Sem Gizigoy : Bisnis Jamur Tiram Karena Hobi (Bagian-4)

KOMODOPOS.com-LABUAN BAJO-Ketika Sem berlabuh di lembah kota Bima, terasa berat baginya untuk kembali lagi ke PT Kanzeng di Semarang, Jawa Tengah, tempat ia bekerja. Berat kakinya melangkah karena keluarganya sangat tidak menghendaki dia kembali lagi ke Semarang.

“Doa keluarga waktu itu agar saya tidak boleh pergi”, kata Sem Gizigoy seraya menarik rapat sebatang rokok yang ada di antara jemarinya.

Sem melukiskan bahwa setelah menikah, ia memilih tinggal di kota Bima, NTB.

“Kami dikarunia 2 orang anak laki-laki. Anak sulung kami kini duduk di bangku kelas I SMK Negeri Bima. Anak kedua kelas 3 SDN 2 Labuan Bajo”, ucapnya.

Sem melanjutkan, pada tahun 2014 silam, ia dan sang kekasih, Najema sepakat untuk kembali ke kampung halamannya di tanah Nuca Lale Manggarai Barat, tepatnya di kampung ia dilahirkan, Mbala-Naga nun jauh di sana. Keputusan ini tentu saja berdasarkan pertimbangan matang dan kesepakatan bersama.

Tidak lama di kampung Mbala, Sem kemudian memilih kota Labuan Bajo sebagai tempat baru memulai usahanya yang cocok dengan potensi dan energi positif yang dimilikinya. Merajut bahtera rumahtangga mereka di kota wisata super premium itu.

Minggu (1/2/2020), penulis bertemu pertama kali dengan Sem Gizigoy. Jumpa perdana dengan Sem, tanpa diduga sebelumnya. Saya sedang menunggu mobil di depan pertamina SPBU Wardun. Tiba-tiba teman saya, Boe Berkelana memanggil saya dari warung kopi di depan Pertamina. Dan ternyata, warung itu milik Sem Gizigoy.

Selain Boe, ada juga teman Venan dari Sun Spirit. Tak lama berselang datang teman saya Gerasmus Satria, wartawan Victory News. Diskusi dengan mereka di warung milik Sem berlangsung menarik dan cair.

Boe perkenalkan saya dengan Sem pada saat saya sedang menyeruput kopi sembari mencicipi krispi jamur tiram. Enak dan gurih rasanya. Boe memberitahu saya bahwa lrispi yang gurih itu terbuat dari Jamur tiram produksi Sem Gizigoy. Penasaran dengar cerita Boe, saya mulai mencari tahu info tentang jamur tiram langsung ke sumbernya.

Diskusi tentang jamur tiram ini kemudian membias hingga ke Jepang. Duduk melingkar di warung itu menambah wawasan saya tentang proses pembuatan Jamur tiram hingga peluang bisnisnya di kota Labuan Bajo.

Krispi gurih hasil olahan jamur tiram produksi Sem Gizigoy. Foto : Boe Berkelana

Dari diskusi inilah, saya mendapatkan kisah inspiratif tentang Sem Gizigoy, sang petualang tangguh dari kampung Mbala-Naga yang kini sedang menjajal bisnis jamur tiram di kota Labuan Bajo.

Saty hal lagi yang saya peroleh dari Sem, bahwa ia menekuni bisnis jamur tiram itu lantaran hobi. Bukan mengejar kekayaan.

“Saya lakukan ini bukan ingin jadi kaya, tapi karena hobi”, kata Sem penuh arti.*(Robert Perkasa) bersambung…

Sem Gizigoy : Bisnis Jamur Tiram Karena Hobi (Bagian – 4)

KOMODOPOS.com-LABUAN BAJO-Ketika Sem berlabuh di lembah kota Bima, terasa berat baginya untuk kembali ke PT Kanzeng di Semarang, Jawa Tengah, tempat ia bekerja.

“Doa keluarga waktu itu agar saya tidak boleh pergi”, kata Sem Gizigoy seraya menarik rapat sebatang rokok yang ada di antara jemarinya.

Sem melukiskan bahwa setelah menikah, ia tidak kembali lagi ke PT.Kanzeng di Semarang. Sejak saat itu ia memilih tinggal di kota Bima, NTB.

“Kami dikarunia 2 orang anak laki-laki. Anak sulung kami kini duduk di bangku kelas I SMK Negeri Bima. Anak kedua kelas 3 SDN 2 Labuan Bajo”, ucapnya.

Sem melanjutkan, pada tahun 2014 silam, ia dan keluarga sepakat untuk kembali ke kampung halamannya di tanah Nuca Lale Manggarai Barat, tepatnya di kampung ia dilahirkan, Mbala-Naga nun jauh di sana. Keputusan ini tentu saja berdasarkan pertimbangan matang dan kesepakatan bersama.

Tidak lama di kampung Mbala, Sem kemudian memilih kota Labuan Bajo sebagai tempat usaha yang cocok dengan potensi dan energi positif yang dimilikinya. Merajut bahtera rumahtangga mereka di kota wisata super premium itu. Ia membuka kios buah-buahan, warung kopi dan mulai menjajal bisnis jamur tiram.

Minggu (1/2/2020), penulis bertemu pertama kali dengan Sem Gizigoy. Jumpa perdana dengan Sem sebetulnya tanpa rencana. Teman saya, Boe Berkelana memanggil saya dari warung kopi di depan Pertamina Pasar Baru, Labuan Bajo. Dan ternyata, warung itu milik Sem Gizigoy.

Boe perkenalkan saya dengan Sem ketika saya sedang menyeruput kopi hangat sembari mencicipi krispi jamur tiram. Enak dan gurih rasanya.Selain Boe, ada juga teman Venan dari Sun Spirit. Tak lama berselang datang teman saya Gerasmus Satria, wartawan Victory News.

Duduk melingkar bersama mereka di warung itu membuat saya betah. Topik diakusi kemudian menjadi lebih menarik ketika Boe menyebut krispi jamur tiram yang ada di meja itu, hasil produksi Sem Gizigoy.

Krispi hasil olahan jamur tiram produksi Sem Gizigoy.

Dari diskusi inilah, saya mendapatkan kisah inspiratif tentang Sem Gizigoy, sang petualang tangguh dari kampung Mbala-Naga yang kini sedang menjajal bisnis jamur tiram di kota Labuan Bajo.

“Saya lakukan ini bukan ingin jadi kaya, tapi karena hobi”, kata Sem penuh arti.

Dari kisah yang dilukiskan Sem, serbuk kayu ternyata material yang sangat penting dalam proses peoduksi jamur tiram. Bagaimana prosesnya? (Robert Perkasa) bersambung…

Cegah DBD, Puskesmas Labuan Bajo Beri Penyuluhan Kepada Ratusan Pelajar

KOMODOPOS.com-LABUAN BAJO-Mencegah kejadian penyakit Demam Berdarah, Tim penyuluhan kesehatan Puskesmas Labuan Bajo bekerja sama dengan Dinas Kesehatan kabupaten Manggarai Barat dan pemerintah kecamatan Komodo memberikan penyuluhan kesehatan, kepada ratusan siswa-siswi SLTP dan SLTA di Labuan Bajo, Selasa (4/2).

