
Tampak dalam gambar Pastor Paroki Poka, Rm Antonius Latu Batara, Pr sedang melaporkan evaluasi kegiatan pastoral.Tahun Pelayanan 2019 Kevikepan Ruteng. Foto : Dok.Litbang Puspas Keuskupan Ruteng
“Di atas semua itu, ada usaha besar yang sedang kita kerjakan untuk membuat Pastoral di Keuskupan Ruteng dikelola dengan satu manajemen pastoral yang dapat dipertanggungjawabkan, efisien, akuntabel dan modern”, (Rm. Edy Djelahu, Pr., Kepala Litbang Puspas Keuskupan Ruteng)
KOMODOPOS.com-LABUAN BAJO-Ada hal menarik yang terjadi sepanjang tahun Pelayanan 2019 di Keuskupan Ruteng. Hal menarik itu adalah tentang pencapaian kinerja pastoral di sejumlah paroki SVD dan sejumlah paroki lainnya yang rata-rata berusia tua namun dilaporkan minim peringkat. Hal menarik ini terungkap ketika Keuskupan Ruteng menggelar Sidang Pastoral Tahunan di Wisma Efata Ruteng, kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, pekan lalu, 6-10 Januari 2020. Sidang ini bertujuan untuk melakukan evaluasi kinerja pastoral tahun Pelayanan 2019 dan merancang bersama program pastoral yang akan diimplementasikan pada Tahun Penggembalaan 2020 di 86 Paroki se-Keuskupan Ruteng.
Berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi Tim Penelitian dan Pengembangan (litbang) Pusat Pastoral (Puspas) Keusukupan Ruteng yang diumumkan dalam forum itu, hanya satu dari 6 Paroki SVD yang meraih peringkat 5 di tingkat Kevikepan Reo dan peringkat 11 tingkat Keuskupan Ruteng, yakni Paroki Lengko Ajang. Sedangkan kelima Paroki SVD lainnya, Rekas berada di peringkat (57), Paroki Redong (55) paroki Lengko Elar (55), paroki Mombok (44) dan paroki Golo Dukal (49). Selain itu ada pula Paroki yang sebelumnya meraih peringkat 10 besar namun kini terdepak ke posisi buncit. Sebaliknya ada juga Paroki yang sebelumnya berkinerja kurang membanggakan, kini bertengger di posisi 10 besar. Sementara itu, pencapaian kinerja pastoral membanggakan justru diraih oleh paroki-paroki yang rata-rata masih berusia muda. Adakah relevansi usia tua-muda berbanding lurus dengan hasil kinerja pastoral di paroki-paroki tersebut?
Ataukah pencapaian kinerja baik dipengaruhi oleh karena sistem dan tata kelola serta manajemen pastoral yang sehat? Demikian sebaliknya. Atau disebabkan karena postur anggaran yang kembang-kempis? Sarana dan prasarana yang minim? Atau SDM di Paroki yang menjadi kendala? Lalu pembenahan seperti apa yang mesti dilakukan untuk memperbaiki peringkat yang ada agar lebih membanggakan di hari yang akan datang? Lebih jauh dari itu semua agar tugas perutusan Gereja menggembalakan dombanya berjalan sebagaimana yang dicita-citakan bersama, baik oleh gembala tertabis maupun gembala terbaptis.

Simak wawancara eksklusif
Wartawan Komodopos.com, Robert Perkasa dengan Kepala Litbang Puspas Keuskupan Ruteng, Rm. Edy Djelahu, Pr. yang ditemui di Pastoran Kevikepan Labuan Bajo. Rabu pagi (15/1/2020) sekitar pukul 08.00 Wita.
Komodo Pos (KP) : Romo, sebagai umat Gereja Katolik kami tentu ingin mengetahui perkembangan Keuskupan Ruteng melalui data yang disodorkan oleh Litbang Puspas. Sejak kapan Badan Litbang Keuskupan Ruteng bekerja?
Rm. Edy Djelahu, Pr.(ED) : Saya mulai bekerja sebagai Kepala Litbang Puspas Keuskupan Ruteng sejak 2012 silam. Bersama tim yang ada, kami mulai bekerja.
KP : Apa saja tugasnya?
