Cuaca Ekstrem, Manggarai Barat Belum Berstatus Darurat Bencana

Dinas PUPR dan BPBD Manggarai Barat meninjau lokasi bencana longsor, Senin (6/1/2020). Foto : Dok. Dinas PUPR MabarKOMODOPOS.com–LABUAN BAJO–Sejumlah ruas jalan kabupaten maupun jalan provinsi di wilayah kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur rusak parah terpapar bencana longsor buntut dari cuaca ekstrem Intensitas hujan lebat disertai angin kencang menghantam kabupaten pariwisata di ujung barat pulau Flores Itu awal pekan pertama Januari 2020. Bukan cuma itu. Lahan pertanian warga setempat ada yang terendam material longsor. Sejumlah rumah warga hingga tempat ibadah (Gereja) juga ada yang rusak parah diterjang angin puting beliung. Kendati demikian, pemkab Mabar sejauh ini belum menetapkan wilayah itu berstatus darurat bencana.Dikonfirmasi Komodopos.com melalui Whatsapp, Kamis (9/1/2020), Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Manggarai Barat, Dominikus Hawan enggan memberi tanggapan lebih jauh terkait penanganan dampak bencana alam yang terjadi. Ia beralasan, BPBD Mabar belum menghitung dampak ekonomi, karena status bencana belum ditetapkan.“Maaf, saya belum memberikan tanggapan. Saya sudah pulang dari lokasi kejadian kemarin pagi. Pukul 13.00 baru tiba di Labuan Bajo. Kejadian yang dilaporkan, kami sudah cek dan benar adanya. Kami belum menghitung dampak ekonomi, karena harus ditetapkan status bencananya. Kejadian bencana hydrometeorologi, sejauh ini puji Tuhan belum ada laporan korban jiwa”, tutur Domi Hawan.Belum ada jalan yang putus totalTerpisah, Kepala Dinas PUPR Mabar, Ir. Oktavianus Andi Bona kepada Komodopos.com via Whatsapp, Rabu malam (8/1/2020) menjelaskan hasil pantauan langsung di lapangan. Ia menerangkan, sejumlah ruas jalan yang rusak parah terpapar bencana longsor antara lain terjadi di kecamatan Kuwus, kecamatan Ndoso dan kecamatan Boleng.Ovan Adu menambahkan, arus transportasi kendaraan di sejumlah titik longsor itu masih berjalan. Belum ada ruas jalan yang putus total. Infrastruktur jembatan yang tersebar di wilayah kabupaten Mabar juga dalam kondisi aman.Hasil pantauan Dinas PUPR Mabar di lokasi longsor menunjukkan, arus transportasi di titik-titik longsor itu masih dapat dilalui kendaraan roda 4 dan roda 2. Sementara itu, kondisi infrastruktur jembatan yang tersebar di kabupaten Manggarai Barat masih aman.”Untuk sementara ternyata belum ada jalan yang putus total. Semua lokasi yang terpapar longsor masih bisa dilewati walau pas untuk kendaraan roda 2 dan roda 4 saja. Infrastruktur jembatan dalam kondisi aman”, terang Ovan Adu.Lebih rinci Ia menyebutkan, titik-titik longsor yang terjadi di kecamatan Kuwus, terdapat di desa Suka Kiong, desa Compang Suka, desa Coal dan desa Golo Ru’u. Longsor di kecamatan Ndoso terjadi di ruas jalan Dahang – Tentang – Siri Mese, tepatnya di kampung Kubur dan ruas Kasong-Raka. Di kecamatan Boleng terjadi di ruas jalan Kaca-Repes.
Sementara itu Jalan Provinsi juga mengalami longsor di beberapa segmen antara Lando – Golo Welu.Ditanya soal penanganan lebih lanjut di titik-titik longsor, Ovan Adu menjelaskan, Dinas PUPR bersama BPBD Mabar masih menghimpun data,secara keseluruhan kemudian menggelar rapat dengan BPBD untuk menghitung besaran dana. Setelah itu baru melakukan penanganan.”Harus didata secara keseluruhan, Mungkin masih ada lagi bencana baru atau susulan sehingga dapat terhitung semua. Sebab pembiayaan untuk penanggulangan bencana menjadi kewenangan atau tupoksi BPBD, DInas PUPR menjadi eksekutor di lapangan. Begitu mekanismenya”, jawab Ovan Adu.Berita Komodopos.com Senin (6/1/2020) kemarin, Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), bersama tim terpadu Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mabar, camat dan lurah/kepala desa turun meninjau langsung ke sejumlah lokasi longsor yang terjadi di wilayah itu.Bupati Mabar imbau buka
posko tanggap darurat bencanaMengantisipasi cuaca ekstrem yang belum normal dan berbagai resiko yang ditimbulkannya, Bupati Mabar, Drs. Agustinus Ch. Dula meminta instansi teknis terkait unruk membuka posko tanggap darurat bencana dan bersiaga 1 X 24 Jam serta memastikan bantuan tanggap darurat bencana telah dipersiapkan secara baik dan memadai guna merespons setiap laporan dari lokasi bencana alam. Himbauan resmi Bupati Mabar, itu disampaikan melalui surat BPBD Nomor 360/338/1/2020, tanggal 4 Januari 2020.Bupati Gusti Dula juga mengisntruksikan jajaran pemerintah Kecamatan, kelurahan dan pemerintah desa untuk menghimbau RW dan RT masing-masing untuk melaksanakan kegiatan gotong royong membersihan lingkungan bersama warga, terutama untuk membersihkan drainase dan selokan agar tidak tersumbat dan menyebabkan genangan air dan banjir.Dalam surat itu, Bupati Gusti Dula juga meminta warganya yang bermukim di sekitar area bencana untuk senantiasa waspada dan berhati-hati terhadap dampak cuaca ekstrim berupa curah hujan dengan intensitas lebat serta angin kencang seturut update informasi BMKG dapat terjadi di wilayah NTT pada awal bulan Januari 2020. *(Robert Perkasa)
____________Titik-titik bencana alam (Longsor dan angin kencang) dan data korban terdampak bencana yang dihimpun Komodopos.com per Januari 2020 :Titik Longsor ;1. Kecamatan Kuwus, terdapat di desa Suka Kiong, desa Compang Suka, desa Coal dan desa Golo Ru’u.
(Sumber : Dinas PUPR Mabar)2. Kecamatan Ndoso terjadi di ruas jalan Dahang – Tentang – Siri Mese, tepatnya di kampung Kubur dan ruas Kasong-Raka. (Sumber : Dinas PUPR Mabar).3. Di ruas jalan Lewur menuju dusun Bangka, desa Lewur, kecamatan Ndoso ((Sumber : Laporan warga)4. Di kecamatan Boleng terjadi di ruas jalan Kaca-Repes. ((Sumber : Dinas PUPR Mabar)4. Ruas jalan Provinsi longsor terjadi di beberapa segmen antara Lando – Golo Welu. (Sumber : Dinas PUPR Mabar)Korban bencana angin kencang/Puting beliung :1. Kecamatan Sano Nggoang ; 3 unit rumah warga kampung Pinggong, desa Golo Ndaring, rusak berat diterjang angin kencang. Kejadian Minggu (5/1/2020). Rumah milik Alfonsius Suharmin, Viktor Kehadiran Lorensius Sudin. (Sumber Komodopos.com)2. Sekitar Satu hektar kebun Cengkeh milik Matias Geo, Goris Ganggur dan Melania Anut, Warga Desa Benteng Suru Kecamatan Kuwus terpapar bencana longsor. lokasi kejadian ; Wae Teno yang terletak antara dusun Pata dan Lasang. Selain itu tanaman komodoti Vanili yang siap dipanen juga tertimpa longsor dan sejumlah sawah yang sudah ditanami padi juga tertimbun longsor.
(Sumber ; Kominfo Mabar, Selasa, 7/1/2020)3. 4 unit rumah warga desa Temgku, kecamatan Kuwus Barat terdampak longsor yang terjadi Minggu (5/1/2020). Rumah warga yang tertimpa longsor yakni Primus Taur, Theodorus Jui dan Kletus di Dusun Borong. serta Yohanes Bosko dan Lorensius Jehadun di Dusun Monsok.(Sumber ; Kominfo Mabar, Selasa, 7/1/2020)

