyak 100 siswa/siswi dari sejumlah sekolah yang ada di desa Nggorang.

Berita Komodopos.com sebelumnya,
Kegiatan penyuluhan kesehatan serupa juga dilakukan di dua lokasi di kota Labuan Bajo, yakni di asrama St.Arnoldus dan asrama SSPS kelurahan Wae Kelambu, kecamatam Komodo, Labuan Bajo, Selasa (4/2).

Tim penyuluhan kesehatan Puskesmas Labuan Bajo bekerja sama dengan Dinas Kesehatan kabupaten Manggarai Barat dan pemerintah kecamatan Komodo memberikan penyuluhan kesehatan, kepada ratusan siswa-siswi SLTP dan SLTA yang menghuni dua asrama tersebut.

Para siswa-siswi dari sejumlah sekolah di desa Nggorang ikut penyuluhan kesehatan yang diselenggarakan Puskesmas Labuan Bajo. Foto : Dok. Kepala Puskesmas Labuan Bajo, Vinsensius Paul, S.Kep

Kegiatan penyuluhan yang dipimpin langsung oleh kepala Puskesmas Labuan Bajo, Vinsensius Paul,S.Kep. Hadir memberikan penyuluhan, dr. Gusti K. Nunu bersama tim simulasi dari Puskesmas Labuan Bajo yang berjumlah 18 orang.

“Materi penyuluhan tentang Demam Berdarah Dengue dan kesehatan reproduksi remaja kepada anak-anak Asrama Arnoldus 200 siswa dan waktu yang bersamaan juga dilakukan penyuluhan yang sama kepada kelompok anak Asrama SSPS sejumlah 100 orang”, ujar Vinsen Paul. *(Robert Perkasa)

Pohon Tumbang di Ruas Jalan Trans Labuan Bajo-Ruteng

KOMODOPOS.com-MBELILING-Sebatang pohon kayu tumbang menimpa badan jalan hingga sempat mengganggu kelancaran arus lalulintas kendaraan roda 4. Kejadian ini tepatnya di sekitar Ceko Bobo, desa Tondong Belang, kecamatan Mbeliling ruas jalan trans Flores jalur Labuan Bajo – Ruteng, Kamis (20/2) sekira pukul 11.00 Wita.

Kepala Desa Tondong Belang, Fransiskus Saverius Vidi saat dikonfirmasi Komodopos.com melalui Whatsapp belum memberikan tanggapan terkait kejadian tersebut.

Namun keterangan tentang dihimpun dari Icard Nando, saksi mata di lokasi kejadian ini menuturkan, pohon kayu tumbang akibat diterpa angin disertai hujan lebat sepanjang malam hingga saat kejadian.

“Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini. Pohon kayu ini rumbang hingga menutupi badan jalan. Kejadiannya pas hujan deras sekitar jam 11 lewat. Saya dan beberapa teman kerja dari ekolotdge memotong kayu menggunakan, parang, dan mesin sensor”, tuturnya.

Foto : Icard Nando, saksi mata di lokasi kejadian

Ia menambahkan, saat kejadian itu, kendaraan roda 4 tidak bisa melintas karena terhalang dahan kayu. Hanya kendaraan roda dua yang bisa melintas.

Pantauan Komodopos.com di lokasi kejadian beberapa jam kemudian arus transportasi darat Ruteng-labuan Bajo terpantau normal kembali. * (Robert Perkasa)

BMKG Survey Lokasi Shelter Gempa di Desa Wae Lolos

KOMODOPOS.com–SANO NGGOANG–Aditya H. Ludjinguru
Yosse F. Mesin dan Muhammad Nazarudin, Tim Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Kabupaten Manggarai Barat melakukan survey lokasi shelter seismik (tempat pencatatan seismograf) gempa bumi di desa Wae Lolos, kecamatan Sano Nggoang, kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Kamis (20/2).

“Tujuan tim BMKG ke desa Wae Lolos untuk survei lokasi rencana pembangunan shelter seismik gempa bumi BMKG”, kata Kepala desa Wae Lolos, Gervinus Tony.

Kades Gervinus menerima kunjungan tim BMKG Manggarai Barat di kantor desa Wae Lolos di Langgo. Dari kantor desa, tim BMKG didampingi Kades Wae Lolos melakukan survey di dusun Langgo.