ED : Sasaran kita menciptakan sistem kerja yang terencana lalu dilakukan dengan terukur dan bisa dipertanggungjawabkan. Itu hal-hal prinsip yang coba kita jalankan. Dan ternyata itu tidak gampang. Kita mulai awal dengan sekian tekanan yang menuntut terlalu besar.
KP : Apa bentuk tekanan itu, Romo?
ED : Ternyata banyak Paroki yang tidak siap. Tidak siap diaudit dan macam-macam. Terutama berkaitan dengan sistem tata kelola dan manajemen yang ada di paroki-paroki. Lalu setiap paroki memiliki tata kelola sendiri. Ada yang dikelola sendiri oleh Pastor Parokinya. Ada juga yang dikelola sudah bagus dengan melibatkan Dewan Pengurus Paroki dan seterusnya. Ada juga pertanggungjawabannya baik programnya maupun budjetingnya. Tetapi ada juga Paroki yang sama sekali tidak. Mengalir begitu saja. Saat itu kami juga menemukan fakta bahwa Pastoralnya yang liturgis sentris.
KP : Pastoral liturgis sentris, maksudnya bagaimana, Romo?
ED : Urusan Pastor Parokinya hanya Misa. Hanya Doa. Demikian juga DPP dan Pengurus KBG nya. Hanya doa. Pastoral kita hanya sekitar liturgi. Dan lebih buruk lagi karena liturgi yang ritual. Ritualnya saja. Tapi bagaimana liturgis sebagai perjumpaan iman antara Allah dengan manusia, itu tidak terukur. Bahwa kita pergi ke Gereja lalu kudus. Tapi apakah orang ini beriman? Pertanyaan itu muncul karena meskipun rajin ke Gereja tapi perilaku buruknya tetap. Kita melihat itu terjadi karena pastoral kita ritualistik.

KP : Idealnya seperti apa, Romo?
ED : Idealnya pastoral kita itu harus utuh. Jangan hanya liturgis saja. Harus utuh mengurus 5 bidang pemutusan Gereja. Yakni mewartakan (katekese), menguduskan (liturgi), persekutuan (kebersamaan/persaudataan), pelayanan (diakonia) dan martir (kesaksian hidup). Kelima elemen ini harus berjalan beriringan, simultan dalam kehidupan iman umat. Nah sekarang bagaimana itu dilaksanakan dalam model-model Pastoral seperti ini diterapkan di Paroki-paroki? Ini yang tidak terukur. Tidak ada gerak bersama juga.
Lalu kemudian kita belajar dari Sinode I dan Sinode II saya juga ikut. Setelah kita mendapat semua poin-poin bernas yang bagus dalam proses Sinode itu dibukukan lalu dibagikan kepada Pastor-pastor Paroki dengan DPP dan seterusnya. Terus apa? Paroki-paroki harus mengimplementasikan itu sendiri? Bagaimana mereka menjalani itu?
Banyak yang saya lihat itu hanya indah di dokumen. Simpan. Mereka kembali ke Paroki seperti pada permulaan, sekarang dan selalu begitu terus. Boleh kita berteori banyak saat bersinode tetapi bagaimana pada implementasinya? Tidak jalan.
KP : Lalu bagaimana Litbang Puspas Keuskupan Ruteng membenahi hal-hal yang Romo paparkan tadi agar dapat terukur?

ED : Itu yang kemudian menguat dalam proses kita di Sinode III. Kita tidak mau Sinode yang kita lakukan dengan biaya besar dan dipersiapkan dengan menguras tenaga banyak lalu hanya sebagai dokumen yang disimpan di laci Pastoran. Karena itu kita berusaha supaya semua poin hasil Sinode bisa dijalankan.
Pemikiran itu yang kemudian membuat kita merancang satu strategi dari Puspas untuk membantu teman-teman di Paroki supaya fokus mengimplementasikan rekomendasi Sinode itu. Apapun yang kita sudah sepakat dalam Sinode berkaitan 5 bidang tugas perutusan Gereja bisa dijalankan.