4. Di kecamatan Boleng, satu unit Gereja Katolik roboh terdampak angin kencang yang terjadi Sabtu petang (4/1/2020)
(Sumber ; Kominfo Mabar, Selasa, 7/1/2020) *(Robert Perkasa)

Breaking News : Pagi ini, Kawasan Puncak Puarlolo-Mbeliling Berkabut & Hujan Gerimis

Cuaca pagi ini di kawasan Puncak Mbuhet-Puarlolo, desa Wae Lolos, kecamatan Sano Nggoang

KOMODOPOS.com-MBELILING-Rabu (8/1/2020) pagi inial, kawasan puncak Mbuhet-Puarlolo-Mbeliling hingga beberapa desa penyangga sepanjang kawasan pegunungan Mbeliling kembali gelap terbalut kabut nan tebal disertai hujan gerimis.

Terpantau Komodopos.com sejak dini hari tadi hingga berita ini disiarkan, mobilitas warga setempat tampak sepi. Animo warga mengunjungi pasar Tekad pagi ini tampak sepi lantaran cuaca kurang bersahabat. Warga lebih memilih tinggal di rumah mereka.

Sementara itu arus transportasi di jalan Trans Flores dari dan menuju ibukota Labuan Bajo terpantau lancar. Namun para sopir kendaraan roda 4 dan pengendara roda 2 terpaksa menyalakan lampu kendaraannya membantu penerangan jalan tatkala melintasi kawasan tersebut.

Pagi ini di Kantor camat Mbeliling di Wersawe. Foto : Hieronimus T.K. Very Much

Dari Wersawa, ibukota kecamatan Mbeliling, Hieronimus T.K. Very Much, Kasie Kesos Kec.Mbeliling melaporkan pagi ini, cuaca seputar destinasi wisata Cunca Wulang waterfall terpantau mendung.

“Aktivitas warga setempat dan para pegawai negeri sipil di intastasi pemerintah berjalan normal. Kegiatan Belajar Mengajar di sekolah berrlangsung lancar dan aman. Arus kunjungan para wisatawan manca negara pun domestik juga tak terkendala. Infrastruktur jalan menuju Cunca WULANG waterfall area terpantau mulus”, Very melaporkan via handphone selularnya.

Terpisah, Kepala Desa Tondong Belang, kecamatan Mbeliling, Fransiskus Saverius Vidi mengabarkan cuaca pagi ini di wilayah desanya terpantau kabut tipis tanpa hujan.

Cuaca pagi ini di wilayah Desa Tondong Belang, kecamatan Mbeliling. Foto ; Dok Pemerintah desa Tondong Belang

“Kondisi cuaca pagi ini kabut tipis tanpa hujan, setelah semalam hujan dengan durasi putus-putus namun cukup lebat. Tapi sejauh pantauan kami dan juga informasi warga dan staf kami di lapangan melalui group Whatsapp Desa, kondisi masih aman. Aktifitas warga masih normal. Itu yg bisa saya informasikan pagi ini sampai puklu 09:00 Wita untuk Komodopos.com”, tutur Kades Fransiskus via Whatsapp.

Kades Fransiskus Saverius Vidi

Kabar senada meluncur dari Desa Liang Ndara, kecamatan Mbeliling. Kepala Desa Liang Ndara, Karolus Vitalis menerangkan, cuaca pagi ini di wilayah desanya terpantau mendung berkabut serta hujan gerimis. Namun mobilitas warganya berjalan normal.

“Selamat pagi Komodopos.com. Cuaca pagi ini di desa Lang Ndara mendung berkabut disertai hujan gerimis. Kendati demikian, aktifitas petani dan roda pendidikan di SDK Melo dan SMP Negeri 4 Mbeliling berlangsung lancar. Jika ada perkembangan, kami kabarkan info terkini”, ujar Kades Vitalis saat dikonfirmasi melalui handphone selular.*(Robert Perkasa)

Manggarai Barat Terpapar Bencana Longsor & Angin Kencang, Warga Diminta Waspada

Foto : Dokumentasi Dinas PUPR kabupaten Manggarai Barat

KOMODOPOS.com-LABUAN BAJO-Intensitas hujan lebat disertai angin kencang yang melanda sejumlah desa di kabupaten Manggarai Barat (Mabar), Nusa Tenggara Timur sejak awal Januari tahun baru 2020. Akibatnya sejumlah ruas jalan kabupaten maupun ruas jalan provinsi di kabupaten ujung barat pulau Flores itu rusak parah terpapar bencana longsor. Bukan cuma itu. Sejumlah rumah penduduk, lahan pertanian hingga tempat ibadah (Gereja) menjadi korban badai angin kencang. Menanggapi cuaca ekstrim serta mengantisipasi berbagai resiko yang ditimbulkannya, Pemerintah Kabupaten Mabar meminta warga yang bermukim di sekitar area bencana untuk senantiasa waspada.