Saat melakukan survey, Aditya H. Ludjinguru menyebutkan ada 4 titik/ tempat yang memenuhi syarat untuk dibangun Shelter gempa bumi di kabupaten Manggarai Barat. Keempat titik itu ada di desa Wae Lolos, kecamatan Sano Nggoang, satu titik di kecamatan Mbeliling, Lembor dan kecamatan Kuwus.

“Shelter ini dibangun di 4 titik tersebut untuk singkronisai gempa yang terjadi d daerah pedalaman sehingga terkoneksi dengan kantor BMKG Pusat, Dengan Shelter seismik itu bisa memastikan atau mencatat persis letak dan kekuatan gempa sesungguhnya”, jelas Aditya.

Kepala BKMG Kabupaten Manggarai Barat, Sti Nenot’ek, S.Si.,M.Si membenarkan tim BMKG sedang melakukan survey di desa Wae Lolos.

“Selamat sore juga pak, Iya betul itu tim survey dari Stasiun Geofisika Kupang dan Satasiun Meteorologi Komodo Manggarai Barat untuk pemasangan shelter seismic (alat pendeteksi gempa bumi dan tsunami). Untuk tahun ini di Kabupaten Manggarai Barat direncanakan dipasang 4 shelter seismic, untuk 3 shelter yang lainnya dipasang di Kecamatan Komodo, Kecamatan Mbeliling dan Kecamatan Kuwus”, ujarnya menjawab konfirmasi Komodopos.com via messenger, Kamis (20/2).

Dari survey hari ini bersama tim BMKG, Kades Gervinus Toni menyebutkan lokasi Shelter gempa yang hendak dibangun di desa Wae Lolos terletak di dekat Masjid Langgo dengan ukuran 5×5 meter.

“Di titik tersebut akan dibangun shelter gempa di area terbuka dan hanya dipagari”, jelasnya. *(Robert Perkasa )

Warga Dusun Langgo Bersihkan Ruas Jalan Simpang Langgo -Werang

KOMODOPOS.com-SANO NGGOANG-Puluhan warga Dusun Langgo, desa Wae Lolos, kecamatan Sano Nggoang melakukan aksi gotong royong membersihkan ruas jalan Simpang Langgo menuju Werang, ibukota kecamatan Sano Nggoang, Selasa (18/2).

Ketua RT 01/RW 01 Langgo, Maksimus Hambur menjelaskan, aksi gotong royong itu merupakan implementasi program bulan bakti desa Wae Lolos. Sebelumnya aksi yang sama juga telah dilakukan oleh warga di dusun Rangat, dusun Tembel dan dusun Ndengo di ruas jalan yang sama.

“Bakti sosial ini dibagi per dusun di wilayah desa wisata Wae Lolos. Lokasi bakti sosial ini kita lakukan di ruas jalan Cabang Langgo -Werang”, kata Maksi Hambur.

Ia menambahkan, ruas jalan te rsebut merupakan jalan pariwisata menuju ke sejumlah destinasi wisata yang ada di kecamatan Sano Nggoang. Antara lain air terjun Cunca Lolos, wisata rohani Puncak Toto Nini, Air terjun Cunca Rami dan Danau Sano Nggoang.

Dusun Langgo merupakan pintu gerbang menuju ke sejumlah destinasi wisata tersebut. Setiap hari para wisatawan mancanegara maupun turis domestik ramai melintasi ruas jalan tersebut.

Terpantau Komodopos.com, bakti sosial warga dusun Langgo dimulai dari Wae Paku perbatasan dusun Rangat hingga simpang Langgo. *(Robert Perkasa)

Kisah Pemuda 24 Tahun Raja Ndege (Porang) Manggarai Barat (Bagian -1)

KOMODOPOS.com-SANO NGGOANG-Ignasius Musa (24). Pemuda dusun Rangat, desa Wae Lolos, kecamatan Sano Nggoang, kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

Ia lahir di kampung Rangat 24 tahun silam, tepatnya pada 28 Maret 1995. Namun sangat menyedihkan, tangisan pertamanya merupakan tangisan perpisahan selamanya dengan sang ibunya, Maria Afila. Kabut duka menyelimuti bayi ini ketika ibunya meninggal dunia sesaat Mus dilahirkan ke dunia ini. Anak laki-laki itu pun hidup yatim sejak hari pertama dilahirkan.

