Hari ini, 208 Kubur Tua di Kantor Camat Mbeliling Mulai Digali

“Pemerintah kecamatan Mbeliling beritikad baik agar kubur-kubur yang usianya sudah tua terawat dengan baik oleh keluarga keturunannya yang masih hidup. Kemudian lokasi pekuburan itu sudah diserahkan kepada pemerintah untuk pembangunan kantor dan bangunan pemerintah lainnya”, Camat Roby Dos

KOMODOPOS.com-MBELILING-Mulai hari ini, Selasa (10/3) hingga Selasa (31/3) sebanyak 208 kubur tua yang berada di komplek kantor camat Mbeliling digali secara massal. Penggalian ratusan kubur itu dilakukan secara manual oleh seluruh warga pemilik kubur di Wersawe, desa Cunca Wulang, kecamatan Mbeliling, kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

Penggalian berikut pemindahan 208 kubur tua itu telah melalui kesepakatan bersama pemerintah kecamatan, pemerintah desa dan masyarakat setempat.

Sebelum penggalian dilakukan, pemerintah kecamatan Mbeliling bersama fungsionaris adat di kampung Wersawe menggelar serangkaian kegiatan di lokasi pekuburan. Senin (9/3) kemarin melaksanakan perayaan Ekaristi di kantor Camat Mbeliling dan berdoa menurut tata cara agama Islam bagi umat muslim di Masjid Wersawe.

Bupati Manggarai Barat, Drs.Agustinus Ch.Dula, pemerintah kecamatan Mbeliling, para kepala desa, Tu’a Golo Wersawe, Thomas Pura dan tokoh-tokohvadat dari kampung sekitar Wersawe
hadir mengikuti ritual adat terkait pemindahan ratusan kubur itu.

Selasa (10/3) pagi ini, pemerintah kecamatan Mbeliling dan para tokoh adat setempat kembali menggelar ritus adat “hising” (mohon izin/permisi kepada para arwah yang meninggal dunia dan dikuburkan di tempat tersebut). Ritus adat “hising” dipandu oleh Tua Golo Wersawe, Thomas Pura dan diikuti oleh Camat Roby Dos dan segenap
pegawai di kantor camat, tokoh-tokoh adat serta seluruh warga setempat.

Camat Mbeliling, Robertus Resmianto mengungkapkan hal itu ketika dikonfirmasi Komodopos.com melalui Whatsapp, Selasa pagi (10/3).

“Penggalian dilakukan mulai hari ini sampai tanggal 31 Maret 2020”, kata Camat Roby Dos.

Ia menjelaskan, ada 208 kubur yang digali dan dipindahkan ke lokasi pekuburan umum baru, yakni di kawasan Rapet, Warsawe, desa Cunca Wulang.

“Setelah diidentifikasi sebelumnya, ada 75 kubur yang telah teridentifikasi pemiliknya dari total 208 kubur yang terdapat di di komplek kantor kecamatan Mbeliling”, kata Camat Roby Dos.

Alasan dipindahkan

Camat Roby Dos juga menjelaskan alasan kubur-kubur itu dipindahkan ke lokasi yang baru agar dirawat dengan baik oleh keluarga keturunannya/pemiliknya. Sebab usia kubur-kubur itu sudah tua.

Selain itu, lokasi pekuburan itu telah diserahkan oleh fungsiinaris adat dan masyarakat setempat kepada pemerintah kabupaten Manggarai Barat untuk pembangunan kantor Camat Mbeliling dan berbagai sarana pemerintah kecamatan Mbeliling.

“Pemerintah kecamatan Mbeliling beritikad baik agar kubur-kubur yang usianya sudah tua terawat dengan baik oleh keluarga keturunannya yang masih hidup. Kemudian lokasi pekuburan itu sudah diserahkan kepada pemerintah untuk pembangunan kantor dan bangunan pemerintah lainnya. Lebih dari itu agar tanah yang telah diserahkan secara resmi kepada pemerintah tidak lagi diklaim sebagai milik oknum atau kelompok tertentu di kemudian hari”, jelas Camat Roby Dos. *(Robert Perkasa)

Makin Mengalir Dukungan Kaum Milenial Untuk Paket HATI

KOMODOPOS.com-SANO NGGOANG-Dukungan dari kaum milenial untuk paket HATI (Matius Hamsi – Tobias Wanus) terus mengalir. Kali ini dukungan untuk paket HATI datang dari kaum milenial Werang, ibukota kecamatan Sano Nggoang, kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

“Dukungan anak muda Sano Nggoang untuk paket hati rencananya akan dideklarasikan akhir Maret ini. Malam minggu kemarin kita menggelar rapat yang kedua di Werang”, ujar Rofinus Rahmat, penangungjawab relawan paket HATI kecamatan Sano Nggoang, Senin (10/3)

Rofinus menambahkan, rapat tersebut dihadiri oleh 30-an orang muda dari seputar ibukota kecamatan Sano Nggoang, yakni dari Werang, Teong Toda, Pinggong , Watu Wangka dan perwakilan generasi muda dari kampung terdekat.