Lalu kini bagaimana kita menjalankannya dengan konteks Pastoral Paroki yang berbeda-beda. Paroki Rekas tidak sama dengan paroki Poka. Paroki Poka tidak sama dengan Paroki Sok Rutung. Paroki Sok Rutung beda dengan Paroki Roh Kudus Labuan Bajo. Sementara di sisi yang lain, kita perlu mengukur dan melihat gerak bersama. Karena itu kita sepakat dalam Sinode III ada gerak bersama. Ada program pastoral tertentu yang wajib kita jalankan. Yang lain silahkan dikreasi oleh Paroki-paroki. Tetapi yang wajib dilaksanakan adalah poin-poin ini. Dan itu semua kita sepakat.
KP : Poin-poin apa saja hasil Sinode yang wajib dijalankan bersama?
ED : Itu banyak sesuai dengan tahunnya. Misalnya Sinode tahun 2013-2015 Ada banyak sekali rekomendasi. Dokumen itu besar. Sudah jadi buku dan telah dibagikan kepada semua Paroki. Dan pastoral kita mengacu kepada dokumen itu.
KP ; Apa saja isi dokumen itu, Romo?
ED : Dokumen itu sebenarnya adalah rencana induk pengembangan Pastoral Keuskupan Ruteng. Karena itu, apapun yang kita lakukan di Paroki, acuannya dokumen itu. Di dokumen itu sudah ada semua konteks persoalannya termasuk jalan keluar sampai solusi Pastoralnya. Di situ lengkap untuk semua bidang perutusan gereja. Mulai dari liturgi, pewartaan, sampai dengan pelayanan dst. Bahkan sampai manajemen pastoral.
KP : Romo, kini dokumen itu sudah ada. Lantas bagaimana itu bisa diterapkan?
ED : Kita mau terapkan semua tidak bisa. Dokumen itu besar. Tidak gampang juga. Katena itu kita coba fokus. Tahun 2016 sesudah Sinode 2015 kita masuk implementasi tahun I. Kita pilih waktu itu fokus pada Liturgi. Kita mulai dari apa yang ada pada kita. Itu yang skornya bagus dalam evaluasi saat Sinode.
KP : Apa saja contoh kegiatannya dan bagaimana implementasinya?
ED : Banyak kegiatan yang berkaitan dengan penguatan liturgi itu. Misalnya, ibadat tanpa Imam. Itu juga wajib kita buat pelatihannya. Kita minta paroki-paroki untuk utus 2 atau 3 orang ikut pelatihan (TOT) pemimpin ibadat tanpa Imam di Paroki.
KP : Materi apa saja yang diberikan saat TOT?
ED : Mereka dilatih memimpin ibadat, berkhotbah, menyusun renungan, tafsir Kitab Suci dan seterusnya. Sesudah mereka dibekali seperti itu, kita minta mereka kembali ke Parokinya. Sampai di Paroki, mereka buat lagi pelatihan yang sama untuk lebih banyak orang di sana. Seperti itu prosesnya. Namun faktanya di Paroki, ada yang buat ada yang tidak.
KP : Apa yang dilakukan Litbang Puspas untuk memastikan program ini bisa terlaksana atau tidak?

ED : Kita lakukan 2 kali monitoring dan satu kali evaluasi per triwulan. Untuk triwulan pertama, kita beri pelatihan pada awal bulan, lalu mereka kembali ke Paroki. Saat monitoring kita undang semua teman dari Paroki berkumpul di Kevikepan Di situ mulai dilakukan Dari 16 poin program yang wajib kita laksanakan, sudah sejauh mana selama triwulan pertama mereka melaporkannya. Faktanya ada yang sudah buat ada yang baru rencana dan dibuat pada triwulan berikut. Kami catat semua. Paroki mana yang mulai dan paroki mana yang belum. Selain program, ada juga kegiatan, gerakan. Ada yang rutin dan yang fokus. Setelah selesai monitoring II, teman-teman itu kembali ke Paroki untuk merancang lagi kegiatan-kegiatan yang mereka sudah rencanakan.
KP : Hal apa saja yang dimonitoring dan dievaluasi?