Senin (6/1/2020) kemarin, Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), bersama tim terpadu dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Mabar, camat dan lurah / kepala desa turun meninjau langsung ke sejumlah lokasi longsor.

Kepala Dinas PUPR Mabar, Ir. Oktavianus Andi Bona kepada Komodopos.com via Whatsapp, Selasa malam (7/1/2020) menjelaskan hasil pantauan langsung di lapangan, sejumlah ruas jalan yang rusak parah terpapar bencana longsor antara lain terjadi di kecamatan Kuwus, kecamatan Ndoso dan kecamatan Boleng.

“Di kecamatan Kuwus, tepatnya di desa Suka Kiong, desa Compang Suka, desa Coal dan desa Golo Ru’u.
Longsor di kecamatan Ndoso terjadi di ruas jalan Dahang – Tentang – Siri Mese, tepatnya di kampung Kubur dan ruas Kasong-Raka.
Di kecamatan Boleng terdapat di ruas jalan Kaca-Repes.
Sementara itu Jalan Provinsi juga mengalami longsor di beberapa segmen antara Lando – Golo Welu”, Ovan Adu menerangkan.

Ia menambahkan, berdasarkan hasil pantauan Dinas PUPR, untuk sementara ternyata belum ada jalan yang putus total. “Semua lokasi yang terpapar longsor masih bisa dilewati walau pas untuk kendaraan roda 2 dan roda 4 saja”, ungkap Ovan Adu.

Sebelumnya, Bupati Mabar, Drs. Agustinus Ch. Dula mengeluarkan himbauan resmi melalui surat BPBD Nomor 360/338/1/2020, tanggal 4 Januari 2020.

Dalam surat tersebut, Bupati Gusti Dula menghimbau
agar masyarakat waspada dan berhati-hati terhadap dampak dari potensi cuaca ekstrim berupa curah hujan dengan intensitas lebat disertai kilat (petir) serta angin kencang yang menurut update informasi BMKG dapat terjadi di wilayah NTT pada awal bulan Januari 2020.

Bupati Gusti Dula juga meminta Instansi-instansi teknis terkait seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Satuan Polisi Pamong Praja, Dinas Sosial, Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, Dinas Perumahan Rakyat, Permukiman dan Pertanahan, Dinas Kesehatan, Dinas Perhubungan, Dinas Pariwisata serta RSUD Komodo agar saling berkoordinasi dan mengaktifkan posko tanggap darurat bencana untuk bersiaga penuh 1 X 24 Jam merespons tsetiap laporan dari lokasi bencana alam.

Instansi teknis terkait diimbau agar memastikan bantuan tanggap darurat bencana telah dipersiapkan secara baik dan memadai.

Ia juga mengisntruksikan jajaran pemerintah Kecamatan, kelurahan dan pemerintah desa untuk
menghimbau RW dan RT masing-masing untuk melaksanakan kegiatan gotong royong membersihan lingkungan bersama warga, terutama untuk membersihkan drainase dan selokan agar tidak tersumbat dan menyebabkan genangan air dan banjir. *(Robert Perkasa)

Data bencana Alam di kabupaten Mabar Januari 2010

1. 3 unit rumah warga kampung Pinggong, desa Golo Ndaring, kecamatan Sano Nggoang rusak berat diterjang angin kencang. Kejadian Minggu (5/1/2020). Rumah milik Alfonsius Suharmin, Viktor Kehadiran Lorensius Sudin. (Sumber Komodopos.com)

2. Sekitar Satu hektar kebun Cengkeh milik Matias Geo, Goris Ganggur dan Melania Anut, Warga Desa Benteng Suru Kecamatan Kuwus terpapar bencana longsor. Lokasi kejadian ; Wae Teno yang terletak antara dusun Pata dan Lasang. Selain itu tanaman komodoti Vanili yang siap dipanen juga tertimpa longsor dan sejumlah sawah yang sudah ditanami padi juga tertimbun longsor.
(Sumber ; Kominfo Mabar, Selasa, 7/1/2020)

3. 4 unit rumah warga desa Temgku, kecamatan Kuwus Barat terdampak longsor yang terjadi Minggu (5/1/2020). Rumah warga yang tertimpa longsor yakni Primus Taur, Theodorus Jui dan Kletus di Dusun Borong. serta Yohanes Bosko dan Lorensius Jehadun di Dusun Monsok.(Sumber ; Kominfo Mabar, Selasa, 7/1/2020)

4. Di kecamatan Boleng, satu unit Gereja Katolik roboh terdampak angin kencang yang terjadi Sabtu petang (4/1/2020).
(Sumber ; Kominfo Mabar, Selasa, 7/1/2020) *(Robert Perkasa)

HUT ke-47, PDI Perjuangan Garuk Sampah di Kota Labuan Bajo

KOMODOPOS.com-LABUAN BAJO-Memperingati Hari Ulang Tahun Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ke-47, Pengurus DPC dan para kader PDI Perjuangan Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur turun ke jalan menggelar aksi pungut sampah di kota Labuan Bajo, Selasa (7/1/2920). Lokasi aksi sosial PDIP yang dipimpin langsung oleh Sekretaris DPC PDIP Mabar, Kab. Silverius Sukur difokuskan di Puncak Waringin Labuan Bajo. Sebanyak 15 karung sampah berhasil digaruk di lokasi tersebut.

“Kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan memperingari HUT ke-47 PDIP yang digelar oleh kader PDIP se-Indonesia. Aksi pungut sampah ini pun bagian dari penegasan hasil Kongres V PDIP yakni kampanye stop sampah Plastik”, ungkap Silverous saat ditemui Komodopos.com di lokasi aksi.