Sabtu pekan depan akan menggelar rapat ketiga. Target mereka akan menghadirkan seluruh kelompok muda di seluruh kecamatan Sano Nggoang untuk bersatu hati mendukung paket HATI pada Pilkada Manggarai Barat, September 2020 mendatang.

“Saat ini kita terus berkoordinasi dengan elemen kaum milenial di setiap kampung. kelompok Anak muda ini dikoordinir oleh pak Adi Jindeng, Pak Ard Naru, Pak Sales, paj Lois Halu, paj Epi Jemana, pak Malun, pak Sandyawan Aryo Putra, dan semua generasi muda Werang”, ungkap Rofinus.

Alasan mendukung paket HATI

Martinus Frody, misalnya, menilai sosok Matius Hamsi sangat familiar di mata kaum milenial. Lebih dari itu, Matius Hamsi juga dinilai sangat peka dan selalu merespon kebutuhan generasi muda di kecamatan itu.

“Alasan kami mendukung paket HATI, didasari oleh pertimbangan, bahwa selama ini pak Matius Hamsi sangat peduli dan respon dalam setiap kegiatan generasi muda, baik di tingkat kecamatan maupun di tingkat kabupaten”, ungkapnya.

Rofinus Rahmat menambahkan, bila tidak ada halangan, rapat final hari Sabtu pekan depan akan dihadir oleh seluruh perwakilan angkatan muda di kecamatan Sano Nggoang. Jika sudah final, maka bulan Maret ini kaum muda se-kecamatan Sano nggoang akan mendeklarasikan diri menfukung paket HATI.

“Mereka siap bekerja maksimal mewartakan paket HATI, di tingkat kecamatan Sano nggoang dan di seluruh Manggarai Barat”, kata Rofinus.

Ini Deklarasi yang kedua dilakukan oleh kaum muda untuk paket HATI. Bulan lalu kelompok kaum milenial Waemata-Labuan Bajo juga sudah terlebih dahulu menyatakan sikap dan arah dukunganya ke Paket HATI.

Berita Komodopos.com sebelumnya, Bakal Calon Bupati Manggarai Barat, Mateus Hamsi, S.Sos mengukuhkan 160 Relawan paket HATI (Mateus Hamsi – Tobias Wanus). Acara pengukuhan ini berlangsung di Werang ibu kota kecamatan Sano Nggoang, Sabtu (29/2).

Pengukuhan relawan Paket HATI ditandai dengan pembacaan peryataan sikap para relawan Hamsi -Tobi dan penyerahan baliho paket HATI oleh bacabup.Mateus Hamsi kepada 15 koordinator tingkat desa.

Dalam pernyataan sikapnya, para relawan muda menegaskan siap mendukung total dan memenangkan paket HATI pada pilkada Mabar 27 September 2020.

160 relawan paket HATI yang dikukuhkan itu merupakan utusan dari 15 desa se-kecamatan Sano Nggoang. *(Robert Perkasa)

Matius Hamsi : Saya Maju Rebut Bupati Untuk Persiapkan Jalan Orang Muda

KOMODOPOS.com-LABUAN BAJO-“Wartakan ke seluruh pelosok kabupaten Manggarai Barat bahwa saya, Matius Hamsi dan Tobias Wanus (Paket HATI) maju rebut kekuasaan (bupati dan wakil bupati) melalui proses Pilkada kali ini untuk mempersiapkan jalan bagi orang muda di wilayah kabupaten Manggarai Barat. Karena masa depan kabupaten dan bangsa ini ada pada pundak orang muda. Jika kami dipercaya memimpin daerah ini, maka selama 5 tahun kami bekerja menyiapkan jalan bagi generasi muda”, kata Matius Hamsi.

Diwawancara Komodopos.com di rumahnya di Waemata-Labuan Bajo belum lama ini, Matius Hamsi mengemukakan hal itu menanggapi pesimisme sejumlah pihak bahwa seolah-olah generasi tua seperti dirinya tidak lagi berguna untuk membangun kabupaten Manggarai Barat. Menurut Matius Hamsi, anggapan seperti itu sah-sah saja. Namun tidak berarti generasi tua tidak memiliki kemampuan untuk memimpin.

“Usia saya ini 63 tahun. Tetapi energi positif dan semangat saya membangun daerah ini sama seperti yang ada pada diri generasi muda. Yang terpenting kita yang tua ini jangan ada target memperkaya diri. Kalau paket HATI dipercaya oleh rakyat, kami dari hati memperjuangkan kepentingan rakyat. Dari hati kami bekerja menyiapkan jalan bagi orang muda”, ujarnya.

HATI : Bertindak Cepat, Tepat, Tegas

Taqline HATI, kata Matius Hamsi, sudah final. HATI dibingkai dengan spirit kepemimpinan “Bergerak Cepat, Tepat, Tegas”.

Cepat mengatasi apa yang menjadi kendala/persoalan rakyat. Tepat mengambil kebijakan/keputusan untuk mengatasi persoalan yang dirasakan rakyat. Keputusan/kebiakan publik yang diambil secara cepat dan tepat lalu dieksekusi dengan tegas.

