“Saya tidak memiliki sedikitpun ilmu bangunan apalagi arsitektur. Tetapi bakat saya dalam dunia pertukangan terbawa sejak kecil. Tugas pelayanan sebagai Ketua KBG juga rasanya tidak membelenggu pekerjaan saya. Saya menjalani kedua profesi ini mulai dari kerja kasar jadi tukang batu hingga kerja halus, jadi tukang doa. Tentunya saya tidak sempurna menjalani dua tugas ini. Itu sebabnya saya memaknai cemoohan orang sebagai cambuk yang membuat saya makin matang”–Andreas Suri Arsi
KOMODOPOS.com-SANO NGGOANG-Andreas Suri Arsi (45 tahun). Tukang bangunan. 26 tahun usianya larut bersama campuran semen, pasir, batu dan air. Sisanya, 19 tahun larut dalam taman eden pengabdian/melayani iman umat terkait jabatannya sebagai Ketua Komunitas Basis Gereja (KBG) Santu Damianus Langgo, Stasi Roe, Paroki Rekas.Pendidikan formalnya hanya mentok di bangku SLTP. Akan tetapi buah karya tangannya tak terhitung. Mulai dari perabot rumah tangga, bangunan rumah kayu, rumah tembok hingga gedung berlantai. Itu semua dikerjakannya selama 26 tahun menekuni profesi tukang bangunan itu sejak tamat SMP Katolik Mutiara Rekas pada 1994.
Tukang bangunan tanpa ijazah mentereng. Ia hanya berguru pada pengalaman. Belajar otodidak mengembangkan bakat dan talenta yang ada dalam dirinya.
Tidak kalah menarik. Pria kelahiran Langgo, 15 Agustus 1975, itu tidak saja piawai mengukur volume bangunan. Lebih dari itu. Ayah 3 anak ini juga mempunyai kamampuan mempimpin umat dalam Komunitas Basis Gereja (KBG).
Berapa tidak. Tahun 2001, sebulan setelah menikah, ia dipercaya oleh umat setempat menjadi Ketua KBG Santu Damianus Langgo. Sejak saat itu hingga 2020 hari ini, ia masih menjabat Ketua KBG. 19 tahun usianya melayani kepentingan iman umatnya. Ia mampu menyeimbangkan antara pekerjaannya sebagai tukang bangunan dengan pelayanan umatnya selaku Ketua KBG. Suka duka urusan duniawi dengan pengabdian rohaniawi tidak membuatnya putus asa. Caci maki, unpatan, cemoohan dipandangnya sebagai cambuk yang membuatnya makin matang. Secara jasmani memang terasa menyakitkan tetapi secara rohani, ia justru makin sehat dan subur.
Ditemui di rumahnya di kampung Langgo, desa Wae Lolos, kecamatan Sano Nggoang, kabupaten Manggarai Barat, Jumat (6/3), Arsi mengisahkan perjalanan profesinya sebagai tukang bangunan serentak tukang rohani apa adanya.
“Saya tidak memiliki sedikitpun ilmu bangunan apalagi arsitektur. Tetapi bakat saya dalam dunia pertukangan terbawa sejak kecil. Tugas pelayanan sebagai Ketua KBG juga rasanya tidak membelenggu pekerjaan saya. Saya menjalani kedua profesi ini mulai dari kerja kasar jadi tukang batu hingga kerja halus, jadi tukang doa. Tentunya saya tidak sempurna menjalani dua tugas ini. Itu sebabnya saya memaknai cemoohan orang sebagai cambuk yang membuat saya makin matang”, ujar ayah 3 anak itu.
Ia anak sulung dari 5 bersaudara, buah hati dari pasutri Matius Jemuan (almarhun ayah) dan Lusia Lanus ( almarhumah ibu).
Suami dari Maria Fransiska Fiani itu mengurai kisah perjalanan profesinya sejak di bangku SMPK Mutiara Rekas. Setelah tamat SMP tahun 1994. (Usia 19 tahun) ia tidak bisa melanjutkan studinya ke tingkat SMA oleh karena kondisi ekonomi orangtuanya terbatas.Ia pun tinggal di kampung Langgo.
Arsi, demikian ia akrab disapa, mulai mengasah bakatnya menggunakan peralatan tukang seadanya (manual). Bermula dari mengerjakan perabot meja kursi, lemari dan tempat tidur di rumahnya sendiri.
Tahun 2001, ia melepaskan masa lajangnya kemudian menikah dengan Maria Fransiska Fiani. Setelah menikah, ia mulai membangun rumah bagi keluarga kecilnya. Rumah kayu dengan ukuran 3,5 m x 6 m. “Itu rumah pertama yang saya kerjakan”, kata Arsi.
Ia melanjutkan kisahnya. Empat tahun kemudian (2005) ia mulai membangun lagi rumahnya yang kedua di kampung Langgo. Rumah semi permanen (setengah tembok) ukuran 6 x 6 M. Saat itulah ia mulai “menggauli” semen, pasir, batu, beton dan seterusnya. Dan dari situ pula keterampilannya berarsitektur berkembang pesat hingga lintang pukang ke berbagai penjuru menjadi tukang bangunan.
