Meriahkan Hari Pahlawan, SMAK Loyola Gelar Festival D’Loyfest

Foto : Dedhy Wijaya

KOMODOPOS.com-LABUAN BAJO-SMA Katolik St.Ignatius Loyola menggelar Festival D’Loyfest 2019 dengan tajuk, ” Kreatifitas Pahlawan Masa Kini”. Festival berlangsung selama dua hari, Jumat-Sabtu (8-9/11) di SMAK St.Ignatius Loyola Labuan Bajo, kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

Festival ini digelar dalam rangka memeriahkan Hari Bulan Bahasa dan Hari Pahlawan, 10 November 2019.

Festival D’Loyfest 2019 dibuka resmi oleh Kepala SMAK St.Ignatius Loyola, P.Yeremias Bero,SVD, Jumat (8/11) pukul 19.00 Wita bertempat di Loyola Hall SMAK St.Ignatius L oyola Labuan Bajo. Para siswa-siswi SMAK Loyola menampilkan tarian dan Parade siswa-siswi dari grup Orchestra Loyola. Penampilan mereka sangat memukau para hadirin yang mengikuti acara tersebut.

Hadir dalam acara pembukaan Festival, siswa-siswi dan para alumni SMAK Loyola dari berbagai daerah, orang tua murid serta ratusan undangan lainnya. Festival ini juga menyedot perhatian masyakarat kota Labuan Bajo.

Bupati Manggarai Barat, Drs Agustinus Ch.Dula dan Wakil Bupati, Drh.Maria Geong, P.hD serta Kepala Dinas PKO Mabar menurut rencana akan hadir dalam acara puncak Festival, Sabtu (9/11).

Ketua Panitia Festival, Fabianus Jewadut, S.Pd menjelaskan, festival ini dilaksanakan untuk membangun siswa/i yg berkarakter dan berdaya saing tinggi di era global. Mengingat labuan Bajo sebagai salah satu destinasi parwisata dunia. Karena itu, para siswa dituntut untuk memiliki daya kreativitas tinggi.

Ia menambahkan, SMAK St. Iignatius Loyola merupakan sekolah yang ditetapkan sebagai salah satu sekolah rujukan oleh pemerintah sejak 2015. Karena itu festival tahunan ini sebagai salah satu jawaban atas prestasi yang dimiliki SMAK St. Ignatuys Loyola.

“Selain pentas acara dalam ruangan, Panitia juga menyuguhkan beberapa stand di luar ruangan acara, yakni Stand untuk menamipilkan kreatifitas siswa-siswi, antara lain kuliner, adiwiyata( pupuk tanaman hias hasil olahan siswa SMAK loyola”, kata Fabianus.

Sementara itu, Kepala Sekolah SMAK St.Ignatius Loyola, P. Yeremias Bero, SVD dalam sambutan membuka festival ini mengatakan, bahwa festival ini terbuka untuk masyarakat umum. Ia berharap, masyarakat yang mengikuti festival ini dbisa menikmati sejumlah acara yang dipentaskan oleh siswa-siswinya.

Terpantau Komodopos.com, hari pertama festival ini, tampak ratusan undangan memadati Aula SMAK Loyola. Sementara di luar ruangan acara, tampak ratusan pengunjung hadir menyksikan acara pembukaab festuval melalui layar lebar yg disediakan oleh panitia. *(Dedhy Wijaya)

Editor : Robert Perkasa

Arsenal Bertengger di Puncak Klasmen Sementara Pool D

Unggul 1-0 Lawan Persando FC

Foto : MediacenterEGDMC2019

KOMODOPOS.com-ENDE-Gol semata wayang bomber asal Adonara, Pati Sari Aukoli (11) menjelang turun minum mengantar Arsenal Terong FC bertengger di Puncak Klasmen Sementara Pool D dengan mengoleksi 6 poin. Hasil 2 kali menang. Melibas Persandora FC 3-2 pada laga pertama, Selasa(5/11) kemarin dan menang tipis 1-0 atas Persando FC pada laga kedua di Stadion Marilonga-Ende, kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, Jumat (8/11) malam ini.

Laga kedua babak penyisihan grup Persando FC vs Arsenal Adonara berlangsung sengit sejak wasit membunyikan pluit kick off babak pertama bergulir. Bermain agresif dan saling menyerang.

Persando yang turun dengan jersey merah hitam lebih dahulu membombardir benteng pertahanan Arsenal. Beberapa kali striker Persando, Jainal Muhamad (21) berupaya menerobos pertahanan Arsenal namun fullback Arsenal sangat kokoh dan disiplin mengunci pergerakan lawan.

Sebaliknya squad Arsenal dengan jersey yellow full membangun skema counter attack yang mengalir bagai air bah. Area pertahanan Persando nyaris kedodoran dan harus berjibaku menghalau serangan Adi Atep dan tandem serasi Pati Sari Aukoli. Aksi duet bomber maut ini acapkali menebar ancaman berbahaya ke gawang Persando. Aksi kedua striker haus gol itu menjadi momok menakutkan bagi playmaker Persando. Kendati demikian, gempuran Arsenal belum membuahkan hasil. Sejumlah peluang tercipta selalu patah gegara skema grendel yang diracik apik anak-anak Persando.

