Kampanye (Politik) ‘yang Kepagian’? (Awasan untuk Bupati Mabar, Agustinus Ch. Dulla)

Oleh : Sil Joni *)

Penulis memakai ‘lensa hemeneutika kecurigaan’ dalam membedah isu yang disoroti dalam tulisan ini. Tesis dasarnya adalah kata yang diproduksi dan diartikulasi oleh pejabat publik, selalu berpotensi menggendong ‘interes politik subyektif’, entah bersifat implisit maupun yang dinyatakan secara tersurat. Tegasnya, kata-kata para elit (politik) tidak pernah netral dari kepentingan politik, apalagi jika kata itu digelindingkan dalam sebuah forum publik baik formal maupun informal.

Media daring sorotNtt,com, edisi 17/11/2019 melansir pernyataan bupati Mabar tentang ‘ajakan’ untuk mendukung paket calon bupati-calon wakil bupati Edi-Weng dalam kontestasi politik Pilkada Mabar yang akan digelar September 2020. Bujukan politik itu disisipkan Gusti Dulla ketika membawakan ‘sambutan’ dalam sebuah acara syukuran dari salah satu anggota DPRD Mabar, Wilhelmus Syukur di kampung Bentala, Kec. Boleng, Sabtu (16/11/2019).

Tajuk acara bernuansa syukuran itu pun, sontak berubah menjadi semacam ‘panggung kampaye politik mini’ untuk paket Edi-Weng. Diberitakan bahwa Gusti Dulla, dalam kapasitasnya sebagai bupati Mabar, tanpa ragu ‘mempersuasi undangan’ untuk memberikan dukungan politik kepada paket itu. Debut dan kiprah politik Edi Endi sebagai anggota DPRD Mabar empat periode dan saat ini menjadi ‘pemegang palu’ dewan, dikredit untuk memperkuat ajakan politik itu.

Demikian pun, dr. Yulianus Weng yang hadir dalam acara itu, diperkenalkan oleh Gusti Dulla sebagai ‘kekasih politik’ Edi Endi dalam mengarungi musim perebutan kekuasaan politik di level lokal.

Calon bupati lain yang sempat ‘dipromosikan’ oleh sang Bupati adalah ibu Maria Geong, ibu wakil bupati Mabar saat ini yang kebetulan hadir dalam acara sykuran politik itu. Tetapi, menariknya adalah Gusti Dulla sepertinya ‘kurang total’ dalam membujuk publik untuk menjatuhkan pilihan politik kepada sosok ini. Hal itu terbaca dari pernyataannya di mana ia memberikan kebebasan kepada publik apakah mendukung ibu Maria atau tidak.

“Ibu Maria juga belum pernah menjadi anggota DPRD tetapi sudah pernah wakil bupati. Dan tentu punya niat juga mau jadi bupati. Tinggal kita saja mau mendukung baik, tidak mendukung juga tidak apa-apa”, tegas Gusti Dulla.

Kita tidak tahu apa motifnya sehingga Gusti Dulla menggemakan ‘pesan politik yang relatif berbeda’ antara paket Edi-Weng dan Ibu Maria Geong. Mengapa untuk paket Edi-Weng, beliau tidak memberikan semacam opsi kepda publik, entah mendukung atau tidak? Apakah ini semacam ‘kode politik’ yang tersembul dari alam bawah sadar Gusti Dulla tentang ‘arah dukungan politiknya’ dalam kontestasi Pilkada Mabar kali ini?

Sebetulnya, ajakan normatif kepada publik untuk mendukung para paket calon yang berlaga dalam kontestasi politik itu, sah-sah saja dan malah sebuah ‘keharusan moral’. Itu adalah ekspresi ‘hak politik personal dari Gusti Dulla’ sekaligus tanggung jawab etis-politisnya sebagai bupati Mabar. Dalam kaitan dengan itu, tentu kita mengapresiasi ‘niat baik’ sang bupati untuk sekadar ‘mengingatkan publik yang hadir dalam pesta itu’ bahwa sebagian dari para calon itu ‘hadir juga dalam acara itu’. Secara terselubung, ‘kehadiran fisik itu’ bisa ditafsir sebagai bentuk ‘pemberitahuan’ bahwa aku adalah kandidat bupati Mabar.

Kendati demikian, saya kira ‘persuasi politik’ Gusti Dulla itu, perlu dikaji dari berbagai perspektif. Pertama, apakah etis seorang pejabat publik (bupati) dengan seenaknya ‘menjadikan’ tenda pesta sebagai arena ‘mempromosikan kandidat bupati tertentu’? Bukankah itu sebentuk ‘penodaan’ terhadap tema pesta?

Kedua, jika kita menilai bahwa ‘ajakan politik itu’ sebagai satu bentuk kampanye, maka bukankah itu bagian dari upaya (trik) mencuri start masa kampaye? Kita semua tahu bahwa gong tahapan Pilkada Mabar belum ditabuh secara formal. KPUD Mabar sebagai ‘pihak penyelenggara’ belum menetapkan secara definitip paket calon yang bertarung dalam Pilkada itu, tetapi Gusti Dulla begitu percaya diri dalam mempromosikan kedua figur yang disebutkan di atas.

Ketiga, Gusti Dulla dalam kapasitasnya sebagai bupati Mabar semestinya ‘bertindak adil’ dalam mempromosikan para paket calon tersebut. Beliau seharusnya ‘menyebut semua paket’ dan calon yang belum mendapat pasangan yang sudah mendeklarasikan diri di depan publik. Jadi, tidak hanya pasangan Edi-Weng dan ibu Maria Geong yang kebetulan hadir dalam pesta itu yang dikampanyekan. Publik mempunyai ‘hak’ untuk mendapatkan informasi politik yang pasti dari bupati Mabar itu terkait dengan nama-nama yang meramaikan bursa kandidasi untuk Pilkada Mabar saat ini.