Ia anak bungsu dari dua bersaudara dari ayah Hermanus Adi dan ibu Maria Afila (almarhum) asal kampung Rungkam, desa Tanjung Boleng, kecamatan Boleng. Kakak kandungnya bernama Jeny (kini sudah berumahtangga).

Sepeninggal ibunya, Jeny dan Mus tinggal bersama sang ayah dan ibu tiri, Felomena Jau, asal Lempe-Damot/Poco Dedeng, kecamatan Lembor.

Dua tahun usianya , dukacita kembali merundung kedua anak itu. Tepatnya pada 11 Nopember 1997, ayah mereka pergi selamanya. Meninggalkan Jeny dan Mus sebatang kara. Ayah mereka meninggal dunia dalam kecelakaan lalu lintas di ruas jalan Werang-Bambor, tepatnya di sekitar kampung Lara.

Sejak saat itulah kedua anak itu hidup yatim piatu. Beruntung mereka masih punya banyak keluarga di kamoung itu. Jeny dan Mus tinggal bersama mama tiri. Juga masih ada bapa kecil (adik kandung ayah) opa-oma tanta serta keluarga dekat mereka di kampung Rangat.

7 tahun kemudian, Mus masuk sekolah dasar SDN Rangat. Mus salah satu dari sekian murid menjadi angkatan pertama di kala SDN Rangat berdiri. Se telah tamat SD, Mus kemudian masuk SMP Negeri 1 Tondong Raja, kecamatan Mbeliling sekarang. Pada saat kelas 3 SMP ia sering sakit hingga tidak sempat mengikuti ujian akhir di sekolah tersebut.

Sejak saat itu hingga kini, Mus tinggal di kampung Rangat. Berkerja sebagai petani. Sementara kakak kandungnya, Jeny telah menikah dengan orang Nuri-Kempo, desa Kempo, kecamatan Mbeliling. (Robert Perkasa) bersambung

Bupati Gusti Dula : KTT G20 di Tana Mori Bukti Labuan Bajo Layak di Mata Dunia

“Jadi intinya Pemerintap Pusat yang menetapkan tempat itu. Bagi saya, yang terpenting akan ada pembangunqn sarana prasarana yang tentunya akan sangat mendukung Pariwisata Labuah Bajo Kelas Dunia”.

KOMODOPOS.com-LABUAN BAJO-Bupati Manggarai Barat, Drs.Agustinus Ch.Dula mengemukakan, pemerintah pusat menetapkan Tana Mori, kawasan selatan desa Golo Mori, kecamatan Komodo, kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur sebagai tempat penyelenggaraan KTT G20 dan Asean Summit tahun 2023 mendatang. Forum G 20 itu adalah pertemuan besar para ekonom negara-negara untuk membicarakan perekonomian dunia. Pemerintah Indoneia menjadi tuan rumah.

Kawasan Tana.Mori arah selatan desa Golo Mori, kecamatan Komodo. Foto : istimewa

“Pertanyaan saya kenapa tidak di Jakarta atau di tempat lain di Republik Indonesia? Jadi jangankan mengusulkan, dengar arahan atau info saja. Bupati Mabar tidak tahu tentang rencana ini. Tiba-tiba akan ada G 20 di Tana Mori Manggarai Barat. Apalagi Tana Mori selelah Sok Nar itu masih hutan belukar. Jadi intinya Pemerintag Pusat yang menetapkan tempat itu. Bagi saya, yang terpenting akan ada pembangunqn sarana prasarana yang tentunya akan sangat mendukung Pariwisata Labuan Bajo kelas dunia.”, kata Bupati Gusti Dula saat dikonfirmasi Komodopos.com via Whatsapp, Selasa (18/2).

Bupati Mabar dua periode itu menambahkan, ketika pemerintah pusat menunjuk Tana Mori sebagai tempat penyelenggaraan forum internasional, itu berarti Labuan Bajo kota yang dipandang cukup layak memenuhi persyaratan menampung peserta rapat ribuan orang.. Cukup kawasan yang menarik dan juga persayaratan amenitas atau hospitality lainnya..

Terkait persiapan infrastruktur yang menunjang penyelenggaraan kegiatan internasional tersebut, Bupati Gusti Dula mengungkapkan
tahun 2020 pelaksanaan pembangunan infrastruktur jalan hotmix selebar 20 m dari Labuan Bajo ke Tana Mori.