Media ini mencatat, Arsenal memperoleh dua kesempatan emas melalui shooting jauh yang dilakukan Adi Atep dkk, namun mampu ditepis keluar oleh kiper Persando

Tidak lama berselang, Persando keluar dari kurungan Arsenal. Persando bangkit menggempur pertahanan Arsenal. Laskar merah Persando mengandalkan serangan long passing dan penetrasi bola-bola pendek berusaha menusuk jantung pertahanan lawan. Tak lama berselang, Persando berbalik menekan. Satu peluang tercipta dari umpan crosing Jainal. Sayangnya Ardo Kurniawan (7) kurang akurat memanfaatkan peluang itu di mulut gawang lawan. Kebuntuan ini terjadi sepanjang 45 menit waktu normal.

Dewi fortuna kemudian hadir di kubu Arsenal menjelang turun minum. Memanfaatkan keteledoran lini belakang Persando, Pati Sari Aukoli (11) melakukan shoting mendatar ke arah gawang lawan. Kiper Persando dipaksa memungut bola yang bersarang di gawangnya. Arsenal unggul 1-0 sekaligus menyudahi laga babak pertama.

Di babak kedua, tempo permainan anak-anak Persando dipertajam. Sementara Arsenal yang unggul 1 gol, bermain taktis sembari mengatur ritme, kapan menyerang dan bertahan.

Strategi Arsenal ini terbukti ampuh. Gempuran Persando selalu kandas di kotak 16. Persando nyaris menyamakan skor melalui Jainal Mugamad (21). Sayangnya, bola heading Jainal mampu dengan enteng ditangkap kiper Arsenal, Firsan Kapitan (22).

Jainal kembali menebar ancaman menyempurnakan sebuah crossing jauh oleh Filipe Oliviera. Lagi-lagi heading Jainal masih melebar tipis dari gawang Arsenal.

Giliran Arsenal mendapat peluang pada menit akhir babak kedua nyaris menggadakan keunggulannya. Tetapi shooting Diego (77) dari daerah 16 masih melambung di atas mistar gawang. Skor 1-0 bertahan hingga wasit meniup pluit bubar. *(Hero Dores/Robert Perkasa)

Laga Seru PSM Maurole vs Indonesia Muda Berakhir Imbang 1-1

KOMODOPOS.com-ENDE-
Berakhir imbang 1-1, laskar pantai utara (pantura) PSM Maurole kontra Indonesia Muda (IM) hanya puas berbagi angka dalam klasemen sementara Pool C Turnamen Ema Gadi Djou Memorial Cup (EGDMC) 2019. Laga sengit dua tim ini berlangsung di Stadion Marilonga-Ende, kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, Jumat (8/11) petang. Bermain dengan tempo tinggi dan saling menyerang sepanjang 90 menit waktu normal. IM sempat memimpin 1-0 saat tambahan waktu babak pertama. Pada babak kedua, Laskar pantura Maurole menyamakan skor 1-1 melalui eksekusi pinalti.

Sejak wasit Engga Diaz meniup pluit kickoff babak pertama, kedua tim yang berataburan bintang Perse Ende ini sama-sama menampilkan total football. Variasi serangan dari lini ke lini dibangun dengan kerja sama tim yang padu.

Adu skill, startegi, kualitas dan pengalaman mumpuni yang dimiliki oleh kedua squad ini menyata di lapangan hijau. Laga pun bergulir atraktif dan memukau ribuan pasang mata yang berjubel di tribun Stadion Marilonga. Sorak ria para supporter menggelorakan spirit kepada tim kesayangan mereka.

IM tampil agresif dalam laga ini dengan trend positif hendak memuncaki klasemen Pool C. Ambisi IM beralasan karena telah mengantongi 3 poin hasil laga pertama mereka melibas Perselaya Lamahala FC 3-1, Minggu (4/11) kemarin.

Di sisi seberang, laskar pantura PSM Maurole bukan tim anak bawang yang enteng diremehkan. Tidak mau buang kesempatan, anak-anak pantura Maurole bermain ngotot ingin memetik poin penuh dalam laga perdana mereka petang tadi.

Turun dengan kostum merah total, squad PSM Maurole mampu meladeni kecepatan anak-anak IM yang menerapkan gerakan tiki taka satu dua sentuhan yang menawan. Meski IM unggul dalam penguasaan bola, namun kurang akurat memanfaatkan peluang. Beberapa peluang tercipta tapi gagal menggetarkan gawang Maurole

Sementara itu, laskar pantai utara Maurole menyajikan serangan balik. Menebar “teror” ke gawang IM. Gempuran demi gempuran kerap menusuk ke jantung pertahanan IM. Sayang defender palang pintu IM, Ibrahim Igo (6) dan Topan Dalam (9) dkk tampil disiplin dan sangat taktis menghalau setiap serangan lawan. Benteng pertahanan IM terlalu tangguh untuk diterobos lawan hingga usai waktu normal babak pertama.

Gelombang serangan IM baru menunjukkan kegarangannya ketika masa tambahan waktu. Sarfin Ahmad (7) menggelar selebrasi seketika ia sukses menggetarkan gawang IM. Gol Syafrin berawal dari sebuah umpan crossing dari rusuk kanan. Syafrin berlari gesit menusuk dari rusuk kiri sembari menerima umpan terukur itu. Tanpa kompromi, Syafrin dengan cerdik melesakan bola ke gawang PSM Maurole. 1-0 Indonesia Muda memimpin hingga turun minum.

Memasuki babak kedua, tempo serangan IM malah makin tajir. Kali ini anak-anak IM bermain lebih taktis. Bola bergulir ria dari lini ke lini dengan satu dua sentuhan menerobos area pertahanan lawan. IM nyaris menggandakan keunggulannya ketika satu peluang diperoleh. Namun akurasi penyelesaian akhir kurang menukik sasaran.