Penyuluhan ini dilakukan di dua tempat, yakni di asrama St.Arnoldus dan asrama SSPS kelurahan Wae Kelambu, kecamatam Komodo, Labuan Bajo. Hadir memberikan penyuluhan, dr. Gusti K. Nunu bersama tim simulasi dari Puskesmas Labuan Bajo.

Kegiatan penyuluhan ini dibuka oleh kepala Puskesmas Labuan Bajo, Vinsensius Paul,S.Kep.

Ratusan siswa/siswi mengikuti penyuluhan kesehatan yang diberikan oleh petugas kesehat dari Puskesmas Labuan Bajo dan Dinkes Mabar, Selasa (4/2/2020). Foto : Dok.Puskesmas Labuan Bajo

“Materi penyuluhan tentang Demam Berdarah Dengue dan kesehatan reproduksi remaja kepada anak-anak Asrama Arnoldus 200 siswa dan waktu yang bersamaan juga dilakukan penyuluhan yang sama kepada kelompok anak Asrama SSPS sejumlah 100 orang. Jumlah petugas kesehatan yang ikut memberikan penyuluhan 18 orang dibagi menjadi dua tim”, ujar Vinsen Paul. sat dikonfirmasi Komodopos.com via Whatsapp, Selasa malam (4/2). *(Robert Perkasa)

Paling Jelek, Penyerapan Dana Desa Tahun 2019 di Manggarai Barat

KOMODOPOS.com-LABUAN BAJO-Penyerapan dana desa tahun 2019 paling jelek karena laporan penggunaan dana desa belum masuk semua. Baru 60% dari 164 desa. Hingga Rabu (29/1) baru ada 8 desa dari 164 desa yang telah mencairkan dana desa Tahun 2020 karena sudah memposting APBDes 2020.

“Data yang ada di kami hingga Rabu (29/1) baru ada 8 desa dari 164 desa yang pencairan dana deaa 2020 tahap satu sudah dilakukan karena sudah memposting APBDes 2020.
Persyaratan untuk pencairan dana tahap 1 Tahun 2020 tertuang dalam Perdes dan Perbub dan tambah satu lagi dokumen tentang laporan realisasi penggunaan dana desa 2019”, kata David E. Rego, S.IP, Sekretaris Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

David Rego mengungkapkan hal itu ketika mempresentasikan materi bertopik “Kebijakan Penggunaan Dana Desa dan Alokasi Dana Desa Untuk Program Konservasi Skala Desa” dalam forum Semiloka Burung Indonesia yang digelar di Meeting Room Hotel Jayakarta, Labuan Bajo, Jumat (31/1). Saat itu, David Rego
mewakili Kepala Dinas DPMD Kabupaten Manggarai Barat, Mateus Ngabut, SH yang berhalangan hadir dalam forum tersebut.

Dijelaskan, dari 164 desa di Manggarai Barat, baru 8 desa yang pencairan dana desa tahun 2020 tahap pertama sudah dilakukan. 8 desa tersebut, yakni desa Batu Cermin dan desa Gorontalo di Kecamatan Komodo, Desa Pong Majok, kecamatan Lembor, Desa Sompang Kolang, kecamatan Kuwus, desa Waning, kecamatan Ndoso, desa Waka, kecamatan Macang Pacar, desa Dunta dan desa Semang di kecamatan Welak.

David menjelaskan syarat pencairan dana desa tertuang dalam Perdes dan Perbub serta dokumen tentang laporan realisasi penggunaan dana desa 2019. Selain 8 desa tersebut belum bisa mencairkan dana desa Tahun 2010 tahap pertama karena laporan realisasi penggunaan dana desa tahun sebelumnya belum dibuat sebagimana disyaratkan dalam ketiga dokumen tersebut.

“Ketika laporan itu tidak
sesuai mekanisme maka dana tahap pertama tidak bisa cair”, ujarnya.

Minim Dana Desa Untuk Konservasi dan pemberdayaan masyarakat

Di forum itu, David juga menyebut tentang penggunaan dana desa sepanjang tahun 2015-2019 lebih banyak digunakan untuk penyediaan layanan publik atau infrastruktur fisik seperti pengadaan air minum, MCK, penataan drainase desa, posyandu, dll.

“Tidak ada satupun kegiatan yang dilakukan di desa yang menyebut secara langsung tentang konservasi alam atau pengadaan bibit bibit pohon untuk ditanam pada lahan-lahan kritis”, tukas David.

Padahal pada Permendes Nomor 11 Tahun 2019 Tentang Prioritas Penggunaan Dana Desa
sudah diatur untuk kegiatan-kegiatan konservasi alam atau reboisasi lahan-lahan kritis. Pilihan untuk itu sudah ada di Permendea tersebut. Tapi tak satu pun desa yang melakukan hal tersebut. Akan tetapi faktanya sejak 2015-2019 dana desa di 164 desa hanya digunakan untuk proyek fisik.

“Dalam UU Desa tentang alokasi dana desa, Permendes Nomor 11 Tahun 2019 Tentang Prioritas Penggunaan Dana Desa
terdapat point tentang alokasi anggaran untuk lingkungan hidup dan pemberdayaan masyarakat desa. Poin ini bisa dipakai sebagai ruang untuk menyusun penganggaran berbasis ekologis”, kata David.

Menurut David, Presiden Jokowi pada saat rapat kerja dengan oara kepala desa di Ancol Jakarta, Pebruari 2019 menyampaikan supaya penggunaan dana desa tahun 2020 lebih banyak digunakan untuk pemberdayaan masyarakat.

“Jadi kalau kita lihat dari laporan penggunaan dana desa sejak 2015 – 2019, belum ada satu pun desa yang melakukan kegiatan konservasi alam yang sumber pembiayaan berasal dari dana desa. Terutama 8 desa yang ada di bentang Alam Mbeliling”, pungkas David.

Ia juga memaparkan, penggunakan dana desa yang terkait aktifitas ekonomi melalui pembentukan Bumdes, tapi faktanya belum berjalan sampai hari ini. Hanya Bumdes Batu Cermin dan Gorontalo yang progresnya signifikan. *(Robert Perkasa)

Total 701 Miliar Dana Desa di Mabar Tetapi 0% Untuk Konservasi Alam (Semiloka Burung Indonesia-bagian -3)

KOMODOPOS.com-LABUAN BAJO-Dari total Rp701.701.144.000 Dana Desa yang digelontorkan oleh pemerintah pusat ke 164 desa di kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur sejak 2015-2019 dihabiskan hanya untuk penyediaan infrastruktur fisik. Untuk konservasi alam 0 %.