“Artinya, apa yang menjadi kebutuhan rakyat, itulah yang kami kerjakan dengan cepat, tepat dan tegas. Jangan lagi menunda. Kalau kebutuhan rakyat hari ini, selesaikan hari ini. Jangan tunda besok”, tegas Matius Hamsi.

Ia melanjutkan, kalau paket HATI ini jadi, maka ini menjadi paketnya rakyat Manggarai Barat. “Karena saya datang dari rakyat kecil. Saya menjadi pimpinan DPRD Mabar kurang lebih 3 tahun. Saya tahu betul seluk-beluk persoalan yang dirasakan oleh generasi muda dan rakyat Manggarai Barat”, tutur mantan Ketua DPRD Mabar itu.

Saat ditanya apa yang dikerjakannya jika terpilih, ia menjawab memberdayakan ekonomi orang muda Mabar. Mempermudah izin usaha bagi generasi muda yang memiliki kreatifitas di berbagai bidang usaha. Membantu modal usaha bagi para petani muda di kampung atau di desa-desa. Ia juga mengatakan, apa yang telah dibangun oleh Bupati Mabar sebelumnya, paket HATI memeliharanya dengan hati berikut memperbaiki yang masih kurang.

“Banyak orang muda yang kreatif. Demikian juga kelompok usaha petani muda yang ada di kampung atau desa-desa. Mereka ini harus diberdayakan dengan hati dan serius. Permudah izin usaha bagi mereka yang serius berusaha di bidang apa saja yang membangun”, tandas Ketua DPD II Partai Golkar Manggarai Barat itu. *(Robert Perkasa).

Tabrakan di Indrong, Mobil Pertamina vs Sepeda Motor, 1 Dilarikan ke Puskesmas

KOMODOPOS.com-SANO NGGOANG-Sebuah mobil tangki minyak milik PT. Pertamina Tbk melaju dari arah Ruteng bertabrakkan dengan sepeda motor yang meluncur dari arah berlawanan. Tidak ada korban jiwa. Tetapi akibat tabrakan ini, pengendaraa sepeda motor dilarikan ke rumah sakit Lembor.

Kecelakaab lalulintas (lakalantas) ini terjadi di tikungan sebelum jembatan ruas Jalan Trans Flores, persisnya di kawasan Indrong, desa Golo Leleng, kecamatan Sano Nggoang, kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (7/3) petang sekira pukul 17.00 Wita.

Belum diketahui apa penyebab hingga terjadi tabrakkan itu. Namun dari keterangan pengguna jalan yang melintasi lokasi kejadian itu menduga karena cuaca hujan yang terus mengguyur wilayah itu.

“Kejadian barusan di jalan Trans Flores tepatnya di Indrong. Mobil Pertamina tabrak dengan motor”, kata Konradus Jagut, seorang pengguna jalan yang melintas di lokasi kejadian itu beberapa menit usai kejadian.

Dari foto yang diambil Konradus Jagut, di TKP, tampak bodi sepeda motor rusak total akibat tabrakan dengan mobil tangki minyak Pertamina yang bernomor polisi B 9249 SFV itu.

“Saat kami lewat, pengendara motor sudah tidak ada di TKP. Kurang dapat informasi juga tadi. Soalnya kondisi hujan gerimis, tak sempat tanya banyak”, ujar Konradus.

Dikonfirmasi melalu handphone seluler, Kepala Desa Golo Leleng, Monaldus mengatakan belum mengetahui kejadian tersebut.

“Saya belum tahu pak. Soalnya saya baru pulang kerja dari Kantor desa. Saya belum dapat informasi mengenai kejadian itu”, kata Kades Monal. *(Robert Perkasa)

Setahun Tragedi “Maret Kelabu” di Desa Tondong Belang

KOMODOPOS.com-MBELILING-Hari ini, Sabtu (7/3) tepat setahun tragedi “Maret Kelabu” yang mencekam itu. Bencana alam longsor yang dahsyat. Dalam hitungan detik, 8 orang nyawa manusia melayang. Tragis. Dua keluarga terkubur dalam pusaran longsor yang mematikan itu. Korban harta benda tak terperikan. Sejumlah rumah warga di dusun Culu dan dusun Nobo rusak parah terpapar material longsor. Desa Tondong Belang terkoyak, mati terkulai. Jaringan air bersih ambruk. Jaringan listrik dan komunikasi putus total. Arus transportasi darat ruas jalan Trans Flores lumpuh total selama seminggu. Dan seterusnya.

Mengenang setahun tragedi Kamis, 7 Maret 2019 yang mematikan itu, hari ini, Sabtu (7/3/2020), pemerintah desa bergandeng tangan dengan para rohaniwan, Palang Merah Indonesia (PMI) bersama para warga desa Tondong Belang, kecamatan Mbeliling, kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur memperingati peristiwa itu dengan menggelar ritual adat, doa Rosario hingga kegiatan penghijauan di dua titik longsor, yakni di kampung Nobo dan Gua Maria Wae Lia.