Unggul satu gol, IM memperlambat tempo. Beberapa pemainnya ditarik keluar dan memasukkan amunisi baru. Sayangnya strategi ini tidak cukup membawa perubahan signifikan di lapangan.

Sebaliknya, terpaut 1 gol, squad pantura Maurole bangkit menyerang. Alhasil, laju serangan beruntun mampu mendominasi penguasaan bola. Badai gelombang pantura Maurole kini menunjukkan keperkasaannya pada babak kedua. Benteng pertahanan IM menjadi sasaran amukkannya.

Digempur habisa-habisan, petaka pun datang menerpa gawang IM. Bermula dari pelanggaran handball di area terlarang, keputusan wasit tak kuasa dilawan.

Topan Dala (9) yang menjadi algojobtendangan pinalti tak mau membuang peluang emas. Tendangan Topan mengecoh kiper IM hingga bola bersarang di gawangnya. Kapan skor berubah menjadi 1-1.

Skor berimbang, adrenalin laskar pantura Maurole makin memanas. Gawang IM nyaris terkoyak andai saja freekick ujung tombak Pantura Maurole gagal ditepis kiper IM.

IM yang tidak ingin terus ditekan berbalik menyerang dan mengancam gawang Maurole. Namun lini belakang Maurole cukup solid mengawal benteng pertahanannya.

Hingga usai waktu normal babak kedua, skor 1-1 beimbang hingga wasit Engga Diaz meniuo pluit panjang. *(Hero Dores/Robert Perkasa) Foto : MediaCenterEGDMC2019.

Gol Semata Wayang Umar Uran, Hanyutkan Badai Samudera Maumere

KOMODOPOS.com-ENDE-
Umar Uran (14) pahlawan Perselaya Lamahala Flores Timur melesakkan gol semata wayang ke gawang Samudera Maumere pada laga lanjutan penyisihan grup Turnamen Ema Gadi Djou Memorial Cup (EGDMC) 2019 di Stadion Marilonga-Ende, kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, Kamis (7/11) petang pukul 18.30 Wita. Gol Umar terjadi pada menit tambahan waktu menjelang laga bubar. Gol ini sekaligus mengantar Perselaya Lamahala FC memetik 3 poin klasemen sementara Pool C.

Sejak wasit membunyikan pluit kickoff babak pertama, kedua tim bermain terbuka dan saling menyerang. Jual beli serangan berlangsung ketat. Turun dengan performa terbaiknya, squad Perselaya bermain kompak dan agresif melancarkan serangan berbahaya ke jangkar pertahanan Samudera Maumere.

Kendati demikian, anak-anak Samudera berupaya keluar dari kurungan lawan kemudian melancarkan serangan balik. Bermain total football dengan variasi serangan long passing dan umpan-umpan silang terukur, kerapkali merepotkan barisan palang pintu Perselaya Lamahala. Namun jual beli serangan sepanjang 45 menit babak pertama belum membuahkan hasil manis. Bermain imbang tanpa gol menutup laga babak pertama.

Pacekelik gol ini berlanjut hingga memasuki babak kedua. Walau bergulir dengan ritme tinggi dan sengit, belum juga memecah kebuntuan. Perselaya mencoba mengambil inisiatif menyerang. Tapi presure yang dilakukan mudah dipatahkan oleh defender dan fullback Samudera. Beberapa peluang menerpa area pertahanan Samudera Maumere. Namun akurasi finishing belum menemui sasaran yang tepat.

Demikian pula sebaliknya . Squad Samudera Maumere tampil makin garang menggempur benteng pertahanan Perselaya. Pengawalan yang ketat membuat badai serangan Samudera mudah dihalau.

Hingga usai waktu normal babak kedua, laga kedua tim ini belum mampu mencetak gol ke gawang lawan. Walau 90 menit waktu normal habis, skor masih tetap imbang tanpa gol.

Petaka kemudian datang menerpa Samudra Maumere di masa kritis tambahan waktu. Umar Uran (14) yang lolos dari pengawalan lawan, sukses menggetarkan gawang Samudera Maumere. Crossing Umar Uran yang mengarah ke gawang Samudera gagal dihalau kiper lawan, 1-0.

Gol semata wayang yang lahir dari kaki Umar menyudahi laga ini. Menang tipis 1-0, Perselaya Lamahala mendapat tambahan tiga poin. *(Hero Dores/Robert Perkasa)
Foto: MediaCenterEGDMC2019.

Skor Kaca Mata, Persada Nangapanda vs Go Raung FC

KOMODOPOS.com-ENDE
Laga babak penyisihan Grup B Turnament Ema Gadi Djou Memorial Cup (EGEDMC) 2019 di stadion Marilonga-Ende, kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, Kamis (7/11) petang berakhir dengan skor kaca mata. Sama-sama menderita kekalahan pada laga sebelumnya, Persada maupun Go Raung FC kini menjadi juru kunci klasemen sementara Pool B karena hanya mengoleksi satu poin hasil dua kali main. Sekali kalah dan sekali seri. lagi ini menjadi partai hidup-mari

Persada yang turun dengan jersey hitam sejak kick off babak pertama tampak menguasai jalannya pertandingan. Beberapa kali gawang Go Raung terancam. Inigin petik poin penuh, squad Persada tampil agresif menggempur benteng pertahanan GO Raung FC. Beberapa peluang tercipta, namun belum membuahkan gol. Buntunya lini depan Persada dalam finishing bola menjadi kendala untuk menjebol gawang Go Raung.