David E. Rego, S.IP, Sekretaris
Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) mewakili Kepala Dinas DPMD Kabupaten Manggarai Barat, Mateus Ngabut, SH mengungkapkan hal itu saat mempresentasikan materi bertopik “Kebijakan Penggunaan Dana Desa dan Alokasi Dana Desa Untuk Program Konservasi Skala Desa” dalam forum Semiloka Burung Indonesia yang digelar di Meeting Room Hotel Jayakarta, Labuan Bajo, Jumat (31/1).

“Kalau 10% atau 3% saja digunakan untuk konservasi alam sudah cukup terbantukan sebenarnya. Tetapi kalau kita lihat laporan penggunaan dana desa sejak 2015-2019, penerapannya 100%, Akan tetapi faktanya sejak 2015-2019 dana desa hanya digunakan untuk proyek fisik. Tdak ada satupun kegiatan di desa yang dilakukan untuk konservasi alam”, terang David.

Bentang Alam Mbeliling. Foto : Robert Perkasa/Komodopos.com

Ia menjelaskan,, penyerapan dana desa sebanyak itu sejak 2015-2019 di kabupaten Manggarai Barat lebih banyak digunakan untuk penyediaan layanan publik seperti pengadaan air minum, MCK, penataan drainase desa, posyandu, dll.

“Tida ada satupun kegiatan yang dilakukan di desa yang menyebut secara langsung tentang konservasi alam atau pengadaan bibit bibit pohon untuk ditanam pada lahan-lahan kritis”, tukas David.

Padahal pada Permendes Nomor 11 Tahun 2019 Tentang Prioritas Penggunaan Dana Desa
sudah diatur untuk kegiatan-kegiatan konservasi alam atau reboisasi lahan-lahan kritis. Pilihan untuk itu sudah ada di Permendes tersebut. Tapi tak satu pun desa yang melakukan hal tersebut.

“Dalam UU Desa tentang alokasi dana desa, Permendes Nomor 11 Tahun 2019 Tentang Prioritas Penggunaan Dana Desa
terdapat point tentang alokasi anggaran untuk lingkungan hidup dan pemberdayaan masyarakat desa. Poin ini bisa dipakai sebagai ruang untuk menyusun penganggaran berbasis ekologis”, kata David.

Menurut David, “Presiden Jokowi pada saat rapat kerja dengan para kepala desa di Ancol Jakarta, Pebruari 2019 menyanpaikan supaya penggunaan dana desa tahun 2020 lebih banyak digunakan untuk pemberdayaan masyarakat.

“Jadi kalau kita lihat dari laporan penggunaan dana desa sejak 2015 – 2019, belum ada satu pun desa yang melakukan kegiatan konservasi alam yang sumber pembiayaan berasal dari dana desa. Terutama 8 desa yang ada di bentang Alam Mbeliling”, pungkas David.

Ia juga memaparkan, penggunakan dana desa yang terkait aktifitas ekonomi melalui pembentukan Bumdes, tapi faktanya belum berjalan sampai hari ini. Hanya Bumdes Batu Cermin dan Gorontalo yang progresnya signifikan.

Disebutkan pula, penyerapan dana desa tahun 2019 paling jelek karena laporan penggunaan dana desa belum masuk semua. Baru 60% dari 164 desa.

“Data yang ada di kami hingga Rabu (29/1) baru ada 8 desa dari 164 desa yang pencairan dana deaa 2020 tahap satu sudah dilakukan karena sudah memposting APBDes 2020.
Persyaratan untuk pencairan dana tahap 1petded dan Peebub dan tambah satu lagi dokumen tentang laporan realisasi penggunaan dana desa 2019”, tukasnya. *(Robert Perkasa) bersambung…

Golo Damu Menuju Desa Ndege/Porang, Stanis Stan : Saya Datangkan Mesin Perajang 5 Ton

KOMODOPOS.com-MBELILING-
Desa-desa lain sibuk berjuang agar suatu ketika desanya menjadi desa wisata. Desa Golo Damu justru sedang gencar berjuang desa ndege (porang). Geliat ndege, membuat para petani di desa yang memiliki luas wilayah 700 ha itu masa bodoh dengan hingar-bingar politik pilkada 2020 di wilayah itu.

Di musim hujan ini para petani di desa yang berpenduduk 925 jiwa ini terpantau sibuk menanam ndege. Bahkan sawah tadah hujan yang sebelumnya mereka garap, kini hampir saja tak terurus gara-gara menanam ndege/porang (Amorphophallus oncophyllus).

Desa Golo Damu terletak di KM 33 dari Labuan Bajo, Ibukota kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Jarak rentang kendali pemerintahan kabupaten dari Labuan Bajo sejauh 36 km dengan waktu tempuh 60 menit. Sedangkan rentang gerak pemerintah kecamatan dari Wersawa, ibukota kecamatan Mbeliling sejauh 18 km dengan waktu tempuh 30 menit.

Desa ini ditopang oleh 4 dusun, Wae Masa, Ndole, Ranong dan Mejer. dengan total rumah 177 unit dihuni oleh 210 KK.

Adalah Stanislaus Stan
pengusaha muda dari dusun Wae Masa, menargetkan 100.000 ribu pohon ndege ditanam musim hujan tahun ini. Progress hingga hari ke-36 hari ini, Senin (3/2/2020) sebanyak 67.000 pohon ndege selesai ditanam. Sebelum mencapai target, Stanis Stan enggan pulang ke rumahnya di Labuan Bajo. Stanis memutuskan Standby di lokasi (kebun) ndege di desanya.

Selama 36 hari kerja, ia tidak beraksi sendiri. Stanis dengan sabar menggerakan, mengorganisir sambil meyakinkan para petani di desanya untuk bekerja sama menanam ndege.

Energi positif yang dialirkan melalui ndege pelan tapi pasti menggetarkan semangat para petani di dusun itu hingga membias ke seantero desa. Sekali lagi, 36 hari kerja, sebanyak 67.000 pohon ndege berhasil ditanam.

Letupan semangat para petani membuat Kepala Desa Golo Damu, Stefanus Densi dan Sekretaris Desa Yohanes Cebolaing serta seluruh stafnya ” berkantor” di kebun ndege hari ini, Senin (3/2). Bersama warga menanam ndege.

Puluhan ribuan pohon ndege ditanam di sejumlah lokasi, yakni lokasi 1= Poco Niping/Waemasa sebanyak 19.000 pohon dengan luas lahan 7 bujur. Lokasi 2 di kampung lama Wae Masa 12.500 pohon dengan luas lahan 5 bujur. Lokasi 3, Lenteng Alu/Waemasa, luas lahan 1 hektar 36.000 pohon. Lahan berikutnya/lokasi 4 seluas 1.5 hektar sedang dalam proses penggemburan. Diperkirakan bisa menanam 50.000 pohon.

Berita Komodopos.com sebelumnya, Kepala Desa Golo Damu, Stefanus Densi mengimbau seluruh masyarakat di desanya untuk menanam ndege minimal 5000 pohon per kk.