Di titik longsor kampung Nobo, mereka menanam 2000 bibit pohon Sirsak, Nangka dan Bambu.

Sementara di titik longsor Gua Maria Wae Lia, 1000 lilin dinyalakan.

Terlibat dalam kagiatan ini, masyarakat dusun Culu dan Nobo dan para siswa SDN Culu. Hadir juga Rohaniwan, Pater Marsel Agot, SVD dari Green Peace bersama para aktivis kemanusiaan PMI dari kota Labuan Bajo.

Kepala Desa Tondong Belang, Fransiskus Saverius Vidi kepada Floresnews.net menjelaskan, kefiatan tersebut dilakukan dalam rangka memperingati tragedi longsor yang terjadi setahun yang lalu.

“Kegiatan dilakukan di dua titik longsor yakni kampung Nobo dan Gua Maria Wae Lia. Selanjutnya digelar pula kegiatan ritual adat di Compang dan Doa Rosario bersama di Gua Wae lia dengan 1000 lilin”, kata Kades Fransiskus. *(Robert Perkasa)

26 Tahun Tukang Bangunan, 19 Tahun “Tukang Rohani”

“Saya tidak memiliki sedikitpun ilmu bangunan apalagi arsitektur. Tetapi bakat saya dalam dunia pertukangan terbawa sejak kecil. Tugas pelayanan sebagai Ketua KBG juga rasanya tidak membelenggu pekerjaan saya. Saya menjalani kedua profesi ini mulai dari kerja kasar jadi tukang batu hingga kerja halus, jadi tukang doa. Tentunya saya tidak sempurna menjalani dua tugas ini. Itu sebabnya saya memaknai cemoohan orang sebagai cambuk yang membuat saya makin matang”–Andreas Suri Arsi

KOMODOPOS.com-SANO NGGOANG-Andreas Suri Arsi (45 tahun). Tukang bangunan. 26 tahun usianya larut bersama campuran semen, pasir, batu dan air. Sisanya, 19 tahun larut dalam taman eden pengabdian/melayani iman umat terkait jabatannya sebagai Ketua Komunitas Basis Gereja (KBG) Santu Damianus Langgo, Stasi Roe, Paroki Rekas.Pendidikan formalnya hanya mentok di bangku SLTP. Akan tetapi buah karya tangannya tak terhitung. Mulai dari perabot rumah tangga, bangunan rumah kayu, rumah tembok hingga gedung berlantai. Itu semua dikerjakannya selama 26 tahun menekuni profesi tukang bangunan itu sejak tamat SMP Katolik Mutiara Rekas pada 1994.

Tukang bangunan tanpa ijazah mentereng. Ia hanya berguru pada pengalaman. Belajar otodidak mengembangkan bakat dan talenta yang ada dalam dirinya.

Tidak kalah menarik. Pria kelahiran Langgo, 15 Agustus 1975, itu tidak saja piawai mengukur volume bangunan. Lebih dari itu. Ayah 3 anak ini juga mempunyai kamampuan mempimpin umat dalam Komunitas Basis Gereja (KBG).

Berapa tidak. Tahun 2001, sebulan setelah menikah, ia dipercaya oleh umat setempat menjadi Ketua KBG Santu Damianus Langgo. Sejak saat itu hingga 2020 hari ini, ia masih menjabat Ketua KBG. 19 tahun usianya melayani kepentingan iman umatnya. Ia mampu menyeimbangkan antara pekerjaannya sebagai tukang bangunan dengan pelayanan umatnya selaku Ketua KBG. Suka duka urusan duniawi dengan pengabdian rohaniawi tidak membuatnya putus asa. Caci maki, unpatan, cemoohan dipandangnya sebagai cambuk yang membuatnya makin matang. Secara jasmani memang terasa menyakitkan tetapi secara rohani, ia justru makin sehat dan subur.Ditemui di rumahnya di kampung Langgo, desa Wae Lolos, kecamatan Sano Nggoang, kabupaten Manggarai Barat, Jumat (6/3), Arsi mengisahkan perjalanan profesinya sebagai tukang bangunan serentak tukang rohani apa adanya.

“Saya tidak memiliki sedikitpun ilmu bangunan apalagi arsitektur. Tetapi bakat saya dalam dunia pertukangan terbawa sejak kecil. Tugas pelayanan sebagai Ketua KBG juga rasanya tidak membelenggu pekerjaan saya. Saya menjalani kedua profesi ini mulai dari kerja kasar jadi tukang batu hingga kerja halus, jadi tukang doa. Tentunya saya tidak sempurna menjalani dua tugas ini. Itu sebabnya saya memaknai cemoohan orang sebagai cambuk yang membuat saya makin matang”, ujar ayah 3 anak itu.

Ia anak sulung dari 5 bersaudara, buah hati dari pasutri Matius Jemuan (almarhun ayah) dan Lusia Lanus ( almarhumah ibu).

Suami dari Maria Fransiska Fiani itu mengurai kisah perjalanan profesinya sejak di bangku SMPK Mutiara Rekas. Setelah tamat SMP tahun 1994. (Usia 19 tahun) ia tidak bisa melanjutkan studinya ke tingkat SMA oleh karena kondisi ekonomi orangtuanya terbatas.Ia pun tinggal di kampung Langgo.

