Menengok Wajah Pastoral Paroki Tua Keuskupan Ruteng

Tampak dalam gambar Pastor Paroki Poka, Rm Antonius Latu Batara, Pr sedang melaporkan evaluasi kegiatan pastoral.Tahun Pelayanan 2019 Kevikepan Ruteng. Foto : Dok.Litbang Puspas Keuskupan Ruteng

“Di atas semua itu, ada usaha besar yang sedang kita kerjakan untuk membuat Pastoral di Keuskupan Ruteng dikelola dengan satu manajemen pastoral yang dapat dipertanggungjawabkan, efisien, akuntabel dan modern”, (Rm. Edy Djelahu, Pr., Kepala Litbang Puspas Keuskupan Ruteng)

KOMODOPOS.com-LABUAN BAJO-Ada hal menarik yang terjadi sepanjang tahun Pelayanan 2019 di Keuskupan Ruteng. Hal menarik itu adalah tentang pencapaian kinerja pastoral di sejumlah paroki SVD dan sejumlah paroki lainnya yang rata-rata berusia tua namun dilaporkan minim peringkat. Hal menarik ini terungkap ketika Keuskupan Ruteng menggelar Sidang Pastoral Tahunan di Wisma Efata Ruteng, kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, pekan lalu, 6-10 Januari 2020. Sidang ini bertujuan untuk melakukan evaluasi kinerja pastoral tahun Pelayanan 2019 dan merancang bersama program pastoral yang akan diimplementasikan pada Tahun Penggembalaan 2020 di 86 Paroki se-Keuskupan Ruteng.

Berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi Tim Penelitian dan Pengembangan (litbang) Pusat Pastoral (Puspas) Keusukupan Ruteng yang diumumkan dalam forum itu, hanya satu dari 6 Paroki SVD yang meraih peringkat 5 di tingkat Kevikepan Reo dan peringkat 11 tingkat Keuskupan Ruteng, yakni Paroki Lengko Ajang. Sedangkan kelima Paroki SVD lainnya, Rekas berada di peringkat (57), Paroki Redong (55) paroki Lengko Elar (55), paroki Mombok (44) dan paroki Golo Dukal (49). Selain itu ada pula Paroki yang sebelumnya meraih peringkat 10 besar namun kini terdepak ke posisi buncit. Sebaliknya ada juga Paroki yang sebelumnya berkinerja kurang membanggakan, kini bertengger di posisi 10 besar. Sementara itu, pencapaian kinerja pastoral membanggakan justru diraih oleh paroki-paroki yang rata-rata masih berusia muda. Adakah relevansi usia tua-muda berbanding lurus dengan hasil kinerja pastoral di paroki-paroki tersebut?

Ataukah pencapaian kinerja baik dipengaruhi oleh karena sistem dan tata kelola serta manajemen pastoral yang sehat? Demikian sebaliknya. Atau disebabkan karena postur anggaran yang kembang-kempis? Sarana dan prasarana yang minim? Atau SDM di Paroki yang menjadi kendala? Lalu pembenahan seperti apa yang mesti dilakukan untuk memperbaiki peringkat yang ada agar lebih membanggakan di hari yang akan datang? Lebih jauh dari itu semua agar tugas perutusan Gereja menggembalakan dombanya berjalan sebagaimana yang dicita-citakan bersama, baik oleh gembala tertabis maupun gembala terbaptis.

Simak wawancara eksklusif
Wartawan Komodopos.com, Robert Perkasa dengan Kepala Litbang Puspas Keuskupan Ruteng, Rm. Edy Djelahu, Pr. yang ditemui di Pastoran Kevikepan Labuan Bajo. Rabu pagi (15/1/2020) sekitar pukul 08.00 Wita.

Komodo Pos (KP) : Romo, sebagai umat Gereja Katolik kami tentu ingin mengetahui perkembangan Keuskupan Ruteng melalui data yang disodorkan oleh Litbang Puspas. Sejak kapan Badan Litbang Keuskupan Ruteng bekerja?

Rm. Edy Djelahu, Pr.(ED) : Saya mulai bekerja sebagai Kepala Litbang Puspas Keuskupan Ruteng sejak 2012 silam. Bersama tim yang ada, kami mulai bekerja.

KP : Apa saja tugasnya?

ED : Sasaran kita menciptakan sistem kerja yang terencana lalu dilakukan dengan terukur dan bisa dipertanggungjawabkan. Itu hal-hal prinsip yang coba kita jalankan. Dan ternyata itu tidak gampang. Kita mulai awal dengan sekian tekanan yang menuntut terlalu besar.

KP : Apa bentuk tekanan itu, Romo?

ED : Ternyata banyak Paroki yang tidak siap. Tidak siap diaudit dan macam-macam. Terutama berkaitan dengan sistem tata kelola dan manajemen yang ada di paroki-paroki. Lalu setiap paroki memiliki tata kelola sendiri. Ada yang dikelola sendiri oleh Pastor Parokinya. Ada juga yang dikelola sudah bagus dengan melibatkan Dewan Pengurus Paroki dan seterusnya. Ada juga pertanggungjawabannya baik programnya maupun budjetingnya. Tetapi ada juga Paroki yang sama sekali tidak. Mengalir begitu saja. Saat itu kami juga menemukan fakta bahwa Pastoralnya yang liturgis sentris.

KP : Pastoral liturgis sentris, maksudnya bagaimana, Romo?

ED : Urusan Pastor Parokinya hanya Misa. Hanya Doa. Demikian juga DPP dan Pengurus KBG nya. Hanya doa. Pastoral kita hanya sekitar liturgi. Dan lebih buruk lagi karena liturgi yang ritual. Ritualnya saja. Tapi bagaimana liturgis sebagai perjumpaan iman antara Allah dengan manusia, itu tidak terukur. Bahwa kita pergi ke Gereja lalu kudus. Tapi apakah orang ini beriman? Pertanyaan itu muncul karena meskipun rajin ke Gereja tapi perilaku buruknya tetap. Kita melihat itu terjadi karena pastoral kita ritualistik.

KP : Idealnya seperti apa, Romo?

ED : Idealnya pastoral kita itu harus utuh. Jangan hanya liturgis saja. Harus utuh mengurus 5 bidang pemutusan Gereja. Yakni mewartakan (katekese), menguduskan (liturgi), persekutuan (kebersamaan/persaudataan), pelayanan (diakonia) dan martir (kesaksian hidup). Kelima elemen ini harus berjalan beriringan, simultan dalam kehidupan iman umat. Nah sekarang bagaimana itu dilaksanakan dalam model-model Pastoral seperti ini diterapkan di Paroki-paroki? Ini yang tidak terukur. Tidak ada gerak bersama juga.

Lalu kemudian kita belajar dari Sinode I dan Sinode II saya juga ikut. Setelah kita mendapat semua poin-poin bernas yang bagus dalam proses Sinode itu dibukukan lalu dibagikan kepada Pastor-pastor Paroki dengan DPP dan seterusnya. Terus apa? Paroki-paroki harus mengimplementasikan itu sendiri? Bagaimana mereka menjalani itu?

Banyak yang saya lihat itu hanya indah di dokumen. Simpan. Mereka kembali ke Paroki seperti pada permulaan, sekarang dan selalu begitu terus. Boleh kita berteori banyak saat bersinode tetapi bagaimana pada implementasinya? Tidak jalan.

KP : Lalu bagaimana Litbang Puspas Keuskupan Ruteng membenahi hal-hal yang Romo paparkan tadi agar dapat terukur?

ED : Itu yang kemudian menguat dalam proses kita di Sinode III. Kita tidak mau Sinode yang kita lakukan dengan biaya besar dan dipersiapkan dengan menguras tenaga banyak lalu hanya sebagai dokumen yang disimpan di laci Pastoran. Karena itu kita berusaha supaya semua poin hasil Sinode bisa dijalankan.

Pemikiran itu yang kemudian membuat kita merancang satu strategi dari Puspas untuk membantu teman-teman di Paroki supaya fokus mengimplementasikan rekomendasi Sinode itu. Apapun yang kita sudah sepakat dalam Sinode berkaitan 5 bidang tugas perutusan Gereja bisa dijalankan.

Lalu kini bagaimana kita menjalankannya dengan konteks Pastoral Paroki yang berbeda-beda. Paroki Rekas tidak sama dengan paroki Poka. Paroki Poka tidak sama dengan Paroki Sok Rutung. Paroki Sok Rutung beda dengan Paroki Roh Kudus Labuan Bajo. Sementara di sisi yang lain, kita perlu mengukur dan melihat gerak bersama. Karena itu kita sepakat dalam Sinode III ada gerak bersama. Ada program pastoral tertentu yang wajib kita jalankan. Yang lain silahkan dikreasi oleh Paroki-paroki. Tetapi yang wajib dilaksanakan adalah poin-poin ini. Dan itu semua kita sepakat.

KP : Poin-poin apa saja hasil Sinode yang wajib dijalankan bersama?

ED : Itu banyak sesuai dengan tahunnya. Misalnya Sinode tahun 2013-2015 Ada banyak sekali rekomendasi. Dokumen itu besar. Sudah jadi buku dan telah dibagikan kepada semua Paroki. Dan pastoral kita mengacu kepada dokumen itu.

KP ; Apa saja isi dokumen itu, Romo?

ED : Dokumen itu sebenarnya adalah rencana induk pengembangan Pastoral Keuskupan Ruteng. Karena itu, apapun yang kita lakukan di Paroki, acuannya dokumen itu. Di dokumen itu sudah ada semua konteks persoalannya termasuk jalan keluar sampai solusi Pastoralnya. Di situ lengkap untuk semua bidang perutusan gereja. Mulai dari liturgi, pewartaan, sampai dengan pelayanan dst. Bahkan sampai manajemen pastoral.

KP : Romo, kini dokumen itu sudah ada. Lantas bagaimana itu bisa diterapkan?

ED : Kita mau terapkan semua tidak bisa. Dokumen itu besar. Tidak gampang juga. Katena itu kita coba fokus. Tahun 2016 sesudah Sinode 2015 kita masuk implementasi tahun I. Kita pilih waktu itu fokus pada Liturgi. Kita mulai dari apa yang ada pada kita. Itu yang skornya bagus dalam evaluasi saat Sinode.

KP : Apa saja contoh kegiatannya dan bagaimana implementasinya?

ED : Banyak kegiatan yang berkaitan dengan penguatan liturgi itu. Misalnya, ibadat tanpa Imam. Itu juga wajib kita buat pelatihannya. Kita minta paroki-paroki untuk utus 2 atau 3 orang ikut pelatihan (TOT) pemimpin ibadat tanpa Imam di Paroki.

KP : Materi apa saja yang diberikan saat TOT?

ED : Mereka dilatih memimpin ibadat, berkhotbah, menyusun renungan, tafsir Kitab Suci dan seterusnya. Sesudah mereka dibekali seperti itu, kita minta mereka kembali ke Parokinya. Sampai di Paroki, mereka buat lagi pelatihan yang sama untuk lebih banyak orang di sana. Seperti itu prosesnya. Namun faktanya di Paroki, ada yang buat ada yang tidak.

KP : Apa yang dilakukan Litbang Puspas untuk memastikan program ini bisa terlaksana atau tidak?

ED : Kita lakukan 2 kali monitoring dan satu kali evaluasi per triwulan. Untuk triwulan pertama, kita beri pelatihan pada awal bulan, lalu mereka kembali ke Paroki. Saat monitoring kita undang semua teman dari Paroki berkumpul di Kevikepan Di situ mulai dilakukan Dari 16 poin program yang wajib kita laksanakan, sudah sejauh mana selama triwulan pertama mereka melaporkannya. Faktanya ada yang sudah buat ada yang baru rencana dan dibuat pada triwulan berikut. Kami catat semua. Paroki mana yang mulai dan paroki mana yang belum. Selain program, ada juga kegiatan, gerakan. Ada yang rutin dan yang fokus. Setelah selesai monitoring II, teman-teman itu kembali ke Paroki untuk merancang lagi kegiatan-kegiatan yang mereka sudah rencanakan.

KP : Hal apa saja yang dimonitoring dan dievaluasi?

ED : Saat itu kita pantau apakah semua program yang sudah disepakati untuk tahun liturgi 2016. Misalnya apakah mereka sudah masukan semua dalam program Paroki atau tidak. Artinya setelah sidang Pastoral pada bulan Januari mereka panggil semua Pengurus Dewan membahas program yang wajib dilaksanakan dari Keusukupan. Mari kita masukan dalam program Paroki dan anggarkan. Kita mau seperti begitu. Entah mereka buat atau tidak, itu yang kita pantau saat monitoring. Kalau sudah masuk dalam program Paroki, mana anggarannya? Di anggaran itu kemudian kita minta, serius atau tidak mereka melakukan itu.

Kita evaluasi juga postur anggarannya. Misalnya untuk pelayanan/diakonia, mereka diminta untuk membentuk kelompok-kelompok pelatihan pertanian organik atau pendamping masyarakat difabel. Kita tanya, biayanya berapa?. Kalau hanya Rp 500 ribu, itu omong kosong, ya toh. Program itu hanya bisa jalan kalau ada uangnya. Jangan bilang begini, ini dari berkat TUHAN. Tidak ada! Semuanya harus dihitung dengan uang. Semakin wajar pembiayaan, maka semakin orang percaya bahwa itu bisa dilaksanakan. Saat kita tanya anggaran, ada yang menjawab memang tidak ada uangnya karena mereka meminta kesediaan/kerelaan orang. Meskipun rela tetapi dalam postur anggaran itu harus dihitung biaya kegiatannya. Nanti diuraikan item kegiatan ini sumber biayanya dari sumbangan pribadi karena mereka tidak digaji. Nah, yang begitu-begitu kalau tidak dimonitoring, itu tidak jalan. Demikian juga pada monitoring II, monitoring III sampai evaluasi. Dan proses itu tidak gampang.