“Tahun. 2020 sudah mulai pelaksanaan pembangunan dengan mematok jalan hot mix lebar 20 meter dariLabuan Bajo ke Tana Mori”, ujarnya.

Bupati Mabar, Drs. Agustinus Ch.Dula dan Kadis PUPR Mabar, Ir.Oktavianus Andi Bona saat mengunjungi desa Golo Mori beberapa waktu lalu. Foto ; Dok.Dinas PUPR Mabar.

Sosialisasi

Berita Komodopos.com sebelumnya, Kepala Dinas PUPR Kabuoaten Manggarai Barat, Ir
Oktavianus Andi Bona menambahkan, dalam waktu dekat pihaknya turun sosialisasi kepada masyrakat terkait rencana pengerjaan jalan tersebut. Sosialisasi ini penting dilakukan karena lebar jalan yang dibutuhkan total 20 m. Jika masyarakat yang tinggal di sepanjang ruas jalan Simpang Pede-Nanga Na’e – Mbrata – Nalis – Cumbi – Kenari – Golo Mori sepakat, maka pihaknya siap memulai.

“Rencana begitu, kalau masyrakat sepanjang ruas jlalan tersebut setuju. Dalam waktu dekat saya turun sosialisasi kepada masyrakat karena lebar jlalan yang dibutuhkan total 20 m. Akan tetapi kalau masyarakat di sana tidak sepakat, maka kita rubah trasenya ke trase lama, yakni dari Simpang Pede atau dari Nggorang”, kata Ovan Adu saat dikonfirmaai Komodopos.com via Whatsapp, Sabtu siang (15/2).

Menurut Ovan Adu, ruas jalan tersebut lebih pendek, hanya 32 Km. Selain itu, ruas ini juga dapat dimaanfaatkan untuk akses menuju TPA Warloka karena lebih singkat
ketimbang dari Simpang Pede – Nanga Na’e – Mbrata – Lemes – Kacai – Mbuhung – Kenari – Golo Mori – hingga kawasan KEK Tanah Mori sepanjang 36 km atau dari Simpang Nggorang – Tanah Dereng – Roang – Benteng – Lemes – Kacai – Mbuhung – Kenari – Golo Mori – hingga kawasan KEK Tanah Mori sepanjang 39 km. *(Robert Perkasa)

Kemenkominfo Gelar Kegiatan Pojok Literasi Milenial Cerdas Peduli Sampah

KOMODOPOS.com-LABUAN BAJO-Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) bekerja sama dengan Pemerintah Kab. Manggarai Barat menggelar kegiatan Pojok Literasi “Milenial Cerdas Labuan Bajo Peduli Sampah”. Kegiatan tersebut diselenggarakan di Gedung Serbaguna D’ Aj Hall,
Komplek SMAK St. Ignatius Loyola, Jl. Van Bekkum No. 1, Labuan Bajo, Selasa, (18/2) pukul 13.00 Wita.

Dalam undangan yang diterima Komodopos.com dari dari Panitia Pojok Literasi Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik
Kementerian Kominfo.

Keynote Speech dalam kegiatan lini ialah Prof.Dr. Widodo Muktiyo, SE, M.Com, Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Kemenkominfo.

Hadir sebagai narasumber dalam kegiatan ini, Bupati Manggarai Barat, Drs. Agustinus Ch. Dula sekaligus membuka secara resmi.kegiatan tersebut.
Hadir juga sejumlah narasumber yang lain, Septriana Tangkary, SE, MM (Direktur Informasi dan Komunikasi Perekonomian dan Maritim Kominfo RI), Ujang Solihin Sidik (Kasubdit Barang dan Kemasan, KLHK), Didi Kaspi Kasim (Editor in Chief National Geographic Indonesia) dan Abdul Jangkung (Laskar Peduli Kebersihan Kota Labuan Bajo).

Sedangkan moderator kegiatan ialah Ir. Dominikus Damsut, Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Manggarai Barat. *(Robert Perkasa)

Promosi Desa Wisata Butuh Infrastruktur Jalan Memadai

KOMODOPOS.com-LABUAN BAJO-Promosi kepariwisataan yang masif harus diikuti dengan pembangunan infrastruktur jalan yang gencar. Selain jalan, jaringan komunikasi di desa-desa wisata juga harus tersedia. . Apa gunanya desa wisata jika akses jalan ke sana tidak ada atau ada tapi kondisinya buruk. Agar para wisatawan betah saat berada di sana, perlu juga menyiapkan jaringan komunikasi (internet) di desa-desa wisata itu. Sebab, kondisi jalan raya dan jaringan komunikasi yang buruk menjadi kendala utama dan keluhan para wisatawan selama ini.