Arsi, demikian ia akrab disapa, mulai mengasah bakatnya menggunakan peralatan tukang seadanya (manual). Bermula dari mengerjakan perabot meja kursi, lemari dan tempat tidur di rumahnya sendiri.

Tahun 2001, ia melepaskan masa lajangnya kemudian menikah dengan Maria Fransiska Fiani. Setelah menikah, ia mulai membangun rumah bagi keluarga kecilnya. Rumah kayu dengan ukuran 3,5 m x 6 m. “Itu rumah pertama yang saya kerjakan”, kata Arsi.

Ia melanjutkan kisahnya. Empat tahun kemudian (2005) ia mulai membangun lagi rumahnya yang kedua di kampung Langgo. Rumah semi permanen (setengah tembok) ukuran 6 x 6 M. Saat itulah ia mulai “menggauli” semen, pasir, batu, beton dan seterusnya. Dan dari situ pula keterampilannya berarsitektur berkembang pesat hingga lintang pukang ke berbagai penjuru menjadi tukang bangunan.

“Tahun 2005 juga saya mengerkajakan rumah keluarga saya di Namo, kecamatan Lembor. Ukurannya 6 x 6 M”, kenangnya.Bakatnya terus diasah. Tahun 2007, ia bersama teman-teman tukang sekampungnya dipercaya untukembangun rumah adat Langgo. Sejak itulah ia belajar mengenal dan menggunakan peralatan tukang modern, seperti mesin skap, mesin profil, bor dan lain-lain.Hasil kerja rumah adat itu, ia manfaatkan untuk membeli peralatan tukang yang serba listrik.

“Saat itu saya beli skap, mesin profil, mesin gerinda, mesin bor”, tutur Arsi seraya menambahkan, setahun kemudian (tahun 2008) saya kerja rumah keluarga di pasar lama Labuan Bajo. Rumah permanen ukuran 5×10 M. Saya kerja menggunakan peralatan yang saya beli sebelumnya. Hemat tenaga dan lebih cepat”, kisahnya.

Pengalaman demi pengalaman didukung peralatan modern yang dimilikinya, membuat namanya bertengger di papan atas dunia pertukangan. Pesanan pun datang mengalir. Dari pasar lama Labuan Bajo, ia kemudian menjelajahi wilayah selatan kecamatan Komodo. Ia memborong bangun rumah tembok ukuran 8 x 11 m di Mbuhung, desa Tiwu Nampar.

Dari kawasan selatan, ia memutar halauan ke kawasan utara, tepatnya di kecamatan Boleng. Selesai di Boleng, ia belok kanan meluncur ke Nampar Macing, kecamatan Sano Nggoang. Demikian seterusnya tak pernah menganggur.

Tak lama berselang, manajemen Telkomsel memanggil dia untuk mengerjakan penggalian fondasi pembangunan tower telkomsel di cabang Langgo, dekat rumahnya. Ia pun dipercaya Telkomsel menjadi kepala tukang dalam pekerjaan tersebut, semacam pemborong tunggal.Setelah itu menjadi asisten tukang membangun 3 ruang kelas gedung SMPN 2 Mbeliling.

Ia juga pernah mengerjalan Proyek PPK, PPIP fase II dan beberapa proyek lainnya di desa, seperti proyek Pansimas. Kerja meteran air di kampung Langgo.

Berbekal pengalaman segudang dalam dunia pertukangan, pada 2017 Arsi berani membeli mesin Pres di Ruteng seharga Rp17 juta.
Mulai saat itu hingga kini, ia terus belajar mengasah bakat dan potensinya bersama mesin pres itu.

“Kerja lebih mudah, misalnya kerja kosen rumah lebih mudah dan cepat. Kerja rumah di Nggorang, Cecer, Ndengo, Tembel dan beberapa bangunan rumah di tempat lain menggunakan mesin Pres ini”, tutur Arsi.

Kini, Arsi bersama teman-teman tukang sekampungnya sedang membangun Gereja Langgo yang berukuran 12 x 28 M. Dibangun sejak April 2018 lalu.”Seluruh kemampuan dan tenaga yang ada, saya tumpahkan untuk menyukseskan pembangunan Gereja Langgo”, tandas Arsi.Andreas Suri Arsi dikaruniai 3 orang anak laki-laki. Sulung, Frederikus Arsifiiani Retno, lahir 21 Juli 2002, siswa Kelas I SMKN 2 Tana Dereng. Putra keduanya, Heribertus Edwin Waha, lahir 16 Juli 2004, siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Mbeliling. Putra bungsu, Wolfardus Alfretur Arsifianiwin, lahir 13 Pebruari 2017.

Kedua anaknya, Retno dan Edwin memiliki catatan prestasi mumpuni sejak di SDK Roe. Trofi juara kelas menjadi langganan kedua putranya itu, khususnya bidang studi Matematika. Beberapa kali mengikuti lomba untuk bidang studi Matematika.