Keempat, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, mengapa ada perbedaan muatan pesan (politik) antara Edi Endi-Weng dan ibu Maria Geong? Hemat saya, jika bupati Dulla punya niat baik, maka semestinya konten pesan politik antara keduanya, sama dan berimbang. Saya menangkap semacam ‘impresi politik’ bahwa bupati Dulla cenderung ‘mengagungkan’ paket Edi-Weng.

Dari penjelasan kritis di atas, maka saya kira, sudah semakin jelas bahwa pernyataan dari bupati Dulla dalam acara itu, tidak netral dari sisi penonjolan interes politik. Karena itu, melalui forum ini, kita memberikan semacam ‘awasan politis’ kepada beliau untuk mengontrol hasrat dalam mempromosikan para kandidat bupati dalam ruang publik. Jika pekerjasaan promosi atau kampanye itu dilakukakan, maka beliau mesti bertindak bijak agar semua kepentingan politik dari para kandidat terakomodasi. Tentu, muara dari semuanya adalah publik mendapat informasi dan pencerahan politik yang bermutu dari para pejabat publik umumnya dan bupati Mabar khususnya. *

*) Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan politik lokal Manggarai Barat. Tinggal di Labuan Bajo.

Tertimbun Pasir, Kardus Jehatu Meninggal Dunia

KOMODOPOS.com-SATARMESE BARAT – Kardus Jehatu (25) warga asal kampung Pangga, desa Koak, kecamatan Satarmese meninggal dunia gegara tertimbun pasir di tambang pasir Wae Maras, desa Hilihintir, kecamatan Satar Mese Barat, kabupaten Manggarai, provinsi Nusa Tenggara Timur, Selasa (19/11). Sempat dilarikan ke Puskesmas terdekat berikut dirujuk ke RSUD Dr. Ben Mboi, Ruteng, namun nyawanya tak tertolong. Korban mengembuskan nafas terakhir dalam perjalanan menuju Ruteng.

Kapolsek Iteng, Iptu Gabriel M.Taek membenarkan adanya kejadian itu.
Menurut Iptu Gabriel, dugaan sementara korban meninggal murni kecelakaan saat bekerja.

“Di lokasi tempat kejadian perkara memang sangat rawan kecelakaan. Tebing bekas galian tambang pasir cukup dalam sekitar 25 meter,” jelas Iptu Gabriel ketika dikonfirmasi Komodopos.com Selasa (19/11) malam.

Saksi mata yang enggan disebutkan namanya menuturkan, korban bersama tiga orang rekannya mengambil material pasir berasa di areal tambang pasir menggunakan truk. Korban duduk dekat kubangan bekas galian di tepi tebing. Tiba-tiba tebing runtuh lalu menimbun korban.

“Sebelum kejadian, korban duduk tepatnya di kubangan bekas galian pasir dekat dengan tebing setinggi lima meter. Saat ia duduk, tiba tiba tebing rubuh menutupi seluruh badan korban”, ujar saksi mata itu.

Ia menambahkan, ketiga rekannya yang berada di lokasi kejadian berusaha menolong korban dari reruntuhan pasir. Setelah menemukan korban, mereka langsung mengevakuasi korban ke Puskesmas Narang untuk mendapatkan pertolongan medis.

Dari Puskesmas Narang, korban kemudian dirujuk ke RSUD Dr. Ben Mboi Ruteng. Sekira pukul 16.30 Wita korban dilarikan ke RDUD Dr.Ben Mboi menggunakan mobil ambulance Puskesmas. Namun dalam perjalanan ke Ruteng, tepatnya di kampung Ranging, desa Todo, kecamatan Satar Mese Barat, korban meninggal dunia. *(Djoe)
Editor : Robert Perkasa

Proficiat dari Brasil, Kalimantan dan Kupang Untuk Umat Pra Stasi St.Yosep Rangat

KOMODOPOS.com-SANO NGGOANG-Perayaan Ekaristi Kudus Penerimaan Sakramen Komuni Pertama dan Sakramen Permandian di Kapela Pra Stasi Santu Yosep Rangat, Paroki Santu Klaus Werang, Keuskupan Ruteng mendapat aplaus dan dukungan serta beragam komentar publik dari berbagai tempat, bahkan dari luar negeri.

Dari Brasil, P.Wilfrid Ribun, SVD, misalnya menyatakan dukungan moril dan spirit religius melalui akun Facebooknya di berbagai grup sosial media, Selasa (19/11) malam.

Kepada 9 anak penerima Sakramen Komuni Pertama dan 11 anak yang menerima Sakramen Permandian serta seluruh umat di 3 Kelompok Umat Basis (KUB) dalam wilayah Pra Stasi Santu Yosep Rangat. Pastor Wilfrid juga mengucapkan terima kasihnya kepada Pastor Paroki Santu Klaus Werang, Rm.Yohanes Syukur, Pr yang akrab disapa Romo Jonsy.

“Luar biasa sekali. Selamat dan profisiat bagi semua anakku dan semua koaku yg telah menerima Sakramen Ekaristi. Proficiat serta sukses selalu untuk semua keluargaku dari ketiga KUB dari Pra Stasi Rangat. Dan terimakasih banyak untuk Romo Jonsy yang telah memberikan pelayanan Sakramen Ekaristi kepada semua anak dan koaku serta seluruh keluarga dari tiga KUB Pra Stasi Santo Yosef Rangat. Salam dan doaku untukmu semua”, tulis Pater Wilfrid.

Ucapan senada juga datang dari Suster Melania Albertha, KFS di Kalimantan. Kepada Komodopos.com via akun Facebooknya, Suster Melania mengaku rindu kampung halamannya, Rangat tatkala ia memirsa live video Perayaan Ekaristi Kudus di Kapela Pra Stasi Santu Yosep, Senin (18/11) kemarin.

“Kereeeenn Robert..jadi nuk beoo (rindu kampung halaman). biar toe na bae lata Rangat da iooo (biarkan orang lain mengenal kampung Rangat). Doaku untuk kalian semua di sana”, tulis Suster Melania.