ED : Saat itu kita pantau apakah semua program yang sudah disepakati untuk tahun liturgi 2016. Misalnya apakah mereka sudah masukan semua dalam program Paroki atau tidak. Artinya setelah sidang Pastoral pada bulan Januari mereka panggil semua Pengurus Dewan membahas program yang wajib dilaksanakan dari Keusukupan. Mari kita masukan dalam program Paroki dan anggarkan. Kita mau seperti begitu. Entah mereka buat atau tidak, itu yang kita pantau saat monitoring. Kalau sudah masuk dalam program Paroki, mana anggarannya? Di anggaran itu kemudian kita minta, serius atau tidak mereka melakukan itu.
Kita evaluasi juga postur anggarannya. Misalnya untuk pelayanan/diakonia, mereka diminta untuk membentuk kelompok-kelompok pelatihan pertanian organik atau pendamping masyarakat difabel. Kita tanya, biayanya berapa?. Kalau hanya Rp 500 ribu, itu omong kosong, ya toh. Program itu hanya bisa jalan kalau ada uangnya. Jangan bilang begini, ini dari berkat TUHAN. Tidak ada! Semuanya harus dihitung dengan uang. Semakin wajar pembiayaan, maka semakin orang percaya bahwa itu bisa dilaksanakan. Saat kita tanya anggaran, ada yang menjawab memang tidak ada uangnya karena mereka meminta kesediaan/kerelaan orang. Meskipun rela tetapi dalam postur anggaran itu harus dihitung biaya kegiatannya. Nanti diuraikan item kegiatan ini sumber biayanya dari sumbangan pribadi karena mereka tidak digaji. Nah, yang begitu-begitu kalau tidak dimonitoring, itu tidak jalan. Demikian juga pada monitoring II, monitoring III sampai evaluasi. Dan proses itu tidak gampang.
KP : Apa saja tantangan yang dialami selama proses monitoring ini, Romo?
ED : Kami juga mengalami banyak tantangan dari teman-teman di Paroki yang tidak terbiasa dengan hal-hal seperti itu. Ada teman-teman yang berpikir sedikit maju dan progresif. Mereka senang. Ah, ini baru benar kalau kita kelola paroki, begini caranya. Tetapi ada juga teman-teman yang bilang, apalagi kamu punya ini, buat kami sibuk saja. Mana mau urus berkat nikah dan seterusnya.
Tahun 2017 kita fokus ke Pewartaan. Kegiatannya berkaitan dengan katekese, termasuk pelatihan pewarta, kelompok-kelompok katekis digerakkan. Kita genjot betul. Prosesnya sama mulai dari monitoring hingga evaluasi dan seterusnya. Waktu itu kami belum bisa langsung buat seperti sekarang menghitung peringkat kinerja Pastoral setiap Paroki
KP : Apa kesulitannya, Romo?
ED : Karena teman-teman di Paroki belum siap. Tidak gampang ternyata untuk melakukan itu meskipun kita bisa sejak awal. Tetapi itu tantangannya.
Kendati demikian, tahun 2018 ketika sudah mulai tumbuh kesadaran bahwa barang ini penting. Teman-teman banyak yang ikut gerak bersama. Kita mulai menghitung peringkat kinerja. Jadi pastor paroki, kinerjamu seperti apa? Selama ini orang merasa bahwa saya ini baik. Tetapi baik menurut siapa? Standarnya mana? Sekarang di mana-mana, organisasi itu menerapkan apa yang disebut standar kinerja. Dan itu harus terukur. Bukan hanya ada dalam kepala tetapi juga bisa diekspresikan.
KP : Romo, mohon jelaskan bagaimana konkritnya alur proses monitoring litbang Puspas hingga dapat mengukur kinerja Pastoral di paroki-paroki.
ED : Kita mulai dari mengumpulkan bukti-bukti laporan dari paroki. Prosesnya begini. Monitoring I, teman-teman di Paroki melaporkan. Sebelum mereka datang ke sidang monitoring, kita harapkan Pastor Paroki datang bersama pengurus dewan parokinya melakukan evaluasi untuk melihat sejauh mana pelaksanaan program pastoral selama triwulan pertama. Dewan kemudian memberikan masukan dan seterusnya. Catatan-catatan terkait itu harus ditulis pada format-format laporan yang telah kami berikan sebelumnya ke paroki-paroki. Isi laporannya sesuai dengan format. Tidak sulit sebenarnya. Kita sudah bantu. Mereka tinggal mengisi format, menjawab semua pertanyaan yang ada dalam format itu.