KP : Apa saja tantangan yang dialami selama proses monitoring ini, Romo?

ED : Kami juga mengalami banyak tantangan dari teman-teman di Paroki yang tidak terbiasa dengan hal-hal seperti itu. Ada teman-teman yang berpikir sedikit maju dan progresif. Mereka senang. Ah, ini baru benar kalau kita kelola paroki, begini caranya. Tetapi ada juga teman-teman yang bilang, apalagi kamu punya ini, buat kami sibuk saja. Mana mau urus berkat nikah dan seterusnya.

Tahun 2017 kita fokus ke Pewartaan. Kegiatannya berkaitan dengan katekese, termasuk pelatihan pewarta, kelompok-kelompok katekis digerakkan. Kita genjot betul. Prosesnya sama mulai dari monitoring hingga evaluasi dan seterusnya. Waktu itu kami belum bisa langsung buat seperti sekarang menghitung peringkat kinerja Pastoral setiap Paroki

KP : Apa kesulitannya, Romo?

ED : Karena teman-teman di Paroki belum siap. Tidak gampang ternyata untuk melakukan itu meskipun kita bisa sejak awal. Tetapi itu tantangannya.

Kendati demikian, tahun 2018 ketika sudah mulai tumbuh kesadaran bahwa barang ini penting. Teman-teman banyak yang ikut gerak bersama. Kita mulai menghitung peringkat kinerja. Jadi pastor paroki, kinerjamu seperti apa? Selama ini orang merasa bahwa saya ini baik. Tetapi baik menurut siapa? Standarnya mana? Sekarang di mana-mana, organisasi itu menerapkan apa yang disebut standar kinerja. Dan itu harus terukur. Bukan hanya ada dalam kepala tetapi juga bisa diekspresikan.

KP : Romo, mohon jelaskan bagaimana konkritnya alur proses monitoring litbang Puspas hingga dapat mengukur kinerja Pastoral di paroki-paroki.

ED : Kita mulai dari mengumpulkan bukti-bukti laporan dari paroki. Prosesnya begini. Monitoring I, teman-teman di Paroki melaporkan. Sebelum mereka datang ke sidang monitoring, kita harapkan Pastor Paroki datang bersama pengurus dewan parokinya melakukan evaluasi untuk melihat sejauh mana pelaksanaan program pastoral selama triwulan pertama. Dewan kemudian memberikan masukan dan seterusnya. Catatan-catatan terkait itu harus ditulis pada format-format laporan yang telah kami berikan sebelumnya ke paroki-paroki. Isi laporannya sesuai dengan format. Tidak sulit sebenarnya. Kita sudah bantu. Mereka tinggal mengisi format, menjawab semua pertanyaan yang ada dalam format itu.

KP : Romo, bagaimana hasil monitoring triwulan pertama, membanggakan atau sebaliknya?

ED : Ada paroki yang baik. Begitu menerima format sebulan sebelumnya, mereka langsung bergerak. Mereka panggil DPP lakukan evaluasi kemudian mengisi format yang ada. Ada paroki yang hanya memanggil satu dua orang saja atau suruh pegawai sekretariat paroki mengisi format. Ada paroki yang lebih buruk lagi. Sampai di tempat sidang monitoring baru minta format dengan alasan format yang diterima sebelumnya hilang. Mereka mengisi format di tempat pertemuan dengan tulis tangan. Jadi, kita amati semua itu. Orang ini serius atau tidak berpastoral. Demikian juga saat monitoring II dan monitoring III.

Tahun 2018 kita hanya ambil mereka punya dokumen. Lalu kita lihat dalam dokumen itu berapa persen program-program wajib dari Keuskupan yang mereka sudah masukan dalam program Paroki mereka. Dan berapa persen yang mereka laksanakan. Hanya dua itu saja parameternya. perencanaan dan bagaimana Paroki melaksanakannya. Dan semua itu berdasarkan dokumen yang mereka masukan ke litbang Puspas saat proses monitoring.

KP : Maaf Romo, litbang Puspas turun langsung ke Paroki-paroki saat monitoring?

ED : Selama monitoring, saya sebagai Kepala Litbang selalu hadir karena saya juga moderator sidang monitoring. Saya yang pimpin sidangnya. Jadi semua laporan itu kami dengar, satu. Kedua, kami dalami. Setiap pastor paroki membawa dokumennya lalu mempresentasikan dan seterusnya. Floor kemudian diberi kesempatan untuk mendalami laporan mereka. Setelah itu dokumen paroki dan semua catatan kritis floor diserahkan kepada kami. Itu yang kemudian kami olah untuk kita laporkan sebagai hasil pencapaian kinerja setiap paroki. Berdasarkan persentasi dari semua program yang ada dalam dokumen mereka, kita berusaha supaya dibuat peringkat. Tahun 2018 lalu, Paroki Reo meraih peringkat I. Lalu kita buat juga untuk tingkat Kevikepan. Paroki mana yang terbaik.

Pada tahun 2019, tahun Pelayanan, alur prosesnya juga sama. Mulai dari monitoring I, II, III sampai evaluasi. Sedangkan parameternya tambah satu, yaitu Bukti fisik. Tahun-tahun sebelumnya hanya dua parameter: perencanaan dan pelaksanaan program. Setelah kita kalkulasi semua itu dengan teknis perhitungannya ; persentasi angka relatif, hasilnya Paroki Poka meraih peringkat I. Paroki Reo dari juara I tergeser ke juara II. Paroki Datak meraih peringkat III.

KP : Romo, bagaimana dengan paroki-paroki SVD yang usianya tua sepert Paroki Rekas, Paroki Roh Kudus Labuan Bajo, posisinya di mana?

ED : Hilang. Ada beberapa paroki yang sebelumnya masuk 10 besar terlempar jauh.

KP : Paroki mana saja itu, Romo?

ED : Anda bisa lihat sendiri di dokumen. Ini menarik untuk dikaji.

KP : Mengapa itu terjadi, Romo?

ED : Provinsial juga tanya begitu. Paroki-paroki SVD kenapa tidak ada? Saya bilang, jangan tanya saya. Saya hanya menghitung apa yang mereka sudah buat. Kenapa tidak buat, jangan tanya saya.Tanya ke mereka. Paroki SVD yang masuk 10 besar hanya ada 1, yakni untuk tingkat Kevikepan Reo, Paroki Lengko Ajang meraih peringkat 5 (lima). Itu luar biasa karena dari bawah naik ke peringkat 5. Jadi ada Paroki yang turun, ada yang naik peringkat.

Jadi pertanyaan kamu tadi mengapa Paroki tua tidak masuk 10 besar, bukan soal paroki tua. Tetapi bagaimana kesetiaan orang dalam sistem tata kelola yang mereka buat di Paroki itu. Ketika sistemnya tidak kuat, dalam arti begini ; ganti pastor paroki, hilang semua apa yang sudah dibuat sebelumnya di Paroki itu. Itu berarti apa? Sistemnya tidak kuat. DPP nya di mana? Pastor Paroki boleh berganti. DPP nya masih tinggal di situ. Nah sekarang, di mana mereka itu dan kerjanya apa? Itu saja.

Paroki yang meraih peringkat sekarang karena mereka melakukannya dengan baik. Sistem tata kelola dan manajemen Pastoralnya bagus. Semua yang kita arahkan, mereka lakukan dengan baik disertai alat bukti fisik

Contohnya paroki Sta.Teresa Kalkuta-Datak. Pastor Parokinya Rm. Beny Jaya, Pr. Sebelumnya Rm. Vitalis Salung, Pr. Ketika pergantian pastor paroki, Romo Beny Jaya melakukan hal yang luar biasa di sana dengan segala macam pergerakkannya dilengkapi dengan bukti fisik dan seterusnya. Hasilnya terlihat. Peringkat pencapaian kinerjanya naik dari berapa puluh, naik ke peringkat III tingkat Keuskupan dan meraih peringkat I tingkat Kevikepan Labuan Bajp. Karena memang laporan terbaik pada setiap monitoring, dia punya (Rm.Beny Jaya, Pr-Red) terbaik. Itu sebenarnya yang terjadi.

KP : Dari semua yang diuraikan oleh Romo tadi, apa relevansinya antara sistem tata kelola Pastoral yang diidealkan litbang Puspas dengan realitas yang terjadi di paroki-paroki se-Keuskuoan Ruteng di tahun Penggembalaan ini dan yang akan datang. ?

ED : Di atas semua itu, ada usaha besar yang sedang kita kerjakan untuk membuat Pastoral di Keuskupan Ruteng dikelola dengan satu manajemen pastoral yang dapat dipertanggungjawabkan, efisien, akuntabel dan modern.

Bahwa kita masuk era digital 3.0, 4.0 itu mimpi yang kita perjuangkan. Semua data dikomputerisasi. Itu kan yang belum. Ada beberapa Paroki yang sudah tapi ada juga yang belum. Sudah ada komputer, tapi komputerisasi data belum dan tidak tahu caranya, itu satu. Yang kedua, pegawai di sekretariat tidak bisa kita asal angkat saja pegawai. Dia harus orang yang kompeten dalam mengelola administrasi Paroki. Ini juga tidak semua Paroki punya itu. Dari sisi keuangan kita juga kembang kempis.

Kita juga tidak bisa terlalu menuntut Paroki harus begini-begitu. Sementara kesiapan SDM tidak ada, fasilitas minim. Hal-hal itu yang mesti kita perjuangkan ke depan.

Tetapi bahwa sekarang kita mulai mengukurnya, itu suatu langkah maju. Dan majunya ini juga maju pelan-pelan. Tidak bisa juga langsung mendesak cepat-cepat. Karena ini menggerakkan banyak orang. Level Paroki itu tidak gampang.

Saya maklum betul, teman-teman di Paroki kadang-kadang ada yang bisa menggerakan DPP. Ada yang kesulitan dengan DPP nya. Bukan mereka tidak tahu tetapi mereka tidak mau. Mungkin karena pola komunikasinya kurang bagus. Ada Imam yang pintar berkomunikasi dengan orang lain sehingga dia bisa bergaul. Ada juga yang tidak bisa bergaul sehingga dia kesulitan merekrut orang untuk bekerja sama di Parokinya.

KP : Romo, saya kembali ke Paroki tua yang minim peringkat tadi. Sejauh yang ditelusuri litbang Puspas, apa ada yang salah dengan gonta-ganti Pastor Paroki?

ED : Berkaitan dengan pergantian Pastor di paroki-paroki tua. Sebelumnya siapa? Setelah itu siapa? Apa mereka itu masih fokus memimpin? Kami di Puspas berusaha membantu teman-teman di Paroki supaya ada sistem tata kelola yang menggerakkan pastoral di Paroki itu. Jangan ikut selera satu dua orang termasuk Pastor parokinya. Jangan baru pindah ke situ langsung merubah semua yang lain. Harus menghargai apa yang sudah tumbuh di situ.

Seperti kita kerja kebun. Ganti pemilik kebun lalu merubah semua yang sudah tumbuh di kebun. Kebun kita tidak pernah menghasilkan sesuatu karena begitu baru tumbuh, satu datang langsung cabut, tanam yang baru.

Pikiran kita sekarang bagaimana supaya siapapun yang datang, dia tetap memelihara yang sudah tumbuh di situ. Harus ada kerendahan hati. Memang saya mau supaya di kebun kita tanam pepaya semua. Tapi dia harus rendah hati karena sebelum dia datang, orang sudah lama tanam jagung di kebun itu. Biarkan jagung tumbuh hingga berbuah dan seterusnya. Setelah panen diusulkan untuk menanam beberapa pohon pepaya. Nanti kalau ternyata pepaya lebih bagus, jagung dicabut ganti dengan pepaya. Tetapi jagung baru tumbuh, datang lagi pemilik kebun yang baru ganti dengan buncis, memang tidak pernah berbuah. Persis itu yang terjadi di paroki-paroki tua. Usia paroki tua tidak bisa menjamin sistem tata kelola yang kuat. Tidak ! Itu yang kami temukan.

KP : Romo, apa positifnya buat paroki-paroki diberi peringkat seperti ini?

ED : Dengan memberi peringkat seperti ini, teman-teman di Paroki bisa melihat, saya ternyata ada di posisi ini. Dengan itu, tahun depan saya dan DPP mari berusaha meningkatkan peringkat kinerja pastoralnya.

Dan parameter yang kami pakai ke depan juga berkembang. Sekarang sudah ada 3 parameter (dokumen perencanaan, pelaksanaan dan bukti fisik). Kita mau tambah lagi untuk tahun yang akan datang. Kemarin kita sudah sepakat untuk tambah parameter baru, yaitu standar perubahan seperti apa yang akan kita munculkan dalam setiap kegiatan.

Selama ini, Mereka tulis itu satu kegiatan, tujuannya ini. Indikator perubahannya ini. Tetapi berbeda, karena setiap Paroki merumuskannya sendiri-sendiri. Kita tidak bisa mengukur sejauh mana perubahannya karena sesuai konteks paroki masing-masing. Karena itu saya berpikir begini, di tengah perbedaan itu, tetap ada hal yang harus sama yang standar. Perubahan minimal itu seperti apa?