“Prospek tanaman ndege ini luar biasa ke depan. Jadi saya mengajak seluruh warga di desa ini, jangan malas. Tanam ndege sebanyak-banyaknya. Pak Stanis tinggal di Labuan Bajo saja datang di kampung tanam ndege. Kita yang tinggal di kampung malah masih ada yang nonton. Buka mata dan telinga lalu kerja, tanam ndege. Pak Stanis sebetulnya datang di kampung beri contoh untuk kita. Manfaatkan lahan masing-masing”, pinta Kades Stefanus sangat tegas.

Siap datangkan mesin perajang ndege

Hasil evaluasi terkait gerakan “100.000 ribu ndege” ini dan melihat animo para petani di desanya, Stanis Stan kini berencana mendatangkan mesin perajang (iris) dan oven pengering 5 ton ke desa Golo Damu.

“Saya ingin mendatangkan mesin perajang dan ofen /mesin pengering yang berskala 5 ton per hari. Karna itu saya sangat berharap para petani di kecamatan Mbeliling untuk bisa galakan budidaya porang ini”, tutur Stanis kepada Komodopos.com, Senin (3/2).

Ia jelaskan, mesin perajang dan oven itu sangat penting untuk membantu petani ndege sekaligus untuk menjaga kualitas ndege yang diproduksi petani.

“Kita ingin menjaga kualitas hasil, juga ingin membela para petani dari sepekulasi para tengkulak yang sesuka hatinya menentukan harga di petani. Ke depan, kita ingin para petani tidak ada lagi yang jual mentah atau basah umbi porangnya. Dengan adanya mesin itu, semua petani hanya menjual chip porang atau porang kering yang sudah dirajang, sehingga dapat mengatrol harga”, terang Stanis Stan kepada Komodopos.com, Senin petang (3/2). *(Robert Perkasa)

10 Manfaat Porang

Porang merupakan tanaman umbi yang banyak manfaat. Sumber karbohidrat, bahan utama untuk vegetarian, hingga

keperluan industrial.

Porang merupakan jenis talas-talasan atau tanaman umbi yang bisa tumbuh di wilayah tropis dan sub tropis. Di Indonesia, tanaman ini tumbuh secara liar karena masih jarang dikenal, sehingga tidak ada upaya budidaya. Tetapi sekarang, mulai banyak petani yang mengkomersilkan pertumbuhan umbi porang di Indonesia.

Umbi porang mengandung glukomannan atau biasa disebut Konjac Glucomannan (KGM) yang berbentuk tepung. Kandungan tepung ini bisa diolah menjadi berbagai macam hal dan berperan sebagai bahan pengganti. Kandungan karbohidrat yang terdapat di umbi porang mencapai lebih dari 80%, menjadikan karbohidrat komponen terpenting di dalam tanaman ini.

Selain kaya akan karbohidrat, tanaman porang juga kaya akan manfaat untuk berbagai macam bidang mulai dari kuliner sampai kesehatan.

Manfaat Porang ;

1. Lem Ramah Lingkungan

Tanaman yang mengandung Konjac bisa menjadi perekat yang sangat bagus. Selain bagus, lem yang dihasilkan juga ramah untuk lingkungan.

2. Bahan Campuran untuk Industri

Kandungan Konjac dapat dijadikan bahan campuran untuk membuat kertas yang kuat dan tahan lama. Selain itu, porang juga bisa dijadikan perekat kertas, cat, kain katun dan wol, pengilap kain, dengan materi yang lebih baik dan harga lebih murah.

3. Bahan Obat

Kandungan KGM yang terdapat pada tanaman porang ternyata bermanfaat untuk dunia kesehatan, yaitu digunakan sebagai bahan pembentuk kapsul obat-obatan.

Seperti yang dijelaskan di poin pertama, terdapat kandungan lem alami pada tanaman porang yang digunakan untuk merekatkan kapsul obat.

4. Pengganti Agar-agar

Tanaman porang memiliki serat tidak berwarna yang dapat larut dengan mudah di dalam air, tidak memiliki bau, dan konsistensi yang menyerupai agar-agar. Hal ini menjadikan serat dari porang dapat diolah, sehingga menjadi seperti agar-agar.

5. Pembersih Air

Glukomannan sangat cocok untuk memurnikan air dan keloid dari bir, gula, minyak, dan juga serat.

6. Isolator Listrik

Glukomannan dari tanaman porang dalam bentuk gel dapat menjadi pengganti gel silikon. Gel silikon sangat bagus untuk mencegah penghantaran listrik dan juga panas, menjadikan gel ini substitusi yang sama bagusnya.

7. Bahan Makanan Jepang

Kali ini ada penjelasan mengenai manfaat tanaman porang di bidang kuliner. Di Jepang, tepung konjac dijadikan bahan campuran untuk membuat mie shirataki atau konnyaku.

8. Bahan Pengental Es Krim

Selain digunakan untuk bahan makanan Jepang, terdapat manfaat Konjac lainnya di bidang kuliner. Kandungan Konjac juga dapat digunakan sebagai sirup atau pengental perekat dalam campuran es krim agar tidak cepat meleleh.

9. Mengurangi Kadar Kolesterol

Kandungan glukomannan pada tanaman porang umbi dapat mengurangi kadar kolesterol di darah. Selain itu, serat yang terdapat pada porang juga biasa digunakan sebagai alternatif diet, baik untuk menurunkan berat badan maupun untuk orang yang memiliki diabetes.

Tetapi perlu diingat, bahwa penggunaan porang untuk mengobati penyakit harus tetap dikonsultasikan terlebih dahulu ke dokter. Hal ini dikarenakan ada efek samping yang bisa dirasakan jika badan kamu tidak cocok dengan kandungan porang.

10. Membuat Bahan Waterproof

Jika dicampurkan dengan gliserin dan atau natrium hidroksida, glukomannan dapat menjadi bahan kedap air. *(Sumber : google)

Kepala Desa Golo Damu Bersama 13 Staf “Kepung” Kebun Ndege (Porang)

KOMODOPOS.com-MBELILING-Untuk pertama kali di kabupaten Manggarai Barat, aparat pemerintah desa peduli tanam Ndege (porang). Untuk pertama pula ada pemerintah desa yang memiliki kemampuan responsibility (cepat tanggap) dan peka menangkap peluang. Di saat pemerintah desa di desa lain sedang tidur lelap, pemdes yang satu ini bangun cepat dan melangkah.

Kejadian langka ini baru terjadi di desa Golo Damu, kecamatan Mbeliling, kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Senin (3/1/2020). Kepala Desa Golo Damu, Stefanus Densi bersama 13 stafnya mengepung kebun ndege di dusun Wae Masa milik salah seorang warga di desa itu, Stanislaus Stan

Pantauan Komodopos.com, setiba di kebun ndege, kepala desa Golo Damu, Stefanus Densi bersama 13 orang stafnya langsung ikut menanam ndege. Mereka meluncur dari kantor desa menggunakan sepeda motor dan berseragam dinas lengkap.