Ketua Fraksi PDIP DPRD Mabar ini berharap muncul kesadaran kolektif warga kota Labuan Bajo untuk menjaga keindahan kota Pariwisata Labuan Bajo, dengan mekanisme kerja gotong royong. Bersama-sama mencegah peredaran sampah plastik.

Di lokasi yang sama, Kordinator lapangan dalam aksi itu, Basri Kelle menyebutkan Puncak Waringin dipilih sebagai tempat aksi karena lokasi tersebut menjadi salah satu Spot wisata yang banyak disinggahi wisatawan. Karena itu sangat disayangkan ketika sampah-sampah plastik berseliweran di lokasi nan sexi itu.

“Hari ini kami mengumpulkan 15 karung sampah. Jenis yang berhasil digaruk berupa plastik, botol-botol minuman, kotak nasi, kantong plastik, botol bir, minuman kaleng dan pakaian bekas). PDIP Mabar berharap semoga ke depannya warga kota Labuan Bajo tidak lagi membuang sampah plastik di sembarang tempat. Bukan saja di Puncak Waringin, tetapi juga area wisata lainnya”, ujar Basri Kelle.

Sementara itu, Frim, salah satu warga yang sempat menyaksikan kegiatan ini mengapresiasi PDIP yang telah bergerak menggedor kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan dari sampah plastik. “PDIP bagus, semoga ke depannya selalu hadir di tengah-tengah persoalan rakyat,” kata Frim.

Rangkaian kegiatan HUT ke- 47 PDIP puncaknya bersamaan dengan pelaksanaan Rakernas PDIP yang berlangsung pada 10-12 Januari 2020 di Jakarta. *(Deddy Wijaya)

Editor : Robert Perkasa

Merawat Aren, Alam Sehat, Ekonomi Warga Bergeliat

Oleh Fathul Rakhman

Pemerintah Desa Pusuk Lestari, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat, NTB menggelar Festival Minum Tuak belum lama ini. Festival minum tuak ini untuk melawan stigma bahwa minum tuak itu identik dengan minuman mengandung alkohol.

Di Lombok, awalnya tuak itu sebutan untuk air aren manis, yang belum fermentasi. Belakangan, pedagang tuak di Pusuk Lestari dan desa lain terpaksa menambah nama menjadi “tuak manis untuk membedakan dengan tuak fermentasi.

Aren banyak tumbuh di Desa Pusuk Lestari. Pemerintah desa ini juga mengenalkan produk olahan seperti gula semut, dan ragam kerajinan dari tanaman aren.

Aren, selain sumber ekonomi, juga tanaman konservasi. Aren tumbuh di berbagai tempat, dari kawasan hutan, kebun, sampai pinggir jalan dan sungai.

Minggu pagi, pada penghujung November lalu, Yuliana, keluar rumah berpakaian beda dari biasa. Mengenakan kebaya warna krem, wajah berbedak tipis. Berpadu dengan gincu merah terang.

Kaki beralas sandal, yang biasa keluar saat kondangan atau berkunjung ke kota. Hari-hari biasa, Yuliana mengenakan sarung atau rok yang sudah pudar. Tak berdandan.

Hari itu, Yuliana ingin tampil istimewa. Walau sebagai pedagang tuak dia ingin tampak rapi. Kala itu, Pemerintah Desa Pusuk Lestari, Kecamatan Gunungsari, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB) menggelar Festival Minum Tuak. Ada puluhan pedagang tuak di sepanjang jalur desa yang berbatasan dengan Lombok Utara ini.

Ada belasan pedagang tuak membuka lapak di Rest Area Pusuk Pas, hutan lindung yang terbelah jalur lintas Lombok Barat-Lombok Utara.

Para pedagang tuak bersukacita menyambut festival ini. Kawasan hutan tempat wisata itu kerap jadi lokasi beragam kegiatan. Para pejabat, wisatawan nusantara dan asing sering mampir sebelum meneruskan perjalanan ke Pelabuhan Bangsal, jalur menuju Gili Trawangan.

Pusuk Pas jadi pintu masuk, sekaligus pintu keluar bagi pecinta dunia mountain bike. Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan, membangun jalur untuk sepeda.

Setengah hari bersepeda, bisa istirahat di lapak-lapak pedagang tuak. Akhir bulan ini, wisatawan juga bisa menikmati buah-buahan hasil kebun dan hutan Pusuk Lestari seperti durian, nangka, kepundung, maupun rambutan.

Pada musim puncak durian, kawasan ini banyak pembeli. Mereka menikmati buah sambil menikmati suasana hutan. “Kami senang ramai seperti ini, saya sudak setok lebih banyak tuak,’’ kata Yuliana.

Panitia menyiapkan tiga gelas tuak gratis, termasuk ratusan botol bagi seluruh peserta festival yang berjudul “Pesona Pusuk Lestari” ini. Panitia juga menggelar pentas seni, motor trek, sepeda gunung, hiking, termasuk mengamati dan memberikan makan di Monkey Forest.

Petani aren di Desa Pringajurang Utara, Lombok Timur, mengolah nira aren menjadi gula cakep. Prosenya lebih cepat tetapi harga lebih murah. Foto: Fathul Rakhman/Mongabay Indonesia

Para peserta gratis minum tuak. Walaupun ada tuak gratis, Yuliana, tak khawatir jualan tak laku. Dia yakin lebih banyak orang akan singgah di lapaknya. Apalagi, dia juga menjual beberapa jajanan lokal, termasuk buah hasil kebun.

Pedagang tuak senang festival ini, termasuk dukungan penuh Pemerintah Lombok Barat. Sejak rilis dua pekan sebelumnya, festival ini memantik kontroversi karena tuak itu terlanjur melekat pada air nira (aren) yang sudah terfermentasi alias mengandung alkohol.

Desa-desa yang berbatasan dengan hutan di Kecamatan Gunungsari, Kecamatan Lingsar, Kecamatan Narmada, dikenal sebagai sentra aren. Beberapa desa dikenal sebagai sumber tuak (beralkohol) kerap jadi sasaran razia. “Kami ingin mengubah stigma itu,’’ kata Junaidi, Kepala Desa Pusuk Lestari.