Tampak dalam gambar Pastor Paroki Lengko Ajang, P. Peter Due, SVD, Pastor Paroki Dampek, Rm. Tarsisius Tombor, Pr., dan Pastor Paroki Pota, Rm Benediktus Gale, Pr.sedang mempresentasikan laporan evaluasi kegiatan pastoral tahun Pelayanan 2019. Moderatornya sidang Rm.Edy Djelahu, Pr. (Ketua litbang Puspas Keuskupan Ruteng)

Di semua Paroki harus ada perubahan minimal yang kita tetapkan dari awal. Makanya kemarin kita minta mereka untuk merumuskan perubahan standar paling kurang 2 atau 3 dengan indikatornya masing-masing. Tanda bahwa perubahan itu ada, apa? Sehingga nanti kita bisa ukur di akhir periode. Perubahan apa yang terwujud. Siapa yang bisa mewujudkan 3 perubahan standar ini, itu yang terbaik. Lebih boleh, kurang jangan. Itu kan standar, toh? Tidak boleh kurang dari standar. Nanti Anda buruk. Harus buat sampai standar atau lebih.

Tahun berikut, saya sudah pikir juga untuk terapkan parameter lain yang harus kita masukan untuk melihat wajah pastoral kita itu semakin jelas. Ibarat sebuah cermin. Dari tahu ke tahun dia akan lebih terang untuk menunjukkan wajah kita yang sebenarnya seperti apa. Dan itu tidak bisa cepat-cepat. Harus pelan-pelan. *(Robert Perkasa/Komodopos.com)

OSIS SMAN 4 Komodo Pungut Sampah di Kelumpag Beach Labuan Bajo

KOMODOPOS.com-LABUAN BAJO-Puluhan siswa/siswi penerima Program Indonesia Pintar (PIP) SMA Negeri 4 Komodo menggelar bakti sosial memungut sampah yang berserakan di Kelumpang beach, Labuan Bajo, kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Selasa (14/1/2020). Aksi tersebut merupakan program rutin Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) SMAN 4 Komodo. Sebelumnya aksi serupa juga dilakukan di berbagai tempat berbeda.

Guru Pendamping aksi itu, Thomas Elisa Sembol menjelaskan aksi ini merupakan wujud kepedulian sosial siswa-siswi di Sekolahnya terhadap kebersihan lingkungan dan pelestarian alam.

“Kegiatan ini bagian dari program rutin OSIS SMAN 4 Komodo yang sudah ditanamkan sejak Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS)”,, ujar Tomy Sembol saat dikonfirmasi Komodopos.com usai kegiatan itu di kediamannya, Roang, desa Golo Pongkor, Selasa (14/1/2020) petang.

Tomy menjelaskan, SMAN 4 Komodo berdiri sejak 2014 silam.
Dalam rentang 6 tahun usia sekolah itu, berbagai kegiatan sosial telah dilaksanakan di sejumlah tempat. Kegiatan sosial ini dilakukan sebagai pengejawantahan tujuan, visi dan misi SMAN 4 Komodo. sekolah. Tahun pelajaran 2019/ 2020, OSIS SMAN 4 Komodo merancang program kerja untuk mewajibkan semua siswa penerima Program Indonesia Pintar (PIP) menggelar kerja bakti gotong royong menjaga kebersihan lingkungan sekolah dan sekitar Labuan Bajo sebagai kota pariwisata.

“Hari ini, sejumlah 30 siswa dan 2 pendamping membersihkan pantai Kelumpang. Belasan karung sampah plastik dan gelas air mineral yang berserakan di pantai Kelumpang berhasil dipungut”, kata Tomy Sembol.

Hal senada juga disampaikan Pembina OSIS SMA Negeri 4 Komodo, Pangeran Sri Naga Puspa. Ia mengatakan, aksi gotong royong itu meruoakan bentuk kampaye SMAN 4 Komodo untuk berkata tidak terhadap sampah demi kebersihan kota dan kawasan pantai di sekitar kota Labuan Bajo.

“Ini kampanye SMAN 4 Komodo memerangi sampah plastik demi mewujudkan Labuan Bajo kota Pariwisata yang bersih. Aksi ini juga merupakan wujud partisipasi kami sebagai generasi muda menjaga kebersihan lingkungan di mana saja kami berada sebagaimana yang selalu diinstruksikan oleh Gubernur NTT, Viktor Laiskodat agar lembaga pendidikan di NTT harus memerangai sampah pastik”, imbuhnya.

Dikonfirmasi terpisah, Selasa (14/1/2020) malam di kediamannya, Kepala SMAN 4 Komodo, Albertus Ritus S.Pd menjelaskan aksi sosial yang dilakukan siswa-siswinya telah menjadi program tahunan sekolah. Hal ini selaras dengan semboyan SMAN 4 Komodo, “Sampah plastik adalah musuh bersama yang harus diperangi”.

Lokasi SMA Negeri 4 Komodo di Warloka, kecamatan Komodo, kabupaten Manggarai Barat. Foto : Dok. Thomas Elisa Sembol

“Kegiatan gotong-royong pungut sampa plastik dan sejenisnya di tempat-tempat umum sudah menjadi rutinitas kami setiap tahun. Hal ini kami lakukan mewujudkan semboyan SMAN 4 Komodo, yakni Sampah plastik adalah musuh bersama. *(Robert Perkasa)

Romo Beny Jaya dan Pendekatan Evangelisasi Oikos Menuju Pintu Pelayanan Efektif.

“Evangelisasi Oikos, sebuah penginjilan yang menggunakan strategi hubungan pribadi dengan sesama, kekeluargaan, yaitu siapa saja yang kita jumpai, teman sehobi, rekan bisnis, saudara sedarah, dan di mana saja; bisa di jalan, di kebun, saat ke kios, dll. Singkatnya di luar gedung ibadat resmi”. (Romo Beny Jaya, Pr, Pastor Paroki Sta.Teresa Kalkuta-Datak)

KOMODOPOS.com–DATAK–
Senin 6 Januari hingga Jumat, 10 Januari 2020, Gereja Katolik seantero Keuskupan Ruteng menggelar Sidang Pastoral Tahunan Keuskupan Ruteng di Wisma Efata, Ruteng, kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Sidang ini bertujuan untuk melakukan evaluasi Tahun Pastoral 2019 dan merancang bersama program Tahun Pastoral 2020 untuk wilayah Keuskupan Ruteng dari selat Sale sampai Wae Mokel. Sebanyak 300-an peserta terdiri dari Administrator Apostolik,imam, biarawan/wati, utusan DPP dan DKP se-keuskupan Ruteng hadir dalam sidang tersebut.

Sidang Pastoral Keuskupan Ruteng itu menghasilkan 35 rekomendasi yang ditandatangani oleh Administrator Apostolik Keuskupan Ruteng, Mgr. Silvester San.

Berdasarakan hasil evaluasi dan monitoring Rd. Edy Jelahu, Pimpinan Litbang Keuskupan Ruteng terkait pencapaian kinerja Pastoral 2019 yang diumumkan dalam sesi penutupan sidang memperlihatkan bahwa Paroki Sta.Teresa Kalkuta
Datak meraih peringkat satu pencapaian kinerja pastoral terbaik 2019 di Kevikepan Labuan Bajo. Peringkat kedua diraih paroki St.Klaus Werang, dan peringkat ketiga paroki Maria Bunda Segala Bangsa, Wae Sambi. Pencapaian ini dinilai berdasarkan hasil pelaksannaan program dan gerakan yang telah dilaporkan kepada Keuskupan Rutemg.

Selain itu, paroki Sta.Teresa Kalkuta, Datak juga meraih peringkat tiga kinerja pastoral terbaik 2019 dari 86 paroki di keuskupan Ruteng. Peringkat satu dan dua masing-masing diraih oleh paroki Poka dan Paroki Reo.

Lantas bagaimana kesiapan Paroki-paroki se-keuskupan Ruteng mengimplementasi 35 rekomendasi hasil Sidang Pastoral Tahunan itu di wilayah Parokinya masing-masing?

Wartawan Komodopos.com, Robert Perkasa mewawancarai salah seorang Pastor Paroki Sta.Teresa Kalkuta, Datak, Romo Beny Jaya, Pr pada Minggu, 12 Januari 2020. Simak wawancara selengkapnya.

Romo Beny Jaya ketika mengunjungi lansia yang tak bisa jalan di Pepak Stasi Wae Garit.

Komodo Pos (KP). Baru baru ini, Paroki Datak meraih peringkat 1 pencapaian kinerja Pastoral tahun pelayanan 2019. Apa yang membuat hal ini bisa terjadi?

Beny Jaya( BJ) : Pertama sekali, bahwa semua Pastor itu bekerja dalam arti melayani. Semua imam telah melayani dengan tulus hati. Saya sangat yakin itu.

KP :. Apakah ini menunjukkan bahwa kariernya Romo bagus?

BJ : Itu salah 100 prosen. Pelayanan dalam gereja dan yang kami hayati adalah bukan mengejar karier. Tetapi kesetiaan dalam pelayanan yang dipercayakan Tuhan melalui Gereja-Nya, yaitu Uskup. Karena itu, kepercayaan apa saja yang diterima, kita perlu melaksanakannya dengan sepenuh hati. Imam melayani bukan karena jenis pekerjaan yang dipilih sendiri, tapi dalam semua jenis pekerjaan yang dipercayakan, harus melayani dengan sungguh. Ketaatan kepada Uskup nyata pula dalam ketaatan menjalankan kepercayaan dari Uskup. Kalau mau lihat contoh yang baik adalah Rm Lorens Sopang. Beliau pernah menjadi pimpinan Seminari Kisol, kemudian menjadi wakil Uskup. Setelah itu menjadi kapelan di Paroki Kristus Raja Ruteng. Sesudahnya menjadi pimpinan Seminari. Beliau menjalankannya sepenuh hati. Yang menjadi persoalan ketika umat membandingkan tugas imam seperti tugas awam dalam dunia politik sipil. Salah sekali.

KP : Apakah jenis pelayanan yang Romo jalankan, atas inisiatif sendiri dari Paroki atau dari Keuskupan?

BJ : Tentu saja, kita harus ikut gerakan bersama dari Keuskupan. Kami Pastor Paroki adalah perpanjangan tangan Uskup. Di Paroki. melalui karya kami, Uskup hadir. Karena itu apapun persoalannya harus mengikuti arahan Uskup. Arahan itu merupakan hasil kesepakatan bersama semua elemen Keuskupan dalam sidang Pastoral, yang dipandu oleh Puspas( Pusat Pastoral) sebagai dapur pastoral bersama. Paroki menerjemahkannya dalam konteks paroki, sambil paroki melihat juga apa program khas parokinya. Sebagai contoh, ketika kami melakukan kunjungan pemberkatan setiap rumah tahun lalu dari semua keluarga, kami menemukan banyak orang yang belum nikah. Kami bawa dalam rapat dewan Paroki dan memutuskan agar post Natal, kami melakukan pemberkatan nikah massal dengan jumlah 43 pasang. Kegiatan tahun lalu ini bukan program keuskupan yang spesifik, tetapi tetap dalam bingkai tahun pelayanan.

KP : Apa kekuatan dari Paroki?

BJ : Selain percaya kepada Tuhan, gerakan bersama umat menjadi kekuatan kita. Hati umat perlu disentuh dengan yang ilahi: melalui retret, kunjungan kampung, kunjungan KBG, perjumpaan pribadi dengan para kepala sekolah dan pemerintah Desa dan menghargai budaya setempat.

KP : Romo menyinggung budaya. Apa ada tempat budaya dalam Gereja?

BJ : Gereja Katolik sejak menginjakkan kakinya di tanah Manggarai sangat menghargai budaya Manggarai. Gereja universal pun menyerukan untuk menghargai budaya. Gadium et Spes No 53 mengatakan, “Manusia hanya dapat menuju kepenuhan kemanusiaannya yang sejati melalui kebudayaan, yakni dengan memelihara apa yang baik dan bernilai pada kodratnya”. Kita tahu bagaimana Gereja Manggarai mengakomodir Torok saat persembahan, Ronda saat pembukaan misa, dan sekarang misa inkulturasi setiap hari minggu ke 3. Satu hal lagi, Buku nyanyian ‘Dere Serani’ merupakan salah satu karya monumental inkulturasi di Manggarai.

KP : Apa yang Romo lakukan di Paroki Datak berkaitan dengan budaya di tahun 2019?

BJ : Tahun lalu kami ada Penti Serani di kampung Jeong, kampung Nggolo dan kampung Sewar. Hal ini sudah lama di Paroki Loce, Rego, Kajong, dan Robek dengan istilah ‘Hang Woja‘. Kami juga melakukan ibadat Podo Tenggeng, sebuah ritual adat yang dipadukan dengan kegiatan iman Katolik, yaitu ritual membuang semua yang ‘tenggeng’/ cacat atau yang buruk dalam kehidupan, disimbolkan dengan membakar semua keranjang, baju, kain , celana, karung atau apa yang saja yang digunakan oleh manusia tapi sudah usang dan rusak. Tentu diawali dengan pembacaan Kitab Suci, disusul dengan, homili, absolusi umum. Kami pun telah melakukan Misa Cebong Golo di kampung Datak dengan satu tujuan (iman) agar Tuhan mengampuni semua dosa, mengusir semua kekuatan jahat dari kampung Datak.