“Kades Golo Damu mendukung aksi masyarakat desa Golo Damu dalam program budidaya porang. Hari ini mereka turun ke kebun. Tidak tanggung-tanggung, hari ini kepala desa dan 13 orang stafnya turun ke lokasi ikut menanam porang. sampai hari ini sudah sebanyak 67.000 pohon porang sudah ditanam”, kata Stanis Stan.

Saat seruput kopi di kebun ndege, kades Golo Damu mengimbau seluruh masyarakat di desanya untuk menanam ndege minimal 5000 pohon per kk.

“Prospek tanaman ndege ini luar biasa ke depan. Jadi saya mengajak seluruh warga di desa ini, jangan malas. Tanam ndege sebanyak-banyaknya. Pak Stanis tinggal di Labuan Bajo saja datang di kampung tanam ndege. Kita yang tinggal di kampung masih ada yang nonton. Buka mata dan telibga lalu kerja, tanam ndege. Pak Stanis sebetulnya datang di kampung beri contoh untuk kita. Manfaatkan lahan masing-masing”, pinta Kades Stefanus sangat tegas.

Target 100 ribu pohon Ndege

Di tempat yang sama, Stanis Stan menargetkan 100 ribu pohon ndege akan rampung ditanam musim ini.
“Target kita 100 ribu pohon harus rampung ditanam. Hingga hari ke-36 ini sebanyak 67.000 pohon ndege sudah ditanam”, ujar Stanis.

Rabu (29/1) kemarin, staf Bappeda kabupaten Lombok Utara, Ibu Kristin meminta warga di desa Golo Damu menanam porang. Ia juga meminta kepala desa Golo Damu agar menggelontorkan dana desa untuk menanam Porang.

“Kami melihat di sini umumnya petani kebun. Sekarang ini lagi ramai-ramainya bicara porang.
Mudah-mudahan bapak-ibu semua sudah tanam porang. Karena porang menjadi bahan ekspor. Mahal. Tolong pak Kades, APBdesnya dianggarkan untuk porang, porang dan porang, gitu, ya. Kerja porang mudah. Ditanam lalu panen setahun berikutnya. ekspor ke Jepang, China.
Mudah-mudahan Bappeda Kabupaten Manggarai Barat juga bikin BUMD yang nantinya bisa mengolah porang menjadi tepung. Saya baca berita di media online. Gubernur NTT juga fokus pada porang dan kelor.Kelor juga penting sekali. Dua hal ini, kami belajar dari NTT”, kata Kristin.

Berita Komodopos.com sebelumnya, Rabu (29/1) Yayasan Dian Desa dan Simavi menyambangi desa Golo Damu. Hadir juga pejabat negara dari
Kementerian PPN/Bappenas, Bapeda Kabupaten Lombok Utara, NTB dan didampingi oleh tim dari Bappeda dan Dinas Kesehatan kabupaten Mabar. Kedatangan para pejabat negara itu diundang oleh Yayasan Dian Desa dan Simavi selaku pemilik program.

Tujuan kedatangan Yayasan Dian Desa dan Simavi ke desa Golo Damu unruk memonitoring pelaksanaan program 5 Pilar STBM di desa tersebut. *(Robert Perkasa)

Perantau Jepang “Tertembak” Panah Asmara Dara Manis Lembah Bima (bagian-3)

KOMODOPOS.com-LABUAN BAJO-Inspirasinya telah terbit di negeri “matahari terbit”. Namun benih jamur tiramnya belum tumbuh ketika itu. Yang kencang tumbuh bersemi adalah benih asmara. Cinta sejati harga mati.

Jarak tempuh Bima-Tokyo rasanya hanya jauh di mata dan peta tapi dekat di hati. Itulah sepotong alur kisah asmara perantau anak kampung Mbala-Naga ke bumi Nippon yang tidak “berkutik” setelah “tertembak” panah asmara dara manis lembah Bima.

Gemerlap Tokyo dan Semarang, tidak kuasa mengaburkan kadar rindu dan gairah cintanya pada gadis manis lembah kota Bima, NTB. Pasalnya, jauh sebelum merantau ke Jepang, dua sejoli ini saling mencintai. Bernazar sehidup-semati apapun yang terjadi.

Sem Gizigoy di negeri Nippon , Najema di bumi “krawi ngahi pahu” (konsistensi kata & perbuatan). Jarak yang memisahkan bukan halangan bagi mereka. Sejuta kenangan manis madu di masa penuh wangi bunga yang semerbak di bangku SMA, terparti dalam dua hati satu getaran. Dalam album kenangan itulah, sesosok wajah cantik tambatan hatinya menghiasi dinding kamar Sem Gizigoy di sebuah apartemen kota Yatsuka. Sebagai insan yang bercinta, rindu tentu saja ada bahkan menggebu. Tetapi ia punya trik untuk menghalau kerinduan itu.

“Sekali dalam 3 bulan, saya mengirim surat cinta dari Tokyo. Kadangkala melalui sambungan telepon apartemen di kota Yatsuka”, kenang Sem.

Rindunya menyiksa batin lantaran nama yang satu ini. Najema. Gadis kerudung putih kota Bima terbayang selalu. Bayang-bayang kemesraan hadir setiap waktu hingga mimpi larut malam.

Kios buah dan warkop Sem Gizigoy, pengusaha muda yang pertama kali membudidayakan Jamur tiram di kota Labuan Bajo. Lokasi depan SPBU Wardun Pertamina Pasar Baru, Labuan Bajo. Foto : Robert Perkasa/Komodopos.com

Tak terasa roda waktu terus berjalan. Program magang kerja sama pemerintah Indonesia dengan otoritas Jepang telah berakhir.

Sem kembali ke Indonesia. Tiba di Jakarta dijemput oleh pihak Depnaker RI. Setelah diwanwacara di sana, ia bekerja di PT.Kanzeng di kota Semarang, Jawa Tengah. Sebuah perusahaan milik Jepang yang menjajal bisnis spare part mobil dan sepeda motor. Di perusahan tersebut, Sem bekerja sebagai manajer personalia merekrut tenaga kerja Indonesia yang terampil dan terlatih untuk bekerja di perusahaan tersebut. Jeripayahnya dihargai dengan mata uang Jepang, Yen. Dari penghasilan itu, ia kemudian membeli rumah di kota Bima, NTB. Sementara itu modal usaha sebesar Rp 300 juta yang diberikan oleh pemerintah Jepang dan penghasilan tambahan selama di Jepang, ia simpan.

Kendati demikian, hidup di kota Semarang terus membujang. Masak sendiri. Makan sendiri. Cuci sendiri. Bekerja di perusahaan Jepang baginya, menjanjikan namun tersiksa batinnya di sisi yang lain. Berharap, pulang ke Indonesia menjumpai tambatan hati yang ditinggalkan bertahun-tahun di lembah kota Bima, eh, malah “dikarantina” di kota Semarang. Selama 3 tahun di sana, ia miskomunikasi dengan keluarga. Seribu godaan dari dalam dirinya mengepung konsistensi pekerjaannya. Mau cari apalagi?