Tuak manis dan tuak sudah mengandung alkohol sama-sama berasal dari air nira. Tetesan dari tangkai buah aren menghasilkan air manis yang disebut nira. Warga Pusuk Lestari, langsung menjual air nira yang masih manis itu. Masih segar. Mereka menyebut, tuak. Mereka juga mengolah jadi gula merah.

Di tempat lain, air nira itu terfermentasi. Sebutan tuak berkonotasi dengan minuman beralkohol. Akhirnya, para pedagang tuak menambahkan kata “manis” di produk mereka.

Nama tuak tanpa embel-embel manis (tuak manis) itulah yang ingin dilakukan Pemerintah Desa Pusuk Lestari. Desa yang di kelilingi kawasan hutan ini ingin mengenalkan ke publik bahwa seharusnya tuak itu dijual manis, alami, tanpa fermentasi.

Festival ini tak mau menambahkan kata “manis” hingga muncul pro kontra, walau satu sisi membantu promosi juga. Ribuan orang tumpah ruah di Pusuk Pas.

Warga Desa Pusuk Lestari, mendukung. Bahkan, anak muda desa ini kompak kenakan pakaian adat, tak sekadar para menyambut tamu.

Para petani pengambil air nira yang biasa hanya memakai celana pendek dan sarung, hari itu tampil dengan pakaian adat. Sambil memanggul bambu tempat menyimpan air nira, mereka menuangkan ke gelas-gelas bambu yang disediakan, termasuk para penonton yang membawa tumbler.

Tanaman aren tumbuh bersama pepohonan lain, jadi tutupan terjaga di hutan maupun kebun masyarakat Desa Pusuk Lestari. Foto: Fathul Rakhman/Mongabay Indonesia

Tanaman konservasi

Aren merupakan tanaman yang banyak dijumpai di pinggir hutan di Pusuk Lestari dan pinggir hutan di desa-desa yang berbatasan dengan Gunung Rinjani. Desa-desa di Lombok Timur, Lombok Tengah, Lombok Utara, dan Lombok Barat, pasti ada tanaman aren. Ia tumbuh liar di sepajang aliran sungai, di bibir tebing, dalam kebun, maupun kawasan hutan.

Bagi masyarakat di pinggir hutan, aren ini dijuluki pohon uang. Sepanjang tahun, uang bisa “dipetik” dari tanaman ini. Air nira adalah sumber uang terbesar dan bisa panen setiap hari. Aren tumbuh sehat, bisa hasilkan lima liter air nira, satu liter Rp5.000 jadi satu batang bisa Rp50.000 perhari.

“Alhamdulillah, setiap hari bisa sampai 30 botol saya jual,’’ kata Yuliana, pedagang air nira.

Seluruh bagian tanaman aren menghasilkan uang. Buah aren kupas disebut kolangkaling, bisa jadi campuran es buah dan kolak nan lezat. Daun aren jadi bahan atap. Lidi bisa jadi sapu.

Ijuk juga bernilai tinggi. Di tengah geliat pariwisata di Lombok, ijuk jadi barang langka dan mahal untuk hiasan, tali, atap bangunan-bangunan yang mengusung konsep alam. Ketika mati pun aren masih bernilai. Kayu bisa jadi kayu bakar.

Manfaat ekonomi inilah, hingga aren jadi tanaman unggulan produk hasil hutan bukan kayu (HHBK) di Lombok Tengah dan Lombok Utara.

Surat keputusan Bupati Lombok Utara Nomor 192/2013 dan surat keputusan Bupati Lomnbok Tengah Nomor 5a/2013 tentang unggulan HHBK.

“Aspek penting aren ini juga nilai ekologisnya,’’ kata Ridha Hakim, Direktur WWF Nusa Tenggara.

Gula semut hasil olahan petani aren di Pusuk Lestari. Di beberapa gerai minimarket di Kota Mataram, sudah bisa dijumpai gula semut produksi para petani sekitar hutan. Foto: Fathul Rakhman/Mongabay Indonesia

Aren tumbuh di lahan milik masyarakat maupun kawasan hutan secara alami. Penyebaran oleh binatang pemakan buah. Dalam riset WWF Nusa Tenggara, ada dua jenis aren tumbuh di hutan maupun lahan masyarakat. Pertama, aren ginjah, cepat berproduksi dan produktivitas tinggi tetapi umur pendek.

Kedua, aren dalam, lambat produksi, produktivitas lebih rendah tetapi usia sangat panjang.

“Secara ekologis, aren lokal atau aren dalam lebih tepat sebagai tanaman dalam hutan,’’ katanya.

Dibandingkan tanaman lain, aren merupakan tanaman konservasi. Berbeda dengan mahoni, sengon dan pohon lain ditebang pada masa tertentu, setelah itu ditanami tanaman semusim.

Aren cenderung sengaja dibiarkan. Mereka sadar, nilai ekonomis kayu aren tak bagus, lebih bagus menjaga untuk diambil air nira. Dengan begitu, secara tak langsung aren di kawasan hutan dan kebun kelestarian terjaga.

Ia terlihat di Desa Pusuk Lestari. Sepanjang aliran sungai, kebun, halaman belakang rumah, dan dalam hutan tumbuh lebat tanaman aren. Hampir tak pernah ada penebangan aren di kawasan hutan dan berganti tanaman semusim.

Justru, masyarakat menjaga aren itu. Mereka membersihkan sekitar tanaman agar tumbuh sehat, bila perlu memberikan pupuk.

Tak heran, kawasan hutan, kebun, bukit di Pusuk Lestari, begitu terjaga. Ini berbeda dengan bukit-bukit dan kawasan hutan di bagian selatan Lombok, pepohonan ditebang berganti jagung. Termasuk juga kawasan-kawasan di hutan tanaman rakyat (HTR), hutan kemasyarakatan (HKm) yang tak tumbuh aren ada yang beralih fungsi jadi kebun jagung dan kebun pisang.

Para pemuda di Desa Pusuk Lestari, membawa tabung bambu berisi tuak yang akan dibagikan ke peserta Festival Minum Tuak. Foto: Fathul Rakhman/Mongabay Indonesia

Produksi aren dalam maupun ginjah berlangsung sepanjang tahun. Ada tiga jenis atau bentuk gula aren bertransformasi dari nira aren, yaitu, gula cakep, gula briket dan gula semut.