KP ; Luar biasa, Romo, Nah, tahun pelayanan 2019 sudah lewat dan kemarin telah dibuka tahun Penggembalaan 2020 dengan sejumlah rekomendasi untuk karya pastoral. Banyak sekali rekomendasinya. Apa paroki Datak bisa melaksanakannya?

BJ : Dalam nama Yesus pasti bisa. Dan banyak program ini bisa dilakukan dengan melibatkan semua umat dan melakukan investasi SDM awam. Juga kita coba melakukan pendekatan apa yang disebut Evangelisasi Oikos. EO ini telah kami praktekkan dalam pelayanan 2019, dan saya yakin ini juga menjadi pintu efektif untuk pelayanan di tahun Penggembalaan 2020.

KP : Romo bisa jelaskan pendekatan Evangelisasi Oikos ini agar umat mudah memahaminya?

BJ : Evangelisasi Oikos, sebuah penginjilan yang menggunakan strategi hubungan pribadi dengan sesama, kekeluargaan, yaitu siapa saja yang kita jumpai, teman sehobi, rekan bisnis, teman berolahraga, saudara sedarah, dan di mana saja; bisa di jalan, di kebun, saat ke kios, dll. Singkatnya di luar gedung ibadat resmi.

KP : Kira-kira pendekatan ini mencontohi siapa?

BJ : Pasti, pasti Yesuslah. Di dalam Alkitab, kita temukan bagaimana Yesus memanfaatkan semua perjumpaan untuk penginjilan. Yesus memanggil murid pertama ketika mereka sedang menebarkan jala; contoh lain ketika Yesus menyembuhkan orang yang kerasukan setan, Yesus berkata kepadanya, “pulanglah ke rumahmu dan ceritakanlah segala yang diperbuat Allah atasmu (Lukas 8, 36-38). Ada lagi yang menarik saat Yesus makan di rumahnya Lewi, pemungut cukai. Si Lewi mengundang anggota oikosnya yang cukup besar untuk makan bersama Yesus. Oikosnya adalah teman- teman pemungut cukai dan keluarga si Lewi ini. Demikian Petrus dalam kisah perjumpaan dengan Cornelius. Dalam Kisah Para Rasul dicatat, “Ia dan seisi rumahnya (oikos) saleh dan takut akan Allah”.

KP : Seingat saya, beberapa tahun lalu Romo pernah melakukan perayaan Ekaristi di kebun baru milik warga petani di kampung Rangat-Kempo. Apakah yang Romo pernah lakukan itu di sana merupakan salah satu bentuk Evangelisasi Oikos juga?

BJ : Yach..saya ingat. Itu juga merupakan salah satu bentuk Evangelisasi Oikos. Menarik waktu itu malam menjelang pergi ke kebun, kita ada makan bersama warga termasuk orang muslim dari kampung tetangga. Yang pukul gendang dan angkat lagu adalah seorang Muslim. Ini budaya mempersatukan perbedaan- perbedaan. Indahnya kalau kita memelihara budaya seperti amanat Gadium Et Spes.

KP : Romo masih ingat Misa di kebun ‘Lingko Kempit Labak di Rangat?

BJ. Yach..saya ingat, Kita gunakan altar dari tikar dan semua umat yang hadir lonto selengka (duduk bersila). Banyak yang hadir dan banyak orang muslim yang hadir. Ada pemberkatan kebun, pemberkatan benih, pemberkatan compang. Saat itu yang Muslim tak berkeberatan. Saya ingat peran Bapak Dus Barat Daya yang menghimpun semua kekuatan di kampungnya dan kampung sekitarnya.

KP : Romo, Kembali ke Paroki Datak. Kira-kira apa program Evangelisasi Oikos di Datak untuk tahun 2020?

BJ. Banyak program yang diturunkan dari Keuskupan. Semua itu hasil kesepakatan bersama dan telah disahkan oleh Administrator. Karena itu, sifatnya imperatif.

KP : Kenapa begitu? Apa Paroki tidak diberi ruang untuk program sendiri?

BJ : Selalu ada. Yang dari Keuskupan adalah hasil musyawarah dan inventaris semua gagasan , lalu melakukan kesepakatan bersama. Dan dalam kebersamaan Dewan, Dewan Stasi, para kepala sekolah dan kepala desa, pengurus KBG dan seluruh umat, pasti bisa. Dan kalau dicermati, semua program dari Keuskupan, selain pendekatan dalam ruang ibadah, lebih banyak harus dilakukan dengan pendekatan Evangelisasi Oikos. Tapi semua itu bergantung kepada ‘ passion” dari semua agen pastoral.

KP : Maaf Romo, apa Romo bisa beri gambaran tentang pendekatan ini dalam sejarah Gereja Manggarai?

BJ : Sudah banyak yang dilakukan oleh Pastor. Saya pernah ke Nunang, mereka cerita tentang Pater Eikman, SVD yang melakukan Misa dengan menggunakan tempat simpan padi (Joreng/Labak) sebagai ganti meja altar dengan membalikkannya, di kampung lama Nunang. Lalu setelah misa itu banyak orang Nunang menjadi sembuh. Lalu di wilayah saya, ada Pater Alm Flori Laot Ofm. Dia menggerakan pertanian dan pernah membentuk kelompok tani di kampung Deru, dan koperasi Kopi serta ternak ayam bersama..Hanya kemudian karena masalah SDM , sehingga tak.lanjut. Tapi kehadiran beliau di sana telah merubah wajah kampung Deru sebagai kampung Cengkeh. Bahkan ada orang di sana mendapat penghargaan karena banyak tanam pohon. Dia adalah Yosef Nagal dan Mikael Rahmat sebagai raja kayu dari Ndoso. Singkat kata: banyak Pastor yang telah melakukan pendekatan ini.

Romo Beny Jaya di tengah warga usai pemberkatan rumah salah seorang warga Yuda di kampung Tuwa, Desa Golo Ronggot, kecamatan Welak. Foto : Dok. Romo Beny Jaya, Pr.

KP: Terima kasih, Romo. Semoga tak lupa kelompok tani di kampung saya.

BJ : Sama-sama dan salam untuk semua petani. Bangkit, berdoa dan bekerja. *(Robert Perkasa/Komodopos.com)

Diumumkan, Berikut Titik Lokasi Tes SKD CPNS 2019 di NTT

Foto : Ilustrasi

KOMODOPOS.com -JAKARTA- Badan Kepegawaian Negara ( BKN) telah merilis daftar lokasi yang akan digunakan sebagai tempat penyelenggaraan seleksi kompetensi dasar (SKD) calon pegawai negeri sipil (CPNS) 2019.

Dikutip dari Kompas.com, Sabtu (11/1/2020), untuk lokasi tes di Pulau Jawa, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Biro Humas BKN, Paryono menyampaikan bahwa belum seluruhnya diumumkan.

“Jawa Timur sudah diumumkan. Jawa Tengah dan Jawa Barat belum,” kata Paryono kepada Kompas.com, Sabtu (11/1/2020) siang.

Sebelumnya, BKN telah memaparkan lokasi tes untuk wilayah Aceh, Jakarta, Kalimantan, Denpasar, Medan, NTT dan daerah lainnya.

Berikut informasi lokasi tes di Nusa Tenggara Timur ( NTT) :

Provinsi NTT: Politeknik Negeri Kupang

Kabupaten Kupang: Politeknik Negeri Kupang

Kabupaten Rote Ndao: Politeknik Negeri Kupang

Kota Kupang: Politeknik Negeri Kupang

Kabupaten Sumba Timur: BKD Kabupaten Sumbab Timur

Kabupaten Sumba Tengah: BKD Kabupaten Sumba Tengah

Kabupaten Sumba Barat: BKD Kabupaten Sumba Barat

Kabupaten Sumba Barat Daya: BKD Kabupaten Sumba Barat Daya

Kabupaten Timor Tengah Selatan: BKD Kabupaten Timor Tengah Selatan

Kabupaten Timor Tengah Utara: SMK Negeri Kefamenanu

Kabupaten Belu: SMA Negeri 1 Atambua

Kabupaten Malaka: Aula Kantor Bupati Malaka

Kabupaten Sabu Raijua: Aula Kantor Bupati Sabu Raijua

Kabupaten Manggarai Barat: SMK Negeri 1 Labuan Bajo

Kabupaten Manggarai: BKPP Kabupaten Manggarai

Kabupaten Manggarai Timur: Aula Kantor Bupati Manggarai Timur

Kabupaten Ngada: SMA Negeri 1 Bajawa

Kabupaten Nagekeo: SMK Negeri 1 Asesa Nagekeo

Kabupaten Ende: BKD Kabupaten Ende

Kabupaten Sikka: SMK Negeri 1 Maumere

Kabupaten Flores Timur: SKB Kabupaten Flores Timur

Kabupaten Lembata: Aula Kantor Bupati Lembata

Kabupaten Alor: SMP Negeri 1 Kalabahi

Baca juga: Diumumkan, Ini Lokasi dan Estimasi Peserta Tes SKD CPNS 2019 di Denpasar

Pencetakan kartu ujian

Paryono juga menyebutkan terkait adanya beberapa ketentuan dalam proses pencetakan kartu peserta ujian CPNS 2019 yang berlaku untuk semua instansi.

“Pada kartu peserta ujian, ada dua kartu. Yaitu kartu peserta ujian dan lembar panitia ujian CPNS,” jelasnya menambahkan.

Berikut ketentuan tersebut:

Cetak dengan menggunakan tinta warna

Potong pada bagian garis putus-putus

Pada lembar Panitia Ujian CPNS peserta sudah menuliskan nama dan tanda tangan pada kolom yang disediakan dan diserahkan kepada panitia pada saat akan ujian

Pin peserta didapat pada saat akan mengikuti ujian dan mendapatkan tanda tangan panitia

Kartu peserta ujian jangan dilaminating

Selain itu, imbuhnya, apabila peserta mencetak kartu ujian sebelum 1 Januari 2020, maka dinyatakan tidak valid.

Oleh sebab itu, ia mengimbau kepada peserta yang lolos administrasi, untuk mencetak ulang kartu peserta ujiannya. **(bet/gea)

Berita ini telah tayang di Kompas.com, Sabtu, 11 Januari 2020 | 17:28 WIB

Paroki Datak Raih Peringkat Satu Pencapaian Kinerja Pastoral Terbaik 2019

Pembukaan musyawarah Pastoral Tahun Kegembalaan Keuskupan Ruteng. 6-10 Januari 2020. Foto : Dok. Rd Beny Jaya

KOMODOPOS.com–RUTENG–
Paroki Sta.Teresa Kalkuta, Datak berhasil meraih peringkat satu pencapaian kinerja pastoral terbaik tahun 2019 di Kevikepan Labuan Bajo. Hal ini diketahuhi dari sidang pastoral tahunan Keuskupan Ruteng yang berlangsung di Wisma Efata, Ruteng, Senin 6 Januari hingga Jumat, 10 Januari 2020. Sidang pastoral tahunan keuskupan Ruteng dihadiri oleh peserta sebanyak 300-an orang, terdiri dari Administrator Apostolik,imam, biarawan/wati, utusan DPP dan DKP se-keuskupan Ruteng.

Sidang ini bertujuan untuk melakukan evaluasi tahun pastoral 2019 dan merancang bersama program tahun pastoral 2020 untuk wilayah Keuskupan Ruteng dari selat Sale sampai Wae Mokel.

Berdasarakan hasil evaluasi dan monitoring Rd. Edy Jelahu, Pimpinan Litbang Keuskupan Ruteng, memperlihatkan bahwa Paroki Datak meraih peringkat satu pencapaian kinerja pastoral terbaik 2019 di Kevikepan Labuan Bajo. Peringkat kedua diraih paroki St.Klaus Werang, dan peringkat ketiga paroki Maria Bunda Segala Bangsa, Wae Sambi. Pencapaian ini dinilai berdasarkan hasil pelaksannaan program dan gerakan yang telah dilaporkan kepada Keuskupan Rutemg.

Selain itu, paroki Sta.Teresa Kalkuta,
Datak j uga meraih peringkat tiga kinerja pastoral terbaik 2019 dari 86 paroki di keuskupan Ruteng. Peringkat satu dan dua masing-masing diraih oleh paroki Poka dan Reo.

Berkenaan dengan peringkat satu dalam pencampaian kinerja pastoral terbaik 2019 di kevikepan Labuan Bajo, Pastor Paroki Datak, Rd. Beny Jaya, mengatakan bahwa ia sangat yakin semua paroki telah memberikan pelayanan yang maksimal. Hanya saja mungkin lalai dalam mendata secara tertulis.

“Paroki-paroki pasti telah melaksanakan program-program pelayanan dengan maksimal. Mungkin hanya lalai membuat laporan tertulis,” ujarnya.

Lebih lanjut, mantan Ketua PSE Keuskupan Ruteng dan Vikep Borong itu mengakui bahwa pencapaian kinerja pastoral Paroki Datak tahun 2019 adalah hasil karya bersama awam/umat. Mereka bersama para pengurus dan umat KBG adalah ujung tombak karya pastoral.

“Setiap KBG ada pendamping KBG yang mempunyai tugas untuk membantu pelaksanaan karya pastoral di KBG. Bersama para pengurus dan umat KBG adalah ujung tombak karya pastoral. Selain itu, kehadiran rutin dan ret-ret umat di setiap kampung, stasi, dan KBG menjadi suatu doping yang luar biasa mendorong semua pihak berpartisipasi dalam karya pastoral.” tutur Rd. Beny Jaya

Kiri : Fr.Arsen Budu,SVD, fr top
tengah:RD.Beny Jaya, kanan: bpk philipus ladu, ketua DPP Paroki.