KP : Romo, bagaimana hasil monitoring triwulan pertama, membanggakan atau sebaliknya?
ED : Ada paroki yang baik. Begitu menerima format sebulan sebelumnya, mereka langsung bergerak. Mereka panggil DPP lakukan evaluasi kemudian mengisi format yang ada. Ada paroki yang hanya memanggil satu dua orang saja atau suruh pegawai sekretariat paroki mengisi format. Ada paroki yang lebih buruk lagi. Sampai di tempat sidang monitoring baru minta format dengan alasan format yang diterima sebelumnya hilang. Mereka mengisi format di tempat pertemuan dengan tulis tangan. Jadi, kita amati semua itu. Orang ini serius atau tidak berpastoral. Demikian juga saat monitoring II dan monitoring III.
Tahun 2018 kita hanya ambil mereka punya dokumen. Lalu kita lihat dalam dokumen itu berapa persen program-program wajib dari Keuskupan yang mereka sudah masukan dalam program Paroki mereka. Dan berapa persen yang mereka laksanakan. Hanya dua itu saja parameternya. perencanaan dan bagaimana Paroki melaksanakannya. Dan semua itu berdasarkan dokumen yang mereka masukan ke litbang Puspas saat proses monitoring.
KP : Maaf Romo, litbang Puspas turun langsung ke Paroki-paroki saat monitoring?
ED : Selama monitoring, saya sebagai Kepala Litbang selalu hadir karena saya juga moderator sidang monitoring. Saya yang pimpin sidangnya. Jadi semua laporan itu kami dengar, satu. Kedua, kami dalami. Setiap pastor paroki membawa dokumennya lalu mempresentasikan dan seterusnya. Floor kemudian diberi kesempatan untuk mendalami laporan mereka. Setelah itu dokumen paroki dan semua catatan kritis floor diserahkan kepada kami. Itu yang kemudian kami olah untuk kita laporkan sebagai hasil pencapaian kinerja setiap paroki. Berdasarkan persentasi dari semua program yang ada dalam dokumen mereka, kita berusaha supaya dibuat peringkat. Tahun 2018 lalu, Paroki Reo meraih peringkat I. Lalu kita buat juga untuk tingkat Kevikepan. Paroki mana yang terbaik.
Pada tahun 2019, tahun Pelayanan, alur prosesnya juga sama. Mulai dari monitoring I, II, III sampai evaluasi. Sedangkan parameternya tambah satu, yaitu Bukti fisik. Tahun-tahun sebelumnya hanya dua parameter: perencanaan dan pelaksanaan program. Setelah kita kalkulasi semua itu dengan teknis perhitungannya ; persentasi angka relatif, hasilnya Paroki Poka meraih peringkat I. Paroki Reo dari juara I tergeser ke juara II. Paroki Datak meraih peringkat III.

KP : Romo, bagaimana dengan paroki-paroki SVD yang usianya tua sepert Paroki Rekas, Paroki Roh Kudus Labuan Bajo, posisinya di mana?
ED : Hilang. Ada beberapa paroki yang sebelumnya masuk 10 besar terlempar jauh.
KP : Paroki mana saja itu, Romo?
ED : Anda bisa lihat sendiri di dokumen. Ini menarik untuk dikaji.
KP : Mengapa itu terjadi, Romo?
ED : Provinsial juga tanya begitu. Paroki-paroki SVD kenapa tidak ada? Saya bilang, jangan tanya saya. Saya hanya menghitung apa yang mereka sudah buat. Kenapa tidak buat, jangan tanya saya.Tanya ke mereka. Paroki SVD yang masuk 10 besar hanya ada 1, yakni untuk tingkat Kevikepan Reo, Paroki Lengko Ajang meraih peringkat 5 (lima). Itu luar biasa karena dari bawah naik ke peringkat 5. Jadi ada Paroki yang turun, ada yang naik peringkat.