Edwin, misalnya, pernah menjadi Juara I Lomba Mata Pelajaran Matematika tingkat Sekolah Dasar Gugus Puncak Eltari Tahun Pelajaran 2016/2017 yang digelar oleh Pemkab Mabar, Dinas PPO UPTD PPO kecamatan Mbeliling.Andreas Suri Arsi, tukang bangunan dan Ketua KBG Santu Damianus-Langgo

Tukang bangunan. Profesi mulia. Berkelana di mana-mana. Membangun rumah pribadi, fasilitas publik lainnya. Segenap kekuatan, potensi dan tenaga dibaktikan untuk kepentingan orang lain. Terkadang tidak ada waktu untuk membangun diri dan keluarganya. Itulah Andreas Suri Arsi berprofesi sebagai tukang bangunan serentak “tukang rohani”. Tukang kerja dan tukang doa. Mulia, bukan ?

Hasil jerih payahnya untuk biaya pendidikan anak-anak dan kebutuhan keluarganya. Bisa jadi tidak ada waktu untuk bekerja dan berdoa bagi dirinya sendiri. Tetapi yakinlah, doa banyak orang yang kini menikmati karya dan pengorbananmu membawa berkat melimpah untukmu dan keluargamu. Selamat bekerja. *( Robert Perkasa).

Mobil Kepala Desa Golo Ketak Terjungkal di Puncak Mbuhet-Puarlolo

KOMODOPOS.com-SANO NGGOANG- Mobil L300 milik Petrus Hardin, Kepala desa Golo Ketak, kecamatan Boleng terjungkal di KM 32 jalan Trans Flores, Sabtu (7/3) siang sekitar pukul 12.00 wita. Kejadian ini
tepatnya di kawasan puncak Mbuhet-Puarlolo, desa Wae Lolos, kecamatan Sano Nggoang, kabupaten Manggatai Barat, Nusa Tenggara Timur.

Roy, seorang penumpang yang selamat dalam kecelakaan ini menuturkan, Sabtu (7/3) pagi tadi, ia bersama sopir mobil yang juga Kepala desa Golo Ketak berangkat dari kampung Kaca, desa Golo Ketak, kecamatan Boleng hendak menuju ke Bambor desa Watu Wangka, kecamatan Mbeliling. Tujuan ke Bambor untuk melawat keluarga mereka yang sakit di Bambor. Rencananya, Minggu (8/3) besok, mobil itu digunakan untuk mengantar keluarga yang sakit itu ke Rumah Sakit di Ruteng.

“Ada keluarga kami yang sakit di Bambor. Rencananya, besok (Minggu,8/3) mobil ini hantar orang sakit itu ke Ruteng. Saat kami tiba di sini, ada sebuah mobil lain dan sepeda motor yang melaju kencang dari arah Ruteng. Pengendara motor itu berusaha menyalip mobil di depannya. Pada saat itulah sopir mobil ini menghindari tabrakan dengan motor itu sehingga terjadilah seperti ini”, ujar Roy.Pantauan Komodopos.com di lokasi kejadian, mobil berwarna biru laut itu terjungkal ke kebun cengkeh milik Alfons Baik. Tidak ada muatan dalam mbil apes itu. Tampak bagian depan dan belakang mobil rusak parah. Bodi mobil bagian kanan tertancap ke tanah. Kaca spionnya tergeletak di tanah.

Kepala Desa Golo Ketak, Petrus Hardin (sopir mobil itu) belum berhasil dikonfirmasi. Menurut Roy, beberapa menit setelah mobilnya terjungkal, sang Kades pergi membeli pulsa di sekitar lokasi kejadian.*(Robert Perkasa)

Bernadus Barat Daya, Maria Geong, Sil Sukur Jumpa di Kampung

“Saya merasa bersyukur karena masih disapa oleh orang besar walau saya dalam keadaan dekil”,–Bernadus Barat DayaKOMODOPOS.com-SANO NGGOANG-Senja itu, Minggu (1/3), Bakal calon bupati dan bakal calon wakil bupati Manggarai Barat, Maria Geong-Silvester Sukur pulang dari kampung Lamung, desa Golo Ndaring, kecamatan Sano Nggoang.Pada saat yang sama, Bernadus Barat Daya bersama 5 orang warga kampung Rangat pulang dari hutan mengambil ijuk untuk atap rumah adat.”Kami berpapasan di jalan, persisnya di tengah kampung Rangat.
Rupanya ibu Maria lihat kami sedang pikul ijuk. Lalu oto berhenti dan ibu Maria menyapa kami dari dalam oto. Kami senang sekali saat disapa oleh pejabat pemerintah (wakil bupati) sekalipun saat itu, kondisi kami sangat dekil dan lusuh. Maklum tubuh kami dipenuhi kotoran ijuk”, ujar Barat Daya.Ia melanjutkan kisah perjumpaan tanpa sengaja itu bahwa sekalipun Ibu Wakil Bupati Maria Geong TIDAK sempat turun dari mobil, Barat Daya mengaku puas tatkala disapa dengan ramah oleh Ibu Maria Geong yang notabene Wakil Buoati Manggarai Barat.Foto : Evan Rafael, salah satu tim sukses Ibu Maria Geong