Dengan pencapaian ini, Rd. Beny Jaya menegaskan bahwa bersama umat di parokinya, dia akan lebih meningkatakan kinerja pastoralnya di tahun 2020 ini. “ Paroki Datak akan semakin meningkatkan kinerja pastoral di tahun 2020 ini agar seluruh umat sungguh-sunguh mengalami kasih Allah, sang Gembala Agung”, ungkapnya optimis (Fr.Arsen Budu,SVD, fr top)
Editor : Robert Perkasa

Petang ini Natal & Tahun Baru Bersama FORKOMA PMKRI di Labuan Bajo

KOMODOPOS.com-LABUAN BAJO-Sabtu (11_1/2020) petang ini pukul 17.00 Wita, Forum Komunikasi Alumni (FORKOMA) Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) se-Flores-Lembata merayakan Natal dan Tahun Baru bersama di kota Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur . Momenrum Natal & Tahun Bersama FORKOMA ini bertajuk “Berbagi Kasih Dalam Persaudaraan Sejati” di Aula Sekda kabupaten Manggarai Barat (Mabar)

Dikonfirmasi Komodopos.com, Sabtu pagi (11/1/2020), Ketua FORKOMA Mabar, Dominikus Jehadun menegaskan, perayaan Natal & Tahun Baru Bersama FORKOMA PMKRI ini dihadiri oleh 3 Bupati Manggarai Raya, Bupati Mabar, Agustinus Ch.Dula, Bupati Manggarai, Deno Kamelus dan Bupati Manggarai Timur, Adreas Agas.

Ketua Panitia Pelaksana , Adrianus Adi Junior merincikan perayaan Natal & Tahun Baru Bersama FORKOMA PMKRI akan dihadiri oleh Ketua FORKOMA NTT, Alo Min Ketua FORKOMA Manggarai, dan Manggarai Timur, Alo Selama dan ratusan alumni PMKRI sedaratan Flores-Lembata, kader-kader PMKRI anggota kelompok Cipayung dari sejumlah Cabang. Di antaranya, PMKRI Santu Agustinus Cabang Ruteng , Cabang Bajawa, Ende dan Maumere,, anggota OMK 3 Paroki di kota Labuan Bajo, anggota 15 kelompok organisasi yang ada dalam kota. Labuan Bajo serta para undangan lainnya.

“Rangkaian agenda acara dimulai Jumat l, 10 Januari kemarin, yakni
acara penjemputan keluarga besar FORKOMA Manggarai dan Manggarai Timur yang dipimpin oleh abang Aloysius Selama. Dilanjutan pawai seruan moral keilling kota Labuan Baja. Pawai ini berjalan lancar dikawal mobil patwal dari kepolisian Polres Mabar.
Titik star pawai mulai dari Nggorang. Selanjutnya acara perkenalan para alumna dan DPC PMKRI Ruteng di Sekretariat FORKOMA Mabar”, terang Adrianus.

Sabtu, 11 Januari Misa Syukuran Natal dan Tahun Baru Bersama FORKOMA yg dilaksanakan di Aula Sekda Kabupaten Mabar tepat pukul 17.00 Wita petang ini. Dilanjutkan dengan malam raternitas tepat pukul 20.00 Wita. *(Robert Perkasa)

Camat Satarmese Pimpin Kerja Gotong Royong Bangun Gedung Darurat SMPN 15

Camat Satarmese, Damianus Arjo serius bekerja bersama warga desa Ulubelang, Jumat (10/1/2020). Foto : Serilus Djoebadang

KOMODOPOS.com-SATARMESE–
Pemerintah kecamatan Satarmese bersama pemerintah desa Ulubelang, kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur menggelar kerja bakti gotong royong membangun kembali gedung sekolah darurat SMP Negeri 15 Satarmese yang roboh diterjang angin puting beliung pada Desember 2019 lalu.

Hari ini, Jumat (10/1/2020) Camat Satarmese, Damianus Arjo yang berpakaian training warna biru langit memimpin aksi gotong royong tersebut agar proses KMB di sekolah itu berlangsung normal. Ikut dalam kerja bakti itu unsur forkopimcam Satarmese, Kapolsek Iteng, Gabriel Taek dan Danramil 1712-07 Iteng serta aparat pemerintah desa Ulubelang bersama sejumlah warga setempat.

Kepala Sekolah SMPN 15 Satar Mese, Fransiskus Janggut, mengisahkan, musibah yang menimpaj sekolahnya terjadi pada saat anak didiknya sedang mengikuti ujian semester I akhir Desember 2019. Akibat kejadian itu, proses ujian terganggu karena panik. Namun beberapa saat kemudian, para siswa-siswinya dapat melanjutkan proses ujian sampai selesai.

“Musibah itu terjadi waktu ujian semester akhir bulan Desember 2019 lalu. Anak-anak terpaksa melanjutkan ujian dalam kondisi panik”, ujarnya.

Seorang Guru SMPN 15 Satarmese, Helmut Gandul kepada Komodopos.com menuturkan, gedung SMPN 15 Satarmese pertama kali dibangun pada tahun 2016 silam. Dindingnya pelupuh gedek dan beratap sink. Setahun kemudian gedung permanen dibangun tiga ruang dengan kategori satu ruang untuk kantor dan 2 ruang lainnya untuk KBM.

Helmut Gandul menambahkan, pada tahun 2019 dibangun lagi 2 ruang baru untuk KBM. Namun ruangan tetap kurang karena jumlah rombongan belajar ada 6. Akibat kekurangan ruangan, dan atas partisipasi dan swadaya masyarakat setempat, maka ruang darurat dibangun untuk membantu kelancaran KBM.

“Namun, ruang yang dibangun secara swadaya tersebut hancur diterpa angin kencang. Peristiwa ini terjadi pada saat liburan Natal 2019 kali lalu”, ujarnya. *(Sirilus Djoebadang)

Editor : Robert Perkasa

Ini Hasil Sidang Pastoral Keuskupan Ruteng Tahun Penggembalaan 2020

KOMODOPOS.com-RUTENG– Keuskupan Ruteng baru saja menutup Sidang Pastoral setelah Natal pada Senin (6 Januari sampai hari ini Jumat, 10 Januari 2020 di Wisma Efata Ruteng dihadiri oleh Peserta sebanyak 300-an orang, terdiri dari Administrator Apostolik,imam, biarawan/wati, utusan DPP dan DKP se-keuskupan Ruteng.

Sidang Pastoral Keuskupan Ruteng menghasilkan 35 rekomendasi yang ditandatangani oleh Administrator Apostolik Keuskupan Ruteng, Mgr. Silvester San. Simak selengkapnya berikut ini.
___

______________
HASIL SIDANG PASTORAL KEUSKUPAN RUTENG

TAHUN PENGGEMBALAAN 2020

“GEMBALAKANLAH DOMBA-DOMBAKU!” (YOH 21:15)

(RUTENG, 6-10 JANUARI 2020)

Pendahuluan

1. “Gembalakanlah domba-domba-Ku!” (Yoh 21:15). Wasiat Tuhan yang bangkit kepada rasul Petrus ini menginspirasi kami peserta sidang pastoral postnatal pada tanggal 6—10 Januari 2020 di Wisma Efata Ruteng. Peserta (300-an orang) terdiri dari Administrator Apostolik,imam, biarawan/wati, utusan DPP dan DKP, merefleksikan bersama-sama tema pastoral “Tahun Penggembalaan” dalam tahun kelima implementasi Sinode III dengan pola proses: melihat, menilai, dan memutuskan (3M).

2. Dalam rangka mengimplementasikan rencana strategis Sinode III selama empat tahun berturut-turut,kami telah mengupayakan perwujudan umat Allah Keuskupan Ruteng yang beriman utuh (solid), dinamis (mandiri) dan transformatif (solider). Untuk itu, secara integral dan berkesinambungan kami telah memfokuskan reksa pastoral pada pelbagai aspek kehidupan Gereja, yakni: Pengudusan (2016), Pewartaan (2017), Persekutuan (2018), Pelayanan (2019). Keempat fokus ini mengandaikan adanya kepemimpinan (gembala)yang bertanggungjawab untuk mengarahkan dan mengelola semua reksa pastoral tersebut. Oleh karena itu, tema “Tahun Penggembalaan”selama tahun 2020 ini, sesungguhnya terkait erat dengan fokus-fokus pastoral tahun-tahun sebelumnya.

Evaluasi Tahun Pelayanan 2019

3. Sebelum menjalankan Tahun Penggembalaan 2020, kami mengadakan proses pembelajaran bersama melalui evaluasi program dan kegiatan dalam Tahun Pelayanan 2019: “Kamu pun wajib saling membasuh kakimu” (Yoh 13:14). Kami telah berupaya melaksanakan berbagai program dan gerakan pastoral yang menggerakkanGereja lokal keuskupan Ruteng agar semakin menjadi persekutuan beriman yang melayani dan semakin bersolider dengan orangmiskin, sakit, dan menderita. Dalam dimensi karitatif, program pastoral Tahun Pelayanan dijabarkan dalam aksimengumpulkan beras dan bahan pangan lainnya melalui KBG (lumbung pangan KBG), mengunjungi orang sakit, memberiwae lu’u kepada keluarga berduka, program membangun rumah, membantu korban bencanadi Manggarai Barat (Mabar). Dalam dimensi transformatif, kami telah berusaha memberdayakan potensi umat dalam pelbagai aspek melalui program pelatihan pertanian organik, pengolahan kebun pastoran yang sehat dan asri, penguatan koperasi jalur paroki, pencerahan tentang prinsip-prinsip politik Kristiani, sosialisasi budaya hidup sehat, program youth camp OMK, dancamping Sekami. Dalam dimensi struktural, kami membentuk dan menguatkan seksi Karitas Paroki, pendataan, pembentukan dan penguatan berbagai kelompok rentan, serta kelompok lansia tingkat paroki.

4. Hasil evaluasi memperlihatkan adanya dinamika kehidupan diakonia yang menggembirakan di seluruh paroki Keuskupan Ruteng. Data olahan Litbang Keuskupan menunjukkan capaian kinerja yang baik dari program dan gerakan untuk Tahun Pelayanan 2019 (75,67%).Meskipun terdapat dinamika dalam pelaksanaan baik secara kuantitatif maupun kualitatif, semua parokidan berbagai lembaga telah berusaha mengimplementasikan Program dan gerakan Pastoral Tahun Pelayanan 2019. Pada semua paroki terlihat geliat dan gerakan pastoral yang dimotori klerus dan awam untuk semakin mewujudkan Gereja Yesus Kristus, yang hadir bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani (Mrk 10:45).

5. Dalam evaluasi Tahun Pelayanan saat sidang pastoral, kami juga melihat pentingnya perencanaan pastoral yang kontekstual, holistik, realistis, dengan target pastoral yang terarah,dan terukur dan didukung oleh sumber daya manusia dan finansial yang memadai. Kami bersetuju bahwa perlunya monitoring untuk melihat proses keterlaksanaan program sesuai dengan rencana dan pentingnya evaluasi untuk melihat dampak program pastoral bagi kehidupan bersama. Kami juga menyadari pentingnya sistem informasi pastoral (pastoral data) yang mendukung keterlaksanaan program dan kegiatan pastoral yang akurat, transparan, dan akuntabel.

6. Hasil analisis data evaluasi pastoral memperlihatkan pula kondisi mutu sumber daya manusia pastoral. Kami menyadari perlunya penguatan kapasitas kepemimpinanbaik klerus maupun awam dalam DPP, DKP, Pengurus Stasi (wilayah) dan KBG. Pelayan pastoral harus meninggalkan “zona nyaman”, yakni gaya berpastoral lama yang rutin dan kaku menjadi lebih kreatif inovatif dalam menjawabi kebutuhan umat yang nyata. Selain itu,mutlak diperlukan ada kemauan dan tekad yang teguh (good will) untuk melayani umat tanpa pamrih.

7. Di atas segalanya, kami bersyukur untuk berkat Tuhan sepanjang Tahun Pelayanan 2019, sehingga Gereja Keuskupan Ruteng semakin menjadi Gereja yang melayani manusia seutuhnya dalam aspek: rohani, jasmani, personal, sosial, dan ekologis; Gereja yang hidup dan bergerak dinamis untuk merangkul dengan penuh belas kasih umat yang sakit, menderita dan miskin; Gereja yang sungguh hadir dalam kehidupan umat dan menampakkan wajah Allah yang peduli, menghibur, bermurah hati, berbelaskasih, membebaskan dan menyembuhkan.

Tanda Tanda Zaman

8. Tatkala memasuki Tahun Penggembalaan 2020, kami menyadari sedang bergulat dalam pusaran revolusi industri 4.0 yang diwarnai perkembangan teknologi informatika dan media sosial yang mempersatukan dunia global secara erat sekaligus menelanjanginya dalam kehidupan maya yang virtual. Era digital ini telah membawa kemajuan dasyat dalam kenyamanan dan kesejahteraan hidup manusia tetapi sekaligus menimbulkan problem mendasar neoliberalisme; neokapitalisme; radikalisme dan terorisme; robotisasi dan mekanisasi; virtualisme; dan masalah ekologis. Hal-hal ini telah menimbulkan kemerosotan nilai-nilai kemanusiaan dan etis yang dengan cepat menyebar dan meracuni manusia sejagat, termasuk ke pelosok bumi Manggarai Raya ini. Di mana-mana egoisme, konsumerisme, dan materialisme meliliti kehidupan banyak orang. Kehidupan keluarga terusik konflik, kekerasan bahkan perpecahan. Anak, remaja dan generasi muda terhipnotis dalam pesona magis media sosial. Angka narkoba, seks bebas, aborsi, dan bunuh diri meningkat pesat. Alam lingkungan tercemar oleh pelbagai jenis polusi, dan bencana alam.