Sementara itu dari Kupang, mantan Anggota DPRD Provinsi Nusa Tenggara Timur, Ibu Kristofora Benedikta Bantang yang akrab disapa ibu Venny Bantang menyatakan kerinduan serta ucapannya via akun Facebooknya untuk seluruh umat Katolik di pra Stasi St.Yosep Rangat. Ia bahkan meminta Pastor Paroki Santu Klaus Werang agar status pra Stasi ditingkatkan menjadi Stasi Santu Yosep Rangat.

“Stasi itu…penuh kerinduan akan kebersamaan…Semoga kita akan kembali bersenda gurau di halaman Stasi itu…”, kenang Ibu Venny Bantang.

Selama menjadi anggota DPRD Provinsi NTT, Ibu Venny Bantang beberapa kali datang mengunjungi umat di wilayah pra Stasi St.Yosep Rangat.

Masih banyak lagi ucapan dan dukungan moril senada yang diungkapkan oleh banyak kalangan di berbagai grup sosial media terkait kabar kesederhanaan umat Katolik serta keunikan-keunikan yang berenergi positif bagi pembangunan iman umat di wilayah pra Stasi St.Yosep Rangat itu.

Berita Komodopos.com sebelumnya, perayaan Ekaristi Kudus Komuni Pertama di Kapela Pra Stasi Rangat menampilkan nuansa yang berbeda dalam banyak hal. Perayaan Ekaristi berlangsung sederhana namun unik dan hikdmat. Perayaan Ekaristi makin khidmat dimeriahkan oleh koor paduan suara dan musik merdu keluarga besar SDN Sangat dan sejumlah anggota mudik di pra Stasi St.Yosep Rangat.

Pertama, jumlah peserta Komuni Pertama. Sedikitnya 9 peserta/siswa-siswi SDN Rangat menerima Sakramen Komuni Pertama di Kapela Pra Stasi Santu Yosep Rangat, Senin, 18 November 2019. Bersamaan dengan Komuni Pertama, juga penerimaan Sakramen Permandian/Baptis bagi 11 anak di wilayah pra Stasi tersebut. Kesembilan peserta berasal 3 KBG yang menjadi wilayah basis umat di pra stasi tersebut, yakni KBG Rangat, KBG Lamung dan KBG Tembel.

Kedua, ada dua Pastor yang memimpin perayaan Ekaristi Kudus ini. Adalah Pastor Paroki Santu Klaus Werang, Rm. Yohanes Syukur, Pr dan Romo Silvester dari Lembor. Menurut umat setempat, ini sebuah rahmat berlimpah buat umat yang ada di pra Stasi St.Yosep Rangat. Misa berlangsung sederhana namun unik dan hikdmat.

Ketiga, kesepakatan umat dalam hal berpakaian. Seluruh umat pra Stasi itu mengenakan pakaian yang bernuansa adat Manggarai, yakni kain sarung Songke untuk laki-laki dan perempuan dewasa
pada saat Misa di Kapela.

Keempat, bahan persembahan 100% pangan lokal berupa hasil karya/jeripayah yang diambil langsung dari kebun/sawah milik umat setempat. Sebut di antaranya beraneka buah-buahan pisang dll, sayur-sayuran, beras merah hingga tepung kopi.

“Seluruh umat di wilayah pra Stasi St.Yosep Rangat telah bersepakat untuk berpakaian adat saat mengikuti Misa dan tidak diperkenankan membawa bahan persembahan yang dibeli di toko. Ini menjadi cirikhas kami di pra Stasi St.Yosep Rangat”, ujar Bernadus Barat Daya, tokoh umat di Pra Stasi Santu Yosep Rangat.

Ketika menyampaikan sambutan singkatnya mewakili umat Pra Stasi Santu Yosep Rangat dalam perayaan teraebut, Barat Daya memohon kepada Pastor Paroki Santu Klaus Werang untuk mendefinitifkan pra Stasi St.Yosep Rangat menjadi Stasi otonom unruk menopang eksistensi Paroki Santu Klaus Werang.

Menanggapi permohonan Barat Daya itu, Pastor Paroki Santu Klaus Werang, Rm. Yohanes Syukur, Pr memastikan status pra Stasi St.Yosep Rangat didefenitifkan pada tahun 2020.

“Sebelumnya saya merencanakan hal ini dilakukan pada akhir tahun 2019 ini. Namun belum terwujud karena belum ada Uskup definitif di wilayah Keuskupan Ruteng. Baru saja Uskup Ruteng telah terpilih oleh Paus Fransiskus, yakni Mgr. Siprianus Hormat, Pr. Tahun 2020 saya usahakan pra Stasi St.Yosep Rangat didediniifkan menjadi Stasi segera terwujud”, terang Romo Jonsy. *(Robert Perkasa)

Komuni Pertama di Pra Stasi St.Yosep Rangat, Sederhana Namun Unik

KOMODOPOS.com-SANO NGGOANG-Wilayah Pra Stasi Santu Yosep Rangat mendapat giliran terakhir Penerimaan Sakramen Komuni Pertama (Sambut Baru) tahun 2019. Hal ini berdasarkan tahapan dan jadwal yang telah ditetapkan oleh Pastor Paroki dan Pengurus Dewan Paroki Santu Klaus Werang, Keuskupan Ruteng.

Seperti pelaksanaan Komuni Pertama di Stasi/Paroki yang lain, penerimaan Komuni Pertama di Pra Stasi nan mungil ini menampilkan nuansa yang berbeda. Perbedaannya dalam banyak hal. Namun yang sangat menyolok terletak pada kesiapan dan kesepakatan umat setempat dalam hal bahan persembahan hingga cara berpakaian saat mengikuti perayaan Ekaristi Kudus tersebut, jumlah anak penerima Komuni Pertama dan Pastor yang memimpin misa.