“Saya pun tak canggung menjawab beberapa pertanyaan Bu wakil meskipun celana levis yang saya kenakan robek-robek dan sangat lusuh”, katanya.Kendati begitu, Barat Daya merasa bersyukur dengan perjumpaan di senja itu.”Saya merasa bersyukur karena masih disapa orang besar walau saya dalam keadaan dekil”, ungkapnya. *(Robert Perkasa)

HPSN, Laskar Puncak SMPN 2 Mbeliling Turun ke Jalan Pungut Sampah

Terkait sampah plastik yang berserakan di sepanjang ruas jalan Trans Flores, terutama di kawasan puncak, Jhony Pampung memberi peringatan keras kepada para pengendara ataupun penumpang agar tidak membuang sampah di area itu.

KOMODOPOS.com–MBELILING-Memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) dan menyambut perayaan Hari Raya Paskah, hari ini, Jumat (6/3) ratusan siswa/siswi dan para Guru SMP Negeri 2 Mbeliling yang berjuluk “Laskar Puncak” turun ke jalan menggelar aksi pungut sampah. Halaman sekolah, ruas jalan Trans Flores di KM 30-KM 33 hingga merangsek halaman kampung Roe, desa Cunca Lolos, kecamatan Mbeliling, kabupaten Manggarai Barat menjadi titik sasar aksi sapu bersih sampah. Sebanyak 10 karung sampah plastik terpungut dalam aksi sosial ini.

Kepala SMPN 2 Mbeliling, Paulinus Rodi, S.Pd melalui Kaur Kurikulum, Yohanes D.B.Pampung menjelaskan, HPSN hari ini tidak hanya diperingati di kota Labuan Bajo. Di lingkungan sekolah di desa pun melakukan hal serupa.

Budaya bersih, kata Johny Pampung, tidak hanya pada momen HPSN. SMP Negeri 2 Mbeliling budaya bersih sudah menjadi pola hidup dan tertata dalam Tatib dan Permandian sekolah.

“Gerakan pungut sampah yang dilakukan oleh laskar puncak hari ini juga mau menawarkan budaya bersih memerangi sampah. Bahwa pola hidup bersih mesti ditanamkan sejak dini dan mesti membudaya. Tidak hanya pada HPSN saja. Laskar Puncak sudah mulai menanamkan budaya bersih iru sejak dulu. Bahkan sudah tertata rapi dalam Tatib dan Permendik Sekolah”, jelas Johni Pampung.

Terpantau Floresnews.net, Jumat (6/3) pagi, aksi sosial yang digelar laskar puncak dilakukan di sejumlah titik, antara lain di halaman sekolah, halaman kampung Roe dan sepanjang ruas jalan Trans Flores dari lingkungan SMP hingga kawasan puncak Puarlolo. Semua guru bersama peserta didik turun ke jalan. Aksi tersebut dikoordinir oleh Pembina OSIS SMPN 2 Mbeliling, Fransiskus Bius.

Mereka dibagi dalam dua tim, Tim Laskar Puncak A, siswa/siswi kelas VIII A dan kelas VIII B bersama Guru Pendamping, Emilia F Sanur, Siri Fatima Ibu dan Maria L.Y.Susanti
bergerak ke barat sepanjang ruas jalan KM 30, KM 31 dan halaman kampung Roe, desa Cunca Lolos, kecamatan Mbeliling.

Laskar Puncak B, siswa/siswi kelas VII dan kelas IX didamping Guru Frans Bius dan Hendratis Bonang selaku korlap menggempur ke timur sepanjang ruas halan Trans Flores dari KM 31 hingga KM 33 kawasan puncak Puarlolo, tepatnya di area spot wisata Puncak Eltari.

Priska Aqulia Hayati, siswi kelas IX kepada media ini mengatakan, sampah yang mereka pungut diisi dalam karung lalu di kumpulkan dalam kotak-kotak sampah yang tersedia di kawasan Puncak Eltari.

“Jenis sampah yang kami pungut umumnya sampah plastik dan botol-botol minuman yang dibuang oleh para pengguna jalan raya”, ujar Riska.*

Terkait sampah plastik yang berserakan di sepanjang ruas jalan Trans Flores, terutama di kawasan puncak, Jhony Pampung memberi peringatan keras kepada para pengendara ataupun penumpang agar tidak membuang sampah di area itu.* (Robert Perkasa)

Menguatnya ‘Naluri Animalitas’ (Refleksi Peristiwa ‘Adu Jotos’ Dua Kabag Mabar)

Peristiwa perkelahian dua Kabag itu, tentu menjadi ‘preseden’ buruk perihal kompetensi etis dan intelektual yang dimiliki oleh para pejabat publik kita. Karena itu, bupati perlu memikirkan ‘mekanisme pengujian sisi mental-psikis’ seorang ASN sebelum ditunjuk untuk menempati jabatan tertentu. Kritiria yang berbasis eselonisasi, senioritas, dan jenjang pendidikan (S2, S3) tidak cukup untuk ‘mengukur’ kematangan emosional seseorang.