9. Berbagai fenomena historis yang mewarnai seluruh bidang kehidupan manusia dalam “zaman now” ini hendaknya tidak menimbulkan kecemasan dan ketakutan, tetapi sebaliknya membangkitkan semangat pengharapan dan komitmen pastoral untuk menata dunia selaras dengan nilai-nilai injili. Fenomena historis ini merupakan tanda-tanda zaman (signa temporis), dalamnya Allah hadir dan bertindak dalam sejarah manusia (lih. GS 4, 1; 11, 1). Di sini tampak pentingnya kehadiran Gereja untuk menjadi gembala tradisi, guru masa kini, dan nabi masa depan yang mengelola sejarah selaras kehendak Allah (bdk. Mat 16, 4,14; 24,3). Dalam Tahun Penggembalaan 2020 ini, Gereja Keuskupan Ruteng tidak ingin membiarkan dirinya terbawa arus dan tergerus zaman tetapi kami berkomitmen untuk menjadi gembala yang dalam bimbingan Roh Kudus menuntun sejarah menuju kepenuhannya dalam Kristus, Sang Gembala Agung.

Tuhanlah Gembalaku

10. Dasar biblis-teologis penggembalaan Gereja adalah penggembalaan Allah sendiri. Baik dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, maupun Kitab Suci Perjanjian Baru, kepemimpinan selalu dikaitkan dengan metafora penggembalaan yakni hubungan antara “gembala dan domba”. Sejak awal sejarah karya penyelamatan Allah menampilkan diri-Nya sebagai gembala. Sesuai konteks nomaden dan agraris saat itu, simbol gembala digunakan untuk Allah dan simbol domba untuk umat-Nya. Nabi Yesaya melukiskan “seperti seorang Gembala, Allah menggembalakan kawanan ternak-Nya, dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya; anak-anak domba dipangku-Nya, induk-induk domba dituntun-Nya dengan hati-hati” (Yes 40:11). Dalam metafora ini yang ditampilkan pertama-tama bukan aspek kekuasaan melainkan perhatian, cinta, dan tanggung jawab pastoral Allah terhadap umat-Nya. Dalam istilah gembala terungkap peran Allah yang memimpin, menuntun, mengumpulkan, melindungi, dan memberi makanan kepada umat-Nya. Gembala-domba menandaskan relasi intim personal, perhatian, dan cinta Allah yang menjamin kebahagiaan seseorang. Karena itu, pemazmur berdendang ria: “Tuhan adalah gembala-Ku. Tak kan kekurangan aku.” (Mzm 23:1; bdk. Kej 48:15—16; Yeh 34:16).

11. Peran kegembalaan tersebut didelegasiskan Allah kepada para pemimpin Israel baik yang religius maupun sipil. Yosua dan Musa, seperti halnya, para hakim adalah gembala-gembala Israel pada era sebelum kerajaan (Bil 27:17; 2 Sam 7:7). Pada zaman monarki, raja Daud diangkat sebagai gembala yang menuntun dengan ketulusan hati dan keterampilan yang tangkas (bdk. Mzm 78:7a, 71b–72). Melalui tokoh-tokoh Perjanjian Lama tersebut, peran gembala bukanlah status, melainkan tanggung jawab dan komitmen kasih atas kawanan. Karena itu, gembala yang menindas dan menghisap domba-domba, mendatangkan murka Allah. Nabi Yehezkiel, sangat keras membongkar kedok kejahatan para gembala, pemimpin Israel tersebut. Mereka tidaklah menggembalakan domba, tetapi hanya menikmati susu domba, membuat pakaian dari bulunya, dan menyembelih yang gemuk. Mereka pada dasarnya hanya menggembalakan dirinya sendiri (Yeh 34:2b-4).

Yesus Kristus Gembala yang Baik

12. Kegagalan para pemimpin Israel kemudian diatasi Allah dengan mengirim utusan-Nya, Yesus, Sang Mesias, sebagai gembala umat-Nya. Dia turunan Daud yang sejati yang berasal dari Betlehem yang menggembalakan umat Israel (Mat 2:6; bdk. Mi 5:1-2; Sam 5:2). Dalam diri Yesus, potret gembala ideal terwujud secara sempurna. Dialah sang Gembala yang baik. Dia mengenal kawanan domba-Nya dan sebaliknya mereka mengenal Dia (Yoh 10: 1-18). Dia adalah gembala yang tidak mencari keutungan untuk diri-Nya sendiri tetapi selalu mengutamakan kepentingan domba-domba-Nya. Dia tidak menghitung untung-rugi dalam karya penggembalaann-Nya. Maka, bila seekor domba hilang, akan dicari-Nya sampai dapat, meskipun untuk itu, Dia harus meninggalkan sembilan puluh sembilan domba lainnya (Luk 15:4-7). Yesus setia memperjuangkan kebaikan domba-domba-Nya serta tidak takut dengan risiko dan bahaya yang mengancam. Bahkan, Dia rela mengurbankan diri-Nya demi keselamatan domba-domba-Nya (Yoh 10: 11-12).

13. Kegembalaan sebagaimana tergambar dalam Kitab Suci Perjanjian Lama dan Baru di atas berdimensi ganda. Pertama, dimensi personal dan sosial. Gembala dekat dengan dombanya yang menggambarkan kedekatan Allah dengan manusia. Allah peduli pada manusia terutama yang miskin, telantar, dan tertindas. Kedua, dimensi historis dan soteriologis. Kegembalaan dialami secara nyata dalam sejarah pribadi, keluarga, kampung, komunitas, paroki, keuskupan, dan masyarakat secara keseluruhan. Ketiga, dimensi antropologis. Kegembalaan berkaitan dengan pemanusiaan manusia yakni menjadikan manusia utuh jasmani-rohani, pribadi-sosial, dan insani-ilahi. Keempat, dimensi ekologis. Kegembalaan berkaitan dengan metafora “padang rumput” yang hijau, yang berarti tanggungjawab untuk pemeliharaan dan pelestarian alam. Kelima, dimensi Kristologis dan Eklesiologis. Kepemimpinan dalam Gereja hendaknya selalu berarti partisipasi dalam tritugas Kristus dan pancatugas Gereja. Keenam, dimensi etis-moral. Kegembalaan berlandaskan ketulusan, cinta, perhatian, dan pengorbanan.

Perutusan Kegembalaan Gereja

14. Dalam Tahun Penggembalaan 2020 ini, kami ingin menyadari panggilan dan perutusan kegembalaan Gereja bertolak dari semangat kegembalaan Allah sendiri. Panggilan kegembalaan ini menyapa pertama-tama hierarki, gembala tertahbis, yang melanjutkan karya penggembalan para rasul, yang telah dipilih oleh Yesus sendiri untuk menggembalakan kawanan domba-Nya (Yoh 21:15; bdk. KHK kan. 204). Paus pengganti Santo Petrus (CD 1), para uskup pengganti para rasul (LG 20), para imam (LG 28), diakon (LG 29) diurapi secara khusus dalam sakramen tahbisan untuk menjadi gembala Gereja.

15. Uskup sebagai pengganti para rasul menjadi pemimpin utama Gereja lokal. Uskup dibantu dewan kuria yang bertugas mengkoordinasikan karya pastoral, mengelola administrasi, dan menjalankan fungsi yudikatif di Keuskupan (bdk. kan. 469). Untuk penggembalaan tingkat paroki, uskup mengangkat seorang pastor paroki (bdk kan. 519) yang bertugas menggembalakan atas mandat dari uskupnya.

16. Peran kegembalaan tersebut juga diemban oleh kaum awam (bdk. LG 43—47), dan biarawan/wati (PC,1—2), sebab melalui sakramen baptis mereka juga telah dimeterai untuk menjadi gembala (bdk. LG 30, 32—36). Konsili Vatikan II melalui dekrit Apostolicam Actuositatem menegaskan bahwa, “kaum awam ikut serta mengemban tugas imamat, kenabian, dan rajawi Kristus, menunaikan bagian mereka dalam perutusan segenap Umat Allah dalam Gereja dan di dunia” (AA 2; bdk. kan. 204, par. 1, kan. 849, kan. 781). Lebih dari itu, tugas penggembalaan awam ini bukan berdasarkan delegasi hierarki tetapi dari persatuan mereka dengan Kristus. “Sebab melalui Baptis mereka disaturagakan dalam Tubuh Mistik Kristus, melalui penguatan mereka diteguhkan oleh kekuatan Roh Kudus, dan dengan demikian oleh Tuhan sendiri ditetapkan untuk merasul” (AA 3).

17. Keterlibataan umat Allah dalam penggembalaan Gereja antara lain nyata secara struktural dan fungsional melalui keikutsertaan Dewan Pastoral Paroki (DPP) dalam karya pastoral (bdk. Kan 536 par. 1), dan Dewan Keuangan Paroki (DKP) dalam pengelolaan harta benda Gereja (bdk. kan 492 par. 1). Demikian pula dewan stasi dan pengurus Komunitas Basis Gerejawi turut serta dalam karya penggembalaan umat Allah.

18. Peran khas penggembalaan dijalankan kaum awam di tengah-tengah dunia. Mereka diutus ke dunia dan hidup di tengah-tengah masyarakat sebagai ragi yang meresapinya dengan nilai Kristiani. Dalam kehidupan keluarga dan sosial, kaum awam menjalankan tugas sehari-hari dalam semangat injili (LG 31; AG 43). Mereka diutus khusus untuk menjadi gembala Kristiani dalam kehidupan ekonomi, politik, dan budaya. Awam adalah rasul Kristus yang menjadi garam dan terang di tengah-tengah dunia (Mat 5:13—16).

19. Tugas dan perutusan seorang gembala bersifat holistik. Pertama-tama dia mewujudkan tugas penggembalaan Gereja untuk mewartakan (nabi), menguduskan (imam), dan melayani (raja) (bdk. LG 25—27; CD 12,15, dan 16). Seorang gembala Kristiani tidak hanya berperan dalam bidang spiritual dan ritual belaka, tetapi juga prihatin dan peduli terhadap kebutuhan manusia seutuhnya, baik dalam aspek rohani maupun jasmani (cura hominum). Gembala yang baik mencukupi keperluan domba-domba-Nya dalam segala aspek jasmani dan rohani (Mzm 23:1—6). Gembala Kristiani terlibat dalam seluruh suka dan duka, harapan, dan kecemasan dunia (GS 1). Secara khusus, naluri kegembalaan berkobar-kobar manakala domba-dombanya berada dalam keadaan sulit dan bahaya. Tugas gembala adalah mencari domba yang hilang, membawa pulang yang tersesat, membalut yang terluka, menyembuhkan yang sakit, dan menguatkan yang lemah (Yeh 34:16). Tugas Gembala tidak terbatas pada merawat kehidupan domba untuk kesejahteraan di dunia ini tetapi juga untuk kebahagiaan abadi. Gembala menyelamatkan domba dari kebinasaan kekal dan dari iblis (bdk. Mzm 40:3; Kej 3:15).

20. Selain itu, perutusan kegembalaan Gereja berciri ekologis. Seorang gembala tidak hanya peduli terhadap domba-domba tetapi juga terhadap “padang rumput yang hijau dan air yang tenang”, tempat mereka mencari makanan dan minuman (bdk. Mzm 23:2). Alam semesta ini tidak sekadar bernilai ekonomis sebagai sumber kehidupan tetapi menjadi medan kehadiran Allah. Semesta alam adalah “wujud kasih Allah, kelembutan-Nya yang tanpa batas bagi kita” (LS, 84). Karena itu, gembala Kristiani bertanggung jawab untuk memperlakukan dan merawat alam semesta dengan lembut dan penuh kasih sayang sesuai dengan kehendak dan tindakan ilahi.

Karakter dan Ciri Gembala Sejati

21. Dalam menjalankan tugas perutusannya seorang gembala perlu memiliki karakter dan ciri tertentu. Dia hendaknya mempunyai relasi yang intim dengan Allah, sehati, dan seperasaan dengan Allah. Seperti yang terungkap dalam diri para nabi, seorang gembala mendengar suara Allah dan merasakan apa yang ada dalam hati Allah. Dengan itu, dia sanggup mewartakan dan menjalankan kehendak Allah dengan setia dan berani. Seorang gembala memiliki kepekaan profetis. Kepekaan profetis adalah kemampuan untuk mendengarkan suara Allah di tengah-tengah hiruk-pikuk dunia ini. Gembala terlibat penuh dalam pergumulan di tengah dunia sekaligus membiarkan ruang kosong dalam dirinya untuk selalu diisi rahmat Allah. Seorang gembala sejati memiliki semangat kontemplatif. Dalam segala perjuangan dan dalam penderitaan hidup-Nya hanya Allahlah yang menjadi andalan dan sukacita hidupnya (bdk. 2 Kor 7:4).