Sementara laskar Go Raung yang berjersey merah hitam meladeni permainan Persada dengan ketat. Mengandalkan serangan balik, Go Raung FC sesekali menekan pertahanan Persada. Walau demikian, kokohnya pengawalan lini belakang Persada, sulit diterobos.

Peluang emas datang menghampiri squad Persada ketika wasit yang memimpin laga ini mengganjari pelanggaran yang dilakukan kiper Go Raung di kotak terlarang. Wasit pun menunjuk titik putih. Sayangnya, peluang emas ini dibuang percuma. Alex (11) eksekutor tendangan pinalti gagal melesakkan bola ke gawang Go Raung FC. Akurasi tendangannya mampu ditepis keluar oleh kiper Go Raung, Jubaidin (88).

Tidak hanya itu. beberapa menit kemudian, serangan Persada datang silih berganti. Meski skema pertaganan lini belakang Go Raung rapuh tapi penyelematan individu Jubaidin di bawah mistar gawang sangat gemilang menghalau bola. Junaidi menjadi man on the macth dalam laga ini. Ujung tombak Persada nyaris frustrasi karena semua tembakan yang di arahkan ke gawang mampu ditepis Junaidi. Gawangnya dibombardir anak-anak Nangapanda, namun Jubaidin tampil perkasa menyelamatkan gawangnya.
Hingga jeda babak pertama, skor masih imbang tanpa gol.

Memasuki babak kedua, Go Raung bermain terbuka. Tempo serangan dipertajam. Penetrasi long passing bervariasi dengan umpan-umpan terobosan ke area pertahanan menebar ancaman ke gawang lawan. Lagi, penyelesai akhir selalu tumpul memanfaatkan setiap peluang.

Kondisi senada juga terjadi pada squat Persada. Serangan balik mengalir deras ke mulut gawang lawan. Tampil agresif menekan lawan, tapi tak satu pun peluang berbuah gol. Lagi-lagi kemampuan Jubaidin sang goal keeper Go Raung menjadi tempbok palang pintu yang sulit ditembus.

Menjelang masa injury rime, ball position menjadi milik Persada. Bermain setengah lapangan mengurung benteng pertahanan Go Raung. Sayangnya belum ada goal yang tercipta. Skor kaca mata bertahan hingga wasit meniuo pluit bubar. *(Hero Dores/Robert Perkasa). Foto : MediacenterEGDMC

Memotret Kultur Literasi di Mabar

Oleh : Sil Joni *)

KITA mesti jujur dengan diri sendiri. Kultur literasi (baca-tulis) belum terlihat di tanah wisata ini. Gerakan untuk menghidupkan budaya itu pun masih bersifat sporadis. Belum ada pihak atau lembaga yang secara intens dan total mendedikasikan ‘segalanya’ untuk menumbuhkan benih aktivitas literatif itu.

Lembaga pendidikan (sekolah) yang diharapkan menjadi wadah persemaian tradisi itu dalam tubuh generasi muda kita, nyatanya belum bisa berbuat banyak. Energi atensi para guru terlampau banyak disedot dan tergerus untuk mengurus dan memenuhi aspek teknis-administrasi pembelajaran di kelas.

Kondisi semakin runyam ketika sarana dan prasarana untuk menstimulasi dan memfasilitasi mekarnya budaya akademik itu masih jauh dari ekspektasi. Belum ada sekolah yang memiliki semacam ‘taman baca dan perpustakaan’ dengan koleksi buku bermutu dengan tema yang variatirf.

Perpustakaaan di sekolah kita, umumnya ‘ditumpuki’ oleh buku teks yang kering, kaku, dan kurang menarik dalam ‘memancing’ selera baca para siswa. Kendati stok buku ilmiah dan sastra berlimpah di beberapa perpustakaan, masalahnya adalah para siswa ‘agak takut’ (baca: tidak mau) mengunyah ‘isi pustaka’ yang berat itu. Para guru relatif gagal ‘mengarahkan’ para peserta didik untuk ‘terbiasa’ melahap menu intelektual yang berbobot itu.

Potret buram itu bertambah buruk ketika kita ‘mengintip’ isi rumah keluarga kita. Rumah yang memiliki semacam ‘pojok literasi’, bisa dihitung dengan jari. Kerja intelektual seperti menulis, membaca, berdiskusi dan berefleksi belum menjadi habitus yang mengakar dalam ekosistem kebudayaan kita.

Anak SMP, SMA/SMK mana di Mabar ini yang setiap minggunya membaca minimal satu buku dan menulis satu artikel untuk dipublikasikan di majalah dinding sekolah atau di halaman media sosial? Jangankan para siswa, mungkin pertanyaan yang sama bisa juga ditujukan kepada para seluruh staf pengajar di Kabupaten ini. Kita belum mendapatkan ‘jejak literasi’ yang menawan dari para guru di sini.

Beberapa hari yang lalu, saya membaca di salah satu media daring perihal ‘kiprah Pemuda Muhammadiah” di Mabar yang digadang-gadang sebagai ‘perintis hidupnya kultur literasi’ itu. Penilaian itu dilontarkan ke ruang publik presis setelah acara “Bedah Buku” berjudul ‘Selamat Datang di Manggarai Barat’ karya dua penulis muda, Syamsudin Kadir dan Muhammad Achyar di Hotel Pelangi (2/11/2019), digelar.