Oleh : Sil Joni *)

Filsuf sekelas Sokrates agaknya keliru ketika bergumul dengan ‘tesis inteletualisme etis’ dalam membaca ‘level keadaban manusia’. Pasalnya, Sokrates begitu ‘percaya diri’ dengan hipotesisnya bahwa semakin tinggi tingkat intelektualitas seseorang, maka derajat penghayatan moralitasnya pun semakin baik. Dengan formulasi lain, Sokrates melihat ada korelasi yang erat antara entitas intelek dengan moralitas.

Publik Manggarai Barat (Mabar) ‘dihebohkan’ dengan video dan berita tentang dua kepala bagian (Kabag) yang terlibat ‘duel fisik’, di tempat paling terhormat di Kabupaten ini, Kantor Bupati (Daerah) Mabar. Tempus terjadinya bentrok itu pun menimbulkan problem yang serius. Mereka ‘adu jotos’ pada jam efektif untuk bekerja secara profesional di kantor publik sebagai ‘pelayan negara’ yang kompeten. Waktu efektif untuk memperlihatkan kecakapan teknis dan etis dalam bekerja, berubah menjadi ‘kesempatan’ memamerkan otot secara agresif.

Kantor bupati dalam sekejab berubah menjadi ‘arena tarung bebas’ entah dengan motif dan tujuan apa. Nalar sehat kita sulit mencerna secara objektif ‘aksi premanisme’ yang diperagakan oleh dua pejabat publik itu. Bayangkan, keduanya bukan ‘bocah ingusan’ yang sedang berebutan gula-gula sehingga perkelahian jadi ‘opsi primer’, tetapi dua individu dengan predikat atau pangkat yang prestisius (Kabag).

Tetapi, entah mengapa ‘naluri animalitas’ dipertontonkan secara telanjang dalam ruang bermartabat itu. Mereka ‘gagal’ mengelola ‘sisi emosional’ secara kreatif. Rasionalitas seolah ‘tak berkutik’ di hadapan entitas emosi sesaat itu.

Saya sangat yakin bahwa dua Kabag yang berseteru ini dibekali dengan ‘senjata intelektual’ dan pelatihan penginternalisasian kode etik sebagai ‘aparatus negara’ sebelum menduduki posisi karier seperti itu. Siapa pun tahu bahwa ‘tidak semua Aaparatur Sipil Negara (ASN) diberi ‘mandat’ untuk menempati pos Kepala Bagian di Kabupaten ini.

Tetapi, dengan kejadian ini, kita menjadi ragu ‘apakah keduanya’ memang layak menduduki jabatan itu? Saya berpikir, bupati Mabar mesti bersikap tegas dan mengevaluasi kinerja dan performa ’emosional’ keduanya. Apakah pribadi yang temperamen dan emosional semacam itu layak menjadi Kepala Bagian?

Peristiwa perkelahian dua Kabag itu, tentu menjadi ‘preseden’ buruk perihal kompetensi etis dan intelektual yang dimiliki oleh para pejabat publik kita. Karena itu, bupati perlu memikirkan ‘mekanisme pengujian sisi mental-psikis’ seorang ASN sebelum ditunjuk untuk menempati jabatan tertentu. Kritiria yang berbasis eselonisasi, senioritas, dan jenjang pendidikan (S2, S3) tidak cukup untuk ‘mengukur’ kematangan emosional seseorang.

Kita tidak ingin kantor-kantor publik dihuni oleh ‘sekawanan makluk immoral’. Era otoritas ‘otot’ sudah berlalu. Sedapat mungkin para pejabat publik menggunakan ‘rasionalitas dan hati yang jernih’ dalam merespons dan mencari solusi terhadap sebuah persoalan.

Adu jotos adalah ‘cara khas binatang’ dalam menyelesaikan sebuah perkara. Memang, jauh hari Aristoteles mendefinisikan manusia sebagai ‘binatang yang rasional (berakal budi). Entitas kebinatangan itu, memang tidak lenyap ketika kita menjadi ‘pejabat publik’. Namun, sebetulnya, ‘rasio, intelek’ mesti diaktifkan dan dijadikan pengendali setiap aktivitas kebinatangan itu. Ketika manusia ‘abai mengoptimalisasi akal budinya’, maka pada saat itulah statusnya kembali ‘terjun bebas’ selevel dengan binatang yang lain.

Kasus ‘adu otot’ dua Kabag menjadi ‘cermin’ untuk melihat tingkat kecerdasan emosional pejabat publik. Kita memetik semacam ‘pelajaran berharga’ bahwa cara kerja binatang bukan ‘pilihan yang cerdas’ dalam mengatasi konflik.

Sudah saatnya para pejabat kita dibekali dengan ‘pola manajemen konflik’ yang bersifat produktif. Berharap kantor-kantor publik tidak lagi menjadi ‘panggung’ ekshibisi pegawai yang berbakat jadi binatang.

*) Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan politik.