Sebagian besar pengolah gula aren, memproduksi gula cakep, karena dianggap pembuatan lebih mudah, pengerjaan bisa bersama dengan pekerjaan rumah tangga dan pasar lebih jelas walau harga jauh lebih murah gula briket maupun gula semut.

Kalau gula cakep harga Rp30.000 perkg, gula briket Rp45.000 dan gula semut Rp60.000 perkg.

Junaidi, Kepala Desa Pusuk Lestari bilang, sekarang pemerintah desa mengarahkan masyarakat membuat gula semut, harga lebih mahal dan bisa jual ke luar daerah. Gula semut juga bisa jadi oleh-oleh khas Pusuk Lestari.

Dalam hitungan WWF Nusa Tenggara dalam hasilkan sembilan kilogram gula cakep atau gula semut, perlu nira masing-masing 50 liter.

Untuk hasilkan sembilan kilogram gula semut perlu 70 liter nira. Harga nira aren di petani Rp2.500 per liter, setelah jadi gula cakep di pengolah atau pengepul Rp30.000 perkg dan Rp35.000 kg di pengecer. Kalau diolah jadi gula briket, harga pada pengolah atau pengepul Rp45.000 perkg dan pengecer Rp50.000 perkg.

Bila diolah jadi gula semut, nira aren Rp60.000 perkg di pengolah atau pengepul dan pengecer Rp70.000 perkg. “Petani kami dapat dampingan untuk mengolah gula semut. sekarang kualitas bagus, kemasan juga bagus, bisa masuk toko,’’ kata Junaidi.

Petani aren memanen buah aren (kolangkaling). Dengan menjaga aren berarti mereka juga menjaga hutan tetap lestari. Foto: Fathul Rakhman/Mongabay Indonesia

Artikel ini telah tayang di Mongabay.co.id diterbitkan oleh Sapariah Saturi.
5 January 2020

Warga Desa Lewur Gotong Royong Bersihkan Material Longsor

Foto : Facebook Lyan Aman

KOMODOPOS.com-NDOSO-
Warga dusun Bangka, desa Lewur, kecamatan Ndoso, kabuoaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur turun ke jalan membersihkan material longsor yang menerjang wilayah itu, Minggu (5/1/2020) kemarin sekira pukul 15.30 Wita. Aksi gotong royong hari ini (Senin (6/1/2020) yang dipimpin langsung oleh Kepala Dusun Bangka ini diikuti oleh warga satu dusun. lDengan demikian arus lalu lintas kendaraan dan mobilitas warga normal kembali hari ini.

Menurut laporan dari seorang warga dusun Bangka, Lyan Aman yang dikonfirmasi Komodopos.com melalui handphone selularnya melalui handphone selular, Senin (6/1) pagi, itik longsor terjadi di perkebunan warga, tepatnya di ruas jalan Lewur menuju dusun Bangka, desa Lewur. Volume longsoran diperkirakan sekitar 50 meter menutupi badan jalan. Material longsoran berupa lumpur dan juga pohon-pohon kayu yang tumbang tergerus longsor yang disebabkan hujan deras selama 2 jam.

Foto : Facebook Lyan Aman

Lyan Aman menjelaskan, tidak ada korban jiwa dalam musibah itu. Namun akibatnya arus lalulintas dan mobilitas warga setempat terganggu.

“Untuk sementara kendaraan oda empat sementara tidak dapat melintas karena material longsoran menimbun badan jalan. Hanya kendaraan roda dua yang bisa melintas, iru pun ekstra hati-hati dan selalu waspada”, ujarnya.

Lyan menambahkan, hari ini, Senin (6/1) pagi, warga dusun Bangka melakukan kerja bakti gotong royong membersihkan material longsor.

Dinas PUPR Mabar Turun ke lokasi Longsor

Menanggapi berbagai laporan terkait kerusakan sejumlah fasilitas vital publik, terutama infrastruktur jalan dan jembatan yang terdampak bencana alam longsor akibat intensitas curah hujan tinggi yang terjadi di wilayah kabuolpaten Manggarai Barat, provinsi Nusa Tenggara Timur, Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kabupaten Mabar hari ini, Senin (6/1/2020) segera meninjau langsung ke sejumlah titik yang terpapar bencana longsor.

“Semua staf tehnik dinas PUPR mulai hari ini turun ke lokasi untuk mendata semua lokasi yang terdampak bencana longsor. Selanjutnya kami bahas solusi penangananya. Tentu tidak mudah penangananya karena cuaca extrim belum normal. Masih ada kemungkinan bencana susulan”, ujar Kepala Dinas PUPR Manggarai Barat ketika dikonfirmasi Komodopos.com via Whatsapp, Senin (6/1/2020) pagi tadi.

Kendati demikian, Ova Adu optimis menangani setiap laporan masyarakat terkait bencana alam. “Kami selalu berkoordinasi dengan BPBD selaku penanggung jawab bencana daerah. Bagi dinas PUPR selalu siaga dan selalu terdepan dalam hal penangan bencana”, tutur Ovan Adu.

Foto : Facebook Lyan Aman

Terpisah,, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Manggarai Barat, Dominikus Hawan menegaskan, pihaknya selalu siaga merespon setiap laporan kejadian bencana alam yang menimpa warga di wilayah kabupaten Manggarai Barat

“Menghadapi cuaca ekstrim, kita selalu siaga merespon kejadian yang menimpa warga di kabupaten Mabar. Setiap kejadian yang dilaporkan warga, kami segera mengecek ke lapangan”, tegas Dominikus Hawan saat dikonfirmasi Komodopos.com, Sabtu (4/1/2020) malam *(Robert Perkasa).

Generasi Muda Golo Ndoal Turun ke Jalan Kerja Bakti

KOMODOPOS.com-MBELILING-Generasi muda Golo Ndoal (Gersigon) di desa Golo Ndoal, kecamatan Mbeliling turun ke jalan menggelar kerja bakti, Senin (6/1/2020) pagi ini. Mereka membersihkan ruas jalan dari kampung ujung Noa hingga Wae Mentere perbatasan dengan kampung Kondas, desa Tiwu Riwung.