Jadi pertanyaan kamu tadi mengapa Paroki tua tidak masuk 10 besar, bukan soal paroki tua. Tetapi bagaimana kesetiaan orang dalam sistem tata kelola yang mereka buat di Paroki itu. Ketika sistemnya tidak kuat, dalam arti begini ; ganti pastor paroki, hilang semua apa yang sudah dibuat sebelumnya di Paroki itu. Itu berarti apa? Sistemnya tidak kuat. DPP nya di mana? Pastor Paroki boleh berganti. DPP nya masih tinggal di situ. Nah sekarang, di mana mereka itu dan kerjanya apa? Itu saja.
Paroki yang meraih peringkat sekarang karena mereka melakukannya dengan baik. Sistem tata kelola dan manajemen Pastoralnya bagus. Semua yang kita arahkan, mereka lakukan dengan baik disertai alat bukti fisik

Contohnya paroki Sta.Teresa Kalkuta-Datak. Pastor Parokinya Rm. Beny Jaya, Pr. Sebelumnya Rm. Vitalis Salung, Pr. Ketika pergantian pastor paroki, Romo Beny Jaya melakukan hal yang luar biasa di sana dengan segala macam pergerakkannya dilengkapi dengan bukti fisik dan seterusnya. Hasilnya terlihat. Peringkat pencapaian kinerjanya naik dari berapa puluh, naik ke peringkat III tingkat Keuskupan dan meraih peringkat I tingkat Kevikepan Labuan Bajp. Karena memang laporan terbaik pada setiap monitoring, dia punya (Rm.Beny Jaya, Pr-Red) terbaik. Itu sebenarnya yang terjadi.
KP : Dari semua yang diuraikan oleh Romo tadi, apa relevansinya antara sistem tata kelola Pastoral yang diidealkan litbang Puspas dengan realitas yang terjadi di paroki-paroki se-Keuskuoan Ruteng di tahun Penggembalaan ini dan yang akan datang. ?
ED : Di atas semua itu, ada usaha besar yang sedang kita kerjakan untuk membuat Pastoral di Keuskupan Ruteng dikelola dengan satu manajemen pastoral yang dapat dipertanggungjawabkan, efisien, akuntabel dan modern.
Bahwa kita masuk era digital 3.0, 4.0 itu mimpi yang kita perjuangkan. Semua data dikomputerisasi. Itu kan yang belum. Ada beberapa Paroki yang sudah tapi ada juga yang belum. Sudah ada komputer, tapi komputerisasi data belum dan tidak tahu caranya, itu satu. Yang kedua, pegawai di sekretariat tidak bisa kita asal angkat saja pegawai. Dia harus orang yang kompeten dalam mengelola administrasi Paroki. Ini juga tidak semua Paroki punya itu. Dari sisi keuangan kita juga kembang kempis.
Kita juga tidak bisa terlalu menuntut Paroki harus begini-begitu. Sementara kesiapan SDM tidak ada, fasilitas minim. Hal-hal itu yang mesti kita perjuangkan ke depan.
Tetapi bahwa sekarang kita mulai mengukurnya, itu suatu langkah maju. Dan majunya ini juga maju pelan-pelan. Tidak bisa juga langsung mendesak cepat-cepat. Karena ini menggerakkan banyak orang. Level Paroki itu tidak gampang.
Saya maklum betul, teman-teman di Paroki kadang-kadang ada yang bisa menggerakan DPP. Ada yang kesulitan dengan DPP nya. Bukan mereka tidak tahu tetapi mereka tidak mau. Mungkin karena pola komunikasinya kurang bagus. Ada Imam yang pintar berkomunikasi dengan orang lain sehingga dia bisa bergaul. Ada juga yang tidak bisa bergaul sehingga dia kesulitan merekrut orang untuk bekerja sama di Parokinya.
KP : Romo, saya kembali ke Paroki tua yang minim peringkat tadi. Sejauh yang ditelusuri litbang Puspas, apa ada yang salah dengan gonta-ganti Pastor Paroki?
ED : Berkaitan dengan pergantian Pastor di paroki-paroki tua. Sebelumnya siapa? Setelah itu siapa? Apa mereka itu masih fokus memimpin? Kami di Puspas berusaha membantu teman-teman di Paroki supaya ada sistem tata kelola yang menggerakkan pastoral di Paroki itu. Jangan ikut selera satu dua orang termasuk Pastor parokinya. Jangan baru pindah ke situ langsung merubah semua yang lain. Harus menghargai apa yang sudah tumbuh di situ.