22. Selain itu, seorang gembala berelasi kasih dengan kawanannya. Dia tidak hanya mengenal mereka secara umum dan anonim tetapi juga secara pribadi. Dia mengenal mereka satu per satu (Yoh 10:3). Sebaliknya, mereka mengenal Dia, mendengar suara-Nya, dan mengikuti-Nya (Yoh 10:3—4). Gembala yang baik melayani kawanannya dan bukannya “main kuasa” terhadap mereka. Paradoks gembala Kristiani terjadi saat dia yang adalah tuan menjadi hamba yang melayani dombanya (bdk. Yoh 13:14). Dia juga tidak “cari untung” dari kawanannya tetapi melayani dengan tulus (2 Petr 5:2). Dasar pelayanannya adalah cinta yang total dan tanpa pamrih. Karena cinta ini pula, seorang gembala seperti Yesus berkurban dan memberikan nyawa bagi domba-Nya (Yoh 10:11).

Manajemen Pastoral

23. Seorang gembala tidak hanya memimpin orang-orang tetapi juga memimpin lembaga dan mengelola organisasi. Karena itu, ia perlu juga mengenal aspek manajerial, organisatoris, dan keuangan dalam penggembalaan. Demikian pula penggembalaan sebagai karya untuk merawat, mengajar, membimbing, memotivasi, dan menciptakan solidaritas, bukanlah tindakan spontan belaka, tetapi harus diarahkan pada pencapaian tujuan yang ditetapkan bersama. Karena itu, penggembalaan gerejawi perlu didukung oleh kompetensi dan kapabilitas manajerial.

24. Manajemen pastoral berarti seluruh rangkaian kegiatan berupa perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian terhadap manusia dan sumber-sumber lainnya. Semua ini diarahkan untuk mewujudkan karya penyelamatan Allah di tengah dunia secara efisien dan efektif dalam tuntunan Roh Kudus. Dalam tahapan perencanaan ditentukan tujuan yang mau dicapai bertolak dari berbagai sumber daya yang ada saat ini. Perencanaan pastoral, baik jangka pendek (Rencana Operasional), jangka menengah (Rencana Strategis), maupun jangka panjang (Rencana Induk/Master Plan) perlu diimplementasikan. Untuk itu dibutuhkan tahap pengorganisasian yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya manusia, yakni bagaimana memilih dan menempatkan personalia-personalia pastoral pada berbagai unit kerja sebagaimana diatur dalam struktur dan sistem organisasi Gereja. Selanjutnya, manajemen pastoral berkaitan pula dengan pengelolaan manusia dan relasi manusiawi. Karena itu, dalam tahap pengarahan seorang manajer bertugas mengkomunikasikan, memotivasi, dan menyelesaikan konflik. Akhirnya, manajemen pastoral menangani pula pengendalian yang berhubungan dengan aktivitas untuk mengetahui capaian-capaian pastoral dengan menggunakan ukuran dan standar tertentu baik selama proses maupun akhir program (monitoring dan evaluasi pastoral).

Konteks Budaya Manggarai

25. Dalam konteks Gereja lokal Keuskupan Ruteng tersedia kekayaan kultural Manggarai sebagai sumber inspirasi dalam karya penggembalaan. Metafora penggembalaan bukanlah sesuatu yang asing dalam kebajikan tradisi Manggarai. Berbagai ungkapan atau go’ét menyumbang makna yang kaya dan mendalam bagi karya kegembalaan Gereja. Dalam doa, harapan, dan nasihat orang Manggarai: go’ét-go’ét berikut sering didengar: Wéngko le cébo, pedeng le cedek, pening le pecing, na’ang le manga; Éme lonto bongkok, cau landuk, paka ambi satar ngalis, pélét tiwu léwé, wasé wengké; Ker néténg gula, koing bilang mané, sésok néténg béo, lambar néténg satar, dekos oné lengkong; Caling bilang bari, roés cau doké, cikéng téing ci’é. Dalam ungkapan-ungkapan ini, kepemimpinan atau penggembalaan mengacu pada kemampuan untuk téing/tinu-memberi, merawat; toing-mengajar, menunjukkan; titong-membimbing, mendampingi; tatang/titing-memotivasi, mengidentifikasi; tatong-menciptakan solidaritas dan subsidiaritas. Dengan itu, seorang pemimpin (gembala) menjadi pelayan yang memelihara, mendukung, memberi makanan, memenuhi kebutuhan, menguatkan, dan merawat mereka yang dipimpinnya (ata sakong agu cakong, ata intur, dan keturu).

26. Demikian pula dalam institusi kepemimpinan Manggarai terdapat tu’a golo, tu’a teno, tu’a gendang, tu’a panga dan konsep-konsep teno/landuk, bongkok, ata sawi, ata lami paéng, dan ata émba, yang bermakna dan berfungsi penggembalaan dalam kehidupan adat yang berlangsung turun-temurun. Hal lain, adalah kebersamaan (komunio) tradisional Manggarai dalam bentuk berbagai pertemuan keluarga (wa’u) dan upacara adat yang memperkaya gagasan penggembalaan. Kebijakan lokal Manggarai yang juga ditemukan dalam habitus lonto léok merupakan khazanah kultural yang sangat berharga dalam pemahaman dan penghayatan karya penggembalaan Gereja di bumi Nucalale.

Program dan Kegiatan Pastoral Tahun Penggembalaan

27. Bertolak dari konteks situasi pastoral dan inspirasi biblis-teologis-kanonis-kultural di atas, kami bersepakat dan berketetapan hati untuk mewujudkan program dan kegiatan pastoral selama Tahun Penggembalaan 2020. Dalam tingkat keuskupan dan kevikepan, kami ingin mewujudkan program-program unggulan berikut ini:

a. Bagi gembala tertahbis: pelatihan manajemen pastoral bagi pastor paroki; lokakarya reksa pastoral kategorial yang kontekstual-integral bagi pastor paroki; pelatihan pastoral kontekstual-integral bagi imam balita; dan hari studi tentang arah dasar dan pola pastoral sinode III Keuskupan Ruteng bagi para diakon.

b. Bagi gembala terbaptis awam dengan peran khusus di paroki: pelatihan lektor akolit bagi utusan paroki; pelatihan pastoral kontekstual-integral bagi pengurus DPP; pelatihan pertanian organik bagi utusan paroki; kursus ekonomi kreatif bagi utusan OMK paroki; simulasi berkelanjutan materi modul KPPK KR bagi pendamping KPPK paroki; dan lokakarya penyusunan program pastoral kontekstual integral bagi pimpinan organisasi rohani.

c. Bagi gembala terbaptis awam kelompok profesional dan kategorial: lokakarya prinsip politik kristiani; retret bagi keluarga balita utusan paroki; lokakarya pariwisata yang integral dan berkelanjutan (ekonomis, ekologis, dan kultural); lokakarya “Parenting Pola Pengasuhan dengan Cinta”; sosialisasi materi Katekese Umat APP Tahun Penggembalaan 2020; rekoleksi persiapan paskah 2020 bagi guru dan kepala sekolah; camping anak dan pembina: Menjadi gembala cilik misioner; youth camp: orang muda menjadi gembala milenial; dan family gathering ekumene: menjadi gembala inklusif.

d. Menjadi gembala bagi kelompok rentan (gembala bagi “domba yang hilang”): pendampingan kelompok difabel; pendampingan kelompok migran; pendampingan korban kekerasan; pendampingan kelompok cacat mental; advokasi yuridis bagi ‘domba’ yang membutuhkan; dan pastoral kegembalaan orang muda dalam lingkup kos-kosan dan asrama.

e. Menjadi gembala ekologis: gerakan kebersihan; budaya hidup sehat dan asri; serta program penghijauan.

28. Dalam tingkat paroki, kami berkomitmen untuk melaksanakan program-program berikut:

a. Kategori Gembala Paroki Tertahbis (Pastor Paroki-Pastor Rekan- Diakon): Kunjungan pastoral terprogram ke stasi (wilayah); Katekese orangtua/wali baptis; Misa harian di gereja paroki; Gembala bagi generasi milenial (pendampingan OMK); Gembala bagi anak dan remaja (pendampingan Sekami); dan Gembala bagi komunitas Rohani.

b. Kategori Gembala Terbaptis dengan Peran Khusus di Paroki (DPP, DKP, Pengurus Stasi/ wilayah, pengurus KBG, dan kelompok kategorial): Pelatihan kepemimpinan bagi pelayan DPP/DKP/Stasi (wilayah)/KBG; Pelatihan pegawai sekretariat paroki; pelatihan bendahara/tenaga keuangan paroki; pelatihan kepemimpinan bagi pelayan kelompok kategorial (usia/kelompok rohani).

c. Kategori Gembala Terbaptis dalam kehidupan sosial kemasyarakatan (politik, ekonomi, dan sosial budaya): lokakarya/seminar bagi pejabat publik dan politisi (Kevikepan/Paroki); lokakarya/seminar bagi pelaku bisnis/pedagang; dan lokakarya/ seminar bagi pemangku adat.

d. Kategori gembala terbaptis dalam kehidupan sehari-hari (keluarga, dalam pekerjaan): Rekoleksi/retret umat tentang gembala dalam kehidupan sehari-hari; Rekoleksi bertema gembala dalam kehidupan petani; rekoleksi bertema gembala dalam kehidupan guru; rekoleksi bertema gembala dalam kehidupan pelayan kesehatan (tenaga medis); rekoleksi bertema gembala dalam kehidupan tukang; dll (sesuai konteks paroki).

e. Kategori gembala kelompok rentan: pemberkatan nikah “pasutri kawin kampung”; gembala bagi keluarga bermasalah/”retak”, gembala bagi kelompok difabel; gembala bagi keluarga migran; gembala bagi kelompok lansia; gembala bagi orang sakit (program kunjungan orang sakit); gembala bagi keluarga berduka (program waé lu’u bagi keluarga berduka); dan gembala bagi korban KDRT.

29. Kami juga berkomitmen untuk terus menjalankan program dan gerakan rutin yang selama ini mewarnai dan memaknai implementasi Sinode III dari tahun ke tahun.

a. Program rutin terdiri dari: perencanaan program pastoral tahun penggembalaan; monitoring program pastoral tahun penggembalaan; evaluasi program pastoral tahun penggembalaan; penyusunan agenda tahunan program tahun penggembalaan KBG, misa pembukaan tahun penggembalaan; sosialisasi tahun penggembalaan; katekese umat tahun penggembalaan; dan misa inkulturasi minggu III.

b. Gerakan rutin meliputi kegiatan: perayaan HOSS di paroki; perayaan hari lansia di paroki; perayaan hari difabel di paroki; gerakan mendaraskan doa tahun penggembalaan di paroki; gerakan mengidungkan lagu tahun penggembalaan di paroki; gerakan membaca teks Kitab Suci harian yang dirangkaikan dengan doa dalam pertemuan Paroki; dan gerakan doa malam dalam keluarga.

30. Dalam mengembangkan manajemen pastoral yang bermutu dan terpadu, kami berkomitmen untuk mengembangkan dan memperkuat pastoral data (sistem informasi pastoral). Hal ini dilakukan melalui kegiatan: pengarsipan semua program dan kegiatan pastoral (dokumen perencanaan, materi pertemuan, daftar hadir, notulen rapat, foto kegiatan); sharing data antarparoki; pembentukan dan pengoperasian grup medsos sekretariat, dan bendahara paroki tingkat keuskupan; pembuatan jurnal harian paroki dan jurnal harian pastor; dan penyusunan agenda tahunan paroki dan KBG.

31. Selain paroki, stasi, dan KBG, semua lembaga dan komunitas Katolik yang berada dalam wilayah Keuskupan Ruteng wajib menjalankan program dan gerakan Tahun Penggembalaan 2020. Oleh sebab itu, semua yayasan pendidikan, kampus dan sekolah-sekolah, biara-biara, komunitas-komunitas rohani, dan lembaga-lembaga sosial Katolik lainnya perlu memperhatikan dan memilih berbagai program, kegiatan, dan gerakan pastoral Tahun Penggembalaan yang dapat dilakukan dalam lingkungan masing-masing.

32. Secara khusus kami ingin menggalakkan formasi para calon gembala baik klerus (OT 1—2) maupun awam (bdk. CD 14) di lembaga pendidikan seminari dan lembaga pendidikan lainnya (bdk. GE).

33. Kami menyadari dan ingin terus melanjutkan kerjasama yang konstruktif dengan pemerintah, LSM, dan semua pihak dalam membangun dan menyejahterakan masyarakat di Manggarai Raya.

34. Kami mengapresiasi dan mendorong:

a. Puspas Keuskupan Ruteng agar terus mengkoordinasi reksa pastoral secara integral, berkesinambungan, efisien dan efektif, dan tetap mengadakan pelatihan-pelatihan pastoral yang kontekstual dan bermutu bagi para pelayan/gembala pastoral.

b. Para Vikep dan para imam sebagai gembala tertahbis, agar terus mengkoordinasi reksa pastoral di tingkat kevikepan, paroki dan lembaga, dan terus berjuang menjadi gembala yang “berbau domba”.

c. Para awam terbaptis (DPP, DKP, pelayan stasi, dan KBG) dengan peran partisipatif dan konsultatif di paroki agar terus terlibat menjadi gembala awam yang melayani Gereja dengan tekun, tangguh, dan tanpa pamrih.

d. Seluruh umat agar dalam kehidupan pribadi, keluarga, pekerjaan, dan sosial terlibat aktif kreatif dalam program dan gerakan bersama untuk menjadi gembala dalam kehidupan sehari-hari baik dalam perutusan di tengah kehidupan Gereja maupun menjadi garam dan ragi injil bagi dunia.