Kondisi sepanjang ruas jalan itu sebelumnya diselimut rumput liar yang tumbuh subur hingga menutupi badan jalan dan mengganggu kelancaran lalulintas kendaraan yang melintasi ruas jalan tersebut. Apalagi di musim penghujan ini.

Ironisnya, aksi sejumlah generasi muda Golo Ndoal ini tidak diikuti oleh aparat pemerintah desa Golo Ndoal.

“Ini Program awal Tahun 2020 dari kami generasi muda yang tergabung dalam Organisasi GersiGon (Generasi Golo Ndoal). Aparat desa tidak ikut kegiatan ini. Yang jadi pertanyan kami sebagai generasi Golo Ndoal, ada anggaran untuk kegiatan Bakti sosial. Tapi ke mana dana itu setiap tahun. Kami mengadakan kegiatan Ini supaya pemerintah desa buka mata dan pikiran mereka”, ujar Dus Rahman tatkala dikonfirmasi Komodopos.com, Senin pagi tadi via handphone seluler.

Usai kerja bakti, mereka juga mengunjungi sesama saudara mereka di Golo Menes, Mus Wingke yang rumahnya jadi korban terdampak bencana angin puting beliung beberapa hari lalu. *(Robert Perkasa)

Camat Sano Nggoang Pimpin Kerja Bakti Garuk “Sampah Ibukota”

KOMODOPOS.com-SANO NGGOANG-Mengantisipasi berbagai kemungkinan buruk yang timbul akibat musin penghujan di wilayah kecamatan Sano Nggoang, kabuoaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, pemerintah kecamatan Sano Nggoang, bekerja sama dengan pemerintah desa Golo Mbu, unsur Polri dan TNI serta instansi Unit Pelaksana Tugas Daerah (UPTD) yang ada di kecamatan Danau Biru itu menggelar kerja bakti gotong royong hari ini, Senin (6/1/2020). Fokus aksi sosial ini menggaruk sampah yang berserakan di tempa umum seperti infrastruktur jalan dan jembatan, pasar dan kantor-kantor pemerintah.

Kerja Bakti yang dipimpin langsung oleh Camat Sano Nggoang, Siprianus Silfris itu diikuti oleh seluruh pimpinan staf dari Puskesmas Werang, Pol PP, Polsek Werang jajaran TNI, UPTD Pertanian, Kantor Agama dan Peternakan serta aparat desa Golo Mbu.

“Aksi kita hari ini dilakukan setelah apel pagi tadi. Fokus kita membersihkan sampah yang berserakan di wilayah ini kota terutama yang ada di sepanjang jalan dan membersihkan saluran drainase di jembatan Wae Weter 1 dan jembatan Wae Racang dan berbagai fasilitas publik lainnya”, terang Camat Siprianus.

Ia menjelaskan, kerja bakti sosial ini untuk mengantisipasi segala kemungkinan terburuk yang bakal timbul selama musim penghujan akibat sampah berserakan. Camat menyebut wabah penyakit Demam Berdarah, Disentriy yang menjangkit siapa saja, orang dewasa maupun abak-anak di wilayah itu. Karena itu, ia bersama jajarannya sesegera mungkin meminimalisir resiko dengan aksi peventif membersihkan lingkungkan.

“Kerja bakti di dua jembatan ini kita lakukan agar saluran air tidak tersumbat dan tidak tergenang di bantaran jembatan sebagaimana yang terjadi sebelumnya. Ini fasilitas umum yang vital dan harus dirawat kebersihannya”, ungkap Camat muda ini.

Camat Siprianus Silfris kemudian mengimbau pemeritah desa di wilayahnya agar selama musim penghujan ini menggiatkan kerja bakti gotong royong dengan warga di desanya masing-masing. *(Robert Perkasa)

Hari ini,, Dinas PUPR Mabar Turun Langsung ke Area Longsor

Foto : Dok.Dinas PUPR Mabar. Longsor di kecamatan Boleng

KOMODOPOS.com-LABUAN BAJO-Menanggapi berbagai laporan terkait kerusakan sejumlah fasilitas vital publik, terutama infrastruktur jalan dan jembatan yang terdampak bencana alam longsor akibat intensitas curah hujan tinggi yang terjadi di wilayah kabuolpaten Manggarai Barat, provinsi Nusa Tenggara Timur, Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kabupaten Mabar hari ini, Senin (6/1/2020) segera meninjau langsung ke sejumlah titik yang terpapar bencana longsor.

Sejauh ini, setidaknya titik-titik kerusakan jalan yang telah dihimpun oleh Dinas PUPR Mabar terdapat di dua kecamatan, yakni kecamatan Ndoso dan kecamatan Boleng. Di Ndoso, titik kerusakan jalan akibat longsor terjadi di ruas Kasong-Raka. Sementara di kecamatan Boleng, terjadi di ruas Kaca-Repes.

Foto : Dok.Dinas PUPR Mabar. Longsor di kecamatan Boleng

Kepala Dinas PUPR Mabar, Ir.Oktavianus Andi Bona menjelaskan hal itu ketika dikonfirmasi Komodopos.com melalui handphone selular, Senin (6/1) pagi. Ivan Adu menambahkan, untuk sementara ini infrastruktur jembatan di wilayah kabuoaten ujung barat pulau Flotes itiu dalam kondisi aman.

“Untuk sementara, semua jembatan aman. Hanya beberapa ruas jalan yang mengalami kerusakan terdampak bencana longsor”, terangnya.

Ivan Adu merincikan jenis kerusakan jalan berupa patahan badan jalan, dewker yang rusak dan drainase yang ambruk.

“Semua staf tehnik dinas PUPR mulai hari ini turun ke lokasi untuk mendata semua lokasi yang terdampak bencana longsor. Selanjutnya kami bahas solusi penangananya. Tentu tidak mudah penangananya karena cuaca extrim belum normal. Masih ada kemungkinan bencana susulan”, ujarnya.

Foto : Dok.Dinas PUPR Mabar. Longsor di kecamatan Ndoso

Kendati demikian, Ova Adu optimis menangani setiap laporan masyarakat terkait bencana alam. “Kami selalu berkoordinasi dengan BPBD selaku penanggung jawab bencana daerah. Bagi dinas PUPR selalu siaga dan selalu terdepan dalam hal penangan bencana”, tutur Ovan Adu.