Pertama, jumlah peserta Komuni Pertama. Sedikitnya 9 peserta/siswa-siswi SDN Rangat menerima Sakramen Komuni Pertama di Kapela Pra Stasi Santu Yosep Rangat, Senin, 18 November 2019. Bersamaan dengan Komuni Pertama, juga penerimaan Sakramen Permandian/Baptis bagi 11 anak di wilayah pra Stasi tersebut. Kesembilan peserta berasal 3 KBG yang menjadi wilayah basis umat di pra stasi tersebut, yakni KBG Rangat, KBG Lamung dan KBG Tembel.

Perayaan Ekaristi makin khidmat dimeriahkan oleh koor paduan suara dan musik merdu keluarga besar SDN Sangat dan sejumlah anggota mudika di pra Stasi St.Yosep Rangat.

Kedua, ada dua Pastor yang memimpin perayaan Ekaristi. Adalah Pastor Paroki Santu Klaus Werang, Rm. Yohanes Syukur, Pr dan Romo Silvester dari Lembor. Menurut umat setempat, ini sebuah rahmat berlimpah buat umat yang ada di pra Stasi St.Yosep Rangat. Misa berlangsung sederhana namun unik dan hikdmat.

Ketiga, kesepakatan umat dalam hal berpakaian. Seluruh umat pra Stasi itu mengenakan pakaian yang bernuansa adat Manggarai, yakni kain sarung Songke untuk laki-laki dan perempuan dewasa
pada saat Misa di Kapela.

Keempat, bahan persembahan 100% pangan lokal berupa hasil karya/jeripayah yang diambil langsung dari kebun/sawah milik umat setempat. Sebut di antaranya beraneka buah-buahan pisang dll, sayur-sayuran, beras merah hingga tepung kopi.

“Seluruh umat di wilayah pra Stasi St.Yosep Rangat telah bersepakat untuk berpakaian adat saat mengikuti Misa dan tidak diperkenankan membawa bahan persembahan yang dibeli di toko. Ini menjadi cirikhas kami di pra Stasi St.Yosep Rangat”, ujar Bernadus Barat Daya, tokoh umat di Pra Stasi St. Yosep Rangat.

Ketika menyampaikan sambutan singkatnya mewakili umat Pra Stasi Santu Yosep Rangat dalam perayaan teraebut, Barat Daya memohon kepada Pastor Paroki Santu Klaus Werang untuk mendefinitifkan pra Stasi St.Yosep Rangat menjadi Stasi otonom untuk menopang eksistensi Paroki Santu Klaus Werang.

Menanggapi permohonan Barat Daya itu, Pastor Paroki Santu Klaus Werang, Rm. Yohanes Syukur, Pr memastikan status pra Stasi St.Yosep Rangat didefenitifkan pada tahun 2020.

“Sebelumnya saya merencanakan hal ini dilakukan pada akhir tahun 2019 ini. Namun belum terwujud karena belum ada Uskup definitif di wilayah Keuskupan Ruteng. Baru saja Uskup Ruteng telah terpilih oleh Paus Fransiskus, yakni Mgr. Siprianus Hormat, Pr. Tahun 2020 saya usahakan pra Stasi St.Yosep Rangat didediniifkan menjadi Stasi segera terwujud”, terang Romo Jonsy. *(Robert Perkasa)

Derita Kalah 1-3 Persada, Berkah Bagi Laskar Biru Persema

KOMODOPOS.com-ENDE-Unggul sementara 1-0 pada babak pertama, laskar Persada Nangapanda keok di babak kedua. Pasukan biru Persema Menanga sukses membalikkan keadaan sekaligus membungkam Persada dengan skor akhir 3-1 pada laga babak penyisihan Pool B turnamen Ema Gadi Djou Memorial Cup (EGDMC) 2019 di Stadion Marilonga-Ende, kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, Kamis (14/11) malam pukul 18.30 Wita.

Turun dengan jersey kebesaran biru-biru, Persema berusaha untuk meraup poin penuh dari Persada Nangapanda yang baru mengantongi 1 poin sejauh ini. Sayangnya, penampilan apik squad Persada Nangapanda melewati badai perlawanan ketat laskar Persema.

Kerja sama yang kompak di tiap lini, laju serangan Persada mengalir deras ke jantung pertahanan Persema. Tanpa kompromi, Tarnosius (14) sukses mencetak gol pembuka ke gawang Persema Menanga. 1-0 untuk keunggulan Persada.

Terpaut 1 gol, Persema mengatur ritme permainan melalui strategi bola-bola pendek dari kaki ke kaki. Alur serangan Persema membuahkan peluang menyamakan skor melalui kaki Syukur Kasim. Sialnya, akurasi tembakan Syukur Kasim belum tepat sasaran. Skor 1-0 untuk Persada Nangapanda bertahan hingga jeda babak pertama.

Menit-menit awal babak kedua bergulir, Persema bangkit. Benteng pertahanan lawan menjadi titik fokus agresi pasukan Persema. Melancarkan serangan beruntun demi membalas gol. Pasing-pasing bola pendek dengan satu dua sentuhan, Persema beberapa kali menebar ancaman ke gawang lawan.

Keluar dari tekanan Persema, laskar Persada yang sudah unggul satu gol juga melakukan serangan balik. Umoan-umpan terobosan dari sayap kiri dan kanan ditopang penetrasi bola dari lini tengah kerap mengancam gawang Persema.
Akan tetapi presure laskar Nangapanda di babak kedua selalu kandas di kaki fullbek Persema yang tampil apik mengawal bemtwmg pertahanannya.

Belum membuahkan hasil, squad Persema tidak patah semangat. Kerja sama apik anak-anak Menanga berujung untung melalu pemain penggantii, Antonius Aralolon Sogen (19). Amunisi baru yang dikerahkan pelatih Persema sukses mencatatkan namanya di papa skor. Bermula dari sebuah serangan balik yang cepat. Antonius melesakkan si kulit bundar hingga bersarang di gawang Persada. Skor berimbang jadi 1′-1.