Saya kira ‘acara bedah buku’ yang bersifat momental itu, tidak bisa menjadi indikator bahwa ‘kelompok yang memfasilitasi pelaksanaan kegiatan itu, langsung dibaptis sebagai pionir dan penggerak tradisi berliterasi di sini. Literasi tidak bisa direduksi maknanya hanya sebatas ‘kemampuan’ mengorganisir acara bedah buku, diskusi, dan seminar.

Kampanye dan aksi konkret untuk menghidupkan ‘budaya baca-tulis’ belum menjadi program bersama yang digodok dan diimplemantasikan secara sistematis, massif, dan terukur. Tegasnya, kegiatan yang bernuansa intelektual, masih stagnan di Mabar. Kondisi spirit berliterasi kita, boleh dibilang ‘hidup enggan mati tak mau’. Kita hanya menerapkan apa yang menjadi kegiatan rutin di sekolah dan di rumah. Literasi belum menjadi ‘satu agenda spesial’ yang mendapat porsi perhatian yang lebih.

Di tengah latar kegersangan berliterasi itu, kehadiran Media Pendidikan Cakrawala (MPC) di beberapa sekolah di Mabar, boleh dilihat sebagai semacam ‘oase’ yang bisa merimbunkan tunas literasi tersebut. Para awak media ini dengan ‘Gusty Richarno’ sebagai ‘dirigennya coba ‘menyuntikan dan menularkan’ virus literasi itu kepada para guru dan terutama kepada para siswa, generasi muda Mabar. SMAN I Komodo, SMAN 2 Komodo, dan SMAN I Lembor adalah beberapa ‘komunitas akademik’ yang mendapat urapan roh berliterasi dari kru MPC itu.

Respons mereka setelah mengikuti ‘ritual berliterasi sederhana’ itu, setidaknya dari apa yang mereka unggah di media sosial, memperlihatkan ‘api optimisme’ yang bakal terang benderang dalam jagat pendidikan kita perihal proyek revitalisme budaya literasi di Kabupaten ini. Mereka semua mengamini bahwa para siswa mempunya ‘potensi yang besar’ untuk menumbuhkan dunia literasi itu. Melalui sentuhan kreatif kru MPC, para pendamping (para guru di ketiga sekolah itu) sudah memiliki ‘cukup amunisi’ untuk segera ‘membuka lahan literasi” dan merawat secara telaten benih literasi yang sudah bersemayam dalam dada para kawula muda kita.

Kita berharap percikan api literasi yang terpancar di beberapa sekolah itu, bisa menyebar dan membias di panti pendidikan dan komunitas sosial yang lain, sehingga ‘kultur literasi’ menjadi kebutuhan rohaniah yang menyegarkan kepribadian para insan muda kita.

Sudah saatnya kita bangkit dari ‘tidur panjang kemalasan menggauli aktivitas literasi’ demi menyambut generasi Mabar yang berwajah optimistis dan kompetitif di hari esok. Fokus pemerintahan Jokowi pada periode kedua ini adalah membangun sumberdaya manusia handal dan kompeten. Literasi adalah kunci dan peta jalan menuju terwujudnya politik demografi yang bermutu. Prediksi soal ‘hadirnya periode bonus demografi’ mesti memacu kita untuk mengencangkan ‘sabuk literasi’ agar tidak tersingkir dalam era yang diwarnai dengan pertarungan skill itu. Literasi adalah jembatan keselamatan sehingga kita tidak ‘terhempas’ dalam badai pertarungan itu.*

*Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan politik lokal Manggarai Barat. Tinggal di Labuan Bajo.

Polisi dan ‘Rabun Kriminalitas’ (Catatan untuk Oknum Polisi yang Tidak Memproses Kasus Pelecehan Seksual)

Oleh : Sil Joni *)

Tulisan ini merupakan tanggapan sekaligus catatan kritis terhadap salah satu isi berita langsung dari media daring floreseditorial.com, Senin (4/11/2019). Tentu saja akurasi ulasan ini sangat bergantung pada obyektivitas fakta yang dilaporkan oleh sang jurnalis yang diekspos dalam media itu.

Berita berjudul ‘Siswi Kelas IV SD di Manggarai Barat Jadi Budak Seks Gurunya Sendiri’, cukup ‘menghebohkan’ warga-net. Umumnya, netizen ‘mengutuk dengan keras’ aksi dari pelaku, Robertus Hami (RH) yang dengan tega menjadikan ASP, sisiwi kelas IV di SDN Munting Renggeng, Kec. Masang Pacar, objek pemuas nafsu libidinal semata.

Tak bisa dielak bahwa kasus itu mendapat ‘respons yang massif’ dari publik. Saya tidak perlu menguraikan soal tanggapan itu di sini sebab sudah diulas secara kritis dan kadang dengan penuh kegeraman oleh sebagian netizen. Penulis coba ‘mengupas’ hal lain yang terdapat di bagian akhir berita itu.

Diberitakan juga bahwa ibu korban pernah dipanggil ke rumah polisi. Polisi memberikan sejumlah uang dan membujuk sang ibu untuk tidak melaporkan kasus itu ke Polres Mabar. Beruntung, nurani dari ibu itu masih berfungsi dengan baik. Ia menolak ‘upaya penyogokan’ yang memalukan itu. Kita mesti mengapresiasi sikap ibu ini yang tidak ‘terpukau dengan uang’ dan mengabaikan martabat luhur dari anaknya yang sudah tercemar. Luar biasa.