Terpisah,, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Manggarai Barat, Dominikus Hawan menegaskan, pihaknya selalu siaga merespon setiap laporan kejadian bencana alam yang menimpa warga di wilayah kabupaten Manggarai Barat

“Menghadapi cuaca ekstrim, kita selalu siaga merespon kejadian yang menimpa warga di kabupaten Mabar. Setiap kejadian yang dilaporkan warga, kami segera mengecek ke lapangan”, tegas Dominikus Hawan saat dikonfirmasi Komodopos.com, Sabtu (4/1/2020) malam

Foto : Dok.Dinas PUPR Mabar. Longsor di kecamatan Ndoso

Ia menambahkan, BPBD Mabar senantiasa mengimbau warga untuk giat bergotong royong membantu sesama warga yang lain apabila tertimpa musibah bencana alam.

“Jadi kami mendorong warga untuk secara gotong royong membantu apabila ada rumah atau gedung sekolah yang tertimpa pohon tumbang”, imbaunya.

Longsor di Kuwus

Foto : Facebook Lyan Aman. Longsor di kecamatan Kuwus

Dari Kecamatan Kuwus, Lyan Aman , seorang warga di kecamatan itu melaporkan, telah terjadi bencana alam longsor di wilayah tersebut pada Minggu (5/1/2020) petang kemarin sekitar pukul 15.30 Wita. Titik longsor terjadi di perkebunan warga, tepatnya di ruas jalan Lewur menuju dusun Bangka, desa Lewur. Volume longsoran diperkirakan sekitar 50 meter menutupi badan jalan. Material longsoran berupa lumpur dan juga pohon-pohon kayu yang tumbang tergerus longsor.
Penyebab kejadian disebabkan hujan deras yg berlangsung cukup lama sekitar 2 jam.

Kepada Komodopos.com via handphone seluler Lyan Aman menjelaskan, tidak ada korban jiwa dalam musibah itu. Namun akibatnya arus lalulintas dan mobilitas warga setempat terganggu.

“Untuk sementara kendaraan oda empat sementara tidak dapat melintas karena material longsoran menimbun ba dan jalan. Hanya kendaraan roda dua yang bisa melintas, iru pun ekstra hati-hati dan selalu waspada”, ujarnya.

Foto : Dok.Dinas PUPR Mabar. Longsor di kecamatan Boleng

Lyan menambahkan, hari ini, Senin (6/1) pagi, warga dusun Bangka melakukan kerja bakti gotong royong membersihkan material longsor. Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Kepala Dusun Bangka. *(Robert Perkasa).

Warga Pinggong Gotong Royong Bersihkan Puing-Puing Musibah Angin Kencang

KOMODOPOS.com-SANO NGGOANG-Puluhan warga kampung Pinggong, desa Golo Ndaring, kecamatan Sano Nggoang, kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur menggelar aksi gotong royong membantu korban musibah angin kencang yang menghancurkan 3 unit rumah milik warga di kampung tersebut pada Sabtu (4/1) petang kemarin.

Aksi gotong royong dilakukan hari ini, Minggu (5/1/2020) sejak pukul 09.00 Wita hingga petang. Mereka bahu-membahu membersihkan puing-puing 3 unit rumah warga, korban musibah itu.

Dikonfirmasi Komodopos.com melalui handphone selular, Minggu (5/1) Yohanes Buana, kakak salah seorang korban dalam kejadian kemarin menjelaskan, musibah ini sudah dilaporkan kepada pemerintah kecamatan Sano Nggoang.

“Setelah kejadian kemarin, kami langsung melaporkan musibah ini dan mengirim foto-foto rumah korban yang ambruk diterpa angin kencang kepada Camat Sano Nggiang.”, ujar Yohanes.

Terpisah, Camat Sano Nggoang, Siprianus Silfris membenarkan laporan terkait musibah tersebut.
Berdasarkan laporan warga yang diterimanya , ada 3 unit rumah warga yang rusak parah tertimpa pohon yang tumbang.

“Barusan di Pinggong, 3 rumah penduduk tertimpa pohon kayu akibat angin kencang. Ini laporan dari warga”, ujar Camat Siprianus.

Diberitakan Komodopos.com sebelumnya, dalam waktu berbeda di tempat yang sama, angin kencang disertai hujan deras mengamuk lalu merobohkan sedikitnya 3 unit rumah warga kampung Pinggong, desa Golo Ndaring, kecamatan Sano Nggoang, kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (4/1) petang. Musibah ini terjadi sekira pukul 16.30 Wita, angin ribut menerjang rumah Lorens Sudin. Sebagian atap rumahnya melayang terbawa angin.

Rumah Lorens Sudin

Satu jam kemudian, sekitar pukul 17.30 wita giliran dapur serta gang rumah milik Alfonsius Suharmin dan Viktor Jehadu roboh tertimpa pohon kayu Sita yang tumbang diterjang angin ribut.

Saksi mata di lokasi kejadian, Yohanes Buana menuturkan, tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini. Namun seluruh kerangka bangunan hancur total.

Rumah Alfons Suharmin

“Angin ribut kembali mengamuk lantas menerjang sebuah pohon kayu Sita yang tumbuh di pekarangan rumah warga. Pohon tersebut kemudian tumbang menerpa dapur serta gang rumah milik Alfons dan Viktor yang jaraknya berdekatan. Hancur total”, ujar Yohanes

Rumah Viktor Jehadu

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Manggarai Barat, Dominikus Hawan saat dikonfirmasi Komodopos.com, Sabtu (4/1/2020) malam terkait musibah tersebut menegaskan, pihaknya selalu siaga merespon setiap laporan kejadian bencana alam yang menimpa warga di wilayah kabupaten Manggarai Barat

“Menghadapi cuaca ekstrim, kita selalu siaga merespon kejadian yang menimpa warga di kabupaten Mabar. Setiap kejadian yang dilaporkan warga, kami segera mengecek ke lapangan”, tegas Dominikus Hawan.

Ia menambahkan, BPBD Mabar senantiasa mengimbau warga untuk giat bergotong royong membantu sesama warga yang lain apabila tertimpa musibah bencana alam.

“Jadi kami mendorong warga untuk secara gotong royong membantu apabila ada rumah atau gedung sekolah yang tertimpa pohon tumbang”, imbaunya. *(Robert Perkasa)