Gol balasan Antonius ini ternyata memantik semangat squad Persema. Alhasil, semenit kemudian naas kembali menerpa gawang Persada. Ini terjadi memanfaatkan blunder penjaga gawang ketika melakukan intersep agrresi Syukur Kasim yang sedang menerobos gawangnya. Aksi penyelamatan kurang cermat Kiper Persada itu berujung petaka ketika wasit mengganjar pelanggaran tersebut dengan hukuman pinalti.
Rian Fitra Hidayat (15) yang dipercaya sebagai eksekutor pinalti kematangan peluang emas ini dengan komplit. Gawang Persada pun bergetar untuk ledua kalinya. Skor 2-1 Persema makin unggul.

Foto : MediaCenterEGDMC2019

Gol kedua Persema ini membuat psikis anak-anak Persada rapuh. Terbukti, beberapa saat kemudian, Syukur Kasim kembali unjuk taji. j Bola lambung dari kanan yang gagal ditepis kiper Persada jatuh persis di kaki Syukur Kasim. Bola bundat kembali bersarang di gawang Persada. Skor 3-1 menambah panjang derita anak-anak Nangapanda.

Derita kekalahan Persada mendapat keuntungan 3 poin untuk Persema di Pool B hasil 3 kali laga. 2 kali menang dan sekali kalah. Melibas Napumere FC dengan skor 3-2 pada laga kedua, Senin (11/11) dan dilinas Angkasa Kupang 1-0 pada laga pertama, Rabu (6/11) pekan lalu.
*(Hero Dores/Robert Perkasa)

Langkah Putra Nage Tersandung Gol Semata Wayang Felixianus Ola Geroda

KOMODOPOS.com-ENDE-Langka Putra Nage menuju babak 8 besar turnamen Ema Ga di Djou Memorial Cup (EGDMC) 2019 tersandung di kaki Felixianus Ola Geroda (10) striker Rol Lamawolo yang mencetak gol semata wayang ke gawang Putra Nage pada laga lanjutan babak penyisihan Pool A di Stadion Marilonga-Ende, kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, Kamis (14/11) petang pukul 16.00 Wita.

Menderita kekalahan perdana dalam laga ini membuat posisi Putra Nage di tangga Klasmen Sementara Pool A nyaris terancam. Pasalnya, putra Nage sama-sama mengoleksi 6 poin dengan Awas Wolotopo dan Maumere United yang telah mengantongi 9 poin di Pool Neraka ini. Nasib Putra Nage ditentukan dalam laga pamungkas melawan Awas Wolotopo. Partai hidup mati karena kedua tim tangguh ini sama-sama mengantongi 6 poin sejauh ini.

Ambisi Putra Nage mencuri poin dalam laga ini demi lolos ke babak berikutnya mendapat rintangan terjal ketika menghadapi squad Rol Lamawolo yang belum mengantongi satu poin pun akibat menderita kekalahan beruntun pada dua laga sebelumnya.

Melenceng dari perkiraan, squad Rol Lamawolo memberikan perlawanan yang gigih hingga sukses menaklukkan Putra Nage, 1-0.
Hasrat Putra Nage untuk lebih dahulu membobol gawang Rol Lamawolo selalu terhalang tembok dan skema pengawalan super ketat di benteng pertahanan Rol Lamawolo. Strategi pertahanan lapis baja ini menyulitkan Putra Nage unruk leluasa bergerak mengancam gawang Rol Lamawolo. Paceklik gol berlangsung sepanjang babak pertama.

Ketika babak kedua bergulir, Rol Lamawolo malah menampilkan permainan cantik dan mendominasi pertandingan. Beberapa kali aksi pemain Rol mengancam gawang Putra Nage dengan penetrasi serangan yang bervariasi.

Umar Boro Nele (9) yang menjadi striker andalan Rol Lamawolo menebar ancaman berbahaya ke gawang Putra Nage. Tidak hanya Umar Boro Nele. Sejumlah pemain Rol Lamawolo yang lain juga turun melancarkan serangan ke area pertahanan Putra Nage. Kendati demikian aks individu dan kerja sama tim Rol Lamawolo kurang akurat dalam penyelesaian akhir.

Sebaliknya, digempur lawan, Putra Nage bangkit menyerang lawan. Memperoleh sejumlah peluang emas namun selalu kandas dihadang lawan.Laskar Putra Nage kembali mendapat peluang emas melalu Emil Dhay Lena (27) yang bebas dari jebakan offside. Namun Emil yang tinggal berhadapan dengan penjaga gawang Rol gagal fokus memaksimalkan kesempatan. Tendangan Emil malah melambung jauh ke atas mistar gawang.

Bermain tanpa beban, Skuat Rol Lamawolo menguasai laga babak kedua. Lini belakang Putra Nage dipaksa berjibaku menahan laju gempuran anak-anak Rol Lamawolo yang gencar menyerang.

Foto : MediaCenterEGDMC2019

Agresi squad Rol Lamawolo ini berujung petaka bagi Putra Nage di masa injury time babak kedua melalui kaki Felixianus Ola Geroda (10). Berlari dari sudut sempit di sisi kiri, Felicianus berhasil memecah kebuntuan ketika tendangannya sulit dihalau kiper lawan. Gawang Putra Nage pun bergetar, 1-0 Rol Lamawolo memimpin

Tak lama berselang gol semata wayang Felix itu, wasit meniup pluit panjang pertanda laga usai. *(Hero Dores/Robert Perkasa)

Bantai Kalfari FC 8-2, Maumere United Lolos dari Pool “Neraka”

KOMODOPOS.com-ENDE-
Maumere United (MU) lolos dari Pool “neraka” usai membantai Kalvari FC dengan skor telak 8-2 dalam laga lanjutan babak penyisihan Pool A yang berlangsung di Stadion Marilonga-Ende, kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, Rabu (13/11). Disebut Pool neraka karena MU bersaing sangat ketat dengan dua raksasa sepak bola Putra Nage asal Nagekeo dan mewakili tuan rumah, Awas Wolotopo-Ende yang sama-sama mengantongi 6 poin.