Surat panggilan tiba di tengah perjalanan

Ia kemudian minta izin cuti sebulan tapi perusahaan tidak mengizinkan.
“Saya hanya diberi waktu cuti seminggu.

Sem memutuskan pulang ke Bima. Rute perjalanan dari Semarang-Jakarta-Bali. Di Bali bertemu dengan teman-temannya hingga menghabiskan waktu 3 hari di Bali.
Celaka baginya karena surat panggilan dari PT. Kanzeng tiba lebih awal di Bima, sehari sebelum Sem tiba di Bima.

“Sejak di Bali, piikiran saya sudah mulai oleng. Dalam hati berkata, saya sudah beli rumah di Bima. Masih ada saving modal usaha Rp300 juta. Masa, saya tidak bisa hidup. Saya dipekerjakan terus Sampai kapan hidup saya seperti ini. Saya ingin bebas. 3 hari putar-putar di Bali. Sehari sebelum saya tiba di Bima, muncul surat panggilan pulang dari perusahan. Panggil saya segera oulang ke Semarang”, kisah Sem Gizigoy mendebarkan.

Sem melanjutkan, “Tapi saya sudah tahu waktu itu, bahwa etos kerja orang Jepang beda jauh dengan kita di Indonesia. Mereka sangat disiplin, tekun dan kerja teoat waktu. Saya sudah felling, bahwa saya terlambat pulang ke Semarang dan pasti diblacklist perusahaan”, timpalnya.

Jamur tiram siap panen. Terinspirasi di Jepang, kini dibudidayakan di kota wisata suoer premium, Labuan Bajo. Foto : Robert Perkasa/ Komodopos.com

Tiba di Bima serasa sedang berada di istana sejuta dewa. Merasakan bagaimana sang permaisuri menyambut kedatangan baginda Raja yang lama menghilang. Dan seterusnya.

“Doa keluarga waktu itu agar saya tidak boleh pergi”, kata Sem Gizigoy seraya menarik rapat sebatang rokok yang ada di antara jemarinya.

Lalu setelah menikah tahun 2008 putar haluan come back to home Labuan Bajo. Sejak 2014, Sem Gizigoy dan sang kekasih, Najema mulai menekuni dunia usaha. Merajut bahtera rumahtangga mereka sembari menjajal bisnis jamur tiram di negeri wisata suoer premium, Labuan Bajo, bumi Nuca Lale. *(Robert Perkasa) bersambung….

Kisah Perantau Anak Mbala-Naga ke Jepang, 3 Tahun Belajar Etos Kerja Orang Jepang (bagian-2)

KOMODOPOS.com-LABUAN BAJO-Sem Gizigoy. Pelajar SMA Negeri 1 Bima, NTB asal kampung Mbala-Naga, desa Mata Wae, kecamatan Sano Nggoang, Kabupaten Manggarai Barat, NTT. Mengenyam pendidikan menengah pada salah satu sekolah terfavorit di kota Mbojo. Di sekolah tersebut, Sem memilih jurusan IPA. Belajar tekun tapi tak memiliki cita-cita setinggi langit. Di kelasnya, ia masuk kategori 10 besar siswa berprestasi.

Saat itu, pemerintah kabupaten Bima mendatangi sekolah-sekolah di kota itu mencari murid-murid berprestasi. Ia bersama ratusan siswa lainnya direkrut kemudian dibimbing selama setahun. Pada Maret 2008 ia mengikuti ujian tes. Hasilnya, darivratusan peserta, Sem Gizigoy bersama 6 siswa lainnya lulus kemudian direkomendasi oleh Pemkab Bima mengikuti program latihan kerja/Magang ke luar negeri. Program ini kerjasama Depnaker Republik Indonesia dengan otoritas Jepang.

“Saya masuk 10 besar siswa berprestasi di sekolah kami. Pada saat itu muncul program ini dari Depnaker Indonesia melalui Dinas Nakertrans kabupaten Bima. Mereka datang ke kami mencari siswa berprestasi. Dari ratusan siswa yangvdirekrut, hanya 7 orang yang lulus, termasuk saya. Kami angkatan 14 kemudian direkomendasikan oleh pemkab Bima lalu dikirim ke Mataram”, tutur Sem Gizigoy mengenang jejak perjalanan hidupnya.

Jamur Tiram siap panen. Foto : Robert Perkasa/ Komodopos.com

Ia kisahkan, di kota Mataram, mereka dikarantina selama 3 bulan sambil belajar bahasa Jepang. Dari 7 peserta, tinggal 4 orang, termasuk dia. 3 teman lainnya gagal di Mataram. Dari Mataram, ia dan 3 temannya dikirim lagi ke Balai Latihan Kerja (BLK) di kota Bandung, Di kota kembang itulah naluri enterpreneurnya digembleng oleh instruktur orang Jepang.

“Selama di Bandung, kami digembleng oleh instruktur orang Jepang. Kami belajar bahasa Jepang di BLK Bandung. Dan mulai saat itu kami diberi honor pakai mata uang Jepang, Yen. Dari 4 peserra, ada 1 teman kami yang tidak lulusl”, kata Sem.

Setelah dinyatakan lulus, ia dan 2 temannya dikirim ke Jepang. Tepatnya di kota Yatsuka Tokyo
Sem berangkat ke Jepang tepat pada tanggal 12 Januari 2000. Ia bisa magang di Yatzuka, Tokyo berkat kerja sana pemerintah Indonesia dengab pemerintah Jepang bidang ketenagakerjaan.

Di kota ini, ia bergabung dengan ratusan peserta lainnya dari berbagai negara. Dari Brazil, Banglades, Filiphina, dll. Di negeri “matahari terbit” itu ia mengikuti pendidikan dan latihan yang disebut Training Kensusei (pemula). Selama 2 bulan di kota Yatsuka ia belajar bahasa Jepang dan budaya masyarajat Jepang. Ia belajar tentang etos kerja orang Jepang.

“When you go to Romans, do like Romans. When you go to Japan, do like Japanis. (Jika Anda ke Roma berprilakulah seperti orang Roma. Jika Anda ke Jepang, berprilakulah Seperti orang Jepang”, ujar Sem yang juga fasih berbahasa Jepang ini.

Sem menambahkan, di Jepang, kata ‘romusha’ yang dulu di Indonesia artinya ‘kerja paksa’ digunakan untuk orang malas. Etos kerja orang Jepang luar biasa. “3 tahun di Jepang kami sudah keliling Jepang. Hanya satu tempat yang belum kami kunjungi, yaitu kawasan Sporo Jepang.”,cap Sem mengesankan.

Ia bekerja selama 3 tahun magang di Jepang hingga program itu berakhir. Ia dan 2 teman lainnya kemudian pulang ke Indonesia. Otoritas Jepang memberikan modal usaha sebesar Rp 300 juta. Selain itu diberi uang saku pulang ke Indonesia.