Kita tidak tahu apakah uang itu berasal dari oknum polisi atau dari pihak pelaku yang coba ‘memanfaatkan’ kebaikan palsu yang kemungkinan ditawarkan oleh oknum polisi kepada pihak korban (ibu korban). Seandainya uang sogok itu murni ‘inisiatif’ dari si oknum polisi itu, maka saya kira kita perlu mendiskusikan hal ini secara serius. Tetapi, dugaan saya uang itu kemungkinan berasal dari pihak lain. Aliran dana haram itu perlu dilacak oleh pihak berwajib agar para pelaku penyuapan itu segera terungkap.

Jika testimoni sang ibu dan alur berita ini benar (sesuai fakta), maka saya kira ada yang ‘tidak beres’ dalam pikiran oknum polisi itu. Mengapa mata hatinya sebagai ‘penegak hukum’ tidak sanggup melihat aspek kejahatan yang bercokol dalam tubuh pelaku (guru SDN Munting Renggeng) itu? Apakah dirinya mengidap semacam gejala ‘rabun kriminalitas’ di mana ia tidak bisa membedakan mana kasus yang bisa diselesaikan secara kekeluargaan dan mana yang mesti diproses secara hukup (positip)?

Seharusnya oknum polisi itu ‘memuji dan mendukung’ upaya keluarga korban yang berusaha menempuh ‘jalur hukum’ dan tidak secara membabi-buta ‘mengadili’ pelaku. Tetapi anehnya, polisi sebagai representasi ‘penegak hukum’, malah mengangkangi hukum itu dan ‘menciptakan’ satu kejajahatan beru.

Sudah jatuh ‘tertimpa tangga pula’. Pepatah itu cukup pas untuk melukiskan ‘kondisi batin’ dari sang ibu ketika menghadapi perlakuan yang kurang simpatik dari oknum polisi itu. Kehormatan anaknya sudah hancur. Kini, ia harus menghadapi perkara lain, yaitu skenario untuk tidak memproses kasus itu ke pihak berwajib dengan menyerahkan sejumlah uang. Bukankan ini satu bentuk (modus) kejahatan baru yang mesti dipikul oleh sang ibu?

Sekali lagi, jika berita di atas benar, maka tentu itu sebuah preseden buruk bagi pihak kepolisian yang sedang berusaha memperbaiki kinerja dan reputasinya sebagai lembaga ‘penegak hukum kredibel’ di tanah air. Karena itu, saya kira pihak Polres Mabar perlu juga ‘menggeledah’ kasus sogok yang diperlihatkan oleh oknum polisi itu. Pelaku tindakan pelecehan memang tetap menjadi prioritas penanganan, tetapi metode kerja dari oknum polisi itu, perlu juga dievaluasi.*

*) Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan politik lokal Manggarai Barat. Tinggal di labuan Bajo.

Ambisi Dovizioso untuk Jadi Juara Dunia Kian Menguat

Pembalap Mission Winnow Ducati, Andrea Dovizioso (Foto: Laman Resmi MotoGP)

ROMA – Pembalap Mission Winnow Ducati, Andrea Dovizioso, pada akhirnya harus berpuas ia hanya mampu menjadi runner-up MotoGP 2019. Akan tetapi, kondisi tersebut tak lantas menyurutkan semangat Dovizioso untuk bertarung musim depan.

Termasuk musim ini, Dovizioso sejatinya sudah tiga kali beruntun menjadi runner-up kejuaraan. Menyakitkannya, pembalap asal Italia itu selalu takluk dari rider Repsol Honda, Marc Marquez. Padahal, Dovizioso mengaku sudah melakukan semua yang ia bisa dan menampilkan performa terbaiknya.

Kendati demikian, Dovizioso tersadar bahwa untuk mengalahkan Marquez, ia harus tampil konsisten. Sebab, Marquez sendiri memiliki torehan yang hampir sempurna. Bagaimana tidak, dari 18 seri balapan yang telah dilangsungkan musim ini, Marquez berhasil naik podium sebanyak 17 kali.

Meski mengalahkan Marquez bukan perkara mudah, namun Dovizioso enggan untuk menyerah. Ia yakin memiliki peluang untuk bisa menyabet gelar juara dunia MotoGP. Akan tetapi, untuk itu Dovizioso mengaku membutuhkan waktu beristirahat. Sebab, ia sudah merasa lelah dengan kompetisi musim ini.

“Kami telah berusaha meningkatkan hal-hal tertentu untuk seluruh musim. Musim ini sangat panjang. Kami bekerja menuju tahun depan. Tetapi kami membutuhkan sedikit istirahat. Pada bulan Desember tidak ada begitu banyak agenda, Anda melakukan beberapa kompetisi amal dan kami membutuhkannya,” ujar Dovizioso, mengutip dari Tutto Motori Web, Kamis (7/11/2019).

“Kami harus menarik garis di akhir musim dan melihat apa yang telah dilakukan sepanjang tahun. Tetapi pada akhirnya, meskipun banyak pasang surut, kami berada di belakang Marc. Tujuannya tetap: kami ingin memenangkan Kejuaraan Dunia, tetapi kami belum berhasil di tiga tahun terakhir,” lanjut Dovizioso.
**(Hendry Kurniawan/Okezone)
Kamis, 7 November 2019

Menguak Modus Pelacuran Online, dari Pasang Nomor WA hingga Tagar Khusus

Agregasi BBC Indonesia

ilustrasi (Shutterstock)

PRAKTIK prostitusi online belakangan ini marak dilakukan di media sosial karena jangkauannya yang lebih luas, menurut seorang pengamat media sosial.