Memetik poin penuh dalam laga ini membuat posisi MU makin kokoh di puncak Klasmen sementara Pool A. Sekaligus memastikan MU merebut satu tiket melenggang ke babak 8 besar turnamen tersebut.

Sejak wasit meniup pluit kickoff babak pertama, laskar MU menampilkan permainan yang memukau dan mendominasi jalannya pertandingan.

Flori Dedi (9) mesin gol Maumere United. Foto : Perse Ende/Facebook

Pada babak perrama, duet maut stiker squad Nian Sikka Maumere United, Florianus Dedy (9) mencetak hattrick dan eks pemain Sriwikaya FC, Eka Hera (8) menyumbang 1 gol ke gawang Kalvari FC.

Dominasi MU berlanjut hingga babak kedua. Unggul 4 gol di babak pertama, MU menerapkan pola permainan pendek dari kaki ke kaki menerobos benteng pertahanan Kalvari.

Tempo permainan lambat yang diperagakan squad Nian Sikka dimanfaatkan oleh anak-anak Kalvari untuk menggempur lawan. Baru beberapa menit laga babak kedua bergulir, Kalvari FC mampu menggetarkan gawang MU. Skor berubah menjadi 4-1

Namun selebrasi squad Kalvari ini tak berlangsung lama. Selang beberapa menit kemudian, gawang Kalvari kembali jebol. Lagi-lagi Florianus Dedi (9) kembali mencatatkan namanya untuk menjadi top scorer dengan menambah satu gol menjadi 5-1.

Terpaut 4 gol, pola permainan Kalvari kian rapuh. Memanfaatkan kelemahan lini pertahanan Calvari yang makin kendor, laskar merah MU makin tancap gas menyerang. Kali ini giliran Andi Sae (24) menggandakan keunggulan MU menjadi 6-1.

Foto : MediaCenterEGDMC2019

Meskipun skor makin melebar, anak-anak Kalvari tidak menyerah. Perlawanan Kalvari membuahkan hasil ketika pemain nomor punggung (19) mampu melesakkan 1 gol ke gawang MU. Skor berubah menjadi 6-2.

Tak lama usai Kalvari membalas gol keduanya, datang lagi gempuran MU. Flori Dedi kembali menjadi mimpi buruk bagi Calvari. Flori mencetak gol kelimanya ke gawang Kalvari sekaligus merubah skor jadi 7-2.

Sebelum laga bubar, Flori Dedi datang lagi menjebol gawang Kalvari. 8-2. * (Hero Dores/Robert Perkasa)

Angin Puting Beliung dan Petir Melanda Manggarai Barat dan Manggarai

Puting beliung di kecamatan Welak, Manggarai Barat. Gedung SDN Sewar rusak parah. Foto : Yohanes Sentosa, Guru SDN Sewar.

Puting beliung di desa Raba, Manggarai Barat. Rumah warga ambruk. Foto : Jhon Jehadin, warga desa Raba.

Korban meninggal dunia tersambar petir di desa Benteng Luwu, kabupaten Manggarai. Foto : Facebook

KOMODOPOS.com-LABUAN BAJO- Hujan lebat disertai angin puting beliung dan petir yang terjadi di awal musim penghujan tahun 2019 meluluhlantakan sejumlah fasilitas publik dan rumah-rumah warga hingga menelan korban jiwa manusia. Angin puting beliung melanda warga di desa Sewar, kecamatan Welak dan desa Raba, kecamatan Macang Pacar, kabupaten Manggarai Barat. Sementara di kabupaten Manggarai Nusa Tenggara Timur, seorang ibu dan anaknya meninggal dunia akibat disambar petir.

Angin puting beliung dan petir yang mengamuk di tiga desa berbeda terjadi pada waktu yang berbeda pula. Musibah angin puting beliung mengakibatkan gedung sekolah, rumah ibadah dan sejumlah rumah warga mengalami rusak parah.

Puting Beliung di Desa Sewar

Di desa Sewar, Kecamatan Welak, Manggarai Barat misalnya, bangunan SDN Sewar dan beberapa rumah dinas Guru di sekitar gedung SDN tersebut dilaporkan mengalami kerusakkan sangat parah terpapar angin puting beliung. Peristiwa naas ini menerpa wilayah itu, Senin (11/11) siang.

Kepala Desa Sewar, Fabianus Asman melaui sambungan telpon kepada Komodopos.com menerangkan, peristiwa naas ini terjadi sekitar pukul 14.00 Wita Senin siang. Ia menguraikan kerugian yang timbul akibat angin puting beliung ini, gedung sekolah dan rumah dinas guru di sekitar SDN Sewar rusak parah.

Yohanes Sentosa, salah seorang Guru yang mengabdi di SDN itu menambahkan, kerusakkan gedung SDN Sewar mengakibatkan kegiatan belajar mengajar terpaksà dihentikan sementara.

“Puting beliung melanda sekolah kami sehinga aktivas KBM untuk kelas I dan kelas IV terpaksa dihentikan untuk sementara. Anak-anak belajar di rumah sampai ruangan kelas mereka bisa dibenahi. Sedangkan kelas V dan kelas VI tetap menjalankan KBM seperti biasa”, terang Yohanes.

Kades Desa Sewar , Fabianus Asman menambahkan, peristiwa naas yang menerpa wilayah desanya telah dilaporkan kepada pemerintah kabupaten Manggarai Barat pada (Rabu 13/11/2019) kemarin.

“Mereka sedang dalam perjalanan menuju Desa Sewar untuk meninjau langsung lokasi terpapar puting beliung”, ujarnya.