Demikian intisari pendapat para warganet yang dirangkum dari berbagai grup Facebook menanggapi berita Komodopos.com tentang 68 desa wisata yang telah dilegitimasi oleh pemerintah kabupaten Manggarai Barat.

Berita Komodopos.com sebelumnya,
Bupati Manggarai Barat, Drs.Agustinus Ch.Dula menetapkan 67 desa dan 1 kelurahan dari total 169 desa di kabupaten Mabar menjadi desa wisata. Penetapan 68 desa wisata itu tertuang dalam Keputusan Bupati Manggarai Barat Nomor : 27/KEP/HK/2020 Tentang Perubahan Keputusan Bupati Manggarai Barat, Drs.Agustinus Ch.Dula Nomor : 90/KEP/HK/2019 Tentang Penetapan Desa Wisata di Kabupaten Manggarai Barat tanggal 23 Januari 2020.

Ruas Jalan menuju destinasi wisata Istana Ular di desa wisata Galang, kecamatan Welak. Foto : istimewa/Google

Rincian per kecamatan, 12 Desa tersebar di kecamatan Komodo. 8 desa di kecamatan Mbeliling. 6 desa di kecamatan Sano Nggoang. 5 desa di kecamatan Lembor. 3 desa di kecamatan Lembor Selatan. 4 desa di kecamatan Boleng. 7 desa di kecamatan Pacar. 10 desa di kecamatan Macang Pacar. 4 desa di kecamatan Welak. 2 desa di kecamatan Ndoso. 3 desa dan 1 kelurahan di kecamatan Kuwus. 3 desa di kecamatan Kuwus Barat.

Berikut rangkuman beragam tanggapan netizen yang diunggah melalui media sosial grup Facebook ;

FB@Melqmetlando Yarno##
Satu hal yang paling penting untuk menunjang keberhasilan mempromosikan obyek wisata tersebut pak Bupati, yaitu infrastruktur (jalan) yang dapat memudahkan akses pengunjung ke sana. Semoga dengan berkembangnya potensi wisata di Mabar bisa membuka mata lebih lebar untuk melihat kondisi Mabar di luar Labuan Bajo.

FB@Jeremy##
Mantap, Tapi mestinya harus dilanjutkan dengan pembangunan infrastruktur yang baik ke desa-desa tersebut, khususnya menuju lokasi obyek wisata. Jika tidak, percuma ada banyak.

FB@Gesper Yakuze##
Destinasi wisatanya mungkin sudah bagus tapi apakah aksesnya dan pengelolaanya ke depan akankah berdampak baik bagi masyarakat setempat??? Semoga pihak yang terkait sudah memikirkan itu sebelumnya…. Biar tidak seperti pepatah hanya bisa memberi tapi tidak ada kontribusi buat daerah itu sendiri.
#salamanakrantau

FB@Lang Bupek##
Pemda lamban dalam mempromosikn wisata…Banyak hal yang harus diperbaiki, terutama jalan penghubung….perlu perubahan total.

FB@Yohanes Romik##
Banyak sebenarnya aset wisata Mabar tapi terkendala oleh akses ke tempat tujuan wisata.

FB@Ririn Tahun##
Untuk mengedepankan kepariwisataannya, utamakan dulu infrastrukturnya. Agar bisa terakses dengan baik. #salam suara milenial.

Warga perbaiki ruas jalan yang tertimbun longsor di desa wisata Watu Umpu, kecamatan Welak. Foto : istimewa

FB@Dyon Dola##
Percuma banyak desa wisata di Mabar kalau pemerintah tidak ldengar keluhan masyarakat soal jalan.

FB@Hendrayanto Pantun##
Yang terpenting tidak hanya orang-orang tertentu saja yang mengelola.
Baik adanya jika semua masyarakat diikutsertakan untuk kreatif. Mantap.

FB@Vian Hendra##
Masih banyak tempat wisata yg unik dan kren di desa Waning, kecamatan Ndoso. Hanya saja akses untuk ke sana masih susah.. *(Robert Perkasa)