Jejaring sosial Twitter disebut lebih banyak digunakan karena sifatnya yang lebih terbuka dibandingkan platform lainnya.

Hal itu terungkap setelah Polisi di Jawa Timur mengusut jaringan prostitusi online yang disebut melibatkan sejumlah figur publik.

“Seperti prinsip orang jualan. Media sosial memungkinkan penjual memperluas exposure dagangannya. Semakin tinggi exposure semakin besar pula peluang dagangannya dibeli,” kata Novelina Purba, data scientist dari Indonesia Indicator.

Juru bicara Polda Jawa Timur, Frans Bangun Mangera, mengatakan pihaknya telah mengungkap tiga orang yang diduga berada di balik jaringan tersebut, dua orang di antaranya, disebut dengan inisial J dan SD, telah ditetapkan sebagai tersangka.

Keduanya dijerat dengan pasal prostitusi.

Ilustrasi (Shutterstock)

Frans mengatakan bahwa SD mengiklankan jasa prostitusi di media sosial.

“SD lewat media sosial. Kalau J itu hanya pelaksana saja, menyediakan tempat, menyediakan akomodasi tiket,” ungkapnya kepada BBC News Indonesia.

Adapun orang ketiga, yang disebut dengan inisial D, belum ditetapkan sebagai tersangka, namun sudah dipanggil oleh polisi untuk pemeriksaan.

D diduga terlibat dalam manajemen artis dan menawarkan jasa prostitusi secara tertutup lewat grup WhatsApp, kata Frans.

“Ini kan manajemen artis, jadi manajemen public figure itu sesuai dengan, misalnya ada yang casting, ada yang foto, ada yang iklan … Mereka-mereka itu selain dari itu ada juga yang melakukan prostitusi online yang dijajakan oleh D, SD, dan J tadi.”

Sebelumnya diberitakan sejumlah media bahwa Polda Jatim menduga ada 100 figur publik yang terlibat dalam jaringan prostitusi daring di bawah SD.

Pengungkapan kasus ini bermula saat Polda Jatim mengamankan tiga orang yang terlibat dalam dugaan praktik prostitusi online di Batu, Jawa Timur, pada tanggal 25 Oktober lalu.

Salah seorang yang diamankan, PA, disebut sebagai finalis Putri Pariwisata Indonesia. Ia telah dibebaskan dengan status sebagai saksi.

Akun utama dalam jejaring ini merupakan akun yang paling banyak diikuti atau akun yang diikuti oleh akun-akun dengan jumlah follower tertinggi. Akun tersebut sering mengunggah kiriman promosi “expo” (pameran prostitusi untuk kalangan terbatas) di berbagai daerah dengan menyebutkan akun lain.

“Bisa jadi jejaringnya itu karena mereka memang terorganisir, jadi mereka ada kepalanya, atau peminat mereka itu-itu aja. Jadi yang nge-follow mereka juga akunnya itu-itu aja,” tuturnya.

Sampai berita ini ditulis, Twitter belum menjawab permintaan komentar dari BBC News Indonesia.

Polisi diminta berhati-hati

Bagaimanapun Komisioner Komnas Perempuan, Mariana Amiruddin, menyarankan polisi agar berhati-hati dalam mengungkap nama perempuan yang terlibat dalam prostitusi, baik di dunia maya maupun di dunia nyata.

Itu karena, berdasarkan catatan Komnas, banyak perempuan yang terjerat prostitusi sebenarnya korban penipuan atau bahkan perdagangan orang atau trafficking.

Mariana menyebut modus yang biasa digunakan untuk menjebak perempuan ke praktik prostitusi online antara lain tawaran pekerjaan atau kencan.

“Beberapa orang mendaftar, mau dipertemukan, ternyata itu prostitusi online. Jadi fotonya dipasang di situ, ditawarkan ke mana-mana,” ujarnya.

Vanessa Angel (Instagram)

Maka dari itu Mariana meminta aparat penegak hukum melakukan pengecekan ulang sebelum mengumumkan nama tersangka ke masyarakat.

“Bahkan sebaiknya sebelum proses pemeriksaan, jangan dipublikasi dulu karena siapa tahu dia korban.”

“Karena masalahnya, kalau dia korban, berarti penegak hukum bukannya memberi keadilan kepada warga negara, dalam hal ini perempuan, malah justru melakukan ketidakadilan kedua kalinya kepada korban,” pungkasnya.

Dalam pengungkapan beberapa kasus prostitusi yang melibatkan tokoh publik atau artis, sebagian media memilih untuk lebih fokus mengupas seluk beluk sosok sang artis.

Contohnya, dalam kasus yang menyeret aktris Vanessa Angel, penangkapannya menjadi sorotan masyarakat, melalui liputan media, walaupun ketika itu kasusnya digambarkan masih kabur.

Pengamat media menggambarkan liputan media dalam kasus Vanessa bersifat eksploitatif.

Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH APIK) juga menilai media massa selalu mendudukkan pelaku perempuan yang menjadi pekerja seks komersial sebagai objek sorotan. **(Sumber : Okezone.com/sal) Kamis, 7 November 2019

Menristek : Industri Berbasis Pertanian Harus Jadi Prioritas

Menteri Riset dan Teknologi RI, Bambang Brodjonegoro (Foto: dok)

Indonesia harus menjadikan industri berbasis pertanian menjadi prioritas. Hal tersebut disampaikan Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro.