“Tahun 2005 juga saya mengerkajakan rumah keluarga saya di Namo, kecamatan Lembor. Ukurannya 6 x 6 M”, kenangnya.
Bakatnya terus diasah. Tahun 2007, ia bersama teman-teman tukang sekampungnya dipercaya untukembangun rumah adat Langgo. Sejak itulah ia belajar mengenal dan menggunakan peralatan tukang modern, seperti mesin skap, mesin profil, bor dan lain-lain.Hasil kerja rumah adat itu, ia manfaatkan untuk membeli peralatan tukang yang serba listrik.
“Saat itu saya beli skap, mesin profil, mesin gerinda, mesin bor”, tutur Arsi seraya menambahkan, setahun kemudian (tahun 2008) saya kerja rumah keluarga di pasar lama Labuan Bajo. Rumah permanen ukuran 5×10 M. Saya kerja menggunakan peralatan yang saya beli sebelumnya. Hemat tenaga dan lebih cepat”, kisahnya.
Pengalaman demi pengalaman didukung peralatan modern yang dimilikinya, membuat namanya bertengger di papan atas dunia pertukangan. Pesanan pun datang mengalir. Dari pasar lama Labuan Bajo, ia kemudian menjelajahi wilayah selatan kecamatan Komodo. Ia memborong bangun rumah tembok ukuran 8 x 11 m di Mbuhung, desa Tiwu Nampar.
Dari kawasan selatan, ia memutar halauan ke kawasan utara, tepatnya di kecamatan Boleng. Selesai di Boleng, ia belok kanan meluncur ke Nampar Macing, kecamatan Sano Nggoang. Demikian seterusnya tak pernah menganggur.
Tak lama berselang, manajemen Telkomsel memanggil dia untuk mengerjakan penggalian fondasi pembangunan tower telkomsel di cabang Langgo, dekat rumahnya. Ia pun dipercaya Telkomsel menjadi kepala tukang dalam pekerjaan tersebut, semacam pemborong tunggal.Setelah itu menjadi asisten tukang membangun 3 ruang kelas gedung SMPN 2 Mbeliling.
Ia juga pernah mengerjalan Proyek PPK, PPIP fase II dan beberapa proyek lainnya di desa, seperti proyek Pansimas. Kerja meteran air di kampung Langgo.
Berbekal pengalaman segudang dalam dunia pertukangan, pada 2017 Arsi berani membeli mesin Pres di Ruteng seharga Rp17 juta.
Mulai saat itu hingga kini, ia terus belajar mengasah bakat dan potensinya bersama mesin pres itu.
“Kerja lebih mudah, misalnya kerja kosen rumah lebih mudah dan cepat. Kerja rumah di Nggorang, Cecer, Ndengo, Tembel dan beberapa bangunan rumah di tempat lain menggunakan mesin Pres ini”, tutur Arsi.
Kini, Arsi bersama teman-teman tukang sekampungnya sedang membangun Gereja Langgo yang berukuran 12 x 28 M. Dibangun sejak April 2018 lalu.”Seluruh kemampuan dan tenaga yang ada, saya tumpahkan untuk menyukseskan pembangunan Gereja Langgo”, tandas Arsi.
Andreas Suri Arsi dikaruniai 3 orang anak laki-laki. Sulung, Frederikus Arsifiiani Retno, lahir 21 Juli 2002, siswa Kelas I SMKN 2 Tana Dereng. Putra keduanya, Heribertus Edwin Waha, lahir 16 Juli 2004, siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Mbeliling. Putra bungsu, Wolfardus Alfretur Arsifianiwin, lahir 13 Pebruari 2017.
Kedua anaknya, Retno dan Edwin memiliki catatan prestasi mumpuni sejak di SDK Roe. Trofi juara kelas menjadi langganan kedua putranya itu, khususnya bidang studi Matematika. Beberapa kali mengikuti lomba untuk bidang studi Matematika.
Edwin, misalnya, pernah menjadi Juara I Lomba Mata Pelajaran Matematika tingkat Sekolah Dasar Gugus Puncak Eltari Tahun Pelajaran 2016/2017 yang digelar oleh Pemkab Mabar, Dinas PPO UPTD PPO kecamatan Mbeliling.
Andreas Suri Arsi, tukang bangunan dan Ketua KBG Santu Damianus-Langgo
Tukang bangunan. Profesi mulia. Berkelana di mana-mana. Membangun rumah pribadi, fasilitas publik lainnya. Segenap kekuatan, potensi dan tenaga dibaktikan untuk kepentingan orang lain. Terkadang tidak ada waktu untuk membangun diri dan keluarganya. Itulah Andreas Suri Arsi berprofesi sebagai tukang bangunan serentak “tukang rohani”. Tukang kerja dan tukang doa. Mulia, bukan ?
Hasil jerih payahnya untuk biaya pendidikan anak-anak dan kebutuhan keluarganya. Bisa jadi tidak ada waktu untuk bekerja dan berdoa bagi dirinya sendiri. Tetapi yakinlah, doa banyak orang yang kini menikmati karya dan pengorbananmu membawa berkat melimpah untukmu dan keluargamu. Selamat bekerja. *( Robert Perkasa).