Dikisahkan pula bahwa selama 3 tahun di Tokyo, ia mengisi hari libur bekerja di sebuah perusahaan Jarum Tiram yang terletak tidak jauh dari Apartemen tempat dia tinggal. Di perusahan itu ia juga bekerja dari jam 08.00 sampai 16.00 waktu Jepang dan digaji 1500 yen sehari. Dari pengalaman bekerja di perusahaan itulah ia terinspirasi membudidayakan Jamur Tiram.

“Dekat apartemen saya di Jepang ada budidaya jamur tiram. Perusahaan besar. Inspirasi saya budidaya jamur tiram di Labuan Bajo hari ini berawal dari Jepang. Saya melihat, prospeknya di Labuam Bajo ini sangat menjanjikan:, kata Sem

Sem Gizigoy, pengusaha Jamur Tiram di Labuan Bajo. Foto : Robert Perkasa/Komodopos.com

Pulang ke Indonesia

Setelah program tersebut berakhir, ia kembali ke Indonesia. Tiba di Jakarta langsung dijemput oleh pihak Depnaker RI. Setelah diwanwacara di sana, ia bekerja di PT.Kanzeng di kota Semarang, Jawa Tengah. Sebuah perusahaan Jepang yang menjajal bisnis spare part mobil dan sepeda motor. Di perusahan tersebut, ia juga mendapatkan gaji pakai mata uang Yen. Dari gaji tersebut, ia kemudian membeli rumah di kota Bima, NTB.

Kendati demikian, hidup terus membujang. Masak sendiri. Makan sendiri. Cuci sendiri di kota Semarang. Namun, gemerlap Tokyo dan Semarang, tidak kuasa mengaburkan kadar dan gairah cintanya pada gadis manis lembah kota Bima, NTB. Ia pun membuka album kenangan masa penuh wangi bunga semenjak bangku SMAN 1 Bima. Dalam album kenangan itulah, sesosok wajah cantik tertambat anggun menghiasi dinding kamarnya. *(Robert Perkasa) bersambung….

Semiloka Burung Indonesia (bagian-1) Air Bersih, Alam Bersih & Pangan Bersih

KOMODOPOS.com-LABUAN BAJO-Manusia di manapun hanya dapat hidup kalau 3 hal ini terpenuhi secara teratur dan berkelanjutan dari masa ke masa. Air bersih, alam bersih dan pangan bersih.

Dalam hal memenuhi kebutuhan saat ini sembari mempertimbangkan generasi yang akan datang, (pembangunan berkelanjutan) 3 pilar utama berikut ini memiliki kererkaitan satu terhadap yang lain. Pertumbuhan ekonomi, keberlanjutan sosial, dan keberlanjutan lingkungan. Dari 3 pilar utama tersebut,, aspek lingkungan tidak boleh diabaikan jika ingin meraih pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan sosial.

Inilah alasan utama mengapa pembangunan berbasis ekologi dianggap penting yang diwujud-nyatakan melalui berbagai macam kegiatan konservasi. Karena itu konservasi harus menjadi bagian integral dari kegiatan pembangunan yang dimulai dari perencanaan, penganggaran, dan pelaksanaan kegiatan konservasi.

Dewasa ini kegiatan konservasi sudah menjadi perhatian banyak orang terutama agen pembangunan. Hal ini disebabkan karena meningkatnya kesadaran tentang ketergantungan manusia pada layanan-layanan yang disediakan oleh alam, dimana semua itu merupakan buah dari kegiatan konservasi. Layanan alam dinikmati oleh semua orang, oleh semua profesi, oleh semua lapisan masyarakat. Karena itu kepedulian terhadap ketersediaan, kualitas, dan keberlanjutan layanan alam harus menjadi perhatian semua pihak terutama pemerintah, swasta, kalangan dunia usaha, masyarakat, baik di perkotaan maupun masyarakat di pedesaan.

Di Kabupaten Manggarai Barat, provinsi Nusa Tenggara Timur,
bentang alam Mbeliling merupakan salah satu lokasi penting untuk kegiatan konservasi. Kawasan ini selain penting untuk konservasi keragaman hayati tetapi juga penting sebagai penyedia berbagai layanan-layanan alam. Karena panorama yang indah dan kekayaan keragaman hayatinya bentang alam Mbeliling menjadi salah satu tempat berkunjungnya para wisatawan.

Bukan itu saja. Bentang alam Mbeliling menjadi daerah tangkapan air karena vegetasi dan kerapatan tutupan lahannya. Alam Mbeliling menyuplai air untuk kebutuhan warga kota Labuan Bajo maupun untuk pertanian dan rumah tangga. Bentangan alam Mbeliling adalah masa depan kita, sekaligus kunci suksesnya pembangunan berkelanjutan di wilayah ini.

Jika demikian, bagaimana memastikan bahwa kegiatan konservasi bisa berlangsung di Mbeliling? Apa tantangan? Bagaimana mengatasi tantangan itu agar konservasi alam Mbeliling bisa memastikan ketersediaan dan keberlanjutan nilai-nilai pentingnya? Bagaimana memastikan mekanisme pembiayaan berkelanjutan untuk kegiatan konservasi di Mbeliling? Bagaimana peran masing-masing pihak yang menerima layanan alam yang disediakan oleh bentang alam Mbeliling?

Foto : Facebook Burung Indonesia

Guna menjawab semua pertanyaan itulah Burung Indonesia menyelenggarakan Seminar dan Lokakarya (Semiloka) bertajuk, “Perencanaan dan Penganggaran Berbasis Ekologi; Langkah Menuju Pembiayaan Konservasi Berkelanjutan”. Semiloka diselenggarakan di Meeting Room Hotel Jayakarta-Labuan Bajo, Jumat 31 Januari 2020. Peserta Semiloka terdiri dari unsur Pemerintahan Daerah, Dinas Instansi terkait, perwakilan private sector, unsur pemerintah desa, Pers dan Burung Indonesia.

Narasumber dalam. Semiloka ini.
Joko Tri Haryanto dari Badan Koordinasi Fiskal Nasional Kementerian Keuangan RI
menyajikan materi tentang Perencanaan dan Penganggaran Berbasis Ekologi, Telaahan Konsep dan Regulasinya.

Narasumber berikutnya, David E. Rego, S.IP dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) mewakili Kepala Dinas DPMD Kabupaten Manggarai Barat, Mateus Ngabut, SH. mempresentasikan materi bertopik “Kebijakan Penggunaan Dana Desa dan Alokasi Dana Desa Untuk Program Konservasi Skala Desa”. Pemateri ketiga, Drs. Fransiskus Sales Sodo dari Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (DP4D) Kabupaten Manggarai Barat membedah topik Peluang Implementasi Perencanaan dan Penganggaran Berbasis Ekologi di Kabupaten Manggarai Barat.
Narasumber keempat, Tiburtius Hani dari Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia. Tibur Hani mempresentasikan materi tentang “Konsep Rencana Tata Guna Lahan Sebagai Dasar Perencanaan Desa Mewujudkan Desa Lestari”.