Seperti kita kerja kebun. Ganti pemilik kebun lalu merubah semua yang sudah tumbuh di kebun. Kebun kita tidak pernah menghasilkan sesuatu karena begitu baru tumbuh, satu datang langsung cabut, tanam yang baru.
Pikiran kita sekarang bagaimana supaya siapapun yang datang, dia tetap memelihara yang sudah tumbuh di situ. Harus ada kerendahan hati. Memang saya mau supaya di kebun kita tanam pepaya semua. Tapi dia harus rendah hati karena sebelum dia datang, orang sudah lama tanam jagung di kebun itu. Biarkan jagung tumbuh hingga berbuah dan seterusnya. Setelah panen diusulkan untuk menanam beberapa pohon pepaya. Nanti kalau ternyata pepaya lebih bagus, jagung dicabut ganti dengan pepaya. Tetapi jagung baru tumbuh, datang lagi pemilik kebun yang baru ganti dengan buncis, memang tidak pernah berbuah. Persis itu yang terjadi di paroki-paroki tua. Usia paroki tua tidak bisa menjamin sistem tata kelola yang kuat. Tidak ! Itu yang kami temukan.
KP : Romo, apa positifnya buat paroki-paroki diberi peringkat seperti ini?
ED : Dengan memberi peringkat seperti ini, teman-teman di Paroki bisa melihat, saya ternyata ada di posisi ini. Dengan itu, tahun depan saya dan DPP mari berusaha meningkatkan peringkat kinerja pastoralnya.
Dan parameter yang kami pakai ke depan juga berkembang. Sekarang sudah ada 3 parameter (dokumen perencanaan, pelaksanaan dan bukti fisik). Kita mau tambah lagi untuk tahun yang akan datang. Kemarin kita sudah sepakat untuk tambah parameter baru, yaitu standar perubahan seperti apa yang akan kita munculkan dalam setiap kegiatan.
Selama ini, Mereka tulis itu satu kegiatan, tujuannya ini. Indikator perubahannya ini. Tetapi berbeda, karena setiap Paroki merumuskannya sendiri-sendiri. Kita tidak bisa mengukur sejauh mana perubahannya karena sesuai konteks paroki masing-masing. Karena itu saya berpikir begini, di tengah perbedaan itu, tetap ada hal yang harus sama yang standar. Perubahan minimal itu seperti apa?

Tampak dalam gambar Pastor Paroki Lengko Ajang, P. Peter Due, SVD, Pastor Paroki Dampek, Rm. Tarsisius Tombor, Pr., dan Pastor Paroki Pota, Rm Benediktus Gale, Pr.sedang mempresentasikan laporan evaluasi kegiatan pastoral tahun Pelayanan 2019. Moderatornya sidang Rm.Edy Djelahu, Pr. (Ketua litbang Puspas Keuskupan Ruteng)
Di semua Paroki harus ada perubahan minimal yang kita tetapkan dari awal. Makanya kemarin kita minta mereka untuk merumuskan perubahan standar paling kurang 2 atau 3 dengan indikatornya masing-masing. Tanda bahwa perubahan itu ada, apa? Sehingga nanti kita bisa ukur di akhir periode. Perubahan apa yang terwujud. Siapa yang bisa mewujudkan 3 perubahan standar ini, itu yang terbaik. Lebih boleh, kurang jangan. Itu kan standar, toh? Tidak boleh kurang dari standar. Nanti Anda buruk. Harus buat sampai standar atau lebih.
Tahun berikut, saya sudah pikir juga untuk terapkan parameter lain yang harus kita masukan untuk melihat wajah pastoral kita itu semakin jelas. Ibarat sebuah cermin. Dari tahu ke tahun dia akan lebih terang untuk menunjukkan wajah kita yang sebenarnya seperti apa. Dan itu tidak bisa cepat-cepat. Harus pelan-pelan. *(Robert Perkasa/Komodopos.com)


















