Penutup

35. Dalam Tahun Penggembalaan ini, kami umat Allah Keuskupan Ruteng berkehendak untuk semakin meneladani Kristus, Sang Gembala Agung, yang penuh belas kasih. Dia adalah gembala yang mencari domba yang hilang, membawa pulang yang tersesat, membalut yang terluka, menyembuhkan yang sakit, dan menguatkan yang lemah (Yeh 34:16; bdk. Luk 4:18-19). Dia datang agar manusia hidup dan mempunyainya dalam kelimpahan (Yoh 10:10). Sebagaimana para gembala Betlehem, kami ingin terus mencari dan menemukan-Nya. Kami ingin menyembah Dia dan mempersembahkan hidup dan karya penggembalaan kami ke dalam haribaan pangkuan cinta ibu-Nya, Santa Perawan Maria dan dalam kekuatan perlindungan kasih Santo Yosef. Bersama Keluarga Kudus Nasaret, kami ingin selalu memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang kami dengar dan kami lihat dalam Tahun Penggembalaan ini (bdk. Luk 2:15-20).

Ruteng, 10 Januari 2020

Dalam Suasana Persaudaraan Pastoral,

Administrator Apostolik Keuskupan Ruteng,

Mgr. Silvester San

(Naskah hasil sidang Pastoral Keuskupan Ruteng diperoleh Komodopos.com dari Romo Beny Jaya, Pr)

Di Desa Golo Ronggot-Welak, Sapi Masuk (di) Sekolah

Sekawanan sapi menyambangi halaman SDI Wol dan SMPN Wol, desa Golo Ronggot, kecamatan Welak. Foto : Facebook Tarsisius Tarsan Jehare, Kamis (9/1/2020)

KOMODOPOS.com–WELAK-– Beternak Sapi itu baik selama peternak sapi cerdas, bijak serta tertib aturan. Namun jika hanya baik/unrung bagi pemilik sapi dan menyebabkan kerugian bagi sesama warga yang lain, itu peternak sapi yang tidak bijak.

Di dataran Wol, tepatnya di kampung Wol, desa Golo Ronggot, kecamatan Welak, kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, sapi berkeliaran bebas hingga menimbulkan kerugian bagi sesama warga setempat.

Adalah Tarsisius Tarsan Jehare, seorang warga desa Golo Ronggot mengungkapkan kekesalannya melalui media sosial (Facebook) Dalam postingannya ke grup ‘Demokrasi Mabar, Jumat (9/1/2020), ia mengabarkan bahwa sekawanan sapi menyambangi halaman SDI Woll dan SMP Negeri Wol yang terletak di desa Golo Ronggot. Di saat yang lain, binatang tersebut juga berkeliaran bebas di halaman rumah warga di kampung Wol. Dijelaskannya, kehadiran binatang ini di lingkungan sekolah dan kampung Wol sangat meresahkan karena selain merusakkan tembok dinding sekolah, juga merusakkan tanaman pertanian warga setempat.

Menurut Tarsi, sapi yang keliaran bebas menibulkan masalah yang terjadi bertahun-tahun di desa Golo Ronggot. Ulah binatang ini, untung bagi pemiliknya namun buntung buat warga yang lain. Sebab beraneka jenis tanaman milik warga setempat habis disikat binatang itu.
Warga setempat dibuat resah dan hidup susah karenanya.

“Ini sudah bertahun-tahun kampung kami ini dijadikan tempat pelepasan sapi-sapi yang tidak jelas pemiliknya. Hal ini menjadi masalah besar bagi kami yang memiliki sawah dan kebun di daerah ini. Kami dipaksa harus bekerja keras untuk membuat pagar agar hewan-hewan ini tidak masuk. Untuk membuat pagar tentu butuh biaya dan menguras tenaga dan waktu yang besar dan banyak. Tapi sia-sia. Pagar yang kami buat, dirusakkan oleh sapi-sapi ini. Akibatnya, tanaman pertanian kami gagal panen, sementara hewan-hewan ini menjadi gemuk pada musim seperti sekarang”, tutur Tarsi sangat kesal.

Tarsi kemudian memohon perhatian Pemerintah untuk segera menertibkan sapi-sapi yang berkeliaran bebas di wilayah tersebut.

“Kami tidak tahu apakah sapi yang tidak diikat ini tergolong sapi liar atau masih layak disebut usaha ternak. Tolonglah hal ini menjadi perhatian Pemerintah dan pemilik ternak. Kalau tidak sanggup memelihara ternak, ya tidak usah beternak. Jangan menyusahkan orang lain”, keluhnya resah.

Terpisah, Rohaniwan yang bertugas di Paroki Datak, Rm.Beny Jaya, Pr mengemukakan hal senada. Himbauan Otoritas Gereja maupun Peraturan Desa (Perdes) tentang Penertiban hewan ternak tidak dihiraukan oleh pata pemilik sapi. Kata Romo Beny, sapi yang ada di dataran Wol dan dataran Datak milik sejumlah tokoh masyarakat, tokoh Gereja dan sejumlah Guru dan pegawai dari kecamatan Lembor dan Sano Nggoang yang dipelihara oleh sanak keluarga mereka di desa Golo Ronggot.

“Gereja sudah berkali kali himbau di Gereja. Perdes juga sudah baca di Gereja di Datak, Gereja Wol. Namun tidak bisa dikendalikan. Rata rata sapi yang ada milik warga kecamatan Lembor dan warga Kecamatan Sano Nggoang. Adapun sapi yang ada di dataran Wol dan dataran Datak, milik dari beberapa Tokoh Masyarakat, tokoh Gereja, beberapa para guru dan pegawai. Biasanya sapi dipiara orang lain.
Yang sangat dirugikan adalah petani. Kerugian pertama adalah biaya pembuatan pagar sangat tinggi. Sebagai contoh, Kebun 1 ha di Paroki harus mengeluarkan biaya hampir 6 juta untuk pagar. Tahun lalu..kami tanam pepaya 300 pohon sudah berbuah, Kebun dipagar. Tetapi karena sapi liar, bisa lompat pagar 1,5 meter”, ungkap Romo Beny ketika dikonfirmasi Komodopos.com melalui handphone selular, Jumat pagi (10/1/2020).

Mengatasi perilaku binatang sapi yang kerap merugikan orang lain, kini para petani di wilayah itu mulai menggunakan pestisida jenis Furadan.

“Banyak pemilik.kebun juga yang mulai menggunakan Furadan untku.membasmi sapi dan kerbau liar”, ujar Romo Beny seraya menambahkan, Paroki Datak akan menggelar musyawarah dengan para pihak guna mencari solusi atas masalah tersebut.

“Paroki tahun lalu berencana menggelar musyawarah rakyat dan para tokoh untuk penertiban sapi dibwilayah ini. Musyawarah itu akan melibatkan Bupat, Kapolres dan Dandim,. Namun karena banyak kesibukan. maka dipending. Mudah-mudahan rencana ini kami bisa.wujudkan tahun ini”, harap Romo Beny Jaya.

Kepala Desa Golo Ronggot, hingga berita ini dihimpun belum berhasil dikonfirmasi. Saat dihubungi, pada pukul 11.58 Wita, handphone sang Kades sedang tidak aktif. *(Robert Perkasa)

Dihantam Cuaca Ekstrem, Manggarai Barat Belum Berstatus Darurat Bencana

Dinas PUPR dan BPBD Manggarai Barat meninjau sejumlah lokasi longsor, Senin (6/1/2020). Foto : Dok. Dinas PUPR Mabar

KOMODOPOS.com–LABUAN BAJO–Sejumlah ruas jalan kabupaten maupun jalan provinsi di wilayah kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur rusak parah terpapar bencana longsor buntut dari cuaca ekstrem Intensitas hujan lebat disertai angin kencang menghantam kabupaten pariwisata di ujung barat pulau Flores Itu awal pekan pertama Januari 2020. Bukan cuma itu. Lahan pertanian warga setempat ada yang terendam material longsor. Sejumlah rumah warga hingga tempat ibadah (Gereja) juga ada yang rusak parah diterjang angin puting beliung. Kendati demikian, pemkab Manggarai Barat (Mabar) sejauh ini belum menetapkan wilayah itu berstatus darurat bencana.

Dikonfirmasi Komodopos.com melalui Whatsapp, Kamis (9/1/2020), Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Manggarai Barat, Dominikus Hawan enggan memberi tanggapan lebih jauh terkait penanganan dampak bencana alam yang terjadi. Ia beralasan, BPBD Mabar belum menghitung dampak bencana secara ekonomis, karena status bencana belum ditetapkan.

“Maaf, saya belum memberikan tanggapan. Saya sudah pulang dari lokasi kejadian kemarin pagi. Pukul 13.00 baru tiba di Labuan Bajo. Kejadian yang dilaporkan, kami sudah cek dan benar adanya. Kami belum menghitung dampak ekonomi, karena harus ditetapkan status bencananya. Kejadian bencana hydrometeorologi, sejauh ini puji Tuhan belum ada laporan korban jiwa”, tutur Domi Hawan.

Belum ada jalan yang putus total

Terpisah, Kepala Dinas PUPR Mabar, Ir. Oktavianus Andi Bona kepada Komodopos.com via Whatsapp, Rabu malam (8/1/2020) menjelaskan hasil pantauan langsung di lapangan. Ia menerangkan, sejumlah ruas jalan yang rusak parah terpapar bencana longsor antara lain terjadi di kecamatan Kuwus, kecamatan Ndoso dan kecamatan Boleng.

Ovan Adu menambahkan, arus transportasi kendaraan di sejumlah titik longsor itu masih berjalan. Belum ada ruas jalan yang putus total. Infrastruktur jembatan yang tersebar di wilayah kabupaten Mabar juga dalam kondisi aman.

Hasil pantauan Dinas PUPR Mabar di lokasi longsor menunjukkan, arus transportasi di titik-titik longsor itu masih dapat dilalui kendaraan roda 4 dan roda 2. Sementara itu, kondisi infrastruktur jembatan yang tersebar di kabupaten Manggarai Barat masih aman.

“Untuk sementara ternyata belum ada jalan yang putus total. Semua lokasi yang terpapar longsor masih bisa dilewati walau pas untuk kendaraan roda 2 dan roda 4 saja. Infrastruktur jembatan dalam kondisi aman”, terang Ovan Adu.

Lebih rinci Ia menyebutkan, titik-titik longsor yang terjadi di kecamatan Kuwus, terdapat di desa Suka Kiong, desa Compang Suka, desa Coal dan desa Golo Ru’u. Longsor di kecamatan Ndoso terjadi di ruas jalan Dahang – Tentang – Siri Mese, tepatnya di kampung Kubur dan ruas Kasong-Raka. Di kecamatan Boleng terjadi di ruas jalan Kaca-Repes. Sementara itu Jalan Provinsi juga mengalami longsor di beberapa segmen antara Lando – Golo Welu.

Ditanya soal penanganan lebih lanjut di titik-titik longsor, Ovan Adu menjelaskan, Dinas PUPR bersama BPBD Mabar masih menghimpun data,secara keseluruhan kemudian menggelar rapat dengan BPBD untuk menghitung besaran dana. Setelah itu baru melakukan penanganan.

“Harus didata secara keseluruhan, Mungkin masih ada lagi bencana baru atau susulan sehingga dapat terhitung semua. Sebab pembiayaan untuk penanggulangan bencana menjadi kewenangan atau tupoksi BPBD, DInas PUPR menjadi eksekutor di lapangan. Begitu mekanismenya”, jawab Ovan Adu.

Berita Komodopos.com Senin (6/1/2020) kemarin, Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), bersama tim terpadu Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mabar, camat dan lurah/kepala desa turun meninjau langsung ke sejumlah lokasi longsor yang terjadi di wilayah itu.

Bupati Mabar imbau buka
posko tanggap darurat bencana

Mengantisipasi cuaca ekstrem yang belum normal dan berbagai resiko yang ditimbulkannya, Bupati Mabar, Drs. Agustinus Ch. Dula meminta instansi teknis terkait unruk membuka posko tanggap darurat bencana dan bersiaga 1 X 24 Jam serta memastikan bantuan tanggap darurat bencana telah dipersiapkan secara baik dan memadai guna merespons setiap laporan dari lokasi bencana alam. Himbauan resmi Bupati Mabar, itu disampaikan melalui surat BPBD Nomor 360/338/1/2020, tanggal 4 Januari 2020.

Bupati Gusti Dula juga mengisntruksikan jajaran pemerintah Kecamatan, kelurahan dan pemerintah desa untuk menghimbau RW dan RT masing-masing melaksanakan kegiatan gotong royong membersihan lingkungan bersama warga,. Terutama untuk membersihkan drainase dan selokan agar tidak tersumbat dan menyebabkan genangan air dan banjir.

Salah satu rumah warga kampung Pinggong, desa Golo Ndaring, kecamatan Sano Nggoang tertimpa pohon yang tumbang akibat angin kencang, Minggu (5/1/2020). Foto : Yohanes Buana.

Dalam surat itu, Bupati Gusti Dula juga meminta warganya yang bermukim di sekitar area bencana untuk senantiasa waspada dan berhati-hati terhadap dampak cuaca ekstrim berupa curah hujan dengan intensitas lebat serta angin kencang seturut update informasi BMKG dapat terjadi di wilayah NTT pada awal bulan Januari 2020. *(Robert Perkasa)
____________