Puting beliung di desa Raba

Sebelumnya, Sabtu (9/11) sekitar pukul 15.00 Wita angin puting beliung juga melanda warga translok di dusun Rempang, desa Raba, kecamatan Macang Pacar, kabuoaten Manggarai Barat.

Saksi mata, Jhon Jehadin yang ada di lokasi saat kejadian melaporkan, angin puting beliung mengambrukkan sejumlah fasilitas publik yang ada di wilayah itu. Antara lain gedung TRK (Tambahan Ruang Kelas) serta,fasilitas pendidikan di dalamnya, bangunan Kapala stasi Rempang, Paroki Santu Martinus Bari dan sedikitnya belasan rumah warga setempat. Di antaranya, rumah milik Kasmir Hantas, Belasius Badur dan satu unit rumah milik seorang Guru, Vitus Jemadin. Patung Bunda Maria yang ada di dalam Kapala Stasi Tampang juga pecah berantakan.

“Kejadian ini kemarin jam 3 sore. Kemarin hujan turun begitu besar disertai angin puting beliung. Saya sendiri melihat langsung kejafian ini. Hujan turun dengan butiran es”, ujar Jhon Jehadin ketika dikonfirmasi Komodopos.com via handphone selularnya.

Jhon menambahkan, menanggapi musibah itu, pemerintah kabupaten Manggarai Barat turun memantau langsung ke lokasi kejadian sekaligus membawa bantuan logistik bencana untuk para korban bencana.Bantuan tersebut berupa beras, Mie Instan, pakaian dan kain selimut

“Dinas Sosial.dan BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Manggarai Barat telah membawa bantuan logistik bencana untuk warga yang terpapar angin puting beliung. Hari Senin (11/11) mereka datang ke lokasi kejadian mengantarkan bantuan untuk para korban bencana, yaitu warga translok yang ada di dusun Rempang, desa Raba kecamatan Macang Pacar”, tutur Jhon Jehadin.

Ibu dan anak tewas disambar petir

Dari kabupaten Manggarai dilaporkan, hujan deras disertai petir menyambar satu keluarga, suami-istri serta anak, warga kampung Wae Mbeleng, desa Benteng Kuwu, kecamatan Ruteng, kabupaten Manggarai. IAkibat kejadian naas itu. Ibu dan anaknya meninggal dunia di TKP. Sedangkan sang suami dan mertua (Ibu dari suami korban) dilarikan ke rumah sakit terdekat guna mendapat pertolongan medis.

Informasi yang dihimpun Komodopos.online dari warga setempat menyebutkan, sebelum petir menyambar, keempat warga tersebut berteduh di sebuah pondok yang ada di kebun jagung milik korban di Wae Kalo karena hujan mengguyur deras di wilayah itu. Saat mereka berada di dalam pondok itulah petir seketika menyambar mereka. (Serius Djoebadang/Robert Perkasa).

Hormat Terhadap ‘Mgr. Siprianus Hormat, Pr’

Mgr.Siprianus Hormat, Pr Uskup Ruteng terpilih. Foto/istimewa

(Catatan Apresiatif dari Seorang ‘Mantan Mahasiswa’)

Oleh: Sil Joni *)

Desas-desus seputar ‘siapa’ yang menduduki ‘takhta Keuskupan Ruteng’, sudah terjawab hari ini, Rabu, 13/11/2019. Pihak otoritas Vatikan (pusat Gereja Katolik Roma) secara resmi mengumumkan Rm. Dr. Siprianus Hormat, Pr sebagai Uskup Ruteng yang baru. Yang Mulia, Mgr. Siprianus Hormat, ditunjuk Vatikan untuk menempati ‘takhta yang lowong’ pasca-pengunduran diri Mgr. Hubertus Leteng dua tahun yang lalu.

Tulisan ini merupakan ekspresi penghormatan secara pribadi terhadap uskup baru tersebut. Kebetulan, Mgr. Sipri pernah menjadi salah satu dosen di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero, di mana saat itu saya menjadi salah satu mahasiswanya. Secara pribadi, saya ‘mengenal’ Mgr. Sipri ketika beliau mengajar ‘mata kuliah’ Moral Seksualitas untuk para mahasiswa semester VII, tahun 2007.

Sebetulnya, Rm. Sipri, demikian sapaan akrab dari sang uskup, tak punya cukup waktu untuk mengenal secara mendalam para mahasiswa non-frater (awam) seperti saya kala itu. Selain sebagai dosen, beliau juga merupakan salah satu pendaping atau staf formator untuk para calon imam diosisan di Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret. Praktisnya, dengan posisi dan beban tugas seperti itu, tentu bukan pekerjaan mudah untuk mengenal mahasiswa bukan frater yang tinggal di komunitas Ritapiret, apalagi mahasiswa awam seperti saya.

Namun, saya termasuk ‘mahasiswa beruntung’ yang bisa ‘mencuri perhatian’ beliau di tengah kesibukannya sebagai dosen di STFK, dosen tamu di STKIP St. Paulus Ruteng (sekarang Universitas Katolik St. Paulus) dan staf formator para calon pastor di Seminari Ritapiret.

Rm. Sipri mulai ‘mengenal nama saya’, dari seorang ‘rekan mahasiswa’ yang sedang menggarap skripsi. Pembimbing skripsinya adalah Rm. Sipri sendiri. Rekan mahasiswa ini ‘mengalami kesulitan’ dalam merampungkan tulisan tersebut. Tulisan itu ‘dinilai belum matang’ oleh Rm. Sipri meski sudah dikoreksi berkali-kali. Rasa ‘frustrasi’ mulai terlihat dalam diri mahasiswa itu. Entah mengapa, si mahasiswa berdiskusi dengan saya perihal persoalan itu seraya meminta kesediaan saya untuk ‘mengoreksi’ tulisan tersebut.

Tidak mudah memang untuk ‘meluruskan maksud’ dan merapihkan logika dan metodologi penulisan dalan naskah mentah skripsi dari rekan mahasiswa itu. Tetapi, puji Tuhan, perbaikannya rampung juga. Itulah ‘teks terakhir’ yang ditunjuk ke dosen pembimbing sebelum karya ilmiah itu diuji. Rm. Sipri bertanya kira-kira ‘siapa aktor intelektual’ di balik naskah skripsi yang ‘sudah final itu’. Si rekan mahasiswa menyebut nama saya. Dalam sebuah obrolan di lorong kuliah, Rm. Sipri dan saya untuk pertama kalinya terlibat dalam sebuah perbincangan yang akrab, khususnya tentang ‘riwayat penulisan dan bantuan dari Rm. Sipri dalam keseluruhan proses penulisan skripsi dari rekan mahasiswa tadi.

Sejak saat itu, Rm. Sipri selalu ‘merekomendasikan saya’ untuk membantu beberapa mahasiswa awam yang skripsinya dibimbing oleh beliau. Saya tidak ingat dngan pasti ada berapa mahasiswa awam yang saya bantu dalam menyelesaikan proses penulisan skripsi mereka.

Tetapi, anehnya saya sendiri ‘kurang bergairah’ untuk menggodok tulisan saya sendiri. Saya mengidap semacam ‘rasa kurang percaya diri’ ketika berurusan dengan proses penulisan skripsi saya sendiri. Efeknya adalah saya ‘telat’ dua tahun meraih gelar sarjana filsafat (S. Fil).
Adalah Rm. Siprianus Hormat, Pr yang sekarang menjadi uskup Ruteng, yang ‘menyelamatkan saya’ dari situasi krisis itu. Saya tidak tahu seperti apa ‘riwayat akhir perjalanan akademik’ saya di STFK seandainya Rm. Sipri ‘apatis’ dengan kondisi negatif yang saya hadapi saat itu.

Enam bulan (satu semester) menjelang ‘deadline’ untuk dinyatakan drop out, Rm. Sipri ‘mencari tahu’ mengapa saya belum tinggalkan STFK. Ternyata alasan utamanya adalah skripsi ‘belum digarap sama sekali’. Rm. Sipri pun memperlihatkan empatinya dengan bersedia menjadi ‘pembimbing proses penggodokan skripsi’ itu.

Praktisnya, saya memanfaatkan waktu 3 (tiga bulan) untuk merampungkan skripsi itu. Saya menyerahkan naskah yang ‘sudah jadi’. Skripsi itu tidak dikoreksi ‘satu huruf pun’ oleh Rm. Sipri. Beliau hanya mendorong saya untuk segera mempersiapkan diri mempertanggungjawabkan skripsi itu di depan dewan penguji STFK Ledalero. Dengan itu, saya ‘lolos’ dari lubang jarum ancaman DO dari STFK. Skripsi itu mendapat nilai A. Saya lulus dari STFK dengan predikat cum laude (terpuji). Predikat sebagai ‘wisudawan terbaik’ tidak diraih dengan mudah. Perjalanannya cukup panjang dan berliku-liku.

Nama Rm. Sipri tentu menjadi orang paling berjasa dalam mengakhiri pengembaraan akademik saya di ‘bukit sandar mata hari’ (arti ledalero dalam bahasa setempat) itu. Itulah mengapa di momen pemilihannya sebagai Uskup Ruteng, saya mempersembahkan sebuah ‘tulisan spesial’ untuknya. Saya sadar bahwa ‘goresan ini’ tentu terlalu miskin untuk sekadar dianggap sebagai ‘satu bentuk ucapan terima kasih’ kepada sang Uskup terpilih. Kasih yang diperlihatkan Rm. Sipri tentu jauh lebih luas dan dalam untuk disimplifikasi dalam permenungan mini ini.

Namun, hanya dengan ‘kerja sederhana’ semacam inilah yang bisa saya buat untuk mencurahkan ‘rasa penghormatan saya’ terhadap kebaikan sang Uskup itu. Saya tidak terlalu ‘terkejut’ ketika nama Rm. Siprianus Hormat, Pr ditunjuk oleh Vatikan sebagai Uskup Ruteng. Dengan spontan saya berguman, “Rm. Sipri sangat pantas mendapatkan kepercayaan sebagai ‘Hamba Yahwe’ di Keuskupan Ruteng ini”. Saya sangat yakin bahwa ‘mata hati Vatikan’ tidak keliru untuk menerjemahkan keinginan Tuhan dalam memilih Rm. Sipri memangku jabatan rohani, Uskup di Keuskupan Ruteng.

Kita tentu mengucapkan profisiat dan selamat bertugas kepada yang mulia, Mgr. Siprianus Hormat, Pr sebagai ‘penggembala’ umat Allah (Gereja) di Keuskupan Ruteng. Sudah lama domba-dombamu, umat Katolik di sini, menantikan tuntunan sang gembala menuju ‘padang rumput iman’ yang hijau dan segar. Jadilah gembala yang rendah hati dan setia mengabdi pada kehendak Tuhan.

Akhirnya, sebagai seorang mantan murid yang pernah ‘merasakan pancaran cintamu’, dari lubuk hati yang paling dalam saya mengucapkan terima kasih ‘pertolonganmu’ persis di saat saya kehilangan motivasi, kreasi, dan spirit akademik di STFK Ledalero 10 tahun lalu. Kini, sang guru dipercayakan Tuhan untuk menjadi ‘Uskup’ di keuskupan Ruteng. Tentu, sebuah kepercayaan yang patut disyukuri dan ditunaikan dalam bentuk tanggung jawab pelayanan tampa pamrih. Saya sangat yakin bahwa dengan bekal keterbukaan, sikap rendah hati, kedisiplinan, solidaritas, empati, kematangan emosi dan spiritual, Mgr. Sipri, bisa merespons kepercayaan Tuhan itu secara baik.*

*Penulis adalah alumnus STFK Ledalero. Tinggal di Labuan Bajo.