Di awal Semiloka, Adi Widiyanto mewakili Direktur Eksekutif Burung Indonesia menjelaskan secara umum tentang Burung Indonesia dan Bentang Alam Mbeliling. Ia juga membeberkan peran Burung Indonesia dalam pendekatan Bentang Alam Mbeliling.

Foto : Facebook Burung Indonesia

Aksi konservasi butuh kolaborasi

Menurut Widiyanto, bentang alam Mbeliling memerlukan aksi konservasi yang dilakukan oleh para pihak secara kolaboratif. “Pengembangan kota Labuan sebagai destinasi wisata suoer premium yang telah ditetapkan dalam kebijakan nasional mendorong berbagai pihak untuk berkolaborasi dalam penyusunan rencana pembangunan daerah”, kata Widiyanto.

Konsekuensi logis dari produk kebijakan nasional tersebut akan muncul banyak intervensi dari para pihak terhadap lingkungan, terutama di Bentang alam Mbeliling.

“Jika tidak diintegrasikan dalam konsep atau prinsip pembangunan berkelanjutan, maka akan membawa dampak buruk untuk lingungan di Manggarai Barat, khususnya Bentang alam Mbeliling” timpal Widiyanto.

Karena itu, Burung Indonesia mengajak segwnap stakeholder lokal di Manggarai Barat untuk mulai berkolaborasi dalam menyusun rancangan pembangunan ke depannya. Wifiyanto juga mendorong para pihak agar konsep perencanan penganggaran berbasis ekologi menjadi konsep bersama lintas sektoral.

Closing statement di ujung Semiloka Widiyanto mengatakan, pelestarian alam bukan membebani anggaran publik. Sebab, alam itu sendiri memberi kita hidup.

“Mulailah dari mengerjakan hal-hal kecil. Pelan tapi pasti mimpi kita mewujudkan alam yang lestari akan terwujud”, kata Widiyanto seraya menambahkan, Semiloka ini merupakan forum curah gagasan (brainstorming). Setelah itu Burung Indonesia melakukan berbagai pelatihan (TOT) menindaklanjuti poit-point penting yang dihasilkan dalam forum Semiloka hari ini.

Foto : Facebook Burung Indonesia

Mbeliling dan pendekatan BAM

Hal senada ditegaskan Tiburtius Hani, Flores Programmer Manager Burung Indonesia. Dia jelaskan, konsep pendekatan pembangunan berbasis ekologi melalui konservasi Bentang Alam Mbelilung,(BAM) bukan terutama menyangkut luasnya lahan melainkan terutama tentang keragaman bentangan alam. Bukan pula menyangkut dimensi estitik (keindahan panorama alam) melainkan terutama dimensi fungsional.

“Dari keragaman bentangan alam menghasilkan keragaman fungsi yang selalu berhubungan dan saling memengaruhi. Keragaman fungsi menghasilkan keragaman kepentingan. Karena itu dibutuhkan bentuk atau skema kerja sama yang efektif dalam mengelola bentang alam, sehingga semua kepentingan diakomodir”, terang Tibur Hani.

Tujuan akhir dari pendekatan yang mengutamakan keragaman hayati dan dimensi fungsional serta skema kerjasama efektif lintas sektor di Bentang alam Mbeliling adalah mewujudkan keharmonisan dan terintegrasi antara kepentingan ekologi (alam bersih) ekonomi (Pangan bersih) dan sosial (air bersih) baik untuk saat ini maupun untuk generasi yang akan datang.

Bikin rancangan anggaran untuk Konservasi alam

Di podium yang sama, Asisten II Setda Mabar, Marten Ban yang hadir mewakili Bupati Manggarai Barat, Drs. Agustinus Ch.Dula membuka Semiloka itu. Dalam sambutannya, ia memberikan apresiasi kepada Burung Indonesia atas inisiasi memfasilitasi pertemuan para stakeholder dalam forum tersebut.

Marten menyampaikan gambaran umum terkait kewenangan pemerintah daerah dan pemerintah desa dalam isu-isu ekologis. Dia katakan, apa pun program pemerintah baik pusat, daerah, maupun desa harus diselaraskan dalam kewenangan-kewenangan yang diberikan oleh undang-undang dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Ia juga memberikan dorongan kepada pimpinan OPD lingkup pemkab Mabar untuk memprioritaskan konsep pembangunan berkelanjutan berbasis ekologi, yakni program konservasi alam

“Kebijakan pemerintah pusat tentang status Labuan Bajo sebagai destinasi pariwisata super premium akan diselaraskan dengan pembangunan infrastruktur yang super premium juga. Sehingga, kita yang ada di Manggarai Barat harus menerima itu dan siap untuk mengimplementasikan konsep itu”, timpalnya.

Dijelaskan, dalam kebijakan tersebut, isu krusial yang diangkat juga adalah isu lingkungan hidup. Perintah pemerintah pusat untuk membenahi lingkungan hidup di Manggarai Barat sudah dikeluarkan oleh Presiden Joko Widodo. Untuk itu, semua pihak tidak hanya instansi pemerintahan, instansi swasta lainnya pun atau private sector harus merencanakan programnya dengan prioritas konservasi yang berkelanjutan.

“Pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang memenuhi kebutuhan saat ini, tanpa harus mengurangi pemenuhan kebutuhan untuk generasi yang akan datang. Karena itu, Pemda Mabar mengajak para instansi pemerintahan untuk berani membuat rancangan pembangunan yang berkelanjutan”, pinta Marten Ban.

Foto : Facebook Burung Indonesia

PAD naik tapi minim untuk konservasi alam

Hadir pula Wakil Ketua DPRD Mabar, Marselinus Jeramun dalam forum Semiloka Burung Indonesia. Dalam sambutan singkat, Marsel menjelaskan, konsep pembangunan yang sedang dijalankan sekarang ini masih dalam tataran pemerataan. Namun ia mengakui bahwa di Kabupaten Manggarai Barat saat ini, perencanaan pembangunan berbasis ekologi masih sangat terbatas.

“Memang ada peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) yang bersumber dari potensi lingkungan fan pariwisata tetapi porsi anggaran untuk konservasi alam sangatvterbatas”, aku Marsel Jeramun.

Pembangunan berkelanjutan berbasis ekologo melalui konservasi, kata Marsel, masih membutuhkan kerja sama dari berbagai pihak. Forum-forum untuk mengkomunikasikan berbagai kepentingan para i pihak harus terus digiatkan untuk mendapatkan nilai atau value yang memberikan kontribusi positif bagi pembangunan daerah ini.

“Kontribusi berbagai pihak diharapkan bersifat solutif, inovatif, kreatif”, tandasnya.

Pada kesempatan itu, Marsel juga mengajak para pihak dan pemkab Mabar untuk mulai berpikir dan bertindak nyata membuat perencanaan pembangunan berkelanjutan berbasis ekologis.

“Isu ekologis bukan hanya isu sektoral yang harus ditangani oleh pihak tertentu saja tetapi menjadi isu bersama yang membutuhkan kolaborasi berbagai pihak”, pungkas Marsel Jeramun. *(Robert Perkasa) bersambung….