JAKARTA — Menteri Riset dan Teknologi Republik Indonesia, Bambang Brodjonegoro mengatakan Indonesia harus menjadikan industri berbasis pertanian menjadi prioritas dalam konteks transformasi ekonomi. Alasannya, hasil pertanian – pangan, tanaman keras, dan sebagainya – termasuk perikanan sangat berlimpah di Indonesia. Sehingga apabila industri berbasis pertanian yang dikembangkan, lanjutnya, petani harus meningkatkan produksi supaya bisa diserap sebagai input bagi sektor manufaktur. Alhasil, petani mendapatkan manfaat dan sektor industrinya mendapat kepastian pasokan input yang kemudian diolah sehingga menghasilkan produk berdaya saing tinggi.

Menurut Bambang, hasil studi Badan Perencana Pembangunan Nasional (Bappenas) menunjukkan di antara berbagai subsektor manufatur, industri pengolahan makanan dan minuman paling unggul dalam konteks produksinya paling besar, penyerapan lapangan kerjanya paling tinggi, ekspornya terbesar, dan sudah menjadi investasi langsung Indonesia di negara lain.

“Jadi artinya industri pengolahan makanan minuman saat ini memang harus benar-benar dikembangkan tapi harus didukung oleh sektor pertanian. Jangan sampai kita keasyikan mengembangkan industri pengolahan makanan minuman tapi inputnya mengimpor. Kita upayakan agar rantai hulu hilirnya nyambung, semuanya berasal dari produksi dalam negeri sehingga kita bisa mengurangi konten impor sekaligus meningkatkan daya saing produk Indonesia,” kata Bambang.

Rapat Koordinasi nasional bidang agrobisnis,pangan dan kehutanan bidang pengolahan makanan dan industri peternakan di Jakarta, Selasa (5/11). Fathiyah

Bambang menjelaskan peningkatan produktivitas pertanian melalui ekstensifikasi sekarang ini menghadapi masalah. Sebab, konversi lahan pertanian di Jawa dan Sumatera menjadi industri dan permukiman sangat besar. Karena itu, menurutnya, cara yang mesti ditempuh melalui intensifikasi, salah satunya mengenai riset.

Dia menegaskan pula, perlu ada kerjasama antara penelitian dengan industri sehingga hasil penelitian bisa dikomersialisasikan. Atau peneliti bisa melakukan riset mengenai produk yang dibutuhkan menjadi kegemaran masyarakat.

Selama ini, kata Bambang, para peneliti Indonesia jago membuat protipe namun selalu menghadapi kendala ketika akan dijadikan produksi massal. Sebab harganya belum kompetitif dan prototipe yang dibuat belum cocok dengan kebutuhan pasar.

Ketua Komite Tetap Ketahanan Pangan, Kadin Franciscus Welirang menyoroti sangat pentingnya peran Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam pertanian. Dia menambahkan informasi mengenai perubahan cuaca ata iklim minim sekali, termasuk sistem peringatan dini yang efektif untuk antisipasi dan mitigasi khusus pertanian.

“BMKG seharusnya bisa memberikan informasi iklimatik di setiap daerah sesuai dengan peta zonasi, perubahan iklim, terutama dampak temperatur, kelembaban, curah hujan, dan lain-lain. Selanjutnya tentunya sosialisasi harus dapat bermanfaat,” ujar Welirang.

Welirang menekankan informasi perubahan cuaca dan iklim tersebut sangat penting untuk menentukan kapan masa tanam terbaik bisa dimulai.

Di samping itu, menurut Welirang, perlu ada pengaturan terhadap operator pintu air yang akan bertugas membagi-bagi air irigasi untuk lahan pertanian. Karena tidak ada sistem yang baik, sampai sekarang kerap timbul masalah mengenai pembagian jatah air irigasi di lahan pertanian.

Menanggapi hal tersebut, Deputi Klimatologi BMKG Herizal menjelaskan BMKG sejatinya memiliki forum pertemuan dengan Kementerian Pertanian dua kali setahun, sebelum BMKG merilis prakiraan awal musim hujan dan kemarau. Tujuan dari pertemuan ini agar Kementerian Pertanian dapat menyiapkan segala hal diperlukan untuk menghadapi musim tanam dan sebagainya.

Menurutnya, BMKG menyadari sektor pertanian dan perikanan (nelayan) mengalami dampak langsung dari perubahan iklim. Karena itu BMKG mendidik para penyuluh lapangan mengenai iklim dan cuaca sehingga informasi tersebut busa diteruskan kepada para petani.

Herizal menekankan edukasi atau penyuluhan tentang perubahan iklim dan cuaca merupakan salah satu faktor penting untuk peningkatan produktivitas pertanian.

“Komponen ini walaupun bukan komponen utama, tapi bisa menyebabkan gagal panen dan sebagainya. Oleh karena itu, kami terus menerus mengeluarkan anggaran untuk mengadakan literasi kepada penyuluh pertanian dan kelompok tani itu sendiri,” tutur Herizal.

Edukasi mengenai perubahan iklim dan cuaca ini, klaim Herizal, telah ikut membantu peningkatan produktivitas pertanian sebesar 30 persen dan bahkan lebih. **(Sumber : VOA Indonesia/fw/jm) Kamis